Because I Love You

Because I Love You
Kuat


__ADS_3

Tepat pukul sepuluh malam Daniel menjemput Balen di Warung Elite bersama ketiga jagoannya juga Kenan dan Nona. Balen tersenyum bahagia karena yang menjemput paket lengkap, berikut Papon dan Mamon.


"Waduh yang habis ke Dufan, Abang Bima tidak diajak." kata Bima menggoda C's. Ia dan yang lainnya menunggu jemputan Balen di lobby restaurant.


"Abang sih kerja terus." kata Cadi, ia tersenyum bangga karena habis jalan-jalan bersama Papon, Mamon Dan juga Papa.


"Bagus mana Dufan sama King island?" tanya Billian.


"Sama saja semua bagus." jawab Chandra kalem.


"Pasti ada beda dong." kata Shaka.


"Kata Pap nikmati yang didepan mata, jangan suka banding-bandingkan, nanti tidak bersyukur." jawab Chandra lagi.


"Pffff..." Aca menahan tawa, adik kecilnya ini selalu saja menyerap apa pesan Papanya.


"Pinter." kata Bari cengar-cengir.


"Anak siapa dulu." Daniel langsung saja banggakan diri.


"Cucu siapa dulu." Kenan yang didalam Mobil ikutan.


"Kita juga cucu Papon loh." Shaka langsung komplen.


"Lah iya makanya pintar kan." balas Kenan bikin semua tertawakan Shaka.


"Ya sudah Ante balik ya, terimakasih sudah di temani loh." Balen segera lambaikan tangannya kemudian masuk ke dalam Mobil.


"C's kapan menginap di rumah?" tanya Billian pada keponakannya.


"Tunggu Mam sama Pap menginap dihotel lagi ya." jawab Cadi bikin Balen nyengir.


"Sekarang antarkan saja ke hotel, nanti kalian langsung sama Abang." kata Billian.


"Jangaaan, nanti Mam sedih karena merindukan aku." Cadi langsung memeluk Balen.


"Yang rindu kamu atau Mam?" tanya Aca.


"Akuu sama Mam." jawabnya bersandar di dada Balen. Langsung saja Balen mencium pucuk kepala Cadi.


"Dasar bontot." Billian gemas dan mencubit pipi Cadi.


"Abaaang." teriaknya manja.


"Minggu jadi ya." kata Bima dekatkan wajahnya pada Cadi yang sudah di dalam mobil dan posisinya ada didekat jendela.


"Oke." Cadi satukan jempol dan telunjuknya hingga berbentuk lingkarkan.


"Boys Ok kan minggu?" tanya Bima.


"Kita berlima saja?" tanya Charlie tunjuk Aca tapi melihat pada Billian, pikirnya kasihan betul Abangnya ada yang tidak ikut.


"Kita semua anak-anak muda." jawab Bima.


"Abang Billi ikut juga?" tanya Charlie senang.


"Ikut dong." jawab Billian.


"Pap sudah tua jadi tidak diajak." kata Charlie mengusap pipi Papanya, Daniel dan Kenan terbahak.


"Masih muda dong." jawab Daniel menggigit pelan tangan Charlie.

__ADS_1


"Ih Pap jorok." teriaknya karena tangannya jadi basah, Daniel dan yang lain terbahak dibuatnya. Dari ketiga jagoannya, Charlie yang paling manja dengan Daniel, padahal dia bukan anak manja. Tapi seperti semalam saja rusuh minta bicara lewat video call dengan Papa sebelum tidur.


"Oke ya, Papon sudah tidak sabar mau mandi." kata Kenan lambaikan tangan lalu mulai lajukan kendaraannya.


"Sayang coba telepon Nanta, kapan dia mau ke rumah." kata Kenan pada Nona.


"Mau apa sayang?" tanya Nona sambil menghubungi Nanta.


"Ingin ngobrol saja." jawab Kenan.


"Papon merindukan Panta." bisik Nona pada ketiga cucunya sambil tertawa.


"Papon kita sama ya, tapi kalau aku anaknya yang merindukan Pap." Charlie dekatkan wajahnya pada Kenan.


"Harusnya Panta yang rindukan Papon." kata Chandra pandangi Kenan.


"Kalau aku sama Mam saling rindu." sahut Cadi masih memeluk Balen.


"Kamu sih manja." dengus Chandra.


"Bukan manja tapi sayang." jawab Cadi tengil lalu mencium pipi Balen.


"Mam tadi malam aku pintar kan." kata Cadi kemudian.


"Iya anak Mama pintar." jawab Balen terkekeh.


"Pintar kenapa? kamu tidurnya ditemani." Chandra tertawakan Cadi.


"Cayi juga ditemani." Cadi tidak mau dikatakan tidak pintar.


"Seperti aku dong tidur sendirian." Chandra banggakan diri.


"Tidak enak, tidak bisa ngobrol." Cadi membalikkan jempolnya kebawah.


"Ih Chandra. Mam masa Chandra begitu." mengadu pada Balen.


"Chandra cuma bercanda." Balen terkekeh tenangkan Cadi.


"Mam, malam ini tidak menginap lagi kan?" tanya Charlie pada Balen.


"Maunya bagaimana?" tanya Balen.


"Maunya kita terus bersama satu atap, semalam kita terpisah." jawab Charlie, Daniel tertawa gaya sekali terus bersama satu atap.


"Semalam sih kalian tidak mau dijemput." kata Kenan pada cucunya. Nona belum jadi menghubungi Nanta, yang pertama tidak diangkat yang kedua fokus pada obrolan cucunya.


"Kalau dijemput kita tidak naik helicopter nanti." jawab Chandra.


"Kalian suka ya naik helicopter?" tanya Balen.


"Tidak tahu, kan baru mau coba." jawab Chandra.


"Memangnya berani?" tanya Nona.


"Berani, Mamon berani tidak?" tanya Chandra, Nona gelengkan kepalanya.


"Seru Mamon, apalagi kalau pakai terjun payung, boleh Mam, Pap?" Chandra bikin Balen berteriak.


"Jangan ya, jangan terjun payung. Itu harus latihan." kata Balen panik.


"Kalau sambil digendong Om nya kan bisa Mam." jawab Chandra.

__ADS_1


"Pokoknya ndak boleh, Abaaan..." Balen langsung merengek panik pada Daniel.


"Chandra cuma bilang seru kok, kalau mau coba juga ada prosedurnya." Daniel tertawakan Balen.


"Tapi itu kan bahaya, Aban jangan kasih kalau mereka minta kursus." sungut Balen.


"Boy's kalian dengar kan, Mam tidak merestui." kata Daniel pada ketiganya.


"Oke Pap." jawab ketiganya berbarengan.


"Bagaimana tadi di Dufan? Mamon sama Papon jadi capek tuh."


"Seru Mam, bajuku basah kena air saat arung jeram." cerita Chandra dengan semangat.


"Kata Papon bisa arung jeram di sungai Mam, aku mau." Charlie ikutan semangat, Kenan dan Nona tertawa-tawa dengarkan ocehan ketiga cucunya.


"Pap, kapan kita ke sungai yang banyak batu-batu." kata Chandra pada Daniel.


"Airnya coklat itu, jorok." sahut Cadi.


"Namanya saja sungai kan nempel sama tanah, tentu saja airnya coklat." Charlie menyambung.


"Tapi ada yang airnya biru." Cadi naik oktaf.


"Terang saja biru, penduduk disana matanya juga biru, kalau di Indonesia penduduknya bermata coklat, jadi airnya coklat juga." Chandra menjelaskan seakan-akan dia tahu.


"Sok tahu Chandra." Cadi bersungut.


"Mam, Chandra sok tahu ya?" Cadi minta suaka Mamanya. Balen cekikikan geli sendiri, bisa-bisanya Chandra punya analisa seperti itu, Daniel juga tertawa dibuatnya.


"Chandra pikirannya masuk akal juga sih." gumam Nona ikut cekikikan.


"Mamon handphonenya tuh." tunjuk Charlie pada Handphone Nona yang berdering.


"Nanta." Nona sodorkan handphonenya pada Kenan.


"Nan..."


"Ya Pa, nelpon?"


"Iya, besok sarapan dirumah lagi kan?" tanya Kenan.


"Baen sudah ada kan? masih perlu Nanta dan Dania?" tanya Nanta.


"Pasti perlu, Papa mau mengulang masa lalu saat kita selalu bersama di meja makan." Kenan tersenyum.


"Sekarang bonus C's tapi minus Ichie, Tori dan anak2nya." lanjut Kenan karena Ichie tadi sudah kembali Ke Malang.


"Oke Pa, besok Nanta dan Dania kesana, Mau dimasakin apa?" tanya Nanta.


"Tidak usah, Mamon dan bibi saja yang siapkan sarapan kita, kalian tinggal datang saja." jawab Kenan.


"Begitu deh Papon, untung saja Nanta dan Dania mau direpotkan, kalian sih terlalu lama kembali Ke Indonesia, tuh Papon kesepian." kata Nona pada Balen dan Daniel.


"Duh Papon, Baen jadi sedih."


"Papon maklum kok kalian sibuk, makanya Papon repotkan Abang dan kakakmu."


"Nanti Baen tinggal sama Papa James, Papon sama Mamon kesepian dong."


"Pulang sekolah C's ke rumah Papon saja, bagaimana?" tanya Nona.

__ADS_1


"Kita bagi tugas ya, ada yang kerumah Papon ada yang ke rumah Opa, bagaimana?" Chandra mulai atur kedua adiknya.


"Oke, aku jaga Papon dan Mamon sendiri saja, aku kan kuat." jawab Cadi bikin Kenan dan Nona terbahak.


__ADS_2