Because I Love You

Because I Love You
Jemput


__ADS_3

"Mam, yang jemput kita siapa?" tanya Cadi saat mereka sudah tiba di Bandara Soekarno Hatta.


"Tidak tahu, mungkin Panta." jawab Balen yang belum mengecek handphone.


"Aku maunya dijemput Bang Bima." Cadi merengek.


"Kamu tidak telepon Bang Bima kemarin." Balen mendengus kesal, menggandeng Charlie dan Cadi membuat Balen kesulitan mengambil handphone di tas slempangnya, belum lagi passport di tangan kirinya, mereka sedang menuju antrian imigrasi.


"Bang Bima kerja, Cadi." Daniel beritahukan bungsunya.


"Pap sih tidak suruh Bang Bima cuti." gerutu Cadi dengan wajah mengkerut.


"Nanti juga bertemu, kenapa sih harus rewel mau dijemput Bima?" tanya Balen pada Cadi.


"Aku mau seperti Aldo saja kalau ke Ohio di jemput Uncle Noah." jawab Cadi pada Mamanya.


"Dijemput Abang Billian, Abang Aca, siapa saja lah yang seperti Uncle Noah." yang muda seperti Noah maksudnya, padahal Noah sudah tidak muda juga, tapi memang bergaya anak muda, bukan gaya orang kantoran.


"Sama saja siapapun yang jemput, Cadi gandeng sama Papa dulu, Mama mau ambil handphone." kata Balen lepaskan genggaman tangannya pada Cadi.


"Charlie saja yang gandeng Pap, aku sama Mam." Cadi sedang rewel rupanya.


"Sini Abang yang ambilkan handphone kamu." Daniel tersenyum saat melihat Balen menghela nafas, masih bersyukur Cadi tidak minta gendong, badannya yang bongsor sudah pasti bikin Balen tidak sanggup menggendong anak-anaknya sejak dulu, jadi kalau ada yang menangis Balen biarkan saja dari pada sakit pinggang setelahnya.


"Aku saja Pap." Chandra tawarkan diri karena Daniel selain menggandeng Chandra juga membawakan koper Balen yang ikut masuk cabin.


"Mam, banyak misscalled." Chandra beritahukan Balen.


"Dari siapa?" tanya Balen.


"Boleh aku buka?" tanya Chandra minta ijin dulu.


"Ya please help me."


"Ayah Leyi." jawab Chandra.


"Kamu telepon Ayah ya, bilang kita sedang antri imigrasi." kata Balen pada Chandra.


"Ok, Mam." Chandra langsung menghubungi Larry.


"Baen, sudah dimana?" terdengar suara Larry dari seberang.


"Aku Chandra, Ayah. Kita sedang antri imigrasi." jawab Chandra.


"Boy handsome, Ayah kangen kalian. Ayah sudah di titik jemput yang biasa ya." Larry beritahukan Chandra.


"Ayah yang jemput? bukan Panta?" tanya Chandra.


"Panta sedang ke Malang urusan kantor. Kalian tidak senang Ayah yang jemput?" tanya Larry bercandai Chandra.


"Aku senang siapapun yang jemput." jawab Chandra sambil melirik Cadi.


"Aku juga senang." jawab Cadi labil, Balen langsung mencubit pipi bungsunya gemas sementara Daniel tertawa geli, padahal tadi rewel minta dijemput Bima.


"Oke Ayah juga senang, sampai bertemu handsome."


"Can't wait to see you Ayah, I really missed you." jawab Chandra akhiri sambungan teleponnya.


"Beneran kangen Ayah?" tanya Balen mencibir.


"Aku kangen semuanya." jawab Chandra.

__ADS_1


"Kemarin yang tidak mau ke Jakarta siapa?" tanya Balen terkekeh.


"Aku cuma tidak mau pindah, kalau liburan saja aku senang." jawab Chandra jujur.


"Sayangnya kita harus pindah, I'm sorry sayang." Balen pasang wajah sedikit menyesal.


"It's ok, Mam. Aku hanya perlu adaptasi dengan udara dan teman baru di Jakarta." jawab Chandra, sementara Charlie diam saja, dia tampak mengantuk.


"Ayo berbaris kita antri, biar Mama di depan, Papa paling belakang." Daniel langsung mengatur barisan antrian imigrasi.


"Pap, kita bisa antri di sebelah." ajak Chandra.


"Jangan, Nanti Papa susah awasi kalian." jawab Daniel gelengkan kepalanya.


"Pap, aku tidak nakal kok, Pap sama Chandra antri saja di sebelah." jawab Cadi.


"Ya Papa tahu kalian anak baik dan penurut." jawab Daniel tersenyum tapi tetap pada pendiriannya, istrinya bisa rewel kalau salah satu anak mereka hilang sebentar saja dari pandangan mata, itulah mengapa dari tadi anak-anak selalu di gandeng, padahal mereka sudah bisa jalan sendiri, tapi Balen tidak ijinkan itu.


"Mam tuh yang suka tidak menurut." bisik Chandra bikin Daniel terbahak. Chandra ikut cekikin, sementara yang lain hanya melihat penasaran.


"Eh bicara apa?" tanya Balen, kalau keduanya sudah kasak-kusuk Balen tahu dia sedang jadi obyek pembicaraan.


"Fokus antri saja Mam, sebentar lagi maju." kata Charlie, karena mengantuk ia ingin cepat sampai di Mobil Ayah Leyi dan lanjutkan tidurnya. Setelah antrian imigrasi terlewati mereka langsung menuju titik jemput yang Larry sampaikan.


"Ayah Leyi sama siapa?" tanya Balen pada Chandra.


"Aku tidak tanya." jawab Chandra yang kembali menggandeng Daniel.


"Pap, aku nanti sekolah dimana?" tanya Chandra.


"Ditempat Papa dulu." jawab Daniel.


"Di asrama?" tanya Charlie dengan mata mengantuknya.


"Yang tempat Aban tawuran?" tanya Balen.


"Bukan sayang." Daniel terkekeh.


"Apa sih tawuran?" tanya Chandra.


"Itu..." Balen baru menjelaskan tapi Daniel gelengkan kepalanya, anak-anaknya tidak perlu tahu kenakalan Daniel kecil, sekali-kalinya dan berakibat fatal.


"Itu Ayah Leyi." tunjuk Cadi langsung melompat-lompat senang.


"Sudah boleh lari kejar Ayah?" tanya Cadi yang rupanya mendapat pesan tidak boleh lari-lari dan harus bergandeng tangan.


"Boleh." jawab Balen, serempak ketiganya berlari mengejar Larry dengan wajah riang gembira.


"Ayah..." Cadi langsung berteriak seperti lomba mereka mau lebih dulu sampai ke Larry.


"Ayah kangen kalian C's." Larry ikutan Balen panggil C's memeluk ketiganya bersamaan.


"Kalian tinggi sekali, ini sih bukan anak enam tahun." Larry terbahak sambil ciumi ketiga keponakannya.


"Aku masih Lima tahun Ayah. Chandra dan Charlie yang enam tahun." jawab Cadi, merasa kedua Abangnya seumuran karena lahir di tahun yang sama.


"Aku baru mau enam tahun." jawab Chandra.


"Tahunnya kan sudah." jawab Cadi.


"Aku baru enam bulan yang lalu lima tahun, jadi belum enam tahun juga." jawab Charlie, Larry tertawa melihat perdebatan ketiganya.

__ADS_1


"Ayah pikir kalian usia lima belas tahun." jawab Larry menggoda ketiganya.


"Aban memang wajah mereka setua itu?" dengus Balen tidak terima langsung salami Larry dan memeluknya.


"Badannya saja, kalau lihat wajah baru seperti bocah." jawab Larry tertawa.


"Tidak lima belas tahun juga." protes Daniel bikin Larry terbahak, lalu memeluk adiknya.


"Abang sendiri?" tanya Daniel.


"Sama Papa dan Mama." jawab Larry.


"Mana?" tanya Balen.


"Menunggu di parkiran, ada Papon sama Mamon juga." jawab Larry, mereka berjalan bersama menuju parkiran mobil yang tidak jauh dari situ.


"Banyak sekali, apa muat mobilnya?" tanya Cadi.


"Kita pakai tiga mobil, tenang saja." Larry mengacak anak rambut Cadi.


"Pemborosan." jawab Cadi bikin Daniel dan Larry terbahak, pasti ikuti ucapan Mamanya.


"Karena rindu kalian jadi boros." jawab Larry masih tertawa, gemas sekali dengan Cadi dan yang lainnya.


"Kita atur karena ada tiga mobil, siapa yang mau jaga Papon dan Mamon, siapa yang mau jaga Opa dan Oma?" tanya Chandra pada kedua adiknya.


"Aku sama Papon dan Mamon." jawab Cadi cepat, berharap bisa segera bertemu Bima idolanya.


"Kamu sendiri yang jaga Papon sama Mamon, bisa?" tanya Chandra seakan mereka beneran menjaga Opa dan Omanya.


"Aku kuat kok, kan aku badannya besar." jawab Cadi tengil, Larry kembali terkekeh, walaupun tidak selucu Balen dan Richie tetap saja ketiganya selalu bikin mereka tertawa dengan ucapan-ucapan yang spontan.


"Baiklah aku yang jaga Opa dan Oma, kamu dimana Cayi?" tanya Chandra.


"Mobil mana yang paling besar, aku mau tidur maaf tidak bisa ikut jaga." jawab Charlie jujur.


"Kamu di mobil Ayah kalau begitu." jawab Larry langsung merangkul Charlie. "Mengantuk mau Ayah gendong?" Larry langsung bergerak ingin menggendong Charlie.


"Jangan Ayah, aku jalan saja, aku sudah besar sudah tidak boleh digendong." tolak Charlie cepat.


"Siapa yang melarang?" tanya Larry nyengir melirik Balen.


"Mam." jawab Charlie jujur bikin Larry tertawa.


"Sebenarnya kamu mau digendong apa tidak?" tanya Larry.


"Apa boleh Mam?" tanya Charlie minta ijin.


"Ndak usah ya, nanti kamu kebiasaan." jawab Balen gelengkan kepalanya.


"Dengar kan Ayah." Charlie memandang Larry yang kasihan melihat keponakannya karena tampak lesu berbeda dengan yang dua.


"Kasihan Baen." kata Larry pada Balen.


"Ndak usah Aban, kalau Aban ndak ada Baen yang repot. Baen ndak kuat gendongnya." jawab Balen.


"Mam, sekali ini saja ya, aku janji." pinta Charlie sambil ulurkan tangan pada Larry.


"Ish, kalau ada Aban gitu deh, nego-nego. Ya udah lah terserah. Jangan salahin Baen kalau Aban sakit pinggang ya." kata Balen mulai nyerocos bikin Larry terkekeh menyambut Charlie dan menggendong keponakannya itu. Benar saja belum sampai mobil Charlie sudah tertidur pulas dipundak Larry.


"Aku saja yang setir." Daniel mengambil kunci mobil di kantong celana belakang Larry, lalu membantu Larry buka pintu mobil, nyalakan mesin juga AC nya.

__ADS_1


"Aku antar anak-anak ke Papa Mama juga Papon dan Mamon." kata Daniel setelah melihat orangtua dan mertuanya lambaikan tangan dari mobil lainnya.


"Baen juga ya Aban." ijin Balen pada Larry yang anggukan kepalanya sibuk baringkan Charlie di bangku belakang dan duduk disamping Charlie, jadikan kakinya bantal untuk Charlie.


__ADS_2