
Hello! Im an artic!
Dia begitu tergesa-gesa berlari menghalangi mobilnya karena dia khawatir dia minum bir dan membawa mobil?
Pada awalnya Ralphie marah kepada Serena karena tiba-tiba menghalangi mobilnya, kemarahanya menghilang dalam sekejap.
Hello! Im an artic!
Serena yang melihat Ralphie tidak mengatakan apa-apa, mengira dia bersikeras ingin mengemudi sendiri.
Menarik Ralphie menuju kekursi penumpang kemudian menutup pintu.
Setelah Serena naik ke mobil, dia tidak melihat Ralphie, langsung menginjak pedal gas secara langsung dan mobil berjalan dengan mulus.
Dia tahu bahwa prilaku dirinya tadi telah menyinggung Ralphie, setelah naik kemobil, Serena tidak mengatakan apa-apa.
Hello! Im an artic!
Dan Ralphie dari awal sampai akhir tetap dingin, dan merapatkan bibir tidak tahu memikirkan apa.
Suasana yang canggung tetap dipertahankan oleh Ralphie.
Ketika mobilnya berhenti, Serena mengatakan ‘aku pulang dulu’ dan mengambil tasnya kemudian pergi.
Ralphie yang didalam mobil, melihat sosok Serena yang berjalan pergi.
Tiba-tiba dia membuka pintu dan mengejarnya.
“Serena…”
Mendengar Ralphie memanggilnya, Serena terhenti.
Ternyata ketika kamu menyukai seseorang kamu bisa berubah menjadi egois.
Bahkan jika orang ini tidak menyukai dirinya sendiri tetapi dirinya tidak bisa mengabaikannya.
Serena tertawa sendiri, kemudia pelan-pelan membalikkan badan dan melihat Ralphie, “Kenapa?”
Ralphie menurunkan matanya kemudian berkata: “Bukankah kamu mencari ku karena ada masalah?”
“Itu…” Serena belum menyelesaikan bicara, Ralphie sudah memotong pembicaraannya.
“Masuk dan katakan.” Selesai mengucapkan kata ini, Ralphie tidak menunggu respon Serena, berbalik badan berjalan kepintu, berdiri di pintu dan memasukkan kata sandi, dan masuk kedalam.
Serena terdiam beberapa saat, terakhir dia menghela nafas dan mengikutinya masuk kedalam.
__ADS_1
Ketika dia masuk, Ralphie sedang membawa 2 gelas dari dapur, melihat Serena masuk, dia berhenti, kemudian melihat kearah sofa dan menunjuk, “Duduk.”
Serena berkata ’em’ dan duduk diatas sofa.
Ralphie menyerahkan salah satu gelas kepada Serena, dan meletakkan satunya lagi diatas meja, berbalik dan masuk kedalam dapur lagi.
Pada awalnya Serena ingin memanggil Ralphie, mengatakan semua masalah dan pergi tapi pada akhirnya dia tidak mengatakan apapun.
Sekitar 5 menit kemudian, Ralphie membawa keluar buah-buahan.
Dia meletakkan nampan didepan Serena, dan berkata: “Setelah makan, makan buah biar lebih mudah dicerna.”
Serena mengatakan ’em’ dan tidak bergerak.
Ralphie diam beberapa detik kemudian bertanya, “Mau nonton tv?”
“Tidak.” Serena menggelengkan kepala menolak.
Sekarang dia hanya ingin segera menceritakan masalahnya kemudian pergi.
Ralphie mengangguk dengan ragu kemudian duduk disebrang sofa Serena.
Melihat Ralphie duduk, Serena membuka tasnya mengeluarkan dokumen yang diberikan Elliot tadi pagi kepada Serena.
Ralphie menatapnya dan mengambil dokumennya kemudian dibuka.
Dokumen yang dipegang Ralphie rasanya tidak asing. Pada saat Felix menggali informasi Elliot dia melapor dan mengatakan ini adalah latihan khusus untuk perlombaan nanti.
Dia juga berpikir untuk membiarkan Serena mengikuti kelas ini untuk berlatih, juga pelatihan khusus belum dimulai jadi dia masih ada waktu membicarakan padanya.
Sekarang dia sudah sampai kesempatan ini, lebih bagus.
Ralphie menatap Serena, “Pelatihan khusus PT. Antarts?”
“Iya, hari ini ketua berikan padaku, dan ingin aku mengikutinya.” Serena menjawab.
Setelah beberapa detik Ralphie melihat Serena dengan tenang dan bertanya, “Bagaimana menurutmu?”
“Aku ingin mengikutinya tapi aku takut pengalaman ku tidak cukup.” Serena berkata dan menundukkan kepalanya.
Ralphie bertanya tanpa berekpresi diwajahnya, “Jadi kamu ingin menanyakan pendapatku?”
Serena menjawab ‘En’ kemudian menambahkan, “Aku tidak mempunyai siapa-siapa untuk mendiskusikan, hanya bisa mencari kamu.”
Tidak tahu kenapa, mendengar perkataan Serena, hati Ralphie merasa lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1
Dia menghilangkan rasa bahagia dari nya kemudian berkata: “Pelatihan khusus ini dari guru sampai bahan semuanya bagus, bagi kamu ini adalah kesempatan yang bagus, kamu boleh mencoba mengikutinya.
Mendengar kata-kata Ralphie, mata Serena menjadi bersinar, “Benarkah? Kalau pengalaman tidak cukup tidak masalah?”
“Pengalaman itu berasal dari latihan, ini kamu tidak usah pedulikan.” Ralphie menggelengkan kepala.
“Kalau begitu aku akan mengikutinya.” Mengatakan sampai akhir Serena sedikit cemberut.
Melihat ekspresi Serena, Ralphie tidak bisa menahan tertawanya.
Ralphie yang biasanya dingin, seperti orang atas yang tidak bisa disentuh, dan sekarang tersenyum tampaknya tidak begitu dingin, tidak memakan asap, membuat orang merasa lebih manusiawi.
Serena meliriknya.
Ralphie memperhatikan dia melihatnya, “Kenapa?”
“Tidak ada.” Serena menurunkan matanya dengan panik, mengambil sepotong buah dari meja dan meletakkannya dimulut untuk menutupi prilaku nya tadi, “Aku mau makan buah.”
Mata Ralphie terkulai: “Makan lebih banyak.”
Sebenarnya dia tidak tahu, di vila Ralphie sebelumnya tidak ada buah. Sekarang kulkas nya penuh dengan buah, Ralphie khusus menyediakan nya untuk Serena.
Serena yang awalnya memakan buah untuk menutupi prilaku nya kemudian merasa buah nya enak dan terus memakan tanpa henti.
Akhirnya tanpa sadar, satu piring buah dimakan habis oleh Serena.
“Masih mau?” Ralphie bertanya.
Serena menggelengkan kepalanya dan bangkit dari sofa, “Tidak, aku harus pulang.”
“Baik.” Ralphie bangkit, dan mengantar Serena keluar dari villa. Dia tidak mengantar Serena pulang bagaimanapun dia sudah minum banyak bir.
Setelah mendengar nasehat Ralphie, juga membuat keputusan, keesokan paginya dia pergi menyerahkan dokumen itu kepada Elliot.
Setelah mendapat anggota untuk pelatihan khusus ini, dia menelepon Ralphie dan memberitahu masalah ini.
“Yah, selamat.” Suara Ralphie tetap dingin nadanya rendah dan lembut.
Serena berkata, “Terima kasih, aku akan mentraktir kamu makan di Waterfront Blossom.”
Tidak ada suara Ralphie menjawab dan terdengar suara tabrakan dan telepon terputus.
Serena meletakkan ponselnya kemudian mencoba menghubunginya tetapi tidak berhasil.
“Apa yang terjadi?” Serena mengerutkan kening sambil melanjutkan mencoba menelepon.
__ADS_1