I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 164 Mendebarkan


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Serena menelan makanan yang ada dimulut lalu berkata pada Bella: “Terima kasih Bibi.”


“Kamu……” Baru saja Bella ingin berkata sesuatu, ponselnya pun tiba-tiba berdering.


Hello! Im an artic!


Bella melihat siapa yang menelepon lalu berkata pada Serena: “Ayahmu yang menelepon.”


Mendengar Leonard yang menelepon, mata Serena berkedip, tak berbicara apapun.


Bella ingin berkata sesuatu, tetapi akhirnya satu katapun tak terucap: “Aku keluar untuk mengangkat telepon.”


“Ok.” Serena menganggukan kepala, kemudian lanjut makan.


Hello! Im an artic!


Dia tidak menyadari, mata Bella memancarkan cahaya suram.


Bella menjawab telepon tidak terlalu lama, beberapa menit kemudian, dia masuk kedalam ruangan lagi.


“Serena, aku mau balik duluan.”


Serena terdiam sebentar, bertanya, “Bibi ngga makan lagi?”


“Ngga, ayahmu sepertinya ada sesuatu yang penting yang ingin dibicarakan padaku.” Bella menggelengkan kepala.


Hal penting? Apakah Ralphie menyetujui untuk membantu mengembangkan pasar luar negeri?


Serena memegang erat ujung sumpit, kemudian berkata: “Kalau gitu Bibi duluan saja.”


Bella melihat sekilas kearah Serena kemudian berkata: “Serena, kalau ngga kamu balik sama Bibi saja? Ayah kamu sebenarnya……Serena tahu jelas apa yang akan dikatakan Bella, makanya dia tersenyum manis sambil memutuskan perkataan dia.


“Bibi, kamu cepetan balik deh mendingan.”


Bella kembali menghela nafas: “Kalau begitu aku pergi dulu, kamu hati-hati waktu balik.”


“Ia, bye bye” Serena melambaikan tangan pada Bella.


Setelah Bella pergi, Serena lanjut makan, baru saja dia berdiri ingin memanggil pelayan untuk membayar.


Pelayan berkata padanya kalau Bella sudah membayarnya.

__ADS_1


Serena tidak merasa aneh, Bella selama ini memang selalu baik padanya. Bahkan jelas-jelas dia tahu Serena sudah merebut Ralphie, tetapi dia tetapi berperilaku baik padanya.


Serena menghirup udara sebentar kemudian mengambil tasnya untuk pergi dari The Waterfront Blossom.


Ketika dia keluar dari The Waterfront Blossom, tiba-tiba muncul seseorang yang menghadangnya, “Halo, Nyonya.”


“Ada urusan?” Serena berhenti sejenak dan melihat kearah orang tersebut.


Orang tersebut tidak berbicara, hanya saja dia terus melihat wajah Serena.


Serena mengerutkan alisnya, lalu bertanya sekali lagi, “Kamu ada urusan?”


“Kayanya kita pernah ketemu dulu di mana gitu.” Orang tersebut hanya terus melihat kearah Serena.


Pernah ketemu? Serena terdiam, kemudian berkata, “Maaf, aku ngga kenal kamu.”


Orang tersebut melihat dalam-dalam lagi mata Serena, kemudian pergi begitu saja setelah mengucapkan ‘Maaf’.


Dia pergi tetapi masih hadap kebelakang untuk melihat Serena.


Serena merasa tatapan matanya ada yang aneh, tanpa berpikir banyak, dia menutup mantelnya, lalu berjalan kearah trotoar, bersiap untuk menyeberangi jalan ketempat taksi stop.


Disaat ini jalanan sangat ramai, kedua ujung jalanan penuh dengan orang, Serena berdiri di trotoar untuk menunggu lampu hijau.


Awalnya orang yang sedang menunggu tidak banyak, Serena berdiri dibarisan paling depan. Ketika lampu berubah hijau, orang-orang mulai semakin banyak.


Disaat ini juga dia merasa ada orang yang mendorongnya keras dari belakang. Dia tidak dapat mengontrol dan akhirnya jatuh kedepan.


Karena kejadian yang terlalu tiba-tiba, Serena sama sekali tak sadar apa yang sudah terjadi, dan seluruh tubuhnya jatuh kedepan.


Ketika dia sudah mau keluar dari jalan, tiba-tiba dari samping ada orang yang mengulurkan tangan dan mengangkat lengannya.


Suara yang cukup mengagetkan membuat orang itu melepas tangan Serena tanpa sengaja.


Tetapi orang itu mengulurkan tangan untuk menarik Serena, tetapi karena kehilangan keseimbangan, keduanya pun jatuh bersamaan.


Ketika mereka terjatuh, terdapat banyak suara klakson mobil, dan banyak mobil yang lewat.


Dan kebetulan ponsel Serena jatuh ke lantai jadi membuat LCD ponselnya menjadi hancur.


Seluruh jalanan seketika terhenti sepuluh detik, kemudian kembali seperti biasa lagi, ada orang sekitar yang perhatian: “Kalian berdua ngga apa-apa kan?”


“Aku ngga kenapa-kenapa.” Kata orang yang menolong Serena, seorang pria paruh baya yang kekar, dia tersenyum pada semua orang, kemudian dengan cepat berdiri. Dia mengibas debu yang ada di badan, melihat Serena yang masih dengan bengong duduk disana, jadi dia membantu mengangkat Serena dan berbicara padanya: “Anak muda, kamu ngga kenapa-napa kan?”

__ADS_1


Dari mata Serena masih ada rasa kaget, setelah mendengar suara pria paruh baya itu, dia mencoba untuk fokus dan memutar otaknya, kemudian melihat kearah orang tersebut.


Tatapan mata Serena kosong, muka pucat, kakinya lemas bergetar tidak stabil, semua karena pria baruh baya, jelas semua itu karena rasa kaget karena kejadian yang tiba-tiba tadi.


Orang sekitar berkata, “Anak gadis ini pasti terkejut.”


“Pasti kaget, kan hampir ke tabrak mobil.”


“Cepatan bawa dia untuk duduk.”


Serena dibantu oleh pria paruh baya tadi untuk duduk, yang paling baik karena dia mengambil ponselnya kembali.


“Ponselmu rusak, kartu yang didalam kamu keluarin saja masih bisa di pakai kok.”


Mendengar perkataan orang tersebut, Serena pelan-pelan kembali tersadar.


Tadi di jalan dia hampir saja ketabrak. Serena selalu merinding setiap kali terbayang kejadian yang mengerikan tadi.


Untung saja ada orang yang menolongnya.


Pandangan Serena pun berpaling pada orang yang menolongnya tadi, seorang paman paruh baya yang kuat, kelihatannya orang yang jujur dan baik.


Paman menyadari tatapan mata Serena dan tersenyum bertanya, “Sekarang sudah baikkan?”


“Sudah baikkan kok, terima kasih banyak.” Serena menjawab dengan sopan.


Melihat senyuman paman itu, hati Serena menjadi lebih tenang, dia tersenyum pada paman itu dan berkata: “Tanganmu yang sudah menyelamatkan aku.”


Paman melambaikan tangan, “Ngga selebay itu kok.”


“Iya.” Serena terdiam beberapa detik kemudian bertanya kembali: “Paman, bagaimana kalau aku traktir Anda makan?”


“Ngga perlu, ngga perlu.” Paman itu dengan cepat menggelengkan kepala.


“Paman……”


Pada akhirnya Serena juga tak lagi memaksa paman itu untuk pergi makan bersama.


Setelah duduk di taksi, Serena menyender ke belakang kursi, memikirkan kembali masalah yang tadi terjadi dijalanan, semakin dia pikirkan semakin terasa mengerikan, kedua kakinya pun menjadi lemas kembali.


Turun dari taksi, wajah Serena menjadi pucat, dengan kaki lemas berjalan masuk ke halaman, dan menekan bel.


Orang yang membuka pintu bukanlah asisten rumah tangga, melainkan Ralphie.

__ADS_1


Saat melihat Ralphie, Serena menjadi lebih lega.


Kemudian detik berikutnya, badan Serena jatuh tergeletak dibawah lantai.


__ADS_2