I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 361 Wajah Asli Istri Direktur


__ADS_3

Hello! Im an artic!


“Direktur Su, nyonya datang!” Perkataan Felix sama dengan sihir.


Wajah murung pada Ralphie memudar dan melihat ke pintu utama kantor, lalu menunjuk Kepala Departemen Perencanaan dan berkata: “Pulang dan kerjakan ulang.”


Hello! Im an artic!


“Baiklah, Direktur Su.” Kepala Departemen Perencanaan mendengar perkataan Direktur Su, dia merasa lega, dia menunduk hormat kepadanya, lalu membalikkan badan dan pergi.


Saat melewati istri dari Direktur, dia sudah siap untuk memberikan salam hormat kepada istri Direktur, tapi dia tiba-tiba sadar, istri Direktur yang ada di dalam cerita ini, ternyata adalah wanita yang dekat dengan Direktur, yang dulunya pernah masuk ke ruang konferensi.


Ternyata dia adalah istri dari Direktur? Pantas saja berani langsung masuk saat Direktur Su sedang rapat.


Dengan salam penuh rasa terima kasih ke Serena, Kepala Departemen Perencanaan dengan cepat keluar dari kantor Direktur Su, berencana untuk memberitahukan kebenaran ke orang lain.


Hello! Im an artic!


Serena membawa botol termos dan masuk ke dalam kantor Ralphie, “Kamu marah ya?”


“Tidak, kamu kenapa kesini?” Ralphie menghapiri dia, mengambil termos yang ada di tangan Serena.


Serena menjawab, “Aku bosan di rumah, jadi aku membawa sup untuk meminumnya bersama denganmu.”


“Kalau bosan dirumah, setiap hari ikut aku kerja saja.” Ralphie menjawab sambal tersenyum.


Serena menjawab dengan tidak senang, “Ikut kamu ke kantor, sekalian saja aku bekerja.”


“Kamu segitunya ingin datang kerja?” Ralphie bertanya sambil mengerutkan keningnya.


Serena menggelengkan kepalanya dan mengiyakan Ralphie, lalu berkata: “Claudia dan Isa sudah pergi ke Kyoto, kamu juga harus bekerja, aku bosan sendirian di rumah.”


Setelah Ralphie terdiam selama beberapa detik, dia berkata: “Kalau begitu kamu bekerja saja……”


“Ralphie, apakah kamu bersungguh-sungguh?” Mata Serena menjadi terang.


Ralphie mengangkat tangannya dan menyentuh ujung hidung Serena, “Kapan suamimu ini membohongi kamu?”


“Tidak pernah……” Serena menjinjitkan kakinya dan mencium pipi Ralphie, lalu menarik Ralphie ke sofa dan duduk disana.


Dia membuka botol termosnya dan menuangkan keluar kuah yang ada di dalam termos itu.


Ralphie melihat ke dalam termos dan bertanya, “Sup apa?”


“Tidak tahu.” Serena mengambil supnya dengan sendok dan menyuapi Ralphie, setelah menunggu dia menelan kuahnya, dia bertanya, “Enak tidak?”

__ADS_1


“Lumayan enak, seharusnya cocok dengan seleramu.” Ralphie mengambil mangkok kuah yang ada didepan dia dan menyuapi Serena.


Dia menunggu Serena minum sampai kenyang, baru dia meminum habis sisanya.


Setelah selesai meminum kuahnya, Serena menemani Ralphie melihat dokumen.


Setelah melihat sebentar, Serena mulai menguap.


Ralphie berkata: “Tidur di ruang istirahat saja.”


“Ya.” Serena menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam ruang istirahat di kantor Ralphie.


Saat Ralphie selesai melihat dokumen yang ada di tangannya dan masuk ke dalam ruang istirahat, Serena sedang tertidur lelap.


Ralphie menatapi wajah Serena yang sedang tertidur untuk beberapa saat, baru saja dia mau pergi, handphone Serena yang ada di meja samping kasur berdering.


Dia mengerutkan keningnya, mengambil handphone Serena dan melihat tulisan ‘Ayah’ di layar, lalu melihat Serena membuka matanya.


Serena sambil mengusap matanya sambil bertanya, “Siapa yang menelpon?”


“Ayahmu yang menelpon.” Ralphie berkata sambil memberikan handphone itu ke Serena.


Serena menjawab dengan ‘Oh’ dan mengambil handphone itu dan berpikir apakah dia mau mengangkat teleponnya atau tidak.


Dia melihat Ralphie tanpa berkata apa-apa, pada akhirnya dia memutuskan untuk mengangkat telepon itu.


“Halo?”


Terdengar suara Leonard, “Serena, ini ayah.”


“Ada apa?” Serena bertanya dengan datar.


“Ada urusan, kamu datang ke Vila Keluarga Luo.”


Pergi ke Vila Keluarga Luo? Bahkan membicarakan soal keluarga saja tidak? Wajah Serena memancarkan kesedihan.


Ralphie langsung menyadari ekspresi di wajah Serena, dia langsung menjulurkan tangan untuk menggenggam tangannya.


Serena tersenyum ke arahnya, lalu dengan tenang berkata: “Ada apa, kita bicarakan lewat telepon saja.”


“Kalau dibicarakan di telepon tidak akan jelas.”


Serena mengerutkan keningnya dan membalas: “Kalau begitu tidak perlu dibicarakan.”


“Tidak bisa, tidak bisa……” Leonard terus mengatakan ‘Tidak bisa’.

__ADS_1


Serena hanya kosong terdiam memegang handphone, dia dengan halus mengelus-elus tangan Ralphie dengan jarinya.


Dia juga tidak tahu menulis apa di tangan Ralphie, Ralphie sulit menyembunyikan rasa senang di wajahnya.


Leonard setelah berpikir selama beberapa detik, dia berkata, “Kalau tidak, kita janjian untuk bertemu saja?”


Serena berpikir, tapi terus memutuskan untuk mendengar apa yang ingin dia katakana, “Dimana?”


Setelah menunggu Leonard selesai memberitahukan dia alamat, Serena menutup teleponnya.


Ralphie menjulurkan tangan untuk mengelus rambut Serena dan bertanya, “Kamu jadi pergi bertemu dengan dia?”


“Ya.” Serena menganggukkan kepalanya.


Ralphie langsung berkata: “Aku akan pergi bersamamu.”


Serena takut kalau Ralphie pergi bersama dia, Leonard akan meminta permintaan yang aneh-aneh ke Ralphie, jadi dia menolak dengan suara yang kencang, “Kamu jangan pergi.”


Ralphie mengerutkan keningnya, “Kenapa memangnya?”


Serena tersenyum dan menjawab, “Dia tidak ada pekerjaan yang bisa dia lakukan jadi mencariku untuk ngobrol, pekerjaanmu sangat sibuk, tidak usah pergi, hanya akan membuang waktumu saja.”


Ralphie pada akhirnya tidak memaksa untuk tetap pergi, tapi dia meminta Felix untuk mengantar Serena.


Saat itu, informasi bahwa Serena adalah istri Direktur sudah tersebar luas di Grup Su.


Setelah Felix mengantar Serena pergi, lobi lantai satu sangat ramai.


Wanita resepsionis melihat ke Serena, lalu bertanya kepada teman kerja yang mendengar informasi itu: “Kamu sudah lihat belum, wanita yang berjalan dengan Felix, itu adalah istri Direktur……”


“Kamu tidak salah? Wanita barusan mau di lihat bagaimanapun tidak seperti istri Direktur!” Karyawan wanita satu lagi dengan wajah penuh tidak percaya.


Wanita resepsionis memutar matanya dan berkata: “Selain istri Direktur, kamu pikir siapa lagi yang perlu di hormati oleh Felix?”


“Tidak pasti juga kan? Barusan aku mendengar orang di atas berkata, istri Direktur sedang di dalam kantor Direktur, tidak mungkin secepat itu sudah keluar.” Kata seorang wanita cantik berpakaian merah.


“Bodoh, kamu telepon saja untuk bertanya nanti juga tahu.” Kata seorang wanita dengan make up tebal sambil mengerutkan keningnya.


Serena yang sekarang sedang duduk di bangku belakang mobil, sambil menutup mata tertidur, sebenarnya dia sedang berpikir kenapa Leonard mencari dia kali ini, tidak tahu ada masalah apa lagi…….


Mobilnya berjalan dengan lancar, Felix dari waktu ke waktu melihat Serena yang sedang ‘tertidur’ dari kaca spion.


Tidak tahu setelah beberapa lama, Felix mengehentikan mobilnya, membalikkan kepala dan berkata: “Nyonya, kita sudah sampai.”


Serena membuka kedua matanya yang basah, melihat keluar, lalu mengangguk ke Felix dan membuka pintu keluar dari mobil.

__ADS_1


__ADS_2