
Hello! Im an artic!
Alfred tidak mengelaknya, mendapat tamparan sekeras itu, ia pun mundur dua langkah, lalu diwajahnya ada bekas tamparan yang memerah.
Lalu ia pun menoleh dan melihat ke arah laki-laki yang menamparnya.
Hello! Im an artic!
Dia mengenali laki-laki yang menamparnya, laki-laki ini adalah pacar yang diperkenalkan Serena kepada semua orang ketika di acara pernikahan kali itu, lalu ia pun marah dan mengepalkan tangannya.
Melihat Alfred yang mengepalkan tangannya, Ralphie pun tidak merasa sungkan lagi dan terus menghajarnya berkali-kali.
Dua orang itu pun mulai bertengkar, kalau dilihat dari luar, kedua orang itu terlihat memukur satu sama lain dengan sangat keras, tetapi sebenarnya kalau dibandingkan kemampuan tinju Ralphie jauh lebih hebat dari Alfred.
Sebenarnya Serena sedikit terkejut melihat Ralphie yang datang dan memukul Alfed, tetapi ketika melihat Alfred juga mengepalkan tangannya, Serena pun mulai berasa takut.
Hello! Im an artic!
Dia takut Ralphie terluka dan jantungnya pun berdebar dengan sangat kencang.
“Jangan pukul lagi.”
Ralphie awalnya berencana untuk menghajar Alfred lebih parah lagi, tetapi sekarang setelah Serena sudah berteriak dan lari ke tengah-tengah mereka ia pun tidak memukulinya lagi karena ia takut melukai Serena.
Setelah Serena melihat Ralphie sudah melepaskan tangannya, tetapi ia masih takut kalau Alfred akan memukulinya lagi jadi ia pun langsung berdiri diantara mereka.
Tetapi setelah Serena berdiri disana, Ralphie malah mengira kalau Serena ingin melindungi Alfred.
Lalu ia melihat dalam kedalam mata Serena lalu membalikkan badannya dan pergi meninggalkan tempat itu.
Ketika Serena berencana untuk mengejar Ralpie, ia malah ditahan oleh Alfred.
“Serena…….” Dimuka Alfred terlihat banyak luka memar, dagunya juga terluka parah, kenapa kalua dilihat seperti itu ia merasa kasihan dengannya.
Serena juga merasa Alfred sangat kasian, tetapi orang yang paling penting buat Serena sekarang adalah Ralphie.
Dua orang ini tadi berantam dengan begitu dasyat, Alfred terpukul sampai babak beluar seperti ini, harusnya Ralphie juga terluka.
Setelah memikirkan mungkin Ralphie juga terluka, suasana hati Serena pun menjadi semakin buruk.
“Alfred, aku peringatin kamu sekali lagi, aku tidak mungkin mengulang hubungan denganmu lagi, aku menyukai dia, sangat-sangat menyukainya, jadi aku mohon kamu jangan menggaangguku lagi, jangan mencariku lagi.”
Setelah menyelesaikan apa yang mau dikatakannya, Serena pun tidak menghabiskan waktunya dengan Alfed lagi, ia pun langsung membalikkan badannya dan berjalan pergi.
__ADS_1
Didalam mata Alfred yang melihat Serena pergi dengan begitu tergesa-gesanya pun terlihat tidak bisa berbuat apa-apa.
Setelah Ralphie tahu kalau tadi Serena berusaha unutk melindungi Alfred, ia pun sangat marah dan menahan emosinya, sekarang hatinya terasa sangat sakit.
Dia tidak ingin melihat Serena bersama dengan laki-laki itu lagi, oleh karena itu ia pun langsung kembali kedalam mobilnya.
Dia sendiri juga tidak mengerti kenapa ia tidak langsung menjalankan mobilnya, tetapi ia malah menunggu dengan bengong didalam mobilnya
Mungkin Serena akan pergi dengan laki-laki itu? Jadi dia sedang tungguin apa? Tunggu mereka meninggalkan tempat itu?
Jelas-jelas laki-laki itu sudah berperilaku sangat tidak baik kepadanya, tetapi ia masih saja menyukai laki-laki itu…….
Ralphie pun membantingkan kedua tagannya di stiur mobilnya, didalam matanya terlihat kesedihan yang ia sendiri juga tidak mengerti.
Tiba-tiba terdengar suara orang yang mengetok kaca mobilnya, Ralphie pun terkejut dan menoleh lalu melihat ke arah luar jendela.
Dia pun melihat Serena yang sedang berdiri didepan mobilnya, tangannya masih diatas kaca mobilnya.
Dia tidak pergi bersama dengan laki-laki itu? Ralphie pun terkejut sejenak.
Serena melihat Ralphie masih saja tidak membuka pintu, ia mengira Ralphie tidak mendengarnya, lalu ia mengetok kaca jendelanya lagi, kali ini suaranya lebih besar dari yang pertama kali.
Ralphie pun kembali ke dalam kesadarannya dan langsung mengangkat tangannya dan menekan tombol untuk membuka pintu mobil.
Serena menarik pintu mobil lalu sambil memasuki mobil ia berkata, “Kamu ada terluka tidak?”
“Kamu tadi ada kena pukulan dari dia tidak?” Kali ini sambil bertanya, Serena melihat ke badan Ralphie dan mencari apakah ada bekas luka ditubuhnya.
Ralphie tidak menahan tangan Serena, hanya saja ia sudah terdiam kaku, dan pandangan matanya tertuju ke dalam mata Serena.
Serena mengedipkan matanya, dan dengan teliti mencari apakah ada bagian tubuhnya yang terluka, ia degnan tergesa-gesa melihat dan mmperhatikan apakah ada luka di tubuhnya.
Ralphie melihat Serena dengan pandangan penuh pertanyaan.
Dia tadi bukannya sedang melindungi laki-laki itu? Kenapa sekarang ia mempedulikanku?
Setelah selesai melihat seluruh tubuh Ralphie, ia tidak menemukan luka apapun ditubuh Ralphie, lalu ia pun menghela nafas.
“Untung saja tidak ada luka.”
Ralphie pun menjawabnya dengan tenang ‘Iya’, lalu ia bertanya, “Bagaimana dengan luka dia?”
Mendengar tentang Alfred, Serena pun mulai emosi lagi, lalu ia pun menjawabnya dengan, “Ngapain kamu peduli dengan luka dia?”
__ADS_1
“Maaf.” Aku tidak seharusnya menanyakannya.
Lalu Serena membuka mulutnya lagi dan berkata, “Kenapa kamu pergi memukulnya?”
“Maaf.” Dia tidak seharusnya menggantikan Serena untuk memukuli laki-laki itu.
“Emangnya laki-laki brengsek itu pantas mendapatkan pukulan darimu, kalau kamu terluka bagaimana?”
“Ma……” Awalnya Ralphie tidak mendengar dengan fokus apa yang dikatakan Serena dan hanya menjawabnya dengan kata Maaf, tetapi ia mendengar apa yang dikatakan Serena kali ini membuat ia mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Serena.
Serena sama sekali tidak memperhatikan ekspresi wajah Ralphie, dia sedang tidak memperhatikannya.
“Lain kali jangan gegabah seperti ini lagi, tidak selamanya kamu bisa seberuntung ini, tidak ada luka sama sekali…….”
Ternyata ia bukan melindungi laki-laki itu, ia sedang khawatir kalau Ralphie terluka.
Ralphie pun terus melihat wajah Serena yang sedang memarahinya dan ia tidak bisa menggunakan kata-kata untuk menunjukkan rasa senang yang ada didalam hatinya.
Serena sendiri menyadari ia sudah berbicara terlalu banyak tetapi Ralphie tidak meresponnya sama sekali, ia pun menoleh dan melihat ke arah Ralphie dan melihat dia dengan tatapan yang sinis.
Tatapan kedua orang itu pun bertemu dan mereka pun terdiam sejenak dan dengan perlahan suasana didalam mobil itu pun mulai menjadi hangat.
Pas disaat itu, ada suara burung yang berkicauan diluar mobil mereka.
Kedua orang itu terkejut sebentar lalu melihat sebentar ke arah burung itu.
Kalau dilihat dair luar sepertinya kedua orang itu tidak ada respon apa-apa dan hanya seperti biasa saja.
Tetapi hanya Serena yang tahu kalau hatinya sedang berdebar dengan sangat kencang, ia sendiri sangat khwatir kalau suara hatinya itu terdengar oleh Ralphie.
Ralphie juga merasa ada perasaan berbeda yang ada didalam hatinya, ingin sekali ia mencari tahu jelas tentang perasaan ini, tetapi ia tidak bisa melakukannya.
Perasaan yang tidak bisa dikontrolnya seperti ini membuat Ralphie merasa sangat tidak terbiasa……..
Setelah Serena menenangkan debar jantugnya, ia membuka mulutnya dan berkata, “Kamu bilang mau beli hadiah dimana?”
“Di Snowflake Department Store atau di Clover Plaza, menurut kamu bagusan kemana?” Ralphie bertanya.
“Ke Snowflake Department Store saja, lebih dekat.” Serena menjawab.
Ralphie tidak membalasnya apa-apa dan segera mengarahkan mobilnya ke jalan menjuru ke Snowflake.
Snowflake juga adalah salah satu mall yang menjual barang mewah di kota A.
__ADS_1
Hanya saja banyak orang yang tahu kalau Clover Plaza adalah industri pertama dari Grup Canics, tetapi malah tidak banyak orang yang tahu kalau Snowflake adalah salah satu mall dibawah Group Su.
Dan kali ini pas sekali Serena memilih untuk pergi ke Snowflake.