
"Om Lucky sama Om Daniel sekarang suka bisik-bisik berdua ya Ante, terus ketawa-ketawa gitu, mencurigakan." Kia berbisik pada Balen saat temani Ulan berdandan di hari pernikahannya.
"Biarin aja." jawab Balen acuh tak acuh.
"Kalau bahas cewek cantik, biarin juga?" tanya Kia panasi Balen, Kia sudah panas duluan.
"Cewek cantiknya kita kok." jawab Balen tengil, Kia tertawa dibuatnya.
"Terlalu percaya diri, Ante." kata Kia masih tertawa.
"Dari pada ndak percaya diri jadinya curigaan." jawab Balen tambah tengil.
"Ish Ante." Kia menepuk bahu Balen, kesal sendiri karena Balen tidak peduli dengan kasak kusuk Daniel dan Lucky sejak berapa hari lalu.
"Kia, mungkin bahas malam pertama." celutuk Ulan yang rambutnya sedang di sanggul.
"Cieee Ulan mau malam pertama loh." malah Balen rusuh menggoda Ulan, penata rias jadi ikut rusuh menggoda calon pengantin.
"Baen rese deh." Ulan jadi cengar-cengir malu.
"Mau honeymoon langsung setelah ini ya Mbak?" tanya penata rias pada Ulan.
"Tuh penyelenggaranya, saya sih ikut saja." jawab Ulan tunjuk Balen.
"Kita mau temani Ulan honeymoon, Kak." jawab Balen terkekeh.
"Waduh honeymoon dikawal kok ya?" semua rusuh saling tertawa, berisik sekali diruangan itu.
"Beyin, siap-siap." kata Kia menggoda Belin.
"Sorry ya, kita beda tuh." jawab Belin tengil gelengkan kepala, tidak mau menikah dijebak seperti Kia.
"Ih, belum tahu enaknya." celutuk Tori, semua kembali bersorak bertambah riuh saja diruangan mempelai wanita.
"Enaknya bagian mana, Kak?" tanya penata rias jahil.
"Kakak bukannya sudah pengalaman." jawab Tori mereka kembali terbahak, sementara Ulan dan Belin senyum-senyum sambil gelengkan kepalanya, pembahasan kelas tinggi, Ulan dan Belin belum masuk level itu.
Sementara cewek-cewek pada rusuh, yang cowok-cowok adem ayem temani Redi yang tampak tegang.
"Mending elu ya Luck, tidak pakai tegang seperti gue." kata Redi pada Lucky.
"Beda tegangnya Men, gue tahu-tahu sudah mesti ijab kabul." jawab Lucky terkekeh.
"Dipaksa ya." Daniel terkikik geli.
"Sok iye di paksa, memang minta dipaksa Lucky, sih." celutuk Nanta semua jadi tertawakan Lucky.
__ADS_1
"Terpaksa Luck?" tanya Larry.
"Mana mungkin terpaksa. Benar yang Bang Nanta bilang, aku minta dipaksa menikah dengan Kia." jawab Lucky terbahak.
"Jadi malam pertama sudah sukses?" tanya Nanta jahil.
"Rahasia, rahasia." jawab Lucky cepat.
"Lihat saja jalannya Kia nanti." kata Larry konyol.
"Eh jangan begitu dong, Istriku jangan dipandanginya secara tidak senoni." sungut Lucky bikin Nanta menoyor kepalanya.
"Jadi Masanta, aku malam pertama di Indonesia atau nanti saja di Korea?" tanya Redi sok polos minta pendapat Nanta.
"Dia sih tidak usah di ajari." Larry menoyor kepala adiknya, mereka semua terbahak dibuatnya.
"Tergantung nanti malam kamu menginap dimana." jawab Nanta terkekeh.
"Di hotel dong." jawab Redi.
"Yakin tidak disuruh menginap di rumah Eyang." Nanti terbahak, Redi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bayangkan malam pertama dibilik rumah Eyang, pintu kamar hanya gorden saja, mana bisa malam pertama kalau begitu.
"Waduh mendebarkan." gumam Redi.
"Apanya yang mendebarkan, malam pertama atau ijab Kabul ya?" tanya Nanta.
Saat yang ditunggu pun tiba, Redi ucapkan kalimat sakral dengan lancar dalam satu tarikan nafas, sementara Ulan yang duduk disebelahnya sempat ikut menahan nafas hingga akhirnya menghembuskan nafas lega secara perlahan.
"Sah?" kata sakti yang selalu ditunggu. Suara geng rusuh yang terdengar paling kencang menjawab, "Saaahhh!!!"
Kalau tadi ketawa-ketawa setelah halal malah acara tangis-tangisan, Bagus tidak bisa menahan derai air matanya saat memeluk Ulan, padahal kemarin-kemarin Bagus yang paling santai saat meminta Redi agar segera nikahi Ulan.
"Titip Ulan ya Red." masih saja menangis saat sekarang bagian memeluk Redi. Tari menangis juga tapi lebih kalem dibandingkan suaminya. Ulan jangan ditanya lagi, dia sudah temani Bagus saat mereka menangis bersama.
"Aduh-aduh jadi ikut nangis deh Baen." celutuk Balen sibuk bongkar tasnya mencari tissue.
"Aban, ndak apa kan Baen nangis." minta ijin sama Daniel.
"Iya." jawab Daniel tersenyum sodorkan sapu tangannya.
"Makasih Aban." mengambil sapu tangan dan mulai menghapus air matanya.
"Mama kok nangis juga?" tanya Balen pada Mama Amel.
"Habis semuanya nangis, Mama ketularan deh." jawab Mama menghapus airmata dengan tissue ditangannya.
"Beyin tidak menangis kok Oma, harusnya Oma jangan menangis." bisik Belin pada Omanya.
__ADS_1
"Ini bungsunya Oma yang menikah, sekarang sudah punya tanggung jawab Om kamu." kata Oma Amelia pada Belin.
"Mama..." Ulan hampiri Mama Amel dan Papa James yang duduk bersama Belin, Balen dan juga Daniel.
"Ulan sayang, sudah jadi anak Mama Amel juga ya, bontotnya Mama." kata Mama Amel sambut Ulan dalam pelukannya.
"Harus sabar hadapi Redi ya." bisik Mama pada Ulan.
"Pernikahan tidak seterusnya indah, ada satu waktu suami kamu jadi orang yang paling menyebalkan, tapi itulah seninya berumah tangga." Mama Amel mengusap-usap bahu Ulan.
"Harus banyak-banyak bersyukur." kata Mama Amel lagi berikan nasihat pada menantu bontotnya.
"Iya Mama." Ulan anggukan kepalanya.
"Tidak ada pernikahan yang sempurna, setidaknya kalau kita bersyukur makan akan terasa sempurna." lanjut Mama Amel lagi.
"Mama bicara begitu, nanti Ulan takut sama aku." protes Redi pada Mamanya.
"Mama hanya mengingatkan, tapi Mama kasih tahu kamu Ulan, Redi anak Mama yang paling menyenangkan hati Mama." kata Mama lagi.
"Maksudnya apa nih?" tanya Daniel hilangkan nilai sakral. Larry tertawa dibuatnya, Daniel protes karena Redi yang paling di hati Mama.
"Maklum Niel, kalau bontot itu yang paling lah." Larry terkekeh.
"Jangan iri dong, salah sendiri lahir duluan." kata Redi bikin semuanya terbahak.
"Papa tidak akan kasih pesan buat kalian karena tadi sudah diborong Mama semua." kata Papa James memeluk Ulan dan Redi bergantian.
Acara pernikahan sederhana yang hanya dihadiri oleh keluarga dekat saja, Bagus tadinya mau bikin pernikahan Ulan secara mewah dan spectacular, tapi mengingat waktu anaknya yang terbatas karena ijin tidak masuk kuliah satu minggu, maka tidak dapat dilaksanakan sesuai keinginan.
Melihat Kenan dan keluarga bisa hadir saja sudah bikin Bagus sangat bahagia karena mertuanya tidak cari gara-gara saat melihat Kenan, walaupun mereka hanya bertegur sapa seadanya.
"Mama kita kawal Ledi Dei honeymoon, Mama dan Papa mau ikut ndak?" Balen menawarkan.
"Baen please deh." Redi menggerutu, Mama dan Papa jadi tertawa.
"Segitunya Ledi Dei yang paling menyenangkan hati Mama, biarin aja sih Mama sama Papa ikut." dengus Balen ngajak ribut.
"Hahaha tidak usah kalian kawal saja Redi sudah setengah hati, apa lagi kalau Mama dan Papa ikut." jawab Mama tertawa.
"Padahal waktu aku sama Yumi sekeluarga kawal loh, dipuncak. Ingat tidak?" Redi mengingatkan.
"Baen mepet terus kan sama Leyi." Redi terbahak.
"Ndak sih, Baen sama Aban Daniel." jawab Balen memeluk suaminya, Larry dan Rumi tertawa ingat awal pernikahan mereka.
"Jadi Malam ini menginap dimana Ulan?" tanya Daniel melirik Redi.
__ADS_1
"Kata Eyang disini." jawab Ulan polos, langsung meledak tawa Larry dan Daniel, sementara Redi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.