I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 346 Menemani Isa Minum Bir


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Siang tadi Ralphie berkata kepada Serena bahwa ia akan pulang lebih awal, jadi sebelum jam 5, dia sudah menutup laptopnya dan meninggalkan kantornya.


Alhasil ketika baru mengemudi sampai setengah perjalanan pulang ke rumah, Ryan meneleponnya.


Hello! Im an artic!


“Ralphie, cepatlah kemari, Isa gila……”


Sifat Ralphie sebenarnya dingin, dia sangat dingin menghadapi segala sesuatunya. Tetapi pertemanannya dengan Ryan dan Isa itu tulus.


Mendengar Ryan berkata seperti itu, ia pikir Isa sepertinya benar-benar berada dalam masalah. Setelah ia bertanya di mana alamatnya, ia lalu mengemudikan mobilnya ke sana.


Setibanya di sebuah ruangan di Royal Club, ia melihat Isa sedang meneguk bir langsung dari botolnya, dan Ryan berada di sampingnya menemani Isa minum menggunakan gelas.


Hello! Im an artic!


Ralphie mengernyitkan alisnya dan bertanya, “Dia kenapa?”


Ryan mengangkat tangannya menunjukkan rasa ketidaktahuannya, dan menjawab “Tidak tahu tuh, begitu ia masuk, ia langsung memesan bir semeja penuh, lalu ia meminum semuanya sendirian, bagaimana pun aku membujuknya, dia tak mau mendengarkan.”


Begitu suara Ralphie terdengar oleh Isa, Isa yang sedang meneguk bir dari botolnya itu langsung mengangkat kepalanya, ia melihat Ralphie, berbicara dengan keras, “Ral…..phie……Kamu sudah datang……”


Ralphie berkata “Hmm”, lalu duduk di sofa yang ada di seberang Isa.


“Sini……Temani aku……Temani aku minum bir.” Isa berbicara sambil mengangkat sebuah botol bir, menuangkan bir tersebut ke sebuah gelas bir besar, dan mungkin karena ia sudah mabuk, ketika bir dituangkan, banyak sekali bir yang tumpah keluar.


“Aku saja yang tuang.” Ucap Ryan sambil menghela nafas, yang ingin merebut botol bir tersebut dari tangan Isa.


Tapi akhirnya dapat direbut kembali oleh Isa, “Biar aku saja……Biar aku yang menuangkan.”


Ryan yang sudah malas beradu mulut dengan Isa yang sudah mabuk itu, hanya bisa membiarkan dia melakukan apa yang ingin dia lakukan.


Setelah Isa selesai menuangkan bir, ia mengangkat gelas bir tersebut, berjalan ke arah Ralphie dengan sempoyongan.


“Ralphie……Ugh……Aku benar-benar iri padamu……”


Ralphie menaikkan satu alisnya, menerima bir yang ada di tangan Isa, “Hah?”


Awalnya ia pikir, ada yang ingin Isa katakan padanya.


Akhirnya Isa berkata tanpa basa-basi, setelah ia berkata ‘Kenapa……Kenapa aku sama sekali tidak bisa menemukannya?’, ia mengambil sebotol bir lagi, mengangkat kepalanya tinggi-tinggi lalu meneguknya dalam sekali tegukan.


“Dia mencari siapa?” Ralphie memutar kepalanya dan bertanya kepada Ryan.

__ADS_1


Ryan menebak dan berkata, “Mungkin ia mencari simpanannya?”


Ralphie tahu Isa playboy, tetapi ia sama sekali tidak tahu kalau Isa ternyata punya selingkuhan, ia pun mengernyitkan alisnya dan bertanya, “Simpanannya?”


Ryan batuk-batuk ringan, berkata: “Eh…… Itu, dia selalu punya wanita simpanan selama ini, hal ini sudah berlangsung dari beberapa tahun lalu, dan tidak lama ini, simpanannya yang ini, pergi tanpa berkata satu kata pun……”


Ralphie bertanya dengan hambar, “Jadi dia ingin mencarinya?”


Ryan merasa kata-kata Ralphie ini, benar-benar tepat sasaran, “Dia bilang wanita itu benar-benar tidak memberinya muka, dia ingin mencarinya, dan memberinya pelajaran.”


“Dia……” Belum selesai Ralphie berkata, handphonenya berbunyi.


Dia mengambil handphonenya dari dalam jasnya, setelah ia melihat itu adalah nomor Serena, ia baru teringat kalau ia lupa memberi kabar pada Serena.


Ia buru-buru keluar dari ruangan itu, pergi menerima telepon.


“Serena?”


“Ralphie, apakah kamu sudah pulang?”


“Belum.” Ralphie lanjut menjelaskan: “Suasana hati Isa sedang tidak baik, aku sedang berada di Royal Club menemaninya minum bir.”


Serena menjawab ‘Oh’, lalu lanjut berkata, “Kalau kamu ikut minum, pulang nanti tidak usah menyetir, nanti kamu telepon aku saja, aku akan suruh sopir untuk menjemputmu.”


Mengetahui Serena yang khawatir padanya jika ia menyetir dalam keadaan mabuk, ia tersenyum dan berkata, “Iya, baik.”


“Iya, aku mungkin akan kembali larut malam nanti, kamu tidur duluan saja……”


Setelah menutup telepon dari Serena, Ralphie kembali ke ruangan.


“Serena yang telepon tadi?” Tanya Ryan.


Ralphie menganggukkan kepala menjawab, “Ya.”


Ryan menaikkan alisnya sebelah, lalu berkata: “Lebih baik kamu pulang duluan saja! Biar aku saja yang menemaninya minum di sini.”


“Tidak apa-apa, aku sudah berkata padanya akan pulang lebih larut.” Ucap Ralphie sambil menggelengkan kepalanya.


Mendengar jawaban dari Ralphie, Ryan berseru: “Ralphie, sejak kamu bersama dengan Serena, kamu benar-benar berubah banyak.”


Ralphie mengatakan ‘Ya’ dengan menunjukkan raut muka yang lembut.


Sama sekali tidak pernah melihat Ralphie yang lembut seperti ini, Ryan benar-benar terkejut, “Hebat sekali Serena itu bagaikan dewi, ia bahkan bisa merubahmu menjadi selembut ini.”


(Ryan, apakah kamu tahu kalau kamu sudah masuk ke dalam daftar hitam Direktur Besar Su? Seenaknya saja dia memanggil Serena dengan sebutan Dewi dengan mata berbinar-binar, benar-benar ingin mati ya.)

__ADS_1


“Dia milikku.” Ralphie menatap mata Ryan dengan dingin.


Raut wajah Ralphie bisa berubah secepat itu? Di dalam hati, Ryan merasa dia ingin menarik kata-katanya kembali, lalu ia segera membuat raut muka tidak bersalah, “Dia memang milikmu, tidak mungkin ada orang yang berani punya niat untuk memilikinya.”


Mendengar jawaban dari Ryan, Ralphie merasa sangat puas, lalu ia mengambil gelas bir yang tadi telah terisi, lalu meneguk segelas wine.


Ryan menelan ludahnya dengan sekuat tenaga, lalu berkata: “Ralphie, aku selalu merasa perbuatan Isa ini sangat aneh. Wanita itu kan hanyalah simpanannnya, kalau dia memang memutuskan pergi, Isa harusnya membiarkannya pergi saja kan, kenapa ia malah membuat dirinya sendiri menjadi menderita sampai seperti ini demi mencarinya? Bahkan membuat dirinya sendiri menjadi seperti sekarang ini.”


Ralphie hanya menatap Isa yang terus-menerus meneguk bir di sana, menjawab dengan datar, “Mungkin tidak……”


Kata-kata selanjutnya, Ryan tidak mendengarnya dengan jelas, lalu ia memutar kepalanya dan bertanya kembali, “Mungkin tidak apa?”


Ralphie tidak menjawab pertanyaannya, karena Isa mendatanginya, menarik mereka berdua untuk ikut minum……


Setelah Serena selesai menelepon Ralphie, ia pun pergi ke kamar Claudia untuk mengundangnya makan.


“Apakah suamimu sudah kembali?” Tanya Claudia.


Serena menggelengkan kepalanya, “Dia sibuk, mungkin dia akan pulang agak larut, dia menyuruh kita untuk makan duluan.”


Claudia menganggukkan kepala, lalu berkata: “Suamimu adalah Direktur dari perusahaan besar, sibuk itu wajar.”


“Dia bukan sibuk bekerja, tetapi ia pergi ke Royal Club untuk minum bir.” Serena menjawab dengan santai.


Melihat ekspresi Serena yang santai menghadapi Ralphie yang pergi minum bir, Claudia sedikit kaget, “Dia pergi minum bir, kamu tidak berpikiran yang tidak-tidak?”


Serena menghentikan langkahnya, kemudian bertanya ke Claudia dengan heran, “Kenapa aku harus berpikir yang tidak-tidak?”


“Hee……Pria minum bir, sangatlah besar kemungkinannya untuk……” kata-kata selanjutnya, Claudia sengaja tidak mengatakannya, karena ia yakin Serena mengerti apa maksud perkataannya barusan.


Serena pun tertawa, “Tenang, dia tidak mungkin.”


Kali ini giliran Claudia yang bingung, “Apakah kamu percaya sekali padanya?”


Serena tidak memberitahu Claudia, Ralphie punya penyakit Mysophobia, ia tidak akan mengijinkan perempuan lain mendekatinya, dia pun berkata: “Mencintai dia, berarti percaya padanya.”


Serena pernah karena ia ‘Tidak percaya’, ia membayar harga yang sangat besar, oleh karena itu, ia belajar untuk percaya.


Mencintainya, apakah berarti seharusnya percaya padanya? Tidak tahu apa yang tiba-tiba masuk di dalam pikirannya, ia tiba-tiba diam dan termenung.


Serena yang heran karena Claudia mendadak diam dan sama sekali tidak bersuara, akhirnya memutar kepalanya dan melihatnya, “Claudia?”


Serena yang memanggil namanya beberapa kali itu, sama sekali tidak dihiraukan olehnya.


Beberapa lama kemudian, Claudia baru kembali tersadar, “Hah? Apa?”

__ADS_1


Serena mengedip-kedipkan matanya, menjawab, “Tidak ada apa-apa, kita turun dan makan saja.”


Claudia tidak berpikir banyak lagi, dan berkata ‘Baiklah’, lalu mengikuti Serena turun ke bawah.


__ADS_2