
Hello! Im an artic!
Setelah makan, Serena dan Louisa keluar dari restoran, lalu mendengar suara orang bersiul.
Dia melihat kearah suara berasal, dan melihat kearah sebuah mobil yang tak asing tak jauh dari pinggir jalan seberang.
Hello! Im an artic!
Mobil Ralphie kenapa bisa ada disini?
Baru saja Serena memikirkan ini, mobil sudah melaju kesini, Ralphie turun dari mobil.
Ternyata bukan mobilnya yang disini, melainkan orangnya juga yang disini……
Suara Louisa pun tiba-tiba terdengar, “Serena? Serena?”
Hello! Im an artic!
Serena mengalihkan pandangan, dan bertanya dengan awkward, “En……apakah ada sesuatu?”
“Ngga apa-apa, aku hanya mau kasih tahu kamu, aku mau pergi ke halte naik busway.” Louisa menunjuk ke arah halte yang tak jauh disana.
Serena melihat sekilas ke arah halte dan berkata: “Atau aku……anterin kamu?”
“Anterin aku?” Louisa tanya dengan bingung pada Serena, kemudian bertanya: “Kita kan ngga searah, kamu lebih baik ngga perlu anterin.”
Louisa sudah berkata seperti itu, Serena tidak mungkin maksa ingin mengantarnya.
Lagipula kehadiran Ralphie disini juga tidak tahu karena kebetulan lewat atau ada urusan disini……
Serena menganggukan kepala: “Kalau gitu sampai jumpa besok.”
“Sampai ketemu besok.” Louisa melambaikan tangan ke Serena, kemudian berjalan kearah halte.
Setelah Louisa pergi, Serena membalikkan badan menuju ke arah Ralphie.
“Kamu kenapa bisa disini? Ada urusan yang perlu di urusi?”
Ralphie dengan datar menjawab, “Kebetulan ada urusan disekitar sini.”
“Kebetulan sekali.” Serena tersenyum sambil menganggukan kepala, kemudian bertanya, “Sudah selesai urusannya?”
“En.” Ralphie terdiam sebentar lalu bertanya, “Kamu masih ada urusan atau sudah mau pulang?”
“Pulang.” Kata Serena, pandangan Serena mencari sekitar, dia tidak melihat mobil supir Pak Li, dia mengerutkan alis, baru saja dia mengambil ponsel untuk menelepon Pak Li, Ralphie tiba-tiba buka suara.
“Bareng saja.”
__ADS_1
Bareng ngapain? Serena bingung melihat ke arah Ralphie.
Ralphie melihat Serena yang bingung pun langsung menjawab, “Pulang.”
Pulang bareng? “Oh.” Serena menganggukan kepala dan berkata: “Aku ngomong dulu ke Pak Li……”
Belum selesai Serena berbicara, Ralphie langsung memutuskan pembicaraannya, “Ngga perlu.”
Ngga perlu ngomong ke Pak Li? Kenapa?
Apakah dia boleh memberitahu Serena, kalau sejak awal Pak Li sudah Ralphie minta untuk pergi duluan?
Benar, sebenarnya Ralphie tidak ada urusan disini.
Ralphie selesai jam kerja memang sengaja datang kesini untuk menjemput Serena, lalu dia mengetahui dari Pak Li kalau Serena dan Louisa datang kesini untuk makan, makanya dia berpura-pura seolah tidak sengaja ketemu Serena disini.
Karena Ralphie sudah berkata tidak perlu memberitahu Pak Li, Serena pun tidak memberikan telepon pada Pak Li dan ikut mobil Ralphie.
Serena mematikan ponselnya karena saat direstoran Leonard terus meneleponnya.
Akhirnya setelah sampai di rumah, dia menyalakan ponselnya, banyak history telepon dari Leonard yang tak terjawab.
Serena melihat sebentar nomor yang tak terjawab dari Leonard, pada akhirnya dia tetap telepon balik.
Suara Leonard terdengar dari balik telepon, “Serena?”
“Aku ada urusan ingin meminta bantuan sama Ralphie, kamu bantu aku……” Belum selesai Leonard berbicara, Serena sudah memutuskan perkataan dia.
“Kamu cari dia butuh bantuan apa? Kamu dapet keuntungan dari dia masih kurang?” Serena sangat emosi, benar-benar emosi.
Serena tidak menyangka ayahnya baru menghubungi dia setelah satu bulan menikah, dan sekarang ayahnya menghubungi dia bukan untuk mencari dia melainkan untuk mencari Ralphie?
Suara Leonard terdengar setengah memohon, “Serena, aku ini adalah ayahmu, meminta kamu bantuan saja memang tidak boleh?”
Mendengar kata ‘Ayah’, Serena memejamkan matanya.
Serena menarik nafas panjang, dan setelah itu berkata ‘Kamu ngga usah telepon aku lagi’, lalu dia langsung mematikan telepon.
Setelah Serena teleponan dengan Leonard kali ini, Leonard tak pernah lagi meneleponnya.
Awalnya Serena pikir Leonard sudah menyerah, dan ada sedikit kepahitan dihatinya.
Dan di malam berikutnya, Felix datang mencari Ralphie dan mereka pergi keruangan baca untuk berdiskusi.
Awalnya asisten rumah tangga yang akan mengantarkan minuman ke ruangan baca, Serena duduk di ruang tamu sambil nonton tetapi karena merasa bosan maka dia yang mengantarkan minumannya keatas.
Pintu ruangan baca tidak ditutup, Serena berdiri di depan pintu, seperti biasa dia akan mengetuk pintu.
__ADS_1
Baru saja dia ingin mengetuk, dia mendengar Ralphie berbicara dengan nada dingin.
“Dia cari aku ada urusan apa? Grup Luo ada masalah?
Grup Luo? Siapa yang akan mencari Ralphie?
Di pikiran Serena baru muncul gambaran orang itu, Felix pun sudah buka suara.
“Grup Luo sama sekali ngga ada masalah, dia mencari Anda untuk membicarakan masalah pasar luar negeri.”
Suara Ralphie terdengar seperti terkejut, “Grup Luo sejak kapan berpindah menjadi pasar luar negeri?”
“Tuan Luo sedang bekerja sama dengan Grup Bambu Jepang, dia sepertinya ingin meminjam ini untuk mengembangkan Grup Luo di pasar luar negeri.”
Tuan Luo? Ayahnya?
Tubuh Serena bergetar hebat.
Awalnya Serena pikir dia sudah menyerah, tak sangka dia ternyata akan langsung menghubungi Ralphie.
Dia sudah mendapatkan keuntungan berkali lipat dari pernikahan Serena dan Ralphie, sekarang masih ingin Ralphie membantunya mengembangkan pasar di luar negeri.
Serena merasa seluruh darah tubuhnya terasa sangat panas, detik berikutnya dia langsung masuk kedalam ruangan baca.
“Ngga boleh bantu dia.”
Ralphie melihat Serena yang langsung masuk, merasa sangat heran, “Serena, kamu kenapa datang?”
Serena tidak menjawab pertanyaan Ralphie dan hanya berkata: “Ngga boleh bantu dia.”
Ralphie tidak berbicara, hanya melihat kearah Felix sekilas, Felix hanya menganggukan kepala dan keluar dari ruangan.
Setelah Felix keluar, Ralphie akhirnya buka suara: “Serena, dia adalah ayah kamu……”
“Dia adalah ayah aku?” Serena diam dan melihat ke arah Ralphie sebentar, lalu tersenyum, “Leonard juga ayah dari dia kan?”
Apa maksud Leonard ayah dari dia juga? Ralphie tidak mengerti maksud Serena, tetapi terbiasa untuk menjawb ‘En?”
Jelas-jelas Ralphie berbicara dengan menggunakan pertanyaan, tetapi yang di tangkep oleh Serena adalah pernyataan.
Ralphie sebenarnya demi kakak kan?
Hati Serena sakit dan pahit, dia menghela nafas panjang untuk menahan rasa sakit yang dia rasakan, kemudian mengdongakan kepala dan tersenyum pahit: “Aku mengerti.”
Ralphie saja masih tidak mengerti apa yang dimaksud Serena, tetapi Serena langsung berkata: “Maaf sudah mengganggu pembicaraan kalian berdua, aku pergi panggil Felix dulu.”
Selesai berbciara, Serena dengan wajah cemberut keluar dari ruangan baca.
__ADS_1
“Serena…….” Ralphie memanggilnya, tetapi Serena sudah berjalan keluar dari ruangan baca.