
Ante kalian lagi apa?
Daniel kirim pesan pada Billian sumber informasinya.
Luluran, Om Daniel sini. *Billian
Mana boleh sama Oma, Om di jaga ketat. *Daniel
Om bukannya jemput Om Redi? langsung kesini saja. *Billian
Iya, tapi Oma ikut, pengawalan ketat๐ *Daniel
Ajak Oma kesini Om, kita semua berkumpul, nanti malam jangan lupa Om Redi pesta bujangan. *Billian
Kenapa Redi yang pesta bujangan, yang menikah kan Om. *Daniel
Berhubung calon pengantin lagi dikawal ketat kita wakilkan Om. "Billian
Tidak sah itu, Om ikut. *Daniel
Memang boleh sama Oma? *Billian
Nanti Om tanya dulu. *Daniel
Siap, Uncle ๐ *Billian
"Ma, Billian suruh aku ajak Mama ke rumah Mamon tuh, anak-anak pada kumpul disana, mereka tidak jadi berenang, Baen lagi perawatan." Daniel sampaikan pada Mama Amelia.
"Besok juga bertemu." datar saja tidak tertarik.
"Redi, kamu mau pesta bujangan sama anak-anak nanti malam?" tanya pada Redi, Mama sudah tidak mungkin di bujuk.
"Hu uh." fokus menyetir kendaraan, karena Daniel mesti fokus pada handphone, selain kepoin Baen, juga harus koordinasi pekerjaan dengan staff di Ohio.
"Aku ikut ya." tersenyum tanpa sebutkan tempat pestanya, lumayan bisa intip-intip Balen.
"Tidak usah, Daniel. Kamu besok pagi harus terlihat fresh." tegas Mama Amelia pada Daniel.
"Daniel juga masih jet lag, Ma. Jam tidur masih ikuti waktu sana. Sekarang mengantuk." kasih alasan sama Mama.
"Dengar Mama ya sayang, kalau Mama bilang tidak, berarti tidak, jangan membantah." lembut tapi tidak bisa di tolak.
"Seperti anak kecil saja di larang-larang." mengeluh karena ditolak.
"Terserah kamu mau bilang apa, besok kamu akan berterima kasih sama Mama." Mama Amelia tersenyum jahil.
"Tiap saat aku berterima kasih sama Mama kok, bukan hanya besok."
"Besok beda lagi, jangan sampai KO kamu setelah ijab kabul." Terkekeh bayangkan pengantin baru.
"Hmmm... aku dibawa umur nih." protes Redi yang mengerti maksud Mama.
"Jadi bagaimana gadis yang kamu ajak video call sama Mama itu, bukan orang Indonesia ya? Mama mau tanya tidak enak." tanya Mama pada Redi.
"Yah dia orang Malaysia, oke kan Ma? masih satu rumpun kok, melayu kita melayu." bujuk Mama agar direstui.
"Tetap saja budayanya sedikit beda sayang, Mama maunya kamu tuh dapat orang Indonesia juga."
"Orang Indonesianya sudah di ambil Kuda Nil, Ma." menggoda Abangnya.
"Seakan-akan, selama ini juga banyak yang kamu ajak jalan cewek-cewek Asia disana." Daniel menoyor kepala adiknya.
__ADS_1
"Richie lapor Abang, ya?" sudah tebak pasti Richie yang lapor, sudah sejauh apapun tetap saja ketahuan Richie kalau lagi jalan sama cewek. Maklum ya anak kuliahan keliaran saja kerjanya.
"Bukan lapor, hanya cerita." Daniel terkekeh.
"Itu semua pelarian." berkelit bikin Mama dan Daniel tertawa.
"Sambil aku menunggu siapa tahu Balen maunya sama aku." langsung kena toyor Daniel.
"Bercanda, Bang."
"Jangan kelewatan bercandanya, lima belas tahun berjuang nih."
"Hebat, setelah menikah harus berjuang juga loh pertahankan rumah tangga. Apa lagi istri kamu usianya beda jauh kan? saling mengimbangi lah." Mama Amelia ingatkan Daniel.
"Iya, dua tahun kemarin kan secara tidak langsung belajar. Kita sudah satu rumah."
"Iya tapi kalau sudah ada ikatan itu kadang suka lebih menuntut. Kalau tidak kamu ya dia." lanjut Mama Amelia.
"Iya, Ma." tersenyum bahagia bayangkan Balen menjadi istrinya.
"Beneran lu cium tuh waktu di rumah Bang? sampai Baen mengadu sama Papon?" Redi klarifikasi.
"Hu uh." Daniel tertawa geli.
"Diapain lu, waktu habis cium dia?" tanya Redi penasaran.
"Dipukuli pakai bantal gue." mengusap kepalanya seakan masih merasakan pukulan Balen.
"Kamu sih, nakal juga." Mama tertawa geli.
"Kalau tidak begitu, kapan mau menikah Ma. Untung saja Abang Nanta kasih ide." Daniel cengar-cengir.
"Kamu Daniel?" besarkan bola matanya.
"Yah, kan lagi tidur, tidak sadar dia." jawab Daniel santai.
"Dosa Daniel!" Mama langsung memukul Daniel dengan bantal kecil ditangannya.
"Ya ampun, sama saja sama Baen, Mama." Daniel selamatkan diri menghindar dari pukulan Mama.
"Berapa kali kamu cium anak Mama?"
"Aku tidak hitung Ma." sedikit menghindar saat Mama mulai gerakan bantalnya.
"Tidak hitung, berarti sering?"
"Cuma kecup bibir Mama, sebentar saja." jawab Daniel sabari Mama yang kembali pukuli Daniel dengan bantalnya.
"Ma, besok Daniel harus fresh, kalau dipukuli begini nanti babak belur." bujuk Daniel, padahal pukulan Mama tidak sekeras Balen waktu di Ohio.
"Hanya cium kan tidak lebih, awas ya kalau ternyata kamu perawani yang lainnya."
"Ih Mama, aku tidak sejahat itu." Daniel tertawa.
"Awas saja kalau Baen tidak bahagia setelah menikah sama kamu!" kembali mengancam Daniel.
"Iya Mama sayang, masa Daniel mau korbanin perjuangan selama ini sih." berusaha yakini Mama.
"Antar Mama ke kantor Papa." begitu sudah pensiun dari Pemerintahan, Papa aktif membantu bisnis Daniel, kantor perwakilan di Indonesia, yang mengurusi jengkol dan lainnya.
"Loh tidak mau jaga aku?" kata Daniel tertawa.
__ADS_1
"Kalian juga ikut turun!" tegas Mama. Tentu saja Daniel ikut turun, ia harus berterima kasih sama Papa yang sudah repot urusi pekerjaannya di Indonesia, tapi bagi Papa James malah menyenangkan jadi ada kegiatan baru.
"Ma, Redi ditunggu anak-anak nih, rileks dong masa ke kantor lagi." Redi sedikit protes.
"Bertahun-tahun di Ohio, begitu pulang harus temui Papamu dong, Redi." Mama ingatkan Redi.
"Hahaha Papa sih malah ke kantor." tertawa sadari kebodohannya tapi tidak mau mengaku.
"Richie bakal pindah kuliah nih Bang." lapor Redi pada Daniel saat parkirkan kendaraan.
"Masa?" Daniel belum tahu cerita.
"Iya tadi dia chat aku."
"Kenapa pindah?"
"Sudah selesai kawal Baen, besok kan sudah tanggung jawab elu." jawab Redi tertawa.
"Hanya karena itu? kurang hebat Ichie kawalnya, tiap malam biarkan gue ciumi Baen."
"Cuma cium begitu katanya sepele." Redi terkekeh.
"Rese si Ichie." Daniel terbahak. Ketiganya berjalan masuki kantor yang tidak begitu besar tapi lumayan sibuk.
"Siang Ibu." karyawan hanya menyapa Mama Amelia, karena tidak tahu kalau justru Daniel pemilik perusahaannya. Mereka hanya tahu Papa James.
"Siang, Pak James ada?"
"Ada, bu. Agak sibuk dari canada minta pesanan jengkol yang berikutnya segera di kirim." Daniel tersenyum mendengarnya.
"Assalamualaikum, Pa." Redi langsung peluk dan salami Papanya yang lagi sibuk koordinasi dengan para staff diruangannya. Sepertinya sedang briefing kecil. Tetap saja Redi si bontot seperti bocah peluk Papa tanpa tahu tempat.
"Ini anak-anak saya." Papa James tunjuk Daniel dan Redi.
"Oh yang handel di Ohio, sedang disini, Pak." Salah satu staff menyapa keduanya.
"Yah, Daniel besok menikah. Undangannya kan sudah saya sebar tadi." kata Papa James.
"Datang saat makan siang saja." kata Daniel pada semuanya.
"Apa akan ada menu jengkol?" tanya salah satu karyawan.
"Tidak, saya tidak makan jengkol." Daniel terbahak.
"Papa masuki menu rendang jengkol besok." bisik Papa pada Daniel.
"Aih Papa, dihotel biasanya tidak ada menu jengkol kalau resepsi." protes Daniel.
"Oh ini beda, rendang jengkol kita sudah go international, harus ada dong." Papa terkekeh disambut tawa para staff disana.
"Baiklah briefing saya rasa cukup ya, kalian boleh kembali bekerja, saya lanjut dengan Daniel dan Redi." para staff langsung keluar ruangan kembali kemeja masing-masing.
"Aku tidak sangka kantor kecil bisa sesibuk ini." Daniel tertawa senang.
"Berkat Mama kalian tuh, pengusaha dibalik layar, tapi handal."
"Terima kasih Mama." Daniel tersenyum memeluk Mama.
"Tuh kan terima kasih." Mama Amelia tertawa.
"Kan aku sudah bilang aku terima kasih setiap saat sama Mama dan Papa." kata Daniel mengecup pipi Mama. Bikin Mama terharu sekaligus berbunga-bunga, lebih bahagia dari dikecup pacar saat remaja dulu. Papa James tersenyum saja, ikut bangga pastinya.
__ADS_1