I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 21 Membuat Ralphie Marah


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Hari ini Ralphie sangat sibuk, seharian dia mengikuti rapat dan bertemu 2 orang klien.


Waktu menunjukkan pukul 18.40, dia baru selesai mengikuti rapat tambahan dan kembali ke ruangannya.


Hello! Im an artic!


Saat menyalakan handphone, yang terlihat adalah pesan singkat dari Serena menanyakan apakah dia sempat dan ingin meminta bantuan.


Awalnya Ralphie ingin membalas pesan menanyakan ada masalah apa, tetapi karena berpikir membicarakannya di telepon akan lebih jelas, dia pun menelepon Serena.


Dari telepon, terdengar seperti Serena belum pulang dan sedang membeli sesuatu di luar.


Tanpa berpikir panjang dia langsung menanyakan posisi Serena dan memintanya tunggu disana.


Hello! Im an artic!


Saat Ralphie sadar akan semua ini, dia sudah hampir sampai ke Drisker Mansion.


Dia tidak pernah tahu bahwa dirinya bisa segercep ini.


Pandangan Ralphie tertuju pada jarak 100 meter ke depan, terlihat sosok cantik di bawah lampu jalan, tetapi sedikit samar, kemudian perlahan mengemudikan mobil ke depan Serena, dan tidak lupa membuka kunci pintu mobilnya.


Tanpa bingung lagi, Serena langsung membuka pintu mobil dan duduk di dalamnya.


Serena mengenakan sabuk pengaman sambil berkata: “Maaf, merepotkan kamu sampai harus kesini.”


Ralphie menggelengkan kepala, “Tidak kok, kebetulan saya sedang dekat sini.”


Serena menjawab “Oh”, kemudian lanjut bertanya, “Kamu sudah makan malam?”


Serena merasa kurang cocok jika membicarakan masalah ini di dalam mobil.


Dan kebetulan saat ini adalah jam makan malam, Serena berpikir jika Ralphie belum makan, dia bisa mentraktirnya, dan sekalian mengajaknya datang ke acara pernikahan teman.


Ralphie tidak menjawabnya, hanya bertanya, “Makan dimana?”


Serena menunjuk sebuah restoran kecil dekat Drisker Mansion dan berkata: “Restoran barat disana lumayan…enak…”


Suara Serena terpatah-patah, bertanya, “Coba lihat cocok atau tidak?”


Ralphie hanya mengangguk tanpa keberatan sedikitpun, kemudian mengurangi kecepatan, perlahan memarkirkan mobil di depan restoran barat itu.


Dekorasi restoran itu sangat elegan, dengan musik yang menenangkan hati, terasa sangat nyaman.

__ADS_1


Pengunjung disana sungguh banyak, Ralphie dan Serena memilih tempat duduk paling dalam.


Setelah pelayan datang dan menuliskan pesanan mereka, Ralphie baru berkata dengan pelan, “Kamu bilang mau minta bantuan saya?”


Serena tidak menduga Ralphie menanyakannya begitu saja, dia terkejut sejenak dan barulah berkata dengan sedikit gagap, “Itu… teman saya ada yang nikahan, kamu bisa pergi bersamaku tidak?”


Nikahan? Soal telepon yang dia terima semalam itu?


Saat itu Ralphie merasa heran tentang katanya yang jika tidak ada pacar bagaimana membawanya, ternyata dia diminta membawa pacar ke acara nikahan sang teman.


Serena ingin dia ikut dengannya, maksudnya adalah…..


Serena melihat Ralphie diam dalam waktu yang lama, mengira dirinya keberatan dan dengan segera berpura-pura tidak terlalu serius, “Kalau kamu tidak sempat, saya cari orang lain saja.”


Dalam perkataan Serena mengandung nada yang sangat kecewa.


Sayangnya, Ralphie tidak menangkapnya, karena dia mendengar Serena akan mencari orang lain, otaknya sudah mulai tidak santai.


Mencari orang lain? Ternyata dirinya bukan satu-satunya pilihan.


Ralphie merasa sangat tidak nyaman, sungguh tidak nyaman! Ekspresi wajahnya seketika menjadi suram.


Serena melihat wajah Ralphie menjadi tidak enak dipandang, dan sadar bahwa dia sudah marah.


Serena merapatkan bibir, kemudian berkata dengan suara rendah: “Maaf, Tuan Su, saya yang tidak sopan, kamu jangan marah, saya…”


Serena tercengang, dan menjawab, “Besok malam jam 8, Hotel Pearl.”


Ralphie menjawab “Ya”, kemudian tidak berkata apa-apa lagi, wajahnya dingin sekali seperti es.


Serena mencoba berbicara dengannya, tetapi dia sama sekali tidak peduli.


Pada suasana yang mengherankan itu, pelayan datang membawa pesanan mereka.


“Tuan Su, ini steak sapinya.” Serena membantu meletakkan steak sapi ke depan Ralphie sambil tersenyum melihatnya.


Mata hitam dan jernih milik Serena membawa maksud membujuk sekaligus meminta maaf, sekaligus menyembunyikan rasa tidak tenangnya.


Ralphie melihatnya sekilas dengan pandangan dingin, kemudian mengalihkan pandangan dan memotong steak sapi dengan pisau.


Senyuman di wajah Serena kaku sejenak, kemudian mulai makan tanpa berkata lagi.


Setelah selesai makan, Ralphie membayar makanan itu, dan langsung pergi tanpa sedikitpun menoleh.


Saat Serena mengejar keluar, terlihat mobil Ralphie sudah melaju cepat meninggalkannya.

__ADS_1


Kalau tahu begini mending tidak mencarinya. Saat ini sudah membuatnya marah, Serena pun hanya bisa menyesali semuanya.


Hanya saja semua perkataan itu sudah diucapkan, Serena hanya bisa menyampaikan maaf kepadanya.


Sayangnya, Ralphie sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk meminta maaf.


Serena mencoba menelepon Ralphie, tetapi tidak diangkat. Mengirimnya pesan singkat, juga tidak dibalas.


Hati Serena sungguh sakit, dia sungguh tidak berdaya, hanya bisa menantikan tibanya acara pernikahan sang teman, dan mengakui kesalahan kepada Ralphie.


Karena Ralphie tidak memberitahu kapan dia kesana, jadinya setelah pulang kerja, Serena langsung kembali ke tempat tinggalnya untuk mengganti baju dan pergi menunggu di Hotel Pearl.


Cuaca hari ini tidak begitu baik, saat waktu menunjukkan jam 7, langit dipenuhi awan hitam, gelap sekali seperti tengah malam.


Pada jam 19.10, turunlah hujan yang lebat.


Serena melihat hujan yang turun dengan lebat itu, merasa bingung, akhirnya berlari ke minimarket depan restoran dan membeli sebuah payung.


Dia menunggu di depan restoran selama 10 menit sambil membawa payung, dan akhirnya melihat mobil Ralphie tiba dengan pelan.


Melihat mobil Ralphie berhenti di parkiran, Serena segera menghampiri dan membawakan payung, karena dia takut Ralphie kehujanan.


10 menit yang lalu mulai turun hujan, saat itu harusnya Ralphie sudah di perjalanan.


Ternyata, pintu mobil terbuka dan Ralphie memang tidak membawa payung, hujan lebat membasahi dirinya.


Serena berjalan sambil berlari, dengan cepat mengangkat tinggi payung dan melindungi kepala Ralphie.


“Maaf, kebetulan sedang hujan, kamu tidak kehujanan kan?”


Ralphie melihatnya sekilas tanpa berkata apapun, hanya langkah kakinya yang bertambah cepat menuju pintu utama hotel.


Serena berjalan ditambah lari, demi bisa mengejar Ralphie.


Payung ditujukan hanya ke kepala dan badan Ralphie, Serena bahkan tidak sadar dirinya sudah basah terkena air hujan.


Tiba-tiba Ralphie yang berjalan di depannya menghentikan langkah, Serena tidak sadar dan langsung menabraknya.


Hidungnya sakit tertabrak badan Ralphie, hingga hampir mengeluarkan air mata. Payung yang sedang dia pegang juga terpental akibat tabrakan itu.


Ralphie dengan cepat menangkap payung itu, saat matanya tertuju pada pakaian Serena yang basah, keningnya pun mengerut.


Amarahnya memuncak, masa dia tidak bisa menjaga diri sendiri? Sudah bawa payung masih basah seperti ini.


Ralphie menjulurkan tangan menarik lengan Serena, sekali ditarik langsung terjatuh ke pelukannya, kemudian dengan cepat berjalan memasuki pintu utama hotel.

__ADS_1


Saat tiba di ruangan utama hotel, Ralphie melihat sekeliling ruangan hotel berbintang 4 itu dengan alis mengerut, kemudian menarik Serena ke arah resepsionis.


__ADS_2