I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 232 Mendekati Kebenaran


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Selesai menelpon, suasana ruang kerja itu menjadi hening, dari luar jendela terlihat sinar matahari yang bersinar terang, menyinari dunia, terasa sebuah ketenangan disana, namun hati Ralphie sangat sakit, tidak seperti wajah yang di tunjukkannya.


Itu adalah anaknya, anak dari Ralphie dan Serena, tapi tidak bisa menjaga “dia” dengan baik.


Hello! Im an artic!


Kenapa Ralphie tidak bisa menjaga “dia” dengan baik?


Serena mual karena jelas-jelas sedang mengandung, tapi kenapa Ralphie mengira bahwa hanya sebatas sakit perut biasa?


Kenapa hanya membiarkannya bertahan dengan sakitnya, dan bahkan tidak membawanya periksa ke dokter?


Kalau saja waktu itu Ralphie membawanya periksa ke dokter, pasti saja bisa tahu bahwa Serena sedang mengandung anak mereka.


Hello! Im an artic!


Itu adalah kesalahannya, dia tidak bisa menjaga anaknya dengan baik, dia juga tidak menjaga Serena dengan baik.


Dia sangat merasa bersalah pada anaknya , juga pada Serena.


Ralphie mengangkat tangannya dan menutupi wajahnya, lalu air matanya perlahan-lahan tumpah ke jari-jari tangannya…..


Sudah tidak tau berapa lama dia telah disana, tiba-tiba terdengar ada suara pintu di ketuk dari luar.


“Tuan muda, apa anda didalam?” Tanya pembantunya dari luar.


Ralphie tidak membuka pintu, hanya bertanya perlahan dari dalam, “kenapa?”


“Nyonya muda tertidur di sofa, apa anda mau membangunkannya untuk pindah ke dalam kamar…..” belum selesai bicara, Ralphie sudah memotong pembicaraan, “Aku turun sekarang.”


“Baik, Tuan muda.” Jawab pembantunya lalu dia beranjak pergi.


Ralphie pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya, menenangkan suasana hatinya, baru kemudian turun ke bawah.


Sampai di lantai bawah, dia mendapati Serena sudah tertidur di sofa.


Dia menunduk lalu mengangkat pelan Serena, seketika itu Serena membuka mata, tapi terlihat sangat bingung.


“Aku akan membawamu ke kamar untuk lanjut tidur.” Kata Ralphie.


“Iya.” Kata Serena, lalu tangannya memeluk leher Ralphie, wajahnya di tempelkan ke bahu Ralphie dan memejamkan matanya kembali.


Ralphie menatap sejenak Serena, lalu mulai berjalan ke atas.


Sesampainya di kamar, Ralphie menurunkan Serena di atas kasurnya, lalu berniat untuk melepaskan tangan Serena dan berdiri.


Dia tidak ingin Serena memegang lehernya terlalu erat, tetapi tidak berani untuk melepaskannya.

__ADS_1


Dia takut membangunkan Serena, akhirnya dia tetap memeluk Serena diatas kasur.


Serena tertidur dalam pelukan Ralphie.


Ralphie menatap wanita yang dipeluknya, wajahnya masih terlihat pucat, tetapi sudah lebih baik daripada sebelumnya.


Dia mengarahkan tangannya ke Serena dan membelai pipi Serena dengan penuh kasih sayang, dan sangat lembut…..


Seminggu telah berlalu, Serena harus ke kantor untuk bekerja kembali.


“Apa tidak mau ijin beberapa hari lagi?” Tanya Ralphie sambil mengerutkan kening, melihat wajah Serena yang masih tampak pucat.


Serena segera menjawab dengan gelengan kepala, “Tidak usah.”


Beberapa saat kemudian melanjutkan perkataannya, “Itu sudah tidak ada ya….” saat berkata “itu” wajah Serena nampak sedikit kemerahan.


Tapi wajah Ralphie sangat datar, hanya menjawab “Ya.” Saja.


“Ya sudah, aku kerja dulu.” Jawab Serena mengangguk, lalu melepaskan sabuk pengaman di mobil lalu turun.


Lalu seketika itu Ralphie berkata, “Pakailah ini.”


“Apa?” Tanya Serena menoleh, dia melihat Ralphie membawa tas plastik.


Serena terdiam, lalu mengambil tas plastik di tangan Ralphie, lalu membukanya, ternyata isinya jaket.


“Bawalah, jangan masuk angin.” Kata Ralphie.


Ralphie tampaknya terbius dengan senyuman Serena, “Masuklah, nanti pulang kantor, aku akan menjemputmu.” Kata Ralphie.


“Iya, hati-hati di jalan.” Jawabnya lalu membuka pintu mobil kemudian turun.


Ralphie mengangguk, lalu pergi meninggalkannya.


Setelah mobil Ralphie meninggalkannya, dia berbalik arah masuk ke kantor. Baru melangkah dua kaki, dia mendengar klakson mobil dari belakang.


Dia berbalik ke belakang, dan melihat Elliot dari dalam mobil melambaikan tangan padanya.


“Halo Manejer Elliot.” Kata Serena sambil menunduk, lalu dia berjalan menuju Elliot untuk menyapa .


Elliot menatap wajah serena, lalu bertanya “Apakah kamu sudah lebih baik?”


“Iya sudah jauh lebih baik, Terima kasih perhatian Manajer Elliot.” Jawab Serena dengan sopan.


“Baguslah.” Mata Elliot berkedip lalu bertanya dengan santai pada Serena, “Tadi yang antar kamu itu pacarmu?”


Pacar? Serena terdiam sejenak, baru mengerti yang dimaksud adalah Ralphie.


Ralphie bukan pacarnya, tapi dia adalah suaminya, tapi juga bukan suaminya.

__ADS_1


Jawab Serena, “Dia bukan pacar saya.”


Elliot memandang Serena, lalu menganggukkan kepala, “Ayo cepat masuk, nanti bisa terlambat.”


Kalau aku terlambat, apa itu bukan salahmu yang menyapaku? Serena mengangguk pada Elliot, lalu berjalan masuk ke kantor dengan cepat.


Elliot melihat Serena dari belakang, lalu berangan-angan.


Mobil yang mengantar Serena tadi, sepertinya dia pernah melihatnya.


Sepertinya melihat mobil itu waktu dia berada di pusat Grup Su.


Tapi tidak tahu siapa yang mengendarai mobil itu, hanya saja melihat mobil itu di anggota senior Grup Su.


Serena bukan hanya di dampingi asisten khusus untuk masuk ke PT. Antarts, tapi juga di antar jemput oleh senior Grup Su juga.


Sebenarnya latar belakang Serena apa?


Elliot hanya menebak-nebak saja dan tidak berniat untuk menginvestigasinya.


Hanya bercanda, bahkan jika memang Serena seorang istri Direktur, itu pun tidak ada hubungan dengannya kan?


Memang benar, apa yang dikatakan Manajer Elliot.


Tuan besar memang tidak datang langsung menjenguk Serena, tapi dia mengirimkan banyak sekali obat penguat.


Seperti gingseng, Polygonum multiflorum, sarang burung, dll. Bagaikan membuang-buang uang mengirim barang sebanyak itu.


Ralphie takut hal ini akan membuat Serena kebingungan, pada saat tidak masuk kerja 7 hari lalu, dia pun tidak menyuruh pembantunya untuk membuat obat penguat untuk Serena. Hanya setelah Serena sudah mulai pulih dan kembali bekerja, barulah menambahinya.


Kemarinnya sup ayam gingseng, kemarin sup ayam tulang hitam, dan hari ini sarang burung kukus.


“Ini sarang burung?” Tanya Serena sambil melihat mangkuk berisi sarang burung berwarna merah.


Ralphie yang di hapannya menoleh dan bertanya, “Betul, memangnya kenapa?”


“Tidak apa-apa, aku dulu pernah makan sarang burung, tapi berbeda dengan ini.” Jawab Serena menggelengkan kepala.


Ralphie tertarik dengan pembicaraan Serena, sambil mengangkat alis dia bertanya, “Apanya yang berbeda?”


“Dulu aku makan yang warna putih, yang ini warna merah.” Mata Serena berkedip lalu lanjut berkata,” Rasanya pun berbeda, agak asam, iya, beberapa hari yang lalu aku merasakan rasanya enak, sekarang rasanya manis, lebih enak….”


Serena asik berpikir sendiri, sedangkan Ralphie heran mengerutkan kening, dan terlintas pikiran dibenaknya.


Sarang burungnya agak asam? Beberapa hari lalu dia merasakan rasanya enak?


Ralphie merasa seperti menangkap sesuatu, tapi tidak menangkap apa-apa.


Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, “Ada banyak jenis sarang burung, cara memasaknya juga berbeda-beda.”

__ADS_1


“Oh.” Jawab Serena sambil mengangguk dan melanjutkan makan sup sarang burungnya.


__ADS_2