I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 426 Perkebunan Di Kastil


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Pada waktu jam 11, yang lain sudah datang secara bergantian.


Bercanda saja, Ralphie yang memasak, bahkan jika kamu sedang sibuk, kamu harus datang.


Hello! Im an artic!


Belum lagi Ralphie secara pribadi mengundang mereka datang ke villa kastil untuk berlibur, adalah suatu kehormatan.


Makan siang di lalui dengan suasana yang begitu ramai.


Di sore hari mereka mulai bermain sesukanya.


Yang bermain kartu ya bermain kartu, yang bernyanyi ya bernyanyi, yang ngobrol ya ngobrol, bagaimanapun hanya satu kata yang bisa di gambarkan, yaitu ramai.


Hello! Im an artic!


Setelah bermain agak begitu lama, Serena sedikit lelah, dan selesai makan malam dia begitu lemas.


“Apakah kamu lelah?” Bisik Ralphie.


Serena mengangkat kelopak matanya, “Sedikit.”


“Kalau begitu ayo kita kembali ke kamar dan beristirahat.” Kata Ralphie, berdiri.


Serena menggelengkan kepala, “Kamu temani mereka, aku kembali ke kamar sendiri saja, tidak apa-apa.”


Mereka mendengar perkataan Serena, lalu Claudia berkata, “Serena, sebaiknya Ralphie menemanimu, kami bisa menjaga diri kami sendiri.”


“Mereka bisa menjaga diri sendiri.” Intinya adalah kamu butuh aku untuk menemanimu.


Serena memandang ke arah Ralphie, lalu berkata, “Aku juga bisa menjaga diri sendiri.” Lalu berbalik arah dan pergi.


Ralphie menggelengkan kepala karena kecewa, lalu dengan cepat mengejarnya.


Serena melihat dia mengejarnya, juga malas untuk berbicara dengannya, langsung naik ke lantai dua, sampai di depan kamar, dia tiba-tiba teringat sesuatu, lalu berhenti melangkah.


“Ada apa?” Tanya Ralphie penasaran.


Serena melirik Ralphie lalu bertanya, “Apakah ini rumah baru?”


“Iya.” Jawab Ralphie mengangguk, “Kakek yang menyiapkannya untuk kita sebagai rumah baru.”

__ADS_1


Serena diam beberapa saat, dan kemudian bertanya dengan ragu, “Lalu kenapa kamu tidak membawaku tinggal disini?”


“Kan kamu tidak suka disini.” Ralphie menjawab dengan langsung.


“Kamu… bukankah awalnya kamu bilang….” Ralphie tidak bisa tinggal disini karena terlalu jauh dengan kota, dan pulang pergi kerja akan terasa tidak nyaman, dia dengan bodohnya masih percaya, sampai sekarang baru tahu, Ralphie sejak awal sudah tahu bahwa dia tidak nyaman tinggal disini.


Tentu saja, Ralphie begitu menyayangi dirinya, bagaimana bisa hanya karena dia sendiri, lalu tidak menempati rumah yang sudah khusus di siapkan oleh kakek.


Ralphie tidak berkata apa-apa, dia hanya menatap Serena dengan tenang, matanya penuh kasih sayang.


Tiba-tiba sebuah keputusan di buat dalam hati Serena, dia mengulurkan tangan dan mendorong pintu kamar, lalu melirik Ralphie, “Ralphie, ini rumah baru kita?”


Ralphie melihat sejanak ruangan kamar, masih telihat dekorasi dan mengangguk, “Iya, ada apa?”


“Jadi, sebenarnya, kita masih kurang saat di malam pernikahan itu.” Kalimat Serena itu, membuat mata Ralphie terbakar.


Bagaimana tidak? Setelah Serena hamil, dia khawatir akan menyakiti Serena dan bayinya, dia juga tidak tega untuk menyentuhnya.


Jika sangat perlu, dia mungkin meminta Serena untuk membantunya sedikit, atau bahkan lebih baik melakukannya sendiri.


Sekarang Serena malah mengungkit, membuat darahnya mendidih seketika.


Ralphie berkata, “Serena, kamu ini sedang menggodaku?”


Nafas dan suaranya sanggat menggoda Ralphie, dia merasa tubuh bagian bawahnya bengkak dan hampir meledak.


“Serena, kamu ini membuatku gila ya…”


“Tidak.” Serena tersenyum polos.


“Serena….” Ralphie bersenandung dengan bodoh, dia berpikir apakah akan ke kamar mandi mengguyur dengan air dingin atau dilakukannya sendiri.


Pastinya tidak bisa meminta bantuan Serena, oleh karena itu situasi dia saat ini, jika Serena mendekat maka dia bisa saja tidak mempedulikan untuk menekan Serena.


“Kamu tidak mau? Ya sudah.” Serena diam sejenak, lalu pura-pura tidak peduli, “Aku dulu pernah diam-diam bertanya pada suster, dia berkata, sekarang sudah 7 bulan, bayinya normal, kalau hati-hati…..boleh melakukan itu…..aku sebenarnya merasa, kamu menahannya begitu lama, boleh lah kamu sedikit…..tapi kalau kamu tidak mau, ya sudah…..”


perkataan Serena belum selesai, Ralphie sudah menghentikannya dengan ciuman.


Dengan senyum licik di bawah matanya, Serena mengangkat tangannya dan melingkari leher Ralphie.


Hari ini Ralphie mencabut larangan itu. Meskipun tidak puas, itu jauh lebih baik dari pada tidak sama sekali.


Katanya datang ke villa kastil untuk liburan, kenyataannya, hanya Serena dan Ralphie, yang lain sudah ada urusan masing-masing.

__ADS_1


Jadi, yang lain sudah mengakhiri liburan singkatnya lalu pulang.


Villa ramai itu pun menjadi sepi dan Ralphie khawatir Serena menjadi tidak suka, akhirnya dia membawanya ke kebun pertanian kecil di villa untuk bermain.


Meskipun mereka tidak tinggal di villa kastil, tapi kebun kecil masih tetap ada yang mengelola.


Serena sudah bosan, dia belajar mengatur bunga-bunga, biasanya dia meminta pembantu untuk pergi membeli bunga di toko bunga, tapi hari ini dia datang ke kebun bunga tidak dilewatkannya untuk memetik bunga sendiri.


Dia meminta staf pertanian untuk memberikannya keranjang bunga dan gunting, lalu dia mengajak Ralphie untuk memetik bunga.


Setelah memetik bunga, Serena melihat beberapa rumah kayu di sebelahnya, “Ralphie, rumah kayu itu untuk apa?”


“Kakek merasa bahwa kalau tinggal di gunung barat, dan tinggal di rumah kayu itu sangatlah sesuai dengan suasana hatinya, jadi dia membangun rumah-rumah kayu ini.”


Mendengar bahwa rumah kayu itu adalah tempat tinggal, Serena menjadi tertarik, “Bagaimana kalau malam ini kita tinggal di rumah kayu?”


Melihat Serena yang tidak biasanya, Ralphie pun tidak menolak dengan tujuan tidak merusak suasana hatinya.


“Biar dibersikan dulu, nanti malam kita tidur disini.”


“Oke.” Serena mengangguk bahagia.


Pembantu dengan cepat membersihkan rumah itu, hanya butuh waktu setengah jam untuk membersihkan.


Melihat hal-hal di rumah kayu, semuanya terbuat dari kayu, Serena menyentuh kiri dan kanan, lalu menuju ke jendela, dan membuka jendela dengan tangannya.


Pemandangan langsung menuju ke taman bunga yang sedang bermekaran.


Serena memejamkan mata lalu mengambil nafas dalam-dalam, semua aroma bunga.


Ralphie memeluknya dari belakang, dan bertanya dengan lembut, “Kamu suka?”


“Ya, aku suka.” Serena membuka matanya dan mengangguk.


Ralphie menundukkan kepalanya, mencium rambut Serena, dan menemaninya menikmati pemandangan.


Makan malam dibawakan pembantu dari villa. Mungkin suasana hati Serena sedang baik, dia makan lebih banyak dari biasanya.


Selesai makan malam Serena mengeluarkan bunga yang mereka petik, dan bersiap untuk menata bunga itu. Tiba-tiba dia teringat bahwa dia tidak membawa tablet yang berisi “Tutorial Merangkai Bunga” yang di unduhnya, dia menepuk dahinya dengan jengkel.


“Ada apa?” Tanya Ralphie, yang sedang mengemasi meja, pertanyaan yang di tujukan karena merasa aneh.


Lalu jawab Serena, “Aku lupa membawa tabletku.”

__ADS_1


__ADS_2