
Hello! Im an artic!
Serena berlari ke pintu mansion Ralphie. Tanpa menarik nafas ia menekan bel.
Hello! Im an artic!
Setelah menekan bel, ia berdiri di depan pintu dan menunggu.
Setelah beberapa menit tidak ada orang yang membukakan pintu. Ia pikir Ralphie tidak mendengar suara bel maka ia pun kembali menekannya lagi namun tetap tidak ada yang membuka pintu.
Hello! Im an artic!
“Apa dia pergi?” Ia bergumam. Ia mengeluarkan ponsel dari tasnya dan menghubungi Ralphie tapi ponselnya masih tidak aktif.
Serena menatap pintu itu lalu berbalik.
Ia tidak pergi, melainkan berjongkok.
Ketika Ralphie mendengar suara bel, ia berjalan untuk membukakan pintu. Namun karena ia melihat Serena dari lubang intip, ia tidak membukakannya.
Awalnya ia pikir Serena akan segera pergi karena tidak di bukakan pintu.
Tapi tak di sangka Serena berjongkok di depan pintu dan menunggunya.
Ia menatap punggung mungil gadis itu dari lubang intip. Tanpa sadar Ralphie hampir ingin membuka pintu.
Tapi ia ingat alasannya mencarinya ke sini demi kakaknya, ia tidak ingin menemuinya.
Akhirnya Ralphie berdiri diam di balik pintu dan menunggu Serena pergi.
Matahari sudah terbenam dan langit mulai gelap. Satu persatu lampu mulai menyala.
Tidak ada orang di mansion Ralphie sehingga lampu halaman tidak menyala. Lampu jalan cukup jauh sehingga cahayanya tidak sampai ke halaman.
Serena menatap halaman yang gelap .Ia sedikit takut. Ia pun mengeluarkan ponselnya dan menyalakan senter.
Ia berbicara dengan dirinya sendiri dengan suara rendah untuk memberanikan diri.
“Serena tidak takut, tidak takut. Sebentar lagi ia pulang…”
Mendengar bisikan Serena, Raplhie tidak tahan dan membuka pintu lalu keluar, ia menarik orang yang berjongkok itu.
“Ah…” Serena yang di pegang secara tiba-tiba oleh seseorang pun berteriak ketakutan lalu memberontak.
“Ini aku.” Mendengar suara dingin yang familiar, Serena segera berhenti memberontak.
Setelah ragu beberapa saat, ia berkata, “Tuan…Su?” Sebenarnya Serena tidak ingin memanggilnya seperti itu, tapi selain marganya, ia tidak tahu namanya.
Mendengar kata Tuan Su, tubuh Ralphie gemetar.
__ADS_1
Setelah diam beberapa saat, Ralphie menyebut namanya, “Ralphie Su.”
Setelah mengatakan namanya, ia melepaskan tangan Serena lalu berbalik masuk ke mansionnya dan menyalakan lampu lalu ke ruang tamu.
Serena menatap punggung Ralphie selama beberapa detik sebelum ia menyadari apa yang di katakannya barusan, dia bilang Ralphie Su?
Dia bilang namanya Ralphie Su?
Mata Serena berbinar senang dan segera masuk ke dalam, “Barusan Kamu…”
Saat ia masuk ke ruang depan, ia baru merasa dirinya sedikit kelewatan.
Ia segera menutup mulutnya, tapi bibirnya masih tersenyum. Ia mengganti sepatunya dan masuk dengan pelan.
Tangan kiri Ralphie masuk ke sakunya dan tangan kanannya memegang ponsel.
Wajahnya yang tampan, ekspresinya yang dingin, menawan, bibirnya yang indah terlihat sangat dingin.
Melihatnya masuk, ia mengangkat kepalanya sedikit. Pandangannya mengarah kepada Serena lalu menunjuk sofa di depannya kemudian melanjutkan ke ponselnya.
Serena diam lalu duduk.
Setelah dua tiga menit, Ralphie meletakkan ponselnya dan meraba tengkuknya.
Tengkuknya belum pulih sepenuhnya. Barusan ia berada di posisi yang sama untuk waktu yang cukup lama membuat tengkuknya sedikit tidak nyaman.
Serena mengamati gerakan Ralphie dan merasa sedikit aneh, tapi tidak tahu di mana keanehan itu.
Ralphie membuka matanya dan menatap Serena.
Serena menjelaskan: “Saat aku baru datang, penjaga yang memberitahukannya.”
Ralphie mengatakan ‘Ng’ lalu diam.
“Bagaimana Kamu…barusan sedang istirahat?” Sebenarnya yang ingin di tanyakan Serena adalah, ‘Bagaimana Kamu tahu aku di luar?’ ketika ia ingin mengatakannya, ia merubahnya menjadi ‘Barusan Kamu sedang istirahat?’
Ralphie terkejut kemudian mengangguk.
“Beberapa hari ini aku tidak melihatmu, aku kira…” Kamu kenapa-napa, Serena tidak mengungkapkan kata-kata terakhir itu.
Ralphie menatapnya wajahnya dan berkata, “Sibuk.”
Ternyata ia pergi karena ada urusan…tapi dia seperti orang bodoh yang menatapnya sepanjang hari, Serena menunduk dan bergumam ‘Oh’.
Ralphie menatap Serena yang ada di depannya, tidak tahu apakah itu khayalannya. Ia merasa Serena seperti anak kucing yang di abaikan, terlihat sangat kecewa dan tertekan.
Ia membuka mulutnya dan ingin mengatakan sesuatu ketika tiba-tiba Serena berdiri, “Sudah malam, aku harus pulang.”
“Tunggu dulu.” Ralphie menghentikannya.
__ADS_1
“Ng?” Serena melihatnya dengan aneh.
Ralphie mengangkat kepalanya dan menatapnya lalu berkata, “Makan dulu baru pulang.”
“Aku pulang…” Ralphie memotong omongan Serena, “Sudah di pesan.”
Ternyata barusan dia memesan makan dari ponselnya! Serena bergumam ‘Ng’ dan diam.
10 menit kemudian, pesan delivery datang.
Ralphie dan Serena diam, mereka makan dalam keheningan.
Setelah selesai dan membantu Ralphie membereskannya, Serena berpamitan pada Ralphie.
“Aku pulang dulu.”
Ralphie berdiri dan berkata: “Aku akan telepon supir untuk mengantarmu.”
“Tak perlu repot-repot.” Serena menggeleng dan berkata: “Jika menunggu supirmu datang, sudah terlalu malam.”
Mendengar omongan Serena, Ralphie tidak berkata apapun lagi. Ia mengantarnya mencari taksi.
Melihat Ralphie yang ada di luar taksi, hati Serena menjadi hangat.
Perasaannya yang sebelumnya sedih menjadi lebih tenang dan senang.
Ponsel Serena berdering ketika ia membuka pintu rumah Claudia.
Sambil masuk, Serena mengeluarkan ponselnya dari tas dan langsung menjawabnya.
“Halo.”
Terdengar suara dingin Ralphie, “Sudah sampai rumah?”
Serena tersenyum mendengar suara Ralphie, “Barusan masuk. Kenapa Kamu belum tidur?”
Ralphie diam lalu menjawab, “Baru Mau tidur.”
Mau tidur? Apa dia sedang menunggunya sampai rumah?
Serena senang sehingga ia berteriak: “Aku cinta…”
Serena tersadar apa yang di ucapkannya dan segera menutup mulutnya.
Kenapa dia hampir keceplosan? Tidak boleh, sama sekali tidak boleh.
“Apa?” Suara Ralphie ragu.
Serena menggigit ujung bibirnya teringat satu kalimat yang pernah di lihatnya di internet, aku mencintaimu dengan cara lain, selamat malam. Aku mencintaimu, mencintaimu.
__ADS_1
Akhirnya Serena berkata: “Ralphie, selamat malam.”