
Hello! Im an artic!
Serena beristirahat di kamarnya siang ini, saat jam makan siang dia turun kebawah untuk makan.
Setelah makan siang Serena tidak kembali ke kamarnya, melainkan duduk di sofa ruang tamu untuk menonton televisi.
Hello! Im an artic!
Tidak lam kemudian, telepon di ruang tamu berbunyi.
Tanpa berpikir panjang Serena mengangkatnya begitu saja.
Gagang telepon belum sampai ditelinganya, terdengar suara dari dalam telepon, “Bantu persiapkan koperku, aku sekarang akan kembali untuk mengambilnya.”
Itu Ralphie…. Serena dengan gerakan mengangkat telepon, seketika terdiam.
Hello! Im an artic!
Menyiapkan koper? Dia mau kemana? Serena ingin bertanya, tetapi kata-kata yang sudah berada diujung bibirnya tidak kunjung dia ucapkan, “Nanti aku akan sampaikan kepada pelayan.”
Ralphie tidak menyangka yang mengangkat teleponnya adalah Serena, dia terdiam beberapa saat, kemudian mengiyakan lirih dan segera menutup teleponnya.
Kelihatannya Ralphie benar-benar marah terhadap Serena, mendengar suara dari telepon tadi membuatnya sedikit kesal.
Tidak lama, dia berusaha menghibur dirinya sendiri, tidak apa-apa, tunggu sampai dia kembali dan segera meminta maaf kepadanya, dia tidak akan marah lagi.
Serena berpikir seperti ini dengan meletakkan teleponnya kembali, kemudian berteriak ke arah dapur.
Pelayan yang berada di dapur seketika berlari saat mendengar suara teriakan Serena, “Nyonya, ada masalah apa?”
“Tolong bawakan dokumen yang berada di ruang kerja Ralphie, sebentar lagi dia akan kembali untuk mengambilnya.” Serena dengan pelan mengatakan kembali kalimat yang Ralphie katakan kepadanya, menyampaikannya kepada pelayan.
“Baik, nyonya.” Pelayan mengangguk mengerti, dan dengan segera pergi ke ruang kerja di lantai dua.
Ralphie tidak mengira bahwa Serena benar-benar tidak pergi bekerja, ditambah lagi saat betapa kekehnya dia saat pagi untuk tetap pergi bekerja.
Kenapa dia tiba-tiba memutuskan untuk tidak pergi bekerja?
Ralphie pastinya tidak akan mengira bahwa dia tidak pergi bekerja adalah karena larangan yang dia berikan padanya.
Harus diketahui bahwa Serena marah karena Ralphie melarangnya untuk tidak pergi bekerja, bahkan dia sampai menyuruh Ralphie untuk jangan ikut campur urusannya.
Lebih baik untuk pergi dinas keluar sesuai rencana awal, dengan begini mungkin tidak akan membuatnya tidak senang.
Entah berapa lama, suara Felix terdengar dari kursi kemudi.
“Direktur Su, kita sudah sampai.”
Ralphie memutar kepalanya menatap ke arah luar mobil sekilas, ternyata sudah sampai dirumah.
__ADS_1
Tetapi sekarang dia ada dirunah, dia lebih baik untuk tidak masuk kedalam.
Dia terhenti sebentar, kemudian berkata kepada Felix, “Kamu masuk dan ambil koperku kemari.”
Felix yang masuk kedalam? Felix keheranan dan menatap Ralphie sekilas.
Ralphie mengangkat pelipis matanya dan dengan pelan menghindarkan pandangannya, “Jangan bilang aku ada disini.”
“Baik.” Felix mengangguk mengerti, kemudian membuka pintu mobil untuk turun.
Pelayan dirumah sudah dari awal mendengar suara klakson mobil dan segera membukakan pintu.
“Tuan Zhou.” Pelayan menyapa Felix.
Felix terus saja menjelaskan alasan kedatangannya, “Direktur memintaku kemari untuk mengambil koper miliknya.”
Serena yang terduduk di sofa, setelah mendengar suara klakson mobil dari luar, meskipun sorot matanya tidak mengarah kepada pintu masuk, tetapi seluruh pikirannya tertuju pada pintu masuk.
Pada awalnya setelah mendengar ada suara langkah, dia mengira bahwa Ralphie telah kembali, hingga gugup untuk menunggunya masuk kedalam, dan apa yang harus dia katakan saat itu.
Tetapi yang masuk bukanlah Ralphie, melainkan Felix.
Kenapa malah Felix yang datang untuk mengambil koper? 20 menit sebelumnya bukannya Ralphie mengatakan bahwa dia akan mengambil kopernya sendiri?
“Kenapa bisa jadi kamu yang datang, dia….. eh….” Serena dengan buru-buru beranjak dari sofa, dan karena terlalu memaksakan diri, mengakibatkan luka di kakinya tertarik, membuatnya mengeluarkan suara rintih kesakitan.
Mendengar suara Serena yang sedang kesakitan, pelayan dan Felix segera menuju ke arahnya.
“Aku tidak apa-apa.” Serena mendorong uluran tangan pelayan yang mencoba memapahnya, berkata kepada Felix, “Ralphie dimana?”
“Direktur berada…..” Felix sebenarnya akan menjawab bahwa Ralphie berada didepan rumah, tetapi seketika dia teringat bahwa Ralphie memintanya untuk tidak memberitahu Serena bahwa dia berada didepan, dan kembali menjawab, “Direktur berda di kantor.”
“Apa dia benar-benar di kantor? Terus kenapa 20 menit yang lalu dia berkata di telepon bahwa dia akan kembali untuk mengambil koper?” Serena berkata serius tanpa mengedipkan kedua matanya.
Felix yang dipelototi oleh Serena seperti ini merasa sedikit bersalah, “Itu…itu….”
“Dia dimana?” Serena kembali bertanya.
Felix menunjuk ke arah luar rumah dan berkata, “Di luar.”
“Aku akan menemuinya.” Serena berkata sambil melangkah keluar.
Felix seketika mencegahnya, “Nyonya, tolong jangan menemuinya.”
Serena terburu-buru mencarinya, raut mukanya sedikit masam, “Tuan Zhou, tolong minggir sebentar.”
Felix mengusap hidungnya yang tidak gatal itu, dengan susah payah menelan air liurnya, “Itu… nyonya, aku akan memanggilnya kemari…. kaki nyonya sedang terluka….”
Serena melihat sekilas kaki kirinya yang terasa nyeri, yang akhirnya menganggukkan kepala menyetujui usul Felix, “Iya segera bergegas.”
__ADS_1
Ralphie mengeluh lirih, mempercepat langkahnya keluar rumah.
Ralphie yang melihat Felix keluar dengan tangan kosong, bertanya dengan mengerutkan keningnya, “Mana kopernya?”
“Belum diambil.” Felix menjawab dengan nada sedikit bersalah.
Ralphie kembali mengerutkan keningnya dan bertanya, “Terus kenapa kamu sudah keluar?”
Felix menjawab dengan terbata-bata, “Itu… nyonya memintaku untuk memanggil Direktur masuk ke dalam.”
Ralphie tidak mengatakan apapun, menatap Felix dengan tatapan dingin, kemudian membuka pintu mobil dan segera turun, dan berjalan menuju kedalam rumah.
Felix tidak berani mengikuti Ralphie masuk kedalam rumah, menunggu dengan tenang di mobil.
Saat Ralphie berjalan kedalam rumah, Serena sedang duduk diatas sofa, menundukkan kepala menatap luka yang berada di kaki kirinya.
Gambaran itu membuat Ralphie dengan sekuat tenaga mengepalkan kedua tangannya.
Setelah beberapa saat, setelah perasaannya kembali tenang, dia masuk kedalam dengan berlagak seakan tidak ada yang terjadi.
Serena yang mendengar suara langkah kaki seketika memalingkan pandangannya.
Kemudian berkata kepadanya, “Kamu sudah kembali?”
“Kamu kenapa mencariku?” Ralphie mengerutkan bibirnya menjawab lirih.
Mendengar perkataan Ralphie, ekspresi wajah Serena berubah kaku, merayapkan bibirnya, dan tidak tau apa yang harus dia katakan selanjutnya.
Ralphie yang melihat Serena tidak mengatakan apa-apa kemudian berkata, “Kalau tidak ada apa-apa, aku akan pergi dulu.”
Melihat Ralphie yang akan pergi begitu saja, Serena dengan cepat berkata, “Aku…. maaf, aku meminta maaf atas kelakuanku tadi pagi.”
Sekujur tubuh Ralphie terasa kaku, langkah kakinya juga terhenti.
Serena bangkit dari sofa yang didudukinya, perlahan berjalan ke arah Ralphie, menarik bagian bawah baju Ralphie dan berkata, “Ralphie, maafkan aku….. kamu jangan marah, ya?”
Mana mungkin dia bisa marah terhadap Serena? Bagaimana mungkin dia bisa tega marah terhadap Serena?
Dia hanya takut Serena tidak senang, dan hanya tidak ingin mengganggunya saja.
Ralphie membalikkan wajahnya, melihat Serena yang menundukkan kepalanya berkata, “Aku tidak marah.”
Serena terdiam, perlahan mengangkat wajahnya, dengan hati-hati perlahan-lahan menatap ke arah Ralphie, “Kamu tidak marah?”
“Tidak.” Setelah Ralphie menjawabnya dengan tegas kemudian dia berkata, “Sudah, cepat kembali duduk, nanti kakimu bisa sakit.”
Serena mengiyakan, dan dengan nurutnya kembali duduk di sofa, kemudian dengan muka memelas menatap Ralphie dan bertanya, “Kamu mau kemana?”
Sebenarnya Ralphie karena takut membuat Serena tidak senang jadi memutuskan untuk pergi dinas keluar, tetapi dia sudah baikan dengan Serena, dia tidak tau lagi apakah masih harus pergi dinas atau tidak.
__ADS_1
Serena yang melihat Ralphie tidak berkata apa-apa kemudian kembali bertanya, “Bisa tidak kalau tidak pergi?”