
Hello! Im an artic!
Sebenarnya Serena tidak tahu, Ralphie benar-benar tersenyum.
Hello! Im an artic!
Bahkan Ralphie sendiri pun tak tahu, setelah mendengar komentar Serena mengenai dirinya ia sendiri merasa tidak bisa menahan tawa. Tapi dia selalu dingin jadi ia hanya tersenyum singkat.
Ia memberikan apel yang sudah di kupas pada Serena.
Hello! Im an artic!
Serena tersenyum. Setelah menerimanya, ia baru ingat tadinya Serena mengupas apel untuknya. Ia kembali memberikan apel itu pada Ralphie, “Ini untukmu.”
“Makanlah.” Ralphie mengambil apel lain dari dalam plastik.
Serena mengangguk dan memakannya.
Apelnya manis. Ia tersenyum dan memakan apel dengan senang.
Ralphie meliriknya dan kembali mengupas apel itu.
Apelnya belum selesai di kupas ketika ponselnya berdering.
Ia meletakkan ponsel dan pisau buah di piring, mengambil tisu dari meja lalu mengelap tangannya kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku.
Melihat nomor yang muncul di ponselnya, pandangan Ralphie mengarah pada Serena yang sedang makan apel.
Walaupun hanya sekali melihat nomor itu tapi dengan ingatan Ralphie yang tajam ingat, ia mengetahui itu adalah nomor Flora yang terakhir kali menghubunginya.
Mengingat apa yang di ucapkan oleh Flora padanya waktu itu, terbesit kemarahan di mata Ralphie.
Serena mengangkat kepalanya melihat ponsel Ralphie yang terus berbunyi dan menatap dirinya dengan pandangan yang sulit di pahami.
Dia tidak menjawab teleponnya, kenapa memandanginya seperti itu?
“Kamu tidak menjawabnya?”
Menyuruhnya mengangkat telepon dari kakaknya? Tatapan Ralphie menjadi lebih dingin…
Ia memalingkan pandangannya kemudian menjawab telepon itu.
Langsung terdengar suara Flora, “Ya ampun, Tuan Su akhirnya Kamu menjawab teleponku?”
__ADS_1
“Ada apa?” Suara Ralphie sangat dingin.
Serena merinding mendengar nada dingin Ralphie. Siapa yang menelponnya? Ralphie pasti sangat kesal, jika tidak ia tidak akan sedingin itu.
Ralphie tidak tahu apa yang di pikirkan Serena. Wajah dingin Ralphie meleleh saat mendengar perkataan Flor selanjutnya.
“Tuan Su, jangan marah! Serena menyuruhku menghubungimu dan mengajakmu keluar. Dia bilang kamu sangat kesepian.”
Dia kesepian? Lalu sedang apa orang yang sedang makan apel di depannya? Mungkin hal ini tidak seperti yang di pikirkannya. Pandangan Ralphie beralih ke Serena dan pandangan dinginnya perlahan menghangat namun nada suaranya tidak berubah, “Benarkah?”
“Tentu saja, hari ini Serena pergi menonton film ke bioskop dengan seseorang.” Ia sengaja menambahkan, “Seorang pria.”
Ralphie sudah memastikan tujuan Flora yakni ingin membuat kesalahpahaman antara dirinya dan Serena.
Ia teringat saat dirinya bertemu dengan Flora di The Waterfront Blossom. Ia bisa membaca maksud Flora dari matanya, terbesit kemarahan di matanya.
Tapi ia tidak tahu bagaimana Flora mendapatkan nomornya.
Ralphie diam lalu mematikan telepon.
Serena yang memperhatikan Ralphie mematikan teleponnya langsung bertanya, “Orang yang menelpon membuatmu tidak senang?”
Ralphie melirik Serena lalu mengiyakan.
Ralphie tidak berkata apapun, hanya menatap Serena yang terus berbicara.
“…Jika tetap tidak bisa, aku yang menjawab teleponnya dan memarahi orang itu.” Serena sedikit marah namun tidak benar-benar marah.
“Ng.” Ralphie menjawab.
Dia perlu rencana yang bagus untuk menangani Flora.
Bagaimanapun posisi Flora di hati Serena tidak biasa. Jika tidak di tangani dengan benar, Flora akan benar-benar melakukan apa yang di inginkan.
Ralphie berdiri dan ke dapur mengambil air.
Barusan ia merasa baik-baik saja bersandar di sofa. Saat berdiri ia merasa tengkuknya tiba-tiba sakit.
Seharian ia sibuk, harusnya ia beristirahat lebih awal. Ia menghela nafas dan menuju dapur sambil mengelus tengkuknya.
Serena yang melihat gerakannya dan langsung berdiri, “Ada apa dengan tengkukmu?”
“Tak apa.” Mendengar perkataan Serena membuat Ralphie langsung menarik tangannya dari tengkuk.
__ADS_1
Serena tahu kemungkinan tengkuk Ralphie sedikit tidak nyaman. Mengetahui Ralphie ingin menyembunyikan darinya dan sulit mengatakannya, Serena hanya berkata: “Seharian Kamu sibuk sehingga tengkukmu kurang nyaman?”
Ralphie mengiyakan.
“Cepat istirahat di kamar.” Serena lalu bertanya, “Untuk apa Kamu ke dapur?”
“Mengambil air.” Ralphie ingin ke dapur namun di hentikan oleh Serena.
“Aku akan mengambilkannya untukmu. Kamu cepat kembali ke kamar.” Serena menatap dengan cemas.
Jantung Ralphie tiba-tiba berdegup dan mengangguk tanpa sadar, “Ok.”
Serena tersenyum padanya kemudian pergi ke dapur.
Ralphie berjalan ke arah tangga.
Setelah sampai di kamar, ia berbaring di kasur. Walaupun tengkuknya sedikit lebih baik namun rasa sakit itu terus muncul.
Ralphie mengerutkan keningnya dan perlahan memejamkan mataya.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu.
Ia membuka mata. Pintu sudah terbuka ketika ia belum menjawab.
Serena masuk dengan membawa gelas.
“Sakit sekali?” Melihat Ralphie mengerutkan keningnya membuat hati Serena sakit.
Ralphie duduk dan menggeleng, “Tidak.”
Serena memberikan gelas pada Ralphie lalu ke sisi kasur di belakang Ralphie. Ia mengulurkan tangannya dan memegang tengkuk Ralphie.
Saat telapak tangan Serena yang lembut menyentuh kulitnya, Ralphie kaget dan hampir menumpahkan air.
“Yang mana yang sakit? Ini?” Serena berbicara di telinga Ralphie membuat jantungnya berdegup kencang.
“Ng.” Ralphie menjawab dan menunduk lalu meminum air untuk menutupi rasa anehnya.
“Berbaringlah, aku akan memijitnya mungkin bisa enakan.” Serena kembali berkata.
Ralphie langsung menolak, “Tak perlu, bukan masalah besar.”
Serena tidak mendengarkan kata-katanya. Ia mengambil gelas yang ada di tangan Ralphie dan meletakkannya di meja. Kemudian tanpa berkata apapun ia mendorong punggung Ralphie sehingga ia berbaring.
__ADS_1
Ralphie tidak bisa menolak dan berbaring di kasur sesuai permintaan Serena.