
"Sayang Aban." Balen mendongak sambil tersenyum saat Daniel memeluknya, tangan mungilnya melingkar di pinggang Daniel.
"Abang juga sayang Baen." jawab Daniel kemudian mengecup bibir istrinya.
"Yang banyak ciumnya." pinta Balen manja. Daniel pun kecup bibir Balen bertubi-tubi. Balen tertawa senang saat menerima kecupan demi kecupan dari suaminya.
"Jalan pagi yuk, sekalian pemanasan sebelum tenis." ajak Daniel pada istrinya.
"Nanti aja Aban, Baen mau minum jus." tolak Balen diajak jalan pagi.
"Minum air putih saja dulu, setelahnya baru kita minum jus."
"Ya deh." menurut saat Daniel berikan botol air mineral pada Balen. Mengajaknya duduk di sofa.
"Aban, tadi siapa aja yang sholat?" tanya Balen setelah meneguk air mineral yang diberikan Daniel.
"Semua laki-laki." jawab Daniel.
"Ndak ada yang halangan, kaya Shaka sama Bari?" tanya Balen sambil tertawa, Daniel jadi ikut tertawa.
"Tidak ada mereka semua normal." jawab Daniel terkekeh.
"Aban, Baen kayanya hamil nih, ndak usah main tenis deh Baen." katanya lagi mengusap perutnya.
"Mana ada baru bikin dua hari sudah hamil." Daniel tertawa mencubit hidung Balen.
"Kan dua hari juga udah sering, sampai Baen kekenyangan." jawabnya polos pandangi Daniel.
"Kata teman Baen ada yang baru sekali aja langsung hamil." katanya lagi jelaskan pada Daniel.
"Tidak langsung dua hari juga sayang, kan harus di olah dulu, nanti dua minggu lagi baru bisa check, Baen hamil atau tidak." Daniel tertawa lagi melihat Balen yang yakin kalau dia hamil.
"Gitu ya?"
"Iya." Daniel tertawa geli.
"Jangan ketawain Baen, Aban." malu gitu ditertawakan Daniel.
"Iya..." senyum-senyum pandangi istrinya kemudian kembali mengecup bibirnya.
"Ayo, mana tas Baen. Ambil..." kata Daniel kemudian beranjak dan menggandeng Balen, tidak mau lakukan lebih karena khawatir akan kembali menerkam istrinya. Balen segera ambil tas selempangnya dan ikuti langkah Daniel keluar kamar.
"Mau kemana?" tanya Billian yang ternyata juga keluar kamar, mereka berjalan beriringan menuju lift.
"Jalan pagi sekalian pemanasan." jawab Daniel tersenyum pada keponakannya.
"Kamu mau kemana?" tanya Balen pada Billian.
"Dibawah ditunggu Bima dan yang lainnya, ajak aku sarapan, jadi langsung saja." jawab Billian.
"Sudah pada datang? ndak jadi sarapan di rumah?" tanya Balen lagi.
"Pada mau makan lontong sayur dan nasi uduk yang dekat sini, mau Ante?"
"Ndak, Ante mau minum jus aja, tapi bungkusin dong Billian buat makan setelah Tenis nanti." pinta Balen pada Billian.
"Iya, Om Redi juga minta dibungkusin." jawab Billian lagi. Daniel segera keluarkan beberapa lembar uang merah serahkan pada Billian.
__ADS_1
"Lebih nih Om, tadi Om Redi kasih juga buat bungkus." kata Billian cengengesan.
"Kantongi saja kalau lebih." jawab Daniel bikin senyum Daniel tambah lebar.
"Aban, kalau udah menikah, Baen masih ditransfer Aban Nanta sama Aban Lemon ndak ya?" tanya Balen teringat subsidi yang diterimanya setiap bulan.
"Harusnya sih tidak ya, kamu kan sudah tanggung jawab Abang, jadi Abang yang transfer kamu." jawab Daniel.
"Om masih transfer aku sama Belin tidak ya?" tanya Billian pada Om nya.
"Masih dong tapi nanti transfernya atas persetujuan Ante Baen." jawab Daniel.
"Ante tambahin." bisik Billian bikin Balen terkikik geli.
"Baik-baikin Baen dulu dong, nanti abis tenis pijitin ya." Balen ajukan syarat bikin Daniel terbahak.
"Kalau boleh sama Om Daniel." jawab Billian, sambil menekan tombol turun pada lift.
"Tergantung..." jawab Daniel.
"Tergantung apa Aban?" tanya Balen.
"Mau dipijit bagian mana? kalau tangan atau pergelangan kaki saja sampai betis saja masih ok lah." jawab Daniel sambil masuki lift.
"Ih Aban..." bersungut karena dibatasi.
"Punggung masa ndak boleh." protes Balen lagi.
"Tidak usah, itu Abang saja yang pijit nanti." jawab Daniel bikin Billian terbahak.
"Kenapa ketawa?" tanya Balen.
"Ih..." kembali cemberut.
"Kia sama Belin tidak diajak sarapan?" tanya Daniel pada Billian.
"Mereka sudah duluan turun sama Alex dan yang lain." jawab Billian.
"Ih, ndak kasih tahu Ante."
"Tadi aku mau ketuk kamar Om dan Ante kok." jawab Billian.
"Belin telephone Ante tadi tidak tersambung." kata Billian lagi.
"Oh iya lagi online sama Tori." jawab Balen tersenyum.
"Ante..." sambut Kia saat Balen, Daniel dan Billian keluar lift.
"Opa dan Oma tidak diajak sarapan ya?" tanya Daniel.
"Ndak mau, tadi sudah Beyin ajak." jawab Belin.
"Om Redi kenapa tidak mau ikut?" tanya Daniel.
"Om Redi lagi online sama temannya disana." jawab Billian.
"Yang Malaysia itu?" tanya Balen.
__ADS_1
"Iya."
"Mesra?" tanya Balen lagi.
"Tidak perhatikan." jawab Billian, Balen menarik nafas panjang pikirkan bagaimana mau dikenalkan sama Ulan apa tidak usah, Redi ini nanti duakan Ulan lagi.
"Kenalkan saja biarkan berteman sama Ulan, kan Ulan dan Redi juga belum tentu saling suka." Daniel seperti bisa menebak apa yang ada dalam pikiran Balen, Balen anggukan kepalanya.
"Ayo Ante." Belin langsung menggandeng Balen.
"Ante ndak ikut sarapan loh, Ante mau jalan pagi sama Om Daniel." Balen beritahukan Belin, sementara Alex dan kedua sahabatnya hampiri Daniel dan Billian.
"Aah Ante tidak seru." protes Kia pada Ante Baen.
"Kalian aja anak muda." jawab Balen sok tua.
"Memangnya Ante udah ndak muda lagi?" tanya Belin mencibir.
"Latihan jadi orang tua si Ante biar bisa ngimbangi Om Daniel." jawab Kia tertawa.
"Ih..." Balen merengut sambil menahan senyum.
"Ante, aku tahu kenapa Om Daniel natsi ante dari kecil." kata Kia lagi.
"Soalnya ante lucu dan menggemaskan." jawab Balen senyum bangga.
"Bukan itu aja Ante." jawab Kia.
"Apa dong?"
"Cause you are beautiful, beautiful, beautiful, kamu cantik-cantik dari hatimu." langsung Kia nyanyi ala-ala girl group Cherry Bell bersama Belin sambil berjoget-joget, Balen tertawa dibuatnya, tentu saja ikutan joget-joget mana bisa tidak terpancing dia sama anak-anaknya. Daniel dan yang lainnya melihat tiga abege itu tertawa jadinya.
"Ante, ayo makan lontong sayur." ajak Aca hampiri Balen.
"Ante mau berburu buah, sudah bilang Billian bungkus aja." jawab Balen tetap pada pendidikannya.
"Ante, pemanasan poco-poco loh." kata Aca lagi sambil bergaya poco-poco, Daniel gelengkan kepala kenapa anak-anak Baen pada bergaya Operet semua seperti kata Redi.
"Ante ndak ikutan, kan sekarang mau jalan pagi sekalian pemanasan sama Om Daniel." jawab Balen.
"Oke." jawab Aca cengengesan, mana bisa Balen tidak ikutan, dipancing joget cherry bell sedikit saja dia sudah ikut goyang.
"Aban ayo..." ajak Balen pada suaminya.
"Om Daniel bungkus juga lontong sayurnya?" tanya Aca.
"Tidak usah, Om mau makan buah saja." jawab Daniel.
"Enak tahu Om, di Ohio mana ada." masih saja Aca membujuk Daniel.
"Seenak itu?" tanya Daniel.
"Iya dong seenak itu, aku bungkusin."
"Ya sudah bungkus deh."
"Mana uangnya?" tanya Aca.
__ADS_1
"Itu tadi sudah Om kasih Billian." jawab Daniel tersenyum pantas saja memaksa mau bungkusin.
"Itu kan Billian, yang aku mana?" hahaha benar saja dasar Aca, Balen dan Daniel langsung terbahak dibuatnya, tapi Daniel berikan juga lembaran uang merah pada anaknya itu.