I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 107 Karena Ulahnya Sendiri


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Isa memutuskan telepon, Lacey yang disebelah bertanya, “Kak Isa, gimana? Serena datang tidak?”


“Dia ada urusan, tidak bisa datang.” Isa menggelengkan kepala dan memasuki ponselnya ke kantong.


Hello! Im an artic!


Lacey dengan kecewa berkata: “Dia kenapa tidak datang ?”


“Dia bilang akhir-akhir ini sedang ada training, pembahasannya sedikit lebih susah untuknya, jadi dia perlu waktu lebih untuk cek data.” Isa menyampaikan perkataan Serena tadi kepada Lacey.


“Oh, gitu.” Lacey menganggukan kepala, kemudian tiba-tiba seperti kepikiran sesuaut dan bertanya, “Oh ia, Kak kalian tahu ngga Serena kerja dimana?”


Isa dan Ryan hanya saling memandang, kemudian dengan kompak menggelengkan kepala, “Ngga tahu, ini seharusnya hanya Ralphie yang tahu?”


Hello! Im an artic!


Lacey menggerutkan alis kemudian bertanya kembali, “Kalau gitu hari ini Kak Ralphie akan datang?”


“Kakak Ralphiemu sudah janji akan datang.” Isa menganggukan kepala.


“En, kalau gitu nanti aku tanya kak Ralphie.” Lacey mengedipkan mata dan lanjut berbicara, “Terus tunggu ada waktu aku pergi mencari Serena main.”


Ryan bahkan sudah tidak tahu harus bagaimana lagi pada adiknya ini dan hanya mengingatkan dia, “Main sih boleh, tapi jangan sampai ganggu orang kerja.”


Lacey melambaikan tangannya, “Kak, Aku masih ada batasannya kok.”


Ryan ingin sekali berkata, kalau kamu ada batasan, kamu masih pergi menjadi dokter? Tapi tentu saja dia tidak ngomong karena kalau dia ngomong, Lacey pasti akan ribut dengannya.


Tak lama, Ralphie pun datang.


Dia dengan datar menyapa balik kemudian duduk.


Karena sebelum Ralphie datang, makanan sudah dipesan, jadi begitu dia duduk makananpun satu per satu keluar.


Semua makan sembari mengobrol dan Ralphie dari awal sampai akhirnya tidak berbicara sepatah katapun.


Sampai akhirnya Lacey tiba-tiba bertanya, “Oh ia, Kak Ralphie, kamu tahu ngga Serena kerja dimana?”


Ketika Ralphie mendengar Lacey menyebutkan kata ‘Serena’, seakan seperti ada benda tajam yang keluar.


Sebenarnya mereka hanya tidak bertemu dua minggu tetapi seakan tidak bertemu sangat lama.

__ADS_1


Sebenarnya beberapa hari ini ia terus berpikir, dia mungkin sudah merasakan sikapnya, makanya dari dia pergi dari kediamannya itu, dia tidak pernah muncul lagi dihadapannya, bahkan tak pernah lagi menelepon ataupun kirim pesan.


Kalau bukan hari ini Lacey tiba-tiba bertanya, ia sudah berpikir bahwa dia sudah menghilang selamanya dari kehidupannya.


Ia tahu bukan ini yang ia inginkan, yang ia inginkan adalah hubungan teman, bukan seperti ini, seperti sudah putus hubungan selamanya.


Dan ini semua karena ulahnya sendiri, tetapi ia malah tidak tahu cara mengembalikannya lagi seperti semula.


Telepon dia? Setiap kali ia ingin telepon, ia selalu teringat dulu kalau dia telepon dirinya, ia hanya akan menjawab ‘Ngga ada waktu’, dan dia masih tersenyum berkata, “Kalau gitu aku ngga ganggu kamu dulu.”


Sudah tidak mengganggu, dia benar-benar sudah tidak mengganggu.


Pergi mencarinya? Ingin mencoba satu langkah lebih maju, itu benar-benar sangat susah.


Ralphie menggenggam erat sumpit kemudian dengan datar berkata, “PT. Antarts.”


Lacey hanya berkata ‘Oh’ dan tak lagi berbicara, tetapi malah Isa yang terkejut dan bertanya, “PT. Antarts? Bukankah itu perusahaan perhiasan yang kamu beli?”


Ralphie hanya ‘En’ dan lanjut makan.


Isa seakan terpikir sesuatu dan berkata: “Pantes aja tadi ditelepon aku dengan tidak senangnya mengatakan kalau bosnya masih suruh dia lembur, dia dengan cepat membela bosnya, ternyata lagi belain kamu.”


Ralphie sedikitpun tidak percaya dengan perkataan Isa, karena ia tahu jelas kalau Serena tidak tahu siapa bos dibalik PT. Antarts.


“Lembur?”


“Bukan lembur, katanya PT. Antarts kamu itu sedang ada kelas training, kamu harusnya tahu kan?” Selesai bicara, Isa melihat ke arah Ralphie.


Ralphie tidak menyangka Serena akan memberitahu Isa tentang training khusus, ia terdiam sebentar lalu menganggukan kepala, “Iya tahu.”


“Katanya Serena training kali ini pembahasannya lebih sulit, jadi dia perlu waktu lebih banyak untuk pergi cek data gitu.” Kata Isa.


Mendengar perkataan Isa Serena perlu banyak waktu untuk cek data, Ralphie terdiam.


Ia tahu, dia harus mengecek data untuk training khusus……


Ternyata ia sudah berjanji akan membantunya cek, tetapi pada akhirnya mulai dari hari itu, ia malah terus bersembunyi darinya.


Makanya ia membutuhkan banyak waktu untuk mengecek data.


Isa sama sekali tidak merasakan ada yang aneh dari Ralphie dan masih bisa tertawa-tawa bertanya, “Serena ikut kelas training apa? Dia di PT. Antarts sebagai apa?”


Ryan yang disana hanya membalikkan bola matanya dan berkata, “Yah setidaknya juga jabatannya manager lah, kamu ngga lihat hubungan Serena dan Ralphie itu seperti apa.”

__ADS_1


“Betul juga, Serena……” Isa belum selesai berbicara, Ralphie meletakkan sumpitnya lalu berdiri.


Isa bingung dan bertanya, “Ralphie, kamu mau kemana?”


Ryan dan Lacey juga memasang wajah kebingungan melihat ke arah Ralphie.


Ralphie dengan datar berkata: “Aku mau keluar cari udara segar.” Lalu pergi meninggalkan ruangan.


Setelah Ralphie keluar, Lacey baru buka suara, “Kak Ralphie kenapa?”


“Tadi masih baik-baik saja ketika berbicara, terus tiba-tiba aja begitu, aku juga ngga tahu.” Kata Isa dengan wajah kebingungannya.


Ryan memikirkan respon yang sedari tadi diberikan oleh Ralphie, seakan dia merasakan sesuatu tetapi dia juga tidak tahu seperti apa.


Ralphie berdiri dibalkon, melihat ke arah lampu kuning dibawah, tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya.


Setelah berselang beberapa waktu, dia seperti membuat sebuah keputusan, lalu dari saku celananya dia mengambil ponsel, kemudian menelepon Serena.


Setelah terdengar bunyi beberapa kali, barulah Serena mengangkat telepon, “Halo!”


Ralphie dengan suara pelan berkata: “Ini aku.”


Serena juga dengan suara pelan berkata ‘En’, lalu kembali bertanya, “Ada apa?”


Ralphie mengenggam ponselnya dengan erat lalu berkata, “Tadi aku dengar Isa tentang training kamu.”


Serena hanya membalasnya dengan ‘Oh’.


Ralphie menarik nafas panjang dan lanjut berbicara, “Susah ngga? Kalau susah……” aku bisa bantu kamu cek, kalimat terakhir belum tersampaikan oleh Ralphie, Serena langsung memotong perkataannya.


“Masih okelah.”


Ralphie merasa kecewa dan hanya membalasnya dengan ‘Oh’.


Serena terdiam dalam waktu yang cukup lama kemudian membuka suara, “Kalian malam ini kumpul ya?”


“Di Royal, dia bilang kamu ngga ada waktu.” Terakhir Ralphie hanya cemberut.


Serena mengepal erat tangannya, kemudian dengan tenang berkata, “Ia, Aku sibuk.”


“En.” Ralphie terdiam lalu berkata lagi,”Aku juga sibuk.”


“Jangan sampe kecapekan.” Setelah Serena mengucapkan kalimat ini, ia seakan ingin memutuskan lidahnya sendiri, jadi dengan cepat ia berkata, “Aku masih ada urusan, aku matiin dulu ya.”

__ADS_1


“Oh, ok.” Ketika Ralphie sedang berbicara, dari telepon terdengar suara tut tut tut.


__ADS_2