
Balen kembali memeriksa kesiapan acara gathering yang akan dilaksanakan siang ini. Dari semalam ia dan Daniel sudah menginap di Balena Hotel untuk memastikan semua berjalan sesuai kemauan Balen. Kamar-kamar untuk para tamu kesayangan pun sudah Balen siapkan. Anak-anak Baen tidak mau ketinggalan ikut menginap dan membantu Ante dari semalam, tak terkecuali Kia dan Lucky yang juga ikutan sibuk.
"Papa Micko dan Mama Lulu bisa datang kan Aban?" tanya Balen pada Lucky.
"In Syaa Allah bisa Baen, Winner juga mau datang sama istri dan anaknya." jawab Lucky, tentu saja Balen senang dibuatnya, mengingat istri Winner jarang sekali bergabung dengan lingkungan mereka.
"Tolong bantu ingat, siapa lagi yang belum Baen undang ya?" tanya Balen pada semua yang ada didekatnya.
"Noah." Kia ingatkan Balen kemudian terkikik memandang Belin yang monyongkan bibirnya.
"Oh iya jodohnya Beyin belum Baen undang, suruh bawa cincin aja apa sekalian?" Balen menggoda Belin yang akan ia jodohkan.
"Bawa orangtua juga." celutuk Billian.
"Penghulu ndak sekalian nih mumpung tamu undangan sudah nyatakan hadir." tanya Balen, Belin langsung tertawa, bisa saja mereka semua jadikan Belin bulan-bulanan.
"Ante kerja yang fokus, sounds sudah di cek belum?" tanya Belin pada Tantenya.
"Oh iya, Billian cek dong." pinta Balen pada Billian.
"Siap Ante."
"Makanan coba koordinasikan sama cheftnya Aca, pastikan semua aman." pinta Balen pada Aca.
"Siap." Aca langsung beranjak.
"Ante, Risa undang dong biar nyanyintuh sekalian." kata Bima pada Balen.
"Siapa Risa?" tanya Balen.
"Itu loh yang penyanyi lagi dekat sama Aca." Bima menyeringai jahil.
"Mendadak apa dia bisa?" tanya Balen.
"Suruh Aca lah yang undang." jawab Shaka.
"Nanti deh Ante bilang Aca." Balen setuju saja.
"Sayang, telepon Noah." Daniel ingatkan Balen.
"Baen sudah kirim pesan tapi belum dibaca." jawab Balen.
"Telepon dong biar jelas."
"Iya Aban." Balen segera hubungi Noah sahabat baiknya.
"Ada tugas apa lagi nih?" tanya Noah penuh curiga saat angkat telepon dari Balen.
"Noah ish, nanti makan siang di Balena Hotel jangan lupa, sekalian aja nginap ya, C's kangen Uncle Noah loh. Terus ya Noah disini ada Beyin tahu, Noah bisa pedekate." langsung saja nyerocos, Noah tertawa dibuatnya.
"Jadi aku datang mengasuh C's atau mengasuh Beyin?" tanya Noah pada Balen.
"Noah, Baen kasih kesempatan dekati Beyin nih. Nanti Noah kalau jodoh jadi anak Baen deh." Balen langsung terkikik geli.
"Ok Ante Baen." langsung saja panggil Balen Ante.
"Eh nanti aja kalau Noah sudah resmi sama Beyin ish, ndak sabaran." omel Balen, Noah kembali terbahak.
__ADS_1
"Gue jemput Beyin ya?" tanya Noah.
"Ndak usah, Beyin sudah menginap dari semalam disini, Noah nanti malam nginap aja. Om sama Tante ajak aja Noah."
"Biar apa coba aku ajak Mama sama Papa kesana, nanti Belin shock lagi ada acara palang pintu."
"Cie Noah, ndak sabaran mau Lamar Belin, bilang cinta dulu dong."
"Ndak usah diajari Maaam." Noah tirukan gaya Balen dan C's.
"Beneran kan datang, Aban Daniel tunggu calon menantunya nih." Balen terkikik geli.
"In syaa Allah datang Mam." jawab Noah, Balen terbahak mendengarnya.
"Kalau jadi menantu, panggilnya boleh Mam and Pap juga ya, tidak mau Ante sama Om." kata Noah pada Balen.
"Aban, Noah melamar jadi anak Aban nih, mau panggil kita Mam and Pap kalau jadian sama Beyin." lapor Balen, Daniel tertawa mendengarnya.
"Noah kalau Lamar Beyin langsung ke Aban Leyi aja nanti." kata Balen kemudian naikkan alisnya pada Belin yang menguping tanpa ekspresi.
"Ok Mam." jawab Noah.
"Ih main panggil Mam aja, memang Beyin mau sama Noah?"
"Tanya dong sama anaknya, kalau aku dekati terganggu tidak?"
"Noah kan sudah tahu rumahnya, nomor handphonenya tahu ndak? nanti kan ketemu tuh kesempatan deh Noah tanya-tanya, gerak cepat dong biar ndak diambil orang."
"Begitu ya?"
"Dulu sih biar gue pepet juga, kamu pasti pilih Daniel Baen. Sudah terbaca kok."
"Iya sih, ah Noah semangat Baen ndak sabar punya menantu Noah."
"Hahaha ok, nanti aku datang agak sore ya Baen, masih ada meeting."
"Tapi menginap kan?"
"Iya menginap, ajak Denis ya?"
"Eh Denis memang ada disini juga?"
"Ada lah ikut bantu aku dikantor Papa."
"Ajak dong Noah, Besta juga ajak."
"Besta lost contact Mam, tidak tahu di mana dia, handphonenya tidak pernah aktif."
"Waah ya sudah, jangan lupa secret Denis kesini."
"Iya Baen, ini juga aku sudah sama Noah." teriak Denis bikin Balen berjingkrak senang karena sahabatnya semasa di Ohio akan hadir juga.
"Oke Ndak sabar menunggu kalian." kata Balen.
"See you soon Mam." eh Denis ikut panggil Mam juga, mau dijodohkan sama siapa dia, Balen jadi putar otak, masa iya sama Sina anaknya Winner sih. Dasar Balen pikirannya mau carikan jodoh saja.
"See you soon Denis, I miss you loh."
__ADS_1
"Ish ada Bang Daniel, kamu bilang begitu, nanti marah loh." Denis ingatkan Balen.
"Ndak, kalau sama Denis aja sih, Aban ndak cemburu, iya kan Aban?" Balen tersenyum pada Daniel yang mengacak anak rambutnya.
"Oke Baen, sampai nanti ya." Denis pun akhiri sambungan teleponnya.
"Uhuii, calon jodoh Beyin mau datang." langsung saja Shaka menggoda Belin.
"Eh ganteng loh ini." Balen promosikan sahabatnya.
"Family Man deh, cocok untuk Beyin." lanjutnya lagi.
"Ante jangan bahas jodoh dulu, tuh rombongan Opa Eja sudah datang." Belin tunjuk Reza dan sahabatnya sedang masuki aula, pagi sekali mereka datang, untung saja Balen sudah menginap dari semalam.
"Ayo Aban, kita sambut." Balen langsung hampiri geng ganteng beserta pasangannya.
"Baen, ini buat kamu." Ame Enji tepati janjinya bawakan sesuatu untuk Belin.
"Ah Ame, Baen ganti baju nih." kata Balen saat melihat paperbag dari Enji.
"Oh iya dong, biar tambah cantik." kata Enji, sementara Pipit dan Regina cengar-cengir pandangi Balen.
"Ini suami Baen loh, Aban ini gengnya Ayah Eja, tuh Aban jangan kalah ganteng deh sama mereka." kata Balen bikin Para Opa dan Para Oma terkekeh, sudah tua masih saja terlihat tampan.
"Apa kabar Om dan Tante?" sapa Daniel, waktu kecil pernah ikut rombongan Mario ke Cirebon.
"Mau juga jadi orang Jakarta ya?" goda Andi pada Daniel.
"Hahaha masih senang di negara sendiri kok, Om." jawab Daniel terkekeh.
"Bagaimana bisnis disana, kalian pindah?"
"Ada teman yang bantu disana." jawab Daniel.
"Masih tetap jalan ya?" Erwin ikutan bertanya.
"Masih Om, Alhamdulillah."
"Aban, ini geng ganteng punya panggilan khusus loh." Balen beritahukan suaminya lalu sebutkan panggilan masing-masing.
"Oh iya, saya mesti hapalkan itu." Daniel tertawa.
"Cadi saja sudah hapal." Enji menepuk bahu Daniel.
"Ame sudah bertemu Cadi ya?" Daniel terkekeh.
"Anakmu itu kalau sore suka ajak Papon keliling. Temannya Opa dan Oma, main basket rajin sekali." lapor Regina pada Daniel.
"Sekarang Cadi lagi main sama Maureen di kamar Kak Selin." Balen beritahukan Pipit dan Regina.
"Mana mereka?" tanya Mario tidak sabar mau bertemu cucu dan cicitnya.
"Masih dikamar Papi, oh iya kamar sudah Baen siapkan loh."
"Kamu siapkan Soundsystem Baen, kita mau mengenang masa muda." kata Andi tunjuk saxophone di tangannya.
"Wah seru nih, sini Papa." langsung saja Balen menarik Andi menuju ke panggung untuk lakukan check sound, sementara yang lain ikuti Balen dan Andi.
__ADS_1