Because I Love You

Because I Love You
Mengaku


__ADS_3

"Aban..." Balen tunjukkan handphonenya yang berdering, tampak nama Noah disana. Balen tidak berani angkat karena tahu Daniel cemburu sama Noah. Lagi pula Balen dan Daniel sudah berada di kamar hotel kini.


"Angkat saja." jawab Daniel tersenyum, ingin tahu Balen akan kasih tahu jika dia sudah menikah apa belum dan Balen akan jawab apa kalau Noah tanya kenapa kembali Ke Indonesia.


"Aban ndak marah?" tanya Balen khawatirkan Daniel yang masih saja tersenyum.


"Mungkin ada yang penting, kenapa harus marah dan lagi kamu bisa bilang kalau kamu pulang ke Indonesia karena menikah sama Abang." kata Daniel pada Balen.


"Baen malu Aban, teman Baen belum ada yang nikah."


"Kalau begitu nanti disana Abang juga tidak akan bilang sama klien Dan kenalan Abang kalau Abang sudah punya istri, bahkan kalau ada yang tanya seperti tadi pun Abang tidak akan kasih tahu kalau Abang sedang menunggu istri Abang, iya kan saja kalau mereka berpikir kamu adik Abang." kata Daniel sedikit kesal. Telepon dari Noah benar tidak terangkat akhirnya oleh Balen karena sibuk pertimbangkan akan mengakui pernikahannya apa tidak.


"Aban..." Balen bersungut.


"Kenapa?" Daniel pandangi istrinya.


"Masa begitu." bersungut hampiri suaminya yang bersandar di meja hotel dan memeluknya.


"Abang ikuti kemauan Baen kan, masa Abang mengaku kamu istri sementara kamu saja menutupi." Daniel mengelus bahu Balen.


"Bagaimana, setuju?" tanya Daniel menangkup kedua tangannya pada pipi istrinya dengan senyum semanis mungkin sementara Balen memandang Daniel sambil cemberut sesekali menghembuskan nafas membuang rasa kesalnya.


"Baen kesal sama Aban." katanya kemudian matanya berkaca-kaca.


"Loh itu maunya kamu kan, kita jangan umumkan dulu pernikahan kita sama orang-orang disana?" tanya Daniel tertawa dalam hati melihat Balen gusar sendiri.


"Tapi Aban jangan kaya gitu." matanya mulai basah.


"Abang harus bagaimana, umumkan ke semua orang tiba-tiba salah satu dari mereka kenal sama teman-teman kamu dan akhirnya ketahuan?" tanya Daniel sambil hapuskan air mata Balen yang mengalir.


"Lepasin Aban." tidak mau di pegang Daniel padahal Balen yang memeluknya. Daniel lepaskan tangannya dari pipi Balen.


"Baen marah sama Aban." masih memeluk Daniel yang tertawa mendengarnya.


"Aban ketawain Baen." menghentakkan satu kakinya dilantai, tunjukkan betapa kesalnya Balen.


"Abang salah?" tanya Daniel pada Balen.


"Ndak tahu, Baen kesal aja." katanya lagi.


"Kesal kenapa?" tanya Daniel meletakkan tangannya pada meja, biarkan Balen saja yang memeluknya.

__ADS_1


"Aban ndak sayang Baen." melebar tidak jelas.


"Bukannya terbalik?" Daniel terkekeh.


"Baen sayang Aban." jawabnya bersungut.


"Tapi...?"


"Ndak pakai tapi." masih bersungut menarik nafas panjang. Handphone Balen kembali berdering, Noah kembali menghubunginya. Balen lepaskan pelukannya pada Daniel dan menjawab sambungan telepon dari Noah.


"Apa Noah?" tanyanya galak, masih kesal jadi siapa saja bisa kena semprot.


"Kemana saja sih? rumah kosong ya?" tanya Noah dari seberang.


"Iya, kita semua di Jakarta." jawab Balen malas-malasan.


"Ih tidak ajak-ajak pulang ke Indonesia." protes Noah pada Balen.


"Iya mendadak, mau apa cari aku?" tanya Balen pada Noah tidak ramah.


"Mau ajak tournament tiga minggu lagi, latihannya dari sekarang perebutkan piala dari Duta Besar. Hadiahnya lumayan loh kalau menang, sponsornya perusahaan besar." kata Noah pada Balen sementara Daniel menyimak saja karena handphonenya Balen loudspeaker.


"Oh skip dulu deh Noah, ndak keburu, aku baru pulang dua minggu lagi, Mau ke Malang dulu sowan ke Opon sama Aban Daniel, terus ke Jepang juga." jawab Balen beritahukan rutenya.


"Bukan Abang aku itu tapi suami aku." jawab Balen bikin Daniel tersenyum lebar, mengaku juga dia akhirnya.


"Heh, kapan menikahnya?" tanya Noah tidak percaya.


"Dua hari lalu." jawab Balen apa adanya.


"Jadi selama ini dia bukan Abang kandung kamu, Balen?" tanya Noah memastikan.


"Bukan, calon suami aku itu, sekarang sudah jadi suami." jawab Balen lancar tanpa beban.


"Oh selamat ya Balen, Salam buat suami kamu." kata Noah segera tutup sambungan teleponnya.


"Senang kan Aban?" tanya Balen pada Daniel begitu menutup teleponnya. Daniel tersenyum hampir Balen dan memeluknya.


"Iya dong senang." jawab Daniel mengecup dahi istrinya.


"Aban sih..." pukuli bahu Daniel pelan.

__ADS_1


"Mau rayakan nanti di Ohio kita undang kenalan kita syukuran dan umumkan kalau kita sekarang suami istri?" tanya Daniel tawarkan pada Balen.


"Ndak tahu." jawabnya mendongak bikin Daniel mengecup bibir istrinya.


"Terima kasih ya, sudah mau mengakui Abang suami kamu." kata Daniel kemudian ******* lembut bibir istrinya.


"Hmm..." jawab Balen pejamkan mata nikmati ciuman suaminya. Tangan Balen sudah mulai masuki baju Daniel, mengusap lembut dada hingga perut suaminya.


"Masih kenyang?" bisik Daniel lepaskan ciumannya, ingat Balen bilang kekenyangan tadi pagi.


"Baen udah lapar lagi." jawab Balen bikin Daniel tertawa dan lanjutkan aksinya. Ciumi Balen, tangan Daniel mulai bergerilya kesana kemari, perlahan lucuti baju istrinya satu persatu. Balen pun lakukan hal yang sama. Selanjutnya semakin tidak karuan gaya mereka yang pasti bikin Balen menjerit saat Daniel naikan satu kaki Balen ke atas meja dan tambah berteriak saja ketika terjadi sesuatu yang bikin keduanya diawang-awang.


"Aban..." Balen kembali berteriak saat Daniel putar tubuhnya menghadap ke meja dan kembali melanjutkan aksinya.


"Pangku aja Aban, Baen mau pangku Aban." katanya pegangi tubuh Daniel yang dibelakangnya. Daniel lepaskan tubuhnya biarkan Balen yang ambil kendali.


"Aban disitu aja." tunjuk Balen pada sofa, kemudian tangannya beralih ke tempat lain posisikan agar bisa kembali bersatu.


"Aah Aban..." Balen kembali rusuh sementara Daniel tersenyum kembali ciumi Balen.


"Sini aja ciumnya..." mengatur suaminya yang menurut saja apa yang dimau istrinya.


"Sini juga Aban." minta pindah posisi lagi mana yang harus dicium suaminya.


"Aban, Baen mau meledak." katanya lagi ketika Daniel bergerak cepat.


"Aban maapin Baen." menjambak rambut suaminya karena tidak tahan dengan gerakan yang bikin mau meledak itu.


"Aban sakit ndak?" tanya Balen ketika mereka berdua sudah terkulai tidak lagi ada pergerakan.


"Hu uh." jawab Daniel memeluk Balen yang terbaring diatasnya saat ini. Entah bagaimana posisi bisa terbolak balik padahal mereka hanya disofa saja.


"Aban berat ndak?" tanya Balen lagi, aktifitas mereka sudah selesai tapi Balen masih nyaman tidur diatas tubuh suaminya.


"Hu uh." Memeluk Balen erat agar tidak beranjak walaupun rasakan berat.


"Mandi yuk Aban." ajak Daniel mandi, tadi mereka menghilang sementara yang lain masih sibuk bermain dilapangan.


"Di kamar mandi?" tanya Daniel jahil.


"Mandi aja Aban, nanti anak-anak cari kita." jawab Balen khawatir ada gangguan. Tori, Belin dan Kia bukan tidak mungkin menyusul mereka ke kamar.

__ADS_1


"Baen, are you there?" benar saja suara Tori terdengar diiringi bunyi bel kamar.


"Tidak usah dijawab, ayo kita mandi." Daniel segera beranjak angkat tubuh istrinya masuki kamar mandi, setelahnya cuma mereka yang tahu beneran mandi atau melanjutkan aktifitasnya abaikan Belin, Kia dan Tori yang tanpa putus asa terus saja panggili Daniel dan Balen.


__ADS_2