Because I Love You

Because I Love You
Bolot


__ADS_3

"Noaaah!" teriak Balen sambil berkacak pinggang, sementara Noah dan Denis cengengesan.


"Dari mana tadi?" tanya Balen lagi dengan wajah galak, karena baru bisa menyapa kedua sahabatnya yang sudah berapa tahun lebih dulu kembali Ke Jakarta.


"Ada disana." tunjuk Noah pada bangku kosong yang sedang dirapikan, sementara yang lain perlahan sudah mulai tinggalkan ballroom menuju ke kamar masing-masing.


"Ndak ada tadi Baen cari, kalian kemana sih? Sepertinya si Noah sudah dekat sekali sama Belin ya, Denis?" tanya Balen langsung saja ke pokok bahasan, Belin sok acuh asik ngobrol sama Kia dan Lucky, tapi menguping juga.


"Ehem..." Denise kasih kode-kode seperti orang yang lagi gatal tenggorokannya.


"Kalian tadi keren sekali loh aksi panggungnya." kata Noah sambil tertawa.


"Oh iya dong, terhibur kan?" kata Balen bangga.


"Pastinya." kata Noah, Denis pun mengiyakan.


"Ayo cerita, ada yang Baen ndak tahu nih tentang kalian." Balen menunjuk Noah dan Belin. Denis sok buang muka gitu.


"Denis ndak usah tutupi deh, masa Baen yang jodohi, Baen ndak tahu cerita." dengusnya, Noah dan Denis tertawa.


"Beyin sini deh, jangan sok jauh-jauh tapi kepo." kata Balen, Noah dan Denis tertawakan Belin.


"Ante ih." Belin mencebik, lalu hampiri Balen dan menggandeng tangannya manja.


"Sudah pacaran sama Noah ya?" tanya Balen pada Belin.


"Belum sih." Belin terkekeh.


"Tapi sudah kenal Mama dan Papaku." jawab Noah nyengir.


"Beneran Beyin?" tanya Balen menahan senyum, Belin anggukan kepalanya.


"Kenalan dimana? mereka jarang di Jakarta." tanya Balen Kepo.


"Singapore." jawab Belin kembali nyengir.


"Denis tahu?" tanya Balen lagi.


"Tahu lah apa yang gue tidak tahu sih Baen." Denis terkekeh.


"Ih jahat, Noah sudah kenal Aban Leyi belum?" tanya Balen.


"Sudah tapi belum ngobrol banyak sih, cuma waktu itu pernah antar Belin pulang bertemu Ayah dan Naminya Belin di teras rumah, remang-remang juga." jawab Noah apa adanya.


"Waktu di rumah Papon ndak kenalan?" tanya Belin, Noah gelengkan kepalanya.


"Ayah sibuk sama Papa Lemon deh waktu itu." jawab Belin yang ternyata perhatikan Noah ngobrol sama siapa.


"Waktu itu kalian sudah kenal?" tanya Balen.


"Sudah Ante, Ardi eh Noah kan yang punya gedung tempat Beyin kerja." jawab Belin.


"Sudah lama kenal harusnya sudah pacaran dong Noah, ndak usaha memangnya?" Balen bikin Noah tertawa.


"Baen gue jadi kebanyang kalau C's besar nanti, Mam nya seperti ini."


"Ish, kan Baen Dari di Ohio bilang Noah sama Beyin aja anak Baen, cantik, baik, rajin ibadah." kata Balen kembali promosi.


"Tidak segitunya juga Ante." Belin terkekeh, sandarkan pipinya dibahu Balen.


"Ya sudah lah Baen senang kalian dekat, Denis kita ngobrol yuk, Baen kangen." Balen menarik tangan Denis tinggalkan Noah dan Belin.


"Eh Baen..." panggil Noah.

__ADS_1


"Apa?" tanya Balen.


"Sama aku tidak kangen?" Noah balik bertanya.


"Ndak, telepon tiap hari tapi ndak kasih progress, huh." sungutnya sambil menahan senyum lalu mengajak Denis hampiri suami dan anaknya.


"Uncle Denis..." Cadi langsung berteriak memanggil sahabat Mamanya itu.


"Cadi, kamu semakin tinggi. Sebentar lagi bisa samakan Uncle." kata Denis mengacak anak rambut Cadi, lalu memeluk dan salami Daniel.


"Apa kabar, Bang?" tanya Denis.


"More happy." jawab Daniel tersenyum.


"Terlihat wajah tampak lebih cerah dan semakin sulit mengejar ketampanan Abang." kata Denis bikin Daniel tergelak.


"Itu berlebihan." kata Daniel.


"Aku serius Bang. Cadi your Pap more handsome kan?" tanyakan pada Cadi.


"Seperti aku kan Uncle." dasar Cadi malah narsis.


"Ya kamu copy paste Papamu." kata Denis jujur.


"Mam jangan sedih." katanya tengil.


"Kenapa harus sedih?" tanya Balen.


"Karena aku handsome seperti Pap." katanya bikin semua tertawa.


"Ya kamu handsome tapi ingat jangan sok handsome ya, Mama tidak suka lihat cowok sok ganteng." kata Balen, Denis terbahak mendengarnya.


"Ketawa lagi." omel Balen.


"Jangan dipuji berlebihan nanti luntur gantengnya." kata Daniel menepuk bahu Denis.


"Mana Noah?" tanya Daniel.


"Mojok." tunjuk Balen pada Noah dan Belin.


"Berhasil menjodohkan?" tanya Daniel terkekeh.


"Belum ya Denis, lagian Aban mereka ternyata sudah sangat dekat loh." kata Balen.


"Bagus dong." jawab Daniel.


"Iya sih, tapi Baen kesal Noah ndak cerita, Beyin juga." sungut Balen.


"Belin masih gantung Noah, Baen." Denis beritahukan kondisinya.


"Kenapa?" tanya Balen.


"Dia takut jadikan Noah pelarian, kamu tahu cerita Belin dan Panji?" tanya Denis.


"Oh itu jangan khawatir, ndak direstui." jawab Balen.


"Masalahnya di Belin." jawab Denis tersenyum.


"Tapi sepertinya anakmu itu mau sih." kata Denis terkekeh.


"Tapi jual mahal?" tanya Balen.


"Bukan jual mahal, dia belum mengerti rasa hatinya terhadap Noah gue rasa." Denis sok menganalisa.

__ADS_1


"What's wrong with uncle Noah and Auntie Beyin, Mam?" jiah Cadi ikutan kepo. Balen lupa membahas urusan orang dewasa didepan Cadi.


"Mereka akan menikah seperti Mama dan Papa." jawab Daniel.


"Wow Aunti Beyin..." teriak Cadi lalu berlari hampiri Belin dan Noah. Balen, Denis dan Daniel terbahak.


"Aban..." Balen memandang Daniel khawatir walaupun tertawa.


"Biarkan Cadi yang bekerja." jawab Daniel terkekeh.


"Maksudnya?" tanya Balen.


"Tadi dia janji sama Ayah dan Nami akan kenalkan calon suami Auntie Beyin pada Ayah dan Nami." Daniel terkekeh.


"Kenapa begitu?" tanya Denis.


"Biasa Ayahnya curhat soal Beyin, maklum ya punya anak gadis, khawatir masih berharap Panji. Nah Cadi kamu tahu sendiri kupingnya panjang." Daniel tertawa.


"Iya ampun deh Cadi tuh suka ajaib, soal suntik apalagi ajaib banget." Balen gelengkan kepalanya.


"Beda sama Abangnya ya?" Denis terkekeh.


"Chandra sih kamu tahu sendiri Denis, cenderung ndak pedulian walaupun sebenarnya perhatian. Charlie walaupun menyimak tapi ndak mau ikutan obrolan orang dewasa, diam mendengarkan, kalau si bontot ya kaya gitu bereaksi, merekam dan menyampaikan." Balen terbahak ceritakan Cadi.


"Ada yang ditiru ya Bang." Denis tertawakan Balen.


"Ish Denis." Balen terkikik geli.


"Baen soal Noah tidak cerita itu jangan berpikir kalau dia tidak anggap kamu sahabat loh." Denis ingatkan Balen.


"So?"


"Ya Noah tuh awalnya ragu ini Belin benar tidak yang Balen ceritakan, sampai akhirnya antar Belin pulang kerumah, melihat Ayahnya Belin tuh seperti Abang Daniel katanya."


"Hahaha iya agak mirip." Balen tertawa.


"Beda ah." Daniel menolak.


"Sebenarnya mirip cuma Aban Leyi khas Asia, Aban bule-bule gitu." jawab Balen.


"Bule dari mana?" Daniel tertawa sambil kibaskan tangannya.


"Dari Pale." jawab Balen bikin semuanya terbahak.


"Baen kapan kita ketempat Besta, datangi rumah orang tuanya, dia menghilang tanpa kabar." ajak Denis pada Balen.


"Ayo kapan, kita cuma bisa weekend, ya kan Aban?"


"Iya sayang." Daniel tersenyum.


"Nanti aku lihat jadwal dulu deh Baen kadang si Bos weekend juga kerja sih." Denis menunjuk Noah.


"Eh memangnya Noah jadi Bos Denis?" tanya Balen bingung.


"Ya ampun, kamu pasti tidak menyimak waktu aku bilang aku sekarang asistennya Noah." Denis langsung menebak, sahabatnya ini suka bagaimana ya, masuk kuping Kiri keluar kuping kanan sepertinya, cerita orang jarang ada yang menempel di otaknya.


"Jangan mikir yang ndak-ndak, Baen kira asisten bercandaan aja." katanya menepuk bahu Denis, Daniel tertawa sudah tahu kelakuan istrinya.


"Jadi kalian sekantor?" tanya Balen.


"Iya lah, namanya saja asisten." Denis terkekeh.


"Oh terus kenal Belin dimana kan beda kantor?" tanya Balen.

__ADS_1


"Bang boleh cubit istrinya tidak ya, kok gemas kalau lagi bolot begini." kata Denis, Daniel terbahak sambil gelengkan kepalanya. Tidak mau juga istrinya dicubit cowok lain.


__ADS_2