
"Mam, aku menginap di rumah Panta." Cadi hubungi Mamanya via telepon gunakan handphone Panta.
"Loh, siapa saja?" tanya Balen pada Cadi.
"Aku saja sendiri, besok aku menginap di rumah Ayah Leyi." katanya lagi.
"Kok sekarang pintar menginap? Chandra sama Charlie tidak di ajak? terus besok kamu sekolahnya bagaimana, seragam kan ada dirumah?" tanya Balen pada Cadi.
"Iya dong kalau di Jakarta tempat menginap aku banyak, Aku sendiri saja yang menginap, nanti aku tidurnya sama Abang Aca, besok malam tidurnya sama Abang Billian." oceh Cadi sudah bikin rencana sendiri.
"Sudah bilang Papa belum?" tanya Balen.
"Bilang Mam dulu, kalau Mam oke baru bilang Pap." jawab Cadi kenes.
"Ya bagaimana tidak setuju, kamu sudah dijemput Panta kan?" tanya Balen.
"Iya sih, ini sudah di mobil." jawabnya cekikikan.
"Lain kali bilang dulu dong baru ikut Panta." Balen ingatkan Cadi.
"Mam tidak boleh marah, Panta yang ajak, iya kan Panta?" Cadi minta di bela Panta.
"Iya." terdengar suara Nanta.
"Kamu pasti yang minta ikut." kata Balen pada Cadi.
"Maaaam, boleh kan?" tidak mau menjawab tebakan Mamanya.
"Ya sudah boleh." jawab Balen tidak tahan dengar rengekan Cadi.
"Good Mam." Cadi membuat Nanta terbahak.
"Ih Aban ketawa-ketawa, Mama mau bicara sama Panta ya Cadi." ijin Balen pada Cadi.
"Kenapa dek?" tanya Nanta yang memang dari tadi handphonenya sudah di loudspeaker.
"Sabtu jadi loh, Baen sudah undang semua, Aban Mike sama Aban Doni bagaimana?" tanya Balen.
"Kamu belum telepon mereka?" tanya Nanta.
"Tadi Baen telepon ndak diangkat." jawab Balen.
"Tadi lagi dilapangan dek, coba telepon lagi." kata Nanta pada Balen.
"Tapi Aban sudah kasih tahu kan?" Balen memastikan.
"Iya sudah, Leyi juga sudah bilang ke mereka tadi." jawab Nanta.
"Mereka bisa datang ndak?" tanya Balen.
"Bisa, tapi kamu telepon lagi saja."
"Ya sudah, Aban sudah sampai mana?" tanya Balen.
"Sebentar lagi sampai rumah, Cadi biasanya sarapan apa?" tanya Nanta.
"Apa saja, Cadi besok kamu tidak berenang dong?" tanya Balen pada Cadi.
"Berenang saja." jawab Cadi.
"Siapa yang temani besok?" tanya Balen.
"Panta ok, Mam." langsung tunjuk Panta.
__ADS_1
"Aban, anak-anak habis sholat shubuh langsung berenang baru setelahnya mereka sarapan." kata Balen pada Abangnya.
"Oke, Baen... Anak-anak mau dimasukkan ke club berenang tidak?" tanya Nanta pada Balen.
"Rencananya begitu, tapi Baen bingung nanti siapa yang antar latihan berenangnya, kalau jauh kasihan Papon." kata Balen tidak tega jika Papon yang harus antar.
"Paling ditemani bibi dan diantar supir." kata Balen.
"Tidak mau Mam, aku bukan anak bibi, kenapa bibi yang antar latihan berenang." Cadi langsung menolak.
"Tuh Aban, yang bikin Baen bingung yang kaya gini kalau kerja."
"Ya sudah nanti kita bahas lagi. Mungkin Tania bisa antar C's latihan berenang." kata Nanta pada adiknya.
"Ndak usah lah Aban, Baen ndak enak sama Tania."
"Kamu seperti sama orang lain saja, Tania kakak kamu juga Baen." omel Nanta pada Balen.
"Iya tapi... ya sudah deh terserah Aban, nanti Baen bahas juga sama Aban Daniel." kata Balen akhirnya.
"Iya sayang kalau tidak masuk club, mereka bibit unggul, bisa harumkan nama negara." kata Nanta bikin Balen terkekeh.
"Abang serius dek." kata Nanta pada Balen.
"Iya Aban, semoga ketemu yang bisa antar, kalaupun Baen yang temani semoga bisa tanpa mengganggu kerjaan." jawab Balen tersenyum.
"Aban, kenapa Aca sama Bima ndak ikut club juga dulu?" tanya Balen pada Nanta.
"Duh itu anak-anak kamu satupun tidak berminat jadi atlet, mana bisa mereka latihan rutin." Nanta terkekeh.
"Menurut Aban, C's bisa ya?"
"Bisa lah, tanpa ikut club saja mereka rutin berenang setiap shubuh."
"Iya itu karena Aban Daniel yang biasakan." jawab Balen.
"Iya tapi Aban, Baen diskusi sama Aban Daniel dulu ya, boleh ndak C's ikut club." kata Balen pada Abangnya.
"Iya harus. Kalau Daniel tidak ijinkan ya jangan."
"Aban, serius ini Cadi menginap dirumah Aban?" tanya Balen.
"Iya dia sudah telepon Aca dan Bima juga." jawab Nanta.
"Tumben." Balen sedikit heran.
"Biar saja Baen, ada yang jaga ini." kata Nanta.
"Baen takut tengah malam dia minta pulang." kata Balen khawatir.
"Maaam, aku pintar kok." teriak Cadi.
"Janji ya tidak minta pulang?" tegas Balen pada Cadi.
"Promise." jawab Cadi cepat.
"Jangan merepotkan ya Nak."
"Maaam jangan cerewet." omelnya bikin Balen terbahak.
"Hahaha..." Nanta ikut terbahak.
"Tuh anak kecil kalau di kasih tahu Ban." adu Balen pada Abangnya.
__ADS_1
"Seperti siapa ya?" Nanta lagi-lagi terbahak.
"Ndak tahu Baen." jawab Balen nyengir.
"Kasih tahu ya?" Nanta menggoda Balen.
"Ndak usah Aban." jawab Balen sambil tertawa.
"Ya sudah sana Cadi telepon Papa ya minta ijin." kata Balen pada Cadi.
"Ok Mam."
"Berarti Cadi sabtu bareng Leyi ya dek ke hotel."
"Iya Aban."
Sore hari Balen dan Daniel langsung pulang, tidak mampir ke rumah Papon lagi, kasihan Chandra dan Charlie yang selalu menunggu Mama dan Papa hingga malam. Hari ini bisa pulang lebih cepat, jadi bisa habiskan waktu bersama Chandra dan Charlie lebih lama, sebelumnya Balen sudah hubungi Mamon sampaikan alasannya kenapa tidak mampir. Untungnya Mamon mengerti, Balen tidak tahu saja kalau malam harinya Kenan dan Nona menyusul ikut menginap di rumah Nanta karena senang bisa kumpul bersama anak cucu.
"Maaam pulangnya masih terang." Charlie langsung tersenyum senang menyambut kepulangan Mama dan Papanya.
"Iya karena Cadi menginap dirumah Panta, jadi Mama dan Papa bisa pulang cepat." jawab Balen pada Charlie yang sudah menanti di teras.
"Kok Cayi tahu Mama dan Papa pulang cepat?" tanya Daniel pada Charlie.
"Opa bilang Pap sudah dijalan." jawab Charlie.
"Mam, kenapa Cadi menginap?" tanya Chandra yang baru saja muncul.
"Dia diajak Panta tadi." jawab Balen.
"Besok apa boleh aku menginap di rumah Panta?" ijin Chandra pada Balen yang langsung memandang suaminya.
"Pap?" Chandra tahu Balen minta persetujuan Daniel.
"Masuk dulu dong, Papa dan Mama baru saja tiba." jawab Daniel merangkul Chandra.
"Paaap..." Charlie langsung protes.
"Kamu sama Mama." kata Balen ikut merangkul Charlie.
"Tapi aku yang tunggu duluan, Pap sayangnya sama Chandra." sungut Charlie merajuk.
"Papa sayang semua, Cayi." Daniel menunggu Charlie yang berjalan dibelakangnya, Chandra yang sedikit acuh berjalan lebih dulu.
"Kenapa?" tanya Papa James pada Daniel.
"Biasa kalau satu di rangkul yang satu komplen." Daniel terkekeh.
"Karena Charlie jealous, Opa." kata Chandra mengadu pada Opa.
"Jangan suka jealous dong Cayi." Opa James terkekeh.
"Iya Opa." jawab Charlie tapi tetap posesif memeluk Daniel.
"Anak Papa dia tuh." tunjuk Balen.
"Aku anak Mam juga." jawab Charlie.
"Tadi dirangkul Mama tidak mau." sungut Balen.
"Pantas saja Cayi begitu, ternyata meniru Mam." celutuk Chandra bikin Balen nyengir.
"Chandra peluk Mama dong." kata Balen sambil tersenyum.
__ADS_1
"Mam mandi dulu, nanti baru aku peluk." jawabnya, Daniel langsung tertawa.
"Iya Mama lupa kamu Mr Clean." jawab Balen segera menuju ke kamar lakukan permintaan Chandra.