I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 424 Mempermainkan Felix


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Ini membuat Felix dan Molly Su kebingungan, apakah Serena tidak tahu apa yang terjadi pada mereka dengan Ralphie?


Sungguh tidak wajar…..


Hello! Im an artic!


Akhirnya, ketika Serena tiba-tiba berdiri, Felix dan Molly Su pun reflek juga berdiri.


Serena memandang mereka dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan, “Ada apa?”


“Tidak, tidak ada apa-apa.” Felix dan Molly Su menggelengkan kepala.


“Oh” kata Serena, lalu dia menaruh salepnya kembali ke dalam kotak yang berada di atas meja, lalu membawa kotak obat itu pergi.


Hello! Im an artic!


Felix melirik ke arah Ralphie, dan berkata, “Nyonya, mari aku bantu menaruhnya.”


“Kamu mau menaruhnya? Oke, ini.” Serena mengangguk, lalu menyerahkan kotak obat itu kepada Felix.


Felix dengan cepat pergi menaruh kotak obat dalam tempat penyimpanan.


Ketika dia kembali, ternyata yang tersisa disana hanyalah Molly.


“Direktur Su dan nyonya kemana?” Tanya Felix penasaran.


“Kakak ipar memanggil kakak sepupu ke lantai atas.” Molly Su mengangkat tangannya sambil menunjuk ke arah atas.


“Oh.” Jawab Felix sambil melirik ke atas.


Serena dan Ralphie tidak kunjung turun, sampai waktu makan malam tiba.


Sampainya di lantai bawah, mereka mulai makan malam. Felix dan Molly Su ingin berkata banyak, tapi tidak mungkin mereka berbicara di meja makan malam itu.


Setelah selesai makan malam, saat Serena ke kamar mandi dengan cepat Felix dan Molly bertanya kepada Ralphie.


“Direktur Su.”


“Kenapa?” Ralphie memandang Felix.


“Direktur Su, Nyonya apakah tahu tentang kami…..” kalimat dibelakangnya Felix tidak lanjut berkata, tetapi Ralphie mengerti ekspresi dari Felix dan Molly Su.


“Um” Ralphie mengangguk.


Sudah tahu? Tapi mengapa nyonya tidak marah? Molly dan Felix saling memandang dengan rasa heran.


Ketika Serena keluar dari kamar mandi, Felix dan Molly menatapnya dengan tatapan seperti ini, membuat Serena merasa heran juga.


Sampai ketika Felix dan Molly pergi, barulah Serena mulai bertanya kepada Ralphie.


“Tadi mereka kenapa?”


Jawab Ralphie, “Mereka ketakutan.”


“Takut apa?” Tanya Serena heran.

__ADS_1


“Mereka khawatir membuatmu marah.” Jelas Ralphie.


“Marah apanya?” Serena masih tidak mengerti.


Ralphie menjelaskan: “Mereka menyembunyikan masalah waktu itu di depanmu, takut kamu marah seperti saat dengan Claudia, mereka takut dimarahi.”


Mendengar perkataan Ralphie, Serena tidak bisa menahan tawa, “Apakah emosiku begitu buruk?”


Bercanda saja, tidak mungkin Ralphie bilang emosinya sangat buruk.


“Tidak, temperamenmu masih baik.”


“Tentu saja, kenapa Felix dan Molly Su berpikir seperti itu.” Serena agak kesal, keesokan harinya ketika Felix datang, dia sengaja menghentikannya ketika akan beranjak pergi.


“Felix.”


Felix berhenti melangkah, menjawab dengan penuh hormat, “Ya, nyonya.”


Mata Serena melirik dengan senyum licik seperti rubah, dan kemudian bertanya, ” Felix, kamu gugup?”


Awalnya Felix tidak gugup sama sekali, tetapi ketika dia mendengar Serena bertanya, dia langsung berpikir bahwa Serena tahu dia membantu Ralphie menyembunyikan luka, dan dia menjadi gugup. Apakah nyonya akan memperhitungkannya?


Dia menjadi sangat gugup.


“Ti….tidak….”


Serena tertawa melihat Felix, hatinya sangat bangga.


Tapi di luarnya dia hanya berkata, “Oh tidak ya, berarti hanya aku yang berlebihan.”


Felix merasakan hatinya sangat lega, dia menghela nafasnya lega.


“Ya, nyonya.” Dia mengangkat kepala kaget.


Serena tersenyum polos dan berkata, “Felix, kamu kan sudah menikah dengan Molly, sekarang jangan panggil aku nyonya lagi.”


Felix tidak mengira bahwa Serena akan mengatakan hal ini, barulah dia mengerti.


Serena melihat dia mengerti, lalu tidak bisa menahan tawanya, “Hahaha..”


Felix baru menyadari bahwa Serena sedang menggodanya.


Dia ingin marah tidak bisa, ingin memukulnya juga tidak bisa, Felix menahan wajahnya.


“Emm emm….” Serena terbatuk dua kali, menghentikan tawanya, lalu dengan serius berkata, “Aku serius, kamu tidak perlu memanggilku nyonya lagi, harusnya kamu memanggilku seperti Molly, yaitu kakak ipar.”


“He….” Felix terdiam.


“Kenapa? Tidak mau memanggilku seperti itu?” Serena menatap serius sambil bertanya.


Felix menggelengkan kepala, “Bukan.”


“Kalo begitu coba panggil aku, aku ingin mendengar.” Kata Serena sambil memandang Felix.


Felix menatap Serena agak lama sebelum akhirnya mengucapkan dua kata, “Kakak ipar.”


“Haha…” Serena tertawa lebih keras.

__ADS_1


Wajah Felix memerah dan dia berbegas, “Nyonya, aku masih ada urusan, aku pamit jalan duluan.”


Setelah mengatakan itu Felix langsung pergi tanpa menunggu respon dari Serena.


Ralphie yang baru turun dari lantai atas, melihat Felix jalan dengan terburu-buru, sedangkan Serena tertawa sambil duduk di sofa, “Ada apa? Kok kelihatan bahagia sekali?”


“Felix itu lucu sekali, barusan aku menyuruhnya untuk memanggilku kakak ipar, dan ekspresinya itu sangat membuatku tertawa haha….” jawab nya sambil tertawa.


“Oh” jawab Ralphie sambil senyum.


Setelah kejadian itu Felix sering menghindar untuk bertemu dengan Serena.


Jika tidak bisa menghindar, Felix hanya langsung menyapa Serena dengan cepat, lalu pergi.


Sekarang Serena merasa sangat menyesal telah menggoda Felix.


“Ralphie, aku telah melakukan kesalahan.” Kata Serena sambil berada di pelukan Ralphie.


Ralphie seketika meletakkan dokumen yang di pengangnya, lalu memeluk Serena, “Ada apa?”


“Setelah kejadian itu, aku menggoda Felix dan sekarang Felix selalu menghindar untuk bertemu dengan ku.” Jawab Serena sambil mengerutkan hidungnya.


Ralphie memandang wajah Serena menggemaskan, dan tidak bisa menahan tawanya, “Lain kali aku yang akan menggodanya.”


“Jangan.” Kata Serena cemberut.


Ralphie mengangkat alisnya, dan bertanya, “Lalu apa yang akan kamu mau?”


“Kamu sibuk tidak? Ayo kita keluar.” Tanya Serena dengan penuh harap.


“Emm….” sejak terakhir kali Fiona melepaskan ular saat liburan di villa mountain, Ralphie memang tidak mengajak Serena keluar, Serena sudah lama berdiam di rumah, maka secara otomatis Ralphie tidak akan menolak ajakan Serena.


Tetapi, dia harus memikirkan tempat mana yang harus mereka kunjungi.


Banyak sekali orang di luar sana, berdesakan, liburan ke villa mountain sebenarnya pilihan bagus, tapi karena kejadian waktu lalu, pelayan membiarkan ular itu masuk ke villa, maka Ralphie pun tidak berminat lagi kesana.


Setelah banyak pertimbangan, akhirnya Ralphie pun memilih untuk pergi ke villa kastil, villanya sendiri.


Villa kastil ini berada di puncak gunung barat dan udaranya pun lebih sejuk dari pada villa mountain.


Setelah memutuskan yang terbaik, Ralphie pun masih menanyakan pendapat pada Serena, “Bagaimana kalau kita pergi ke villa kastil di puncak gunung barat ?”


Kastil? Serena teringat dia baru hanya dua kali pergi ke kastil.


Pertama kali, saat dia menikah dengan Ralphie, pada saat itu, kakek juga bilang itu adalah lokasi tempat pernikahan mereka.


Ke dua, saat malam perayaan sebelum tahundi baru, Ralphie membawanya kesana, bermain kembang api.


Meskipun sudah kesana dua kali, tapi dia tidak begitu detail melihat kastil itu.


Disana adalah gunung barat, udara dan pemandangannya sangat bagus, tapi jika hanya mereka berdua saja yang pergi, padahal kastil itu sangat besar, bukankah akan terasa sepi?


Serena mengerutkan keningnya, lalu bertanya, “apa hanya kita berdua saja?”


“Isa dan lainnya.” Ralphie paham, Serena menyukai keramaian. Maka dari itu mereka memutuskan untuk mengajak yang lainnya ke villa kastil untuk liburan beberapa hari.


Mendengar Ralphie akan mengajak yang lainnya, Serena langsung mengangguk, “Oke.”

__ADS_1


Ralphie dan Serena tidak menyangka, mereka pergi ke villa kastil kali ini, bukan hanya untuk liburan beberapa hari, tetapi menjadi menetap disana.


__ADS_2