
"Aku naik mobil ini ya." kata Cadi saat hampiri Kenan dan Nona segera masuki mobil Papon dan Mamonnya. Sementara Chandra tidak ikut masuk tapi hampiri Kenan dan mencium tangannya lalu pindah arah hampiri Nona dan juga cium tangan plus pipi Mamonnya.
"Pengawal Papon dan Mamon hari ini Cadi." kata Balen sambil tertawa lalu ikuti Chandra menyalami Papon dan Mamon, "Peluk ciumnya nanti saja di rumah." kata Balen Nona dan Kenan tertawa.
"Wah Cadi yang mau jaga Papon dan Mamon?" kata Kenan pada cucunya.
"Ya aku sudah besar sudah bisa jadi pengawal Papon sama Mamon." jawabnya bikin Kenan dan Nona tertawa.
"Kamu tidak ikut masuk?" tanya Kenan pada Chandra.
"Aku jaga Opa dan Oma dulu." jawab Chandra sok iye.
"Oke baiklah kalau begitu Papon dan Mamon jalan duluan ya."
"Wait Papon, Pap kenapa tidak Salam Papon dan Mamon?" tanya Chandra pada Daniel.
"Sabar Boy, Papa bantu Cadi masuk mobil dulu." jawab Daniel tertawa lalu hampiri menyalaminya dan Nona dari dalam Mobil.
"Pap jangan disini, biar aku saja." kata Cadi mengusir Papanya agar turun dari mobil.
"Papa dimana?" tanya Daniel.
"Pap di mobil Ayah Leyi saja, karena Ayah Leyi tidak ada pengawal." jawabnya buat semua tertawa.
"Kita bertemu di rumah ya, Mamon sudah masak banyak." kata Nona pada anak dan menantunya. Kenan pun segera lakukan kendaraannya setelah lambaikan tangan pada besannya.
"Opa aku ikut sama Opa dan Oma." teriak Chandra lalu segera masuki mobil, memeluk Mama Amelia yang duduk di samping pengemudi dari bangku belakang.
"Oma saja yang dipeluk?" tanya Papa James pada Chandra.
"Opa kan setir mobil."
"Tapi mobilnya belum jalan kok." jawab Papa James.
"Takut mobil jalan sendiri kalau aku peluk Opa." jawab Chandra bikin semua terbahak.
"Baen sama Aban temani Aban Leyi ya Pa." kata Balen setelah salami mertuanya.
"Cadi juga lagi tidur tuh, jadi Daniel yang setir mobil Abang." kata Daniel tunjuk mobil Abangnya.
"Oke, Papa langsung kalau begitu, kita bertemu dirumah Papon." kata Papa James kemudian menyusul Kenan lajukan kendaraannya.
"Pa..." teriak Daniel sebelum Papanya menjauh.
"Ya?"
"Kenapa tidak pakai supir?" tanya Daniel khawatir.
"Hanya ke Bandara Papa masih bisa." jawab Papa James.
"Baiklah, hati-hati." kata Daniel barulah Papa James lanjutkan perjalanannya.
__ADS_1
"Tadi Papon kok Aban ndak tanya begitu?" tanya Balen.
"Papon sudah biasa setir sendiri kan, kalau Papa biasanya selalu pakai supir, jadi Abang khawatir saja."
"Aban Leyi ndak larang berarti Papa sudah sering setir sendiri." jawab Balen, Daniel anggukan kepalanya lalu menggandeng istrinya menuju mobil Larry.
"Aban dibelakang?" tanya Balen saat membuka pintu belakang mobil Larry.
"Iya kamu di depan saja temani Daniel atau kita dibelakang biar Daniel sendiri di depan." Larry bercandai Daniel.
"Gue supirnya gitu ya." Daniel terbahak, Balen juga ikut tertawa tapi gelengkan kepalanya lalu duduk dibangku penumpang depan.
"Terima kasih sayang." Daniel langsung tersenyum senang karena Balen tidak terprovokasi Abangnya.
"Ganteng banget ponakan gue ya." kata Larry sambil mengusap pucuk kepala Charlie berulang kali, tambah pulas saja Charlie dibuatnya.
"Anak siapa dulu dong." Daniel banggakan diri.
"Anak gue lah." jawab Larry.
"Iya anak Aban juga lah. Ganteng juga turunannya siapa sih, dari jaman Opa sama Paponnya juga sudah ganteng." jawab Balen menengahi.
"Lucu ya mereka kalau lagi kumpul." Larry tertawa sendiri ingat kelakuan ketiganya.
"Ya kadang lucu kadang nyebelin." jawab Balen sambil terkikik geli.
"Bikin lagi lah Bang, biar punya yang lucu juga." kata Daniel sambil lajukan kendaraannya.
"Belin bagaimana Ban?" tanya Balen.
"Ya begitu, coba kamu nasehati deh. Aban tidak setuju dia dekat sama Panji." kata Larry pada Balen.
"Loh dia pacaran sama Panji jadinya? bukannya teman saja?" tanya Daniel.
"Teman tapi kemana-mana berdua saja. tidak jelas itu si Panji, bukan pacar tapi posesif itu yang aneh."
"Mungkin seperti Aban Lucky sama Kia dulu, Ban." jawab Balen.
"Lucky itu ngemong ya dulu, kalau Panji ini kasar, Abang takut KDRT saja."
"Wah nanti Baen tanya Beyin deh, dia nanti ke rumah Papon ndak?" tanya Balen.
"Kamu ajak saja, setahun ini karena Abang terus komplen soal Panji dia menjauh dan suka kasih banyak alasan kalau kumpul keluarga." jawab Larry resah.
"Tahu begitu Kirim ke Ohio Bang, biar jauh dari Panji kan ada kami dulu." kata Daniel.
"Belin baru berubah setahun terakhir ini kok sejak sudah kerja." jawab Larry.
"Tenang Aban, nanti Baen urus deh." jawab Balen tenangkan Larry. Karena sibuk dengan tiga bocahnya, Balen hanya sekedar tanya kabar saja tidak ajak curhat-curhat. Kasihan juga Belin kalau punya pacar kasar dan posesif, apalagi Panji bukan pacar Belin juga.
"Noah..." Balen hubungi Noah.
__ADS_1
"Baen, sudah di Jakarta?" tanya Noah.
"Sudah, kerumah ya." undang Balen.
"After office ya Baen." jawab Noah setuju.
"Oke Baen tunggu." Balen tutup sambungan teleponnya.
"Kenapa undang Noah?" tanya Daniel.
"Tenang aja." jawab Balen nyengir, kemudian hubungi Belin.
"Ante, sudah sampai?" tanya Belin.
"Sudah kamu dimana?" tanya Balen.
"Dikantor, kenapa?"
"Ante tunggu makan malam dirumah Papon." jawab Balen.
"Wah Beyin sudah ada janji sama Panji." jawab Belin polos, Larry berdecak mendengarnya.
"Panji temannya Alex?" tanya Balen.
"Iya yang dulu itu loh." Belin terkekeh.
"Kalian pacaran?" tanya Balen.
"Tidak, Teman Tapi Mesra." jawab Belin konyol.
"Ih jangan mau lah TTM, Beyin pokoknya Ante tunggu makan malam, kalau ndak datang Ante marah, kecewa, terluka, menangis." Balen agak lebay.
"Oke aku konfirm Panji dulu deh ya, sebentar aku kabarin Ante bisa apa tidak ikut makan malam." jawab Belin.
"Harus bisa dong Beyin, kamu ndak mau bertemu Cha, Cha, Ca?" tanya Balen sambil bergaya dan bergoyang saat sebut ChaChaCa.
"Mau dong, besok boleh ya?" pinta Belin.
"Oh jadi lebih pilih Panji dari pada kami, oke Beyin lu gue end." Balen matikan sambungan teleponnya.
Ante jangan marah. Pesan dari Belin Balen baca saja.
"Bagaimana?" tanya Daniel.
"Lihat aja, menang Baen apa Panji." jawab Balen nyengir.
Ante please balas. Pesan masuk kembali Balen abaikan. Dia sibuk ngobrol sama Larry dan Daniel.
Ante... kembali pesan masuk setelah telepon dari Belin juga Balen abaikan. Mereka sudah tidak dirumah Papon dan Mamon, Charlie sengaja Balen bangunkan supaya bisa kangen-kangenan sama keluarga yang datang ke rumah Papon. Ada Om Deni Dan Om Samuel sekeluarga rupanya sudah menunggu kehadiran Balen sekeluarga.
Ante, aku otw rumah Papon. Balen tersenyum membaca pesan dari Belin, Noah sengaja Balen undang untuk dikenalkan pada Belin lebih dekat karena Noah sampai sekarang juga masih jomblo dan siap menikah.
__ADS_1