
Hallo semua! Jangan lupa like dan tinggalkan jejak kalian berupa komen dilapak aku ya. Aku mohon dukungan dari kalian, terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca karya yang masih jauh dari kata sempurna ini.
Happy reading! ^^
_____________________________________
Perkataan Natasha dan Ben terus memutar dan berbayang di pikiran Ivanna. Tak berpikir lama, akhirnya Ivanna datang ke perkebunan Sunset kembali untuk bertemu dengan Max.
Ketika melihat kedatangan Ivanna, Maul yang sedang berada dikebun pun dengan segera menyambut ke datangan Ivanna.
"Nona!" sapa Maul.
"Hey, Ul! Bagaimana kabarmu?" tanya Ivanna.
"Saya baik nona. Nona bagaimana di Jakarta?"
"Yah seperti itulah, Ul. Saya harus kembali ke rutinitas saya sebelum kesini." saut Ivanna.
"Nona ke sini ingin bertemu dengan tuan besar?" tanya Maul.
"Saya mau lihat Max, Ul." jawab Ivanna.
"Tuan muda ada di kebun anggur, nona." ucap Maul.
"Baiklah, saya ke sana dulu yah, Ul. Tolong kasih tau Helen juga kalau saya datang."
"Baik nona." jawab Maul.
Ivanna pergi ke kebun anggur Perkebunan Sunset yang luas. Max sedang memetik buah anggur untuk dipasok ke beberapa distributor langganannya.
"Max......" panggil Ivanna dengan lembut.
Sang empunya nama pun menoleh ketika dipanggil. Begitu melihat Ivanna yang datang menghampirinya, raut wajah Max seketika berubah.
"Mau apa lo ke sini?" tanya Max dengan jutek.
__ADS_1
"Yah mau ketemu kamu lah." jawab Vanna.
"Untuk apa?"
"Aku ingin bicara."
"Apa lagi yang harus dibicarakan?"
"Aku mau minta waktu kamu sebentar aja, Max."
"Ga bisa! Gue sibuk! Lebih baik lo pulang ke Jakarta sekarang!" ucap Max yang pergi dari hadapan Ivanna.
Ivanna berusaha untuk mengejar Max sambil berteriak memanggil namanya. Para pekerja pun terlihat memperhatikan keduanya tanpa berani berkata apapun karna mereka tau bahwa tuan mudanya ini berubah menjadi diktator.
Akar pohon yang cukup besar dan tak terlihat oleh Ivanna, membuatnya terjatuh ketika berusaha mengejar Max.
"Max!" panggil Ivanna terakhir kali.
Max yang melihat Ivanna terjatuh segera menghampirinya. Karena Ivanna datang dengan celana pendek dan sandal jepit, membuat kedua lututnya menjadi berdarah dan juga kotor oleh tanah yang lumayan licin juga.
"Fokusku itu tertuju ke kamu, Max! Bahkan akar pohon aja aku ga lihat!" jawab Ivanna.
"Jadi kotor kan! Ayo naik!" ucap Max.
"Jangan. Aku berat, Max."
"Berat apanya? Bentuk badanmu saja seperti jarum!"
"What? Jarum? Bodyku ini seperti girlband!"
"Sudah cepat naiklah!"
Max menggendong Ivanna dipundaknya dan membawa Ivanna ke rumahnya.
"Loh loh! Ko ada Ivanna disini?" tanya William pada Max.
"Dia datang, pah." jawab Max singkat.
__ADS_1
"Ini kenapa? Vanna kenapa terluka?"
"Vanna tadi terjatuh, uncle." jawab Ivanna.
"Bik! Bik! Tolong bawa air hangat dan handuk ke sini sekarang!" suruh William pada ART nya.
"Baik tuan."
Max mengambil kotak P3K dikamarnya. Bibi dan Max datang bersamaan membawa kotak P3K dan air hangat serta handuk untuk membersihkan luka Ivanna.
"Pecicilan sih!" ujar Max.
"Kamu apakan Ivanna, Max?" tanya William.
"Ga Max apa apain, pah! Dia saja yang jatuh sendiri." saut Max.
Max mengambil handuk untuk membersihkan luka Ivanna, namun di tolak oleh Ivanna.
"Biar aku saja! Aku bisa sendiri." ucap Ivanna.
"Sudah kamu diam aja! Ga akan sakit!" suruh Max.
Max membersihkan luka Ivanna dan memberikannya obat dan plester pada lutut Ivanna.
"Ga sakit kan?" tanya Max.
"Ga sakit! Perih iyah!" jawab Ivanna.
TO BE CONTINUE
Gimana ceritanya sejauh ini?
Author mohon jangan pelit like yach. Hope you guys like this. Thank you for reading
See you at the next chapter. 🥰
__ADS_1