
Hello! Im an artic!
Sesampainya Serene dan Claudia di kantor polisi, polisi yang menangani kasus mereka sudah menunggu.
Setelah berkenalan, polisi itu membawa Serene untuk melihat barang-barangnya.
Hello! Im an artic!
“Tas ini kami temukan ditempat tinggal si pelaku, didalam tas ini tadinya ada ponsel, uang, kartu dan lainnya, tapi sekarang sudah tidak ada, menurut pengakuan pelaku, ponselnya telah dijual, uang telah dipakai dan kartu juga sudah dibekukan, tidak bisa menarik uang lagi, dan akhirnya dibuang. Hanya tersisa kartu-kartu dan buku ini.” Polisi itu menyerahkan tasnya sembari berbicara kepada Serene.
Serene mengambil barangnya dan berTerima kasih kepada polisi, “Terima kasih.”
Sebenarnya Serene tidak pernah mengira tasnya akan ditemukan kembali, walaupun ponsel dan uangnya sudah tidak ada, tapi semua kartu tanda pengenalnya masih ada, dia tidak perlu susah mengurusnya lagi, dan lagi buku catatannya masih ada, didalamnya berisi semua gambar yang ia gambar setahun terakhir ini.
Serene membuka buku catatannya dan melihatnya sampai dihalaman terakhir ada gambar Ralphie.
Hello! Im an artic!
Ini adalah gambar yang hari itu tidak sengaja dia gambar, tadinya ia ingin membuangnya, tapi akhirnya tidak jadi, akhirnya diselipkan di buku catatannya ini.
Serene dengan lembut mengelus gambar itu, bibirnya perlahan tertarik keatas membentuk sebuah senyuman.
“Serene apa yang sedang kau lihat?” Claudia yang duduk disamping Serene memalingkan wajahnya penasaran melihat Serene tersenyum sambil memegang benda di tangannya.
“Bukan apa-apa.” Mendengar Claudia bertanya, Serene segera menutup buku yang sedang ia pegang, tapi sudah terlambat, Claudia sudah melihat gambar itu, “Serene aku sudah melihatnya, itu adalah gambar seorang pria.”
Karena Serene terlalu cepat menutupnya, Claudia tidak sempat melihat gambar siapa itu, hanya melihat gambar seorang pria.
Sebelum Claudia menyelesaikan kalimatnya, Serene sudah menutupi mulut Claudia dengan tangannya. Seorang wanita memegang gambar pria, bukankah kalimat ini bisa membuat orang salah paham! Bisa dilihat raut wajah polisi diseberang yang merasa aneh.
“Hmm aku pergi dulu, Terima kasih banyak.” Serene berkata kepada polisi itu.
Polisi menatap dengan tatapan aneh kearah Serene dan menjawab, “Jangan sungkan, ini adalah tugas kami.”
Wajah Serene memerah, tanpa berlama-lama Serene meninggalkan tempat itu, menarik Claudia untuk keluar dari kantor.
Setelah keluar dari kantor polisi, Claudia tidak tahan dan berkata, “Siapa orang itu, aku belum melihatnya dengan jelas.”
Serene menjawab dengan canggung, “Bukan siapa-siapa.”
__ADS_1
Makin dilihat Claudia merasa ada yang aneh dengan Serene, akhirnya dengan raut yang sedikit terkejut dia berkata, “Jangan-jangan orang yang selama ini ada dihatimu?”
Serene dengan wajah yang merona mengangguk, “Ya.”
Melihat Serene yang mengaku mata Claudia berbinar, “Cepat perlihatkan kepadaku, aku masih belum tau bagaimana rupa orang yang selama ini kau sukai.”
Serene dengan ragu berkata, “Tidak usah.”
“Lihat.” Claudia melotot memaksa.
Dia sangat paham dengan bakat menggambar Serene, sketsa gambar itu pasti sangat mirip dengan orang aslinya, dia tidak ada kesempatan bertemu dengan orang asli, maka dari itu dia harus melihat gambar ini.
“Baiklah.” Pada akhirnya Serene dengan enggan membuka gambarnya.
Claudia terkejut ketika melihat sketsa yang menggambarkan Ralphie.
“Serene, kau tidak menggambarkan laki-laki sempurna yang selama ini hanya di bayanganmu saja kan?” Jangan salahkan Claudia yang terkejut sampai seperti itu, tapi laki-laki yang ada digambar itu sangatlah sempurna, sesempurna seorang dewa!
Mendengar perkataan Claudia, Serene tertawa terbahak-bahak, “Tentu saja tidak, orang yang asli lebih tampan, tapi keahlian gambarku tidak dapat menggambarkan bahkan 1 persen dari ketampanannya.”
Claudia percaya bahwa orang yang di gambar oleh Serene adalah pujaan hatinya, tapi tidak percaya ketampanan yang di gambar tidak sampai 1% dari orang aslinya, karena orang yang ada di gambar itu benar-benar sempurna, hanya saja raut wajahnya terlalu dingin.
“Dia seseorang yang sangat dingin?”
Claudia menunggu jawaban dari Serene, tapi beberapa saat tidak ada jawaban darinya dan akhirnya Claudia memalingkan wajahnya menatap Serene. Melihat seorang wanita yang sedang memandang jauh keluar jendela, dalam tatapannya tersiran kekecewaan yang menyakitkan.
Ralphie keluar dari restoran dengan perasaan yang sangat tidak gembira, ia mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Serene seperti biasanya.
Setelah ia menelpon ia menyadari ternyata ponsel Serene mati, baru tersadar ponsel Serene telah dicuri dan urusannya belum selesai.
Ralphie melemparkan ponselnya ke kursi penumpang dan mengendarai mobilnya menuju departemen store. Sesampainya di departemen store ia langsung menuju toko yang menjual alat elektronik.
Ralphie memilih toko yang sudah memiliki nama, lalu dengan perlahan melihat barang-barang yang terpajang dilemari kaca pajangan. Pelayan yang menjaga barang pajangan itu datang mengampirinya dan menyapanya dengan sopan, “Tuan, apakah kau ingin membeli ponsel?”
Penampilan dan jas yang dikenakan pria ini tidaklah murah dan lagi pria ini sangatlah tampan, nona itu merasa harus melayaninya dengan baik.
Ralphie mengerutkan alisnya dan tidak banyak bicara.
Pelayan itu kembali bertanya, “Tuan, kau bisa lihat disebelah sini ponsel untuk pria yang baru keluar..” kali ini sebelum nona ini selesai berbicara, Ralphie langsung memotong perkataannya.
__ADS_1
“Berhenti.” Ralphie dengan tatapan yang dingin melihat sekilas kearah orang itu, lalu menjauh beberapa langkah, pelayan ini kemudian melambaikan tangannya.
Kemudian ada pelayan lain yang datang dan bertanya dengan sopan, “Tuan, apa yang bisa saya bantu?”
Ralphie berkata dengan acuh, “Ponsel khusus wanita yang paling bagus.”
“Baik.” Nona itu mengangguk, dan mengambil beberapa ponsel dari dalam lemari kaca dan meletakkannya diatas lemari pajangan, “Beberapa ponsel baru untuk wanita ini sangat laku belakangan ini…”
Baru saja Ralphie mengambil dan ingin melihat ponsel yang ada diatas lemari pajangan itu, ponsel yang berada dalam sakunya tiba-tiba berbunyi.
Ia dengan tidak sabar mengangkat telpon itu sembari mendegar.
“Ya?”
“Tuan Su, ada masalah dikantor pusat, apakah anda bisa rapat melalui video?”
Ralphie mengambil sembarang salah satu ponsel yang ditawarkan oleh pelayan itu dan mengangguk dan berkata ‘Ya’.
Felix mengira Ralphie sedang menjawab pertanyaanya kemudian ia berkata, “Kalau begitu akan segera saya siapkan, kira-kira kapan tuan sampai dikantor?”
Ralphie tidak menjawab Felix dan dengan acuh bertanya kepada pelayan itu “Yang mana yang paling bagus?”
“Apa yang paling bagus?” Felix bingung. Akhirnya ia mendengar sayup-sayup suara seorang wanita dari seberang telponnya, “Situs web resmi nasional menunjukan ponsel AL dan AW ini yang paling bagus.”
AL? HW? Bukankah ini adalah merk ponsel? Tuan Su sedang membeli ponsel? Felix terkejut!
Karena semua urusan kecil ini bisanya dia yang mengurusnya sebagai seorang asisten, kenapa Tuan Su bisa turun tangan untuk melakukannya sendiri?
Apakah Tuan Su tidak suka dengan ponsel yang tempo hari ia belikan dan ingin menggantinya?
Felix dengan hati-hati bertanya, “Tuan Su, apakah kau sedang membeli ponsel?”
Ralphie tidak menjawab Felix dan bertanya, “Pilih yang mana?”
Felix terdiam beberapa saat dan berkata, “Tuan Su, seluruh ponselmu adalah AL, kalau kau ingin menggantinya kau bisa memilih HW…”
Ralphie tidal menunggu Felix menyelesaikan kalimatnya dan langsung berkata kepada pelayan, “AL wrna putih.”
Bukankah Tuan Su ingin mengganti ponselnya? Kenapa masih memilih AL warna putih? Felix terdiam, kemudian bertanya, “Tuan Su, kapan kau akan datang kekantor?”
__ADS_1
“Aku tidak akan datang kekantor.” Ralphie langung menjawab dengan cepat.
Felix seperti ingin menangis mendengar Ralphie tidak akan datang kekantor, akhirnya dia menenagkan diri sebentar dan kemudian meng ‘iya’ kan Ralphie.