
Hello! Im an artic!
Ketika Ralphie sampai di persimpangan Disker Manor, Flora berpakaian cantik dan berdiri di persimpangan menunggunya.
Hello! Im an artic!
Ralphie sedikit mengernyitkan alisnya dan kemudian perlahan-lahan menyetir mobilnya ke depan Flora.
Awalnya Flora merasa aneh, mengapa Mercedes GLS ini berhenti di depannya.
Hello! Im an artic!
Matanya berbinar ketika melihat Ralphie yang mengguncang jendela.
Dia senyum percaya diri terhadap Ralphie, dan kemudian berjalan mendekati mobil Ralphie.
Dia sangat percaya diri, selama dia dekat dengan pria ini, maka pria ini tidak akan terlepas dari telapak tangannya.
Namun, dia tidak tahu bahwa Ralphie tidak berniat untuk membiarkannya naik mobil.
Ketika pintu Ralphie tidak dapat dibuka, Flora berpikir bahwa Ralphie lupa untuk membuka kuncinya dan mengingatkannya: “Tuan Su, kamu tidak membuka kunci pintu.”
Ralphie tidak menjawab kata-kata Flora, hanya bertanya, “Di mana Serena tinggal?”
Ralphie telah menunjukkan begitu jelas, jika Flora masih tidak mengerti, itu juga bodoh.
Ekspresi wajah sebentar biru sebentar putih, dan senyuman di wajahnya hampir tidak dapat dipertahankan, “Tuan Su, kamu harus tahu, bahwa hanya aku saja yang tahu tempat tinggal Serena.”
“Jadi?” Mata Ralphie sedikit berkedip, dengan membawa sedikit kesombongan.
Jelas-jelas bahwa suara Ralphie sangat menawan, dan sangat lembut. Jelas-jelas dia itu tersenyum. Tapi intonasi nada ini membuat Flora merasa sedikit takut, tetapi dia sudah mengatakannya. Dia hanya berkata dengan keras kepala: “Jika aku tidak memberitahumu, kamu tidak akan pernah bisa menemukannya.”
Karena sebelumnya aku tahu tenang Ralphie dari Serena bahkan tidak memberi tahu kepada Serena, Flora langsung menduga bahwa Serena dan Ralphie tidak begitu tahu secara mendalam. Karena itu, dia baru bisa menipu Ralphie tanpa rasa takut, sehingga dia membiarkan Ralphie berkompromi dengannya.
Namun, Flora tidak tahu bahwa dia mencari objek yang salah untuk diperhitungkan.
Kalau bukan buru-buru mau menemui Serena segera, dia tidak akan datang untuk berjumpa dengan Flora, jika tidak, dia bisa menunggu sampai besok baru pergi ke PT. Antars untuk menemui Serena.
“Benarkah?” Ralphie tersenyum dingin pada Flora.
Melihat senyuman Ralphie, tebakan Flora di lubuk hatinya menjadi tidak yakin. “Kamu …”
__ADS_1
Ralphie tidak melihat Flora pun tidak, kemudian menghidupkan mobil lalu pergi.
Melihat mobil Ralphie pergi jauh, Flora sangat marah sehingga dia menendang-nendang kakinya.
“Sialan, aku tidak akan membiarkanmu tinggal bersamanya, Serena dia pasti milikku.”
Setelah meninggalkan Disker Mansion, Ralphie kembali lagi ke Gallowen Manor.
Pada saat ini, hari sudah mulai gelap, dan semakin banyak orang keluar masuk dari pintu gerbang Gallowen Manor.
Ralphie menatap gerbang Gallowen Manor terus, dia takut Serena terlewat.
Faktanya, dia sama sekali tidak menyakinkan bahwa Serena akan muncul di pintu Gallowen Manor, dia benar-benar memegang gagasan bahwa Serena akan muncul.
Dan faktanya, Ralphie ‘mungkin’ benar.
Setelah menunggu sekitar setengah jam, Ralphie melihat Serena turun dari bus dan jalan mendekat menuju Gallowen Manor. Dia langsung buru-buru mendorong pintu turun dari mobil.
Setelah Serena berganti obat di rumah sakit pada sore hari, dia ingat bahwa buku albumnya hampir habis, jadi dia jalan-jalan ke mall. Karena dia dirampok, semua kartu dan uang tunai hilang. Dia mengandalkan bantuan dari Claudia untuk mempertahankan hidup. Untuk menghemat uang, sepanjang jalan dia hanya naik bus.
Ketika dia pulang, hari sudah gelap.
Dia menghela nafas sambil mengambil kantong itu, mengingat bulan ini akan butuh setengah bulan lagi baru mendapatkan gaji, dan apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Serena tidak menyangka akan bertemu Ralphie di pintu Gallowen Manor.
Awalnya dia berpikir bahwa dia kemarin pergi begitu saja, mungkin mereka tidak akan ada berhubungan lagi.
Serena tanpa sadar meremas tas itu di tangannya, lalu berjalan menuju Ralphie, berhenti di tempat yang berjarak 1 meter di depan Ralphie, dan kemudian menyapa Ralphie dengan nada tenang. “Kebetulan sekali, kamu datang ke sini ada kerjaan?”
“Tidak.” Ralphie menggelengkan kepalanya. “Aku datang mencarimu.”
Ketika dia mendengar Ralphie mengatakan bahwa dia datang untuk menemuinya, tangan Serena sedikit bergetar, dan pandangannya diam-diam menyelinap ke arah Ralphie.
Ekspresi muka Ralphie seperti biasa dinginnya kayak es batu, tanpa kelainan apa pun.
Melihat situasi seperti ini, seharusnya dia menyadari rahasianya?
Meskipun dia sedikit kecewa, namun dia sangat lega.
Serena memalingkan matanya dan sedikit tersenyum di wajahnya, “Kenapa kamu datang ke sini jam segini?”
__ADS_1
Ralphie melihat Serena tertawa, diwajahnya menjadi sedikit lebih lembut, “Teleponmu tidak bisa dihubungi.”
Serena tahu bahwa makna tersembunyi dalam kata-kata Ralphie itu adalah tidak bisa menghubungimu lewat telepon, maka aku datang.
Dia mengambil napas dalam-dalam dan menjawab, “Oh, tas aku dirampok dan telepon juga sama.”
Serena khawatir bahwa Ralphie akan berpikir terus, sengaja tidak memberitahukan bahwa dia dirampok kemarin.
Tetapi dia tidak tahu bahwa Ralphie telah meneleponnya kemarin, jadi Ralphie berpikir kejadian sebelum dan sesudahnya, dan langsung tahu bahwa Serena baru saja dirampok kemarin.
“Waktu kemarin pulang?” Kalimat Ralphie bukanlah kalima interogatif, tetapi kalimat afirmatif.
Serena menyadari bahwa dia tidak bisa menutupinya lagi. Dia berkata: “Itu … dalam perjalanan pulang kemarin, aku di copet geng motor.”
Serena mengatakannya dengan santai, sehingga Ralphie hampir benar-benar berpikir bahwa semuanya sesederhana yang dikatakannya. Namun, ketika dia tiba-tiba menyadari bahwa tangan Serena dibungkus dengan kain kasa, ekspresi wajahnya langsung mengembun.
Bagaimana tangannya bisa terluka? Apa terluka karena pencopetan kemarin?
“Bagaimana tangan itu bisa luka?”
Tidak menunggu Serena untuk menjawab, Ralphie bertanya lagi, “Terluka karena perampokan itu?”
Serena hanya menjawab dengan nada rendah, “Iya” lalu berkata, “Cuma luka kecil, tetapi dokter membungkusnya melebih-lebihi.”
Ralphie tidak percaya pada kata-kata Serena, juga tidak membongkar kata-kata Serena, hanya menatap tangan Serena yang dibungkus kain kasa.
Serena mulai berkata setelah hening beberapa saat, “Sudah larut malam, kamu cepat pulang.”
Ralphie membuka mulut dan ingin mengatakan sesuatu. Pada akhirnya, dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya mengulurkan tangan dan mengambil kantong dari tangan Serena dan membantunya untuk masuk ke dalam Gallowen Manor.
Serena butuh dua detik untuk bereaksi sedangkan Ralphie mengantarnya ke Gallowen Manor. Dia tidak bisa mengatakan kata-kata untuk menolaknya, lalu dia menindaklanjutinya.
Serena membawa Ralphie ke depan pintu apartemen Claudia baru berhenti menlangkahi.
“Saat ini aku tinggal bersama temanku.”
Ralphie tahu bahwa teman yang dikatakan Serena adalah teman sekamarnya, meskipun dia sudah lama ingin melihat teman sekamar Serena. Tetapi dia tahu bahwa itu tidak pantas untuk sekarang, setidaknya tidak malam ini.
Dia sudah tahu tempat tinggal Serena. Gampang untuk melihat teman sekamarnya, tidak perlu buru-buru tentang ini, kata Ralphie dalam hati, dan kemudian menyerahkan kantong di tangannya kepada Serena. “Aku pergi dulu.”
“Kamu …” Serena awalnya ingin mengajak Ralphie untuk masuk kedalam , tetapi berpikir bahwa ini adalah rumah Claudia. Dia hanya orang yang menumpang tinggal di sini, lalu kata-katanya yang sampai di mulut itu ditelan lagi. “Hati-hati di jalan. ”
__ADS_1
“Baiklah, sampai jumpa besok.” Setelah mengatakan ini, Ralphie langsung pergi.