
Sore hari Daniel mengantar istrinya ke dokter kandungan dekat rumah Kenan, sekalian mau menjemput Cadi. Yang awalnya mau konsultasi biar tidak hamil, sekarang mereka mau program bikin anak perempuan. Daniel tahu dari temannya kalau ada paket seperti itu, bahkan ada proses seperti bayi tabung atau sejenisnya. Itu yang mereka ingin pastikan sore ini.
"Sore..." sapa dokter kandungan wanita yang dipilih Daniel.
"Sore dokter." jawab Balen tersenyum ramah.
"Duduk ya dokter." ijin Daniel karena belum dipersilahkan.
"Oh silahkan Pak, Ibu." Balen langsung duduk dikursi yang sudah di tarik Daniel untuknya kemudian Daniel duduk disebelah istrinya.
"Bagaimana Ibu Balena?" tanya dokter Magda, itu nama yang tertera dipintu tadi.
"Aban aja deh yang bilang." kata Balen pada Daniel.
"Begini dok, kita mau program punya anak perempuan." Daniel langsung bicara ke pokok masalah.
"Sebelumnya sudah punya anak?" tanya dokter Magda.
"Sudah tiga dok, laki-laki semua." jawab Balen senyum lebar.
"Masih mau tambah ya." goda dokter Magda.
"Daripada mubazir dok." jawab Daniel nyengir.
"Eh Aban." Balen menepuk bahu suaminya, Daniel tertawa.
"Kasihan Papa saya cucunya tujuh laki-laki semua." jawab Balen tertawakan Papon.
"Papa?" bisik Daniel.
"Aban ih." Balen tahu Daniel hanya menggoda. Dokter Magda tersenyum melihat pasangan suami istri didepannya itu.
"Jadi Bapak dan Ibu yang perlu diperhatikan kalau mau punya anak perempuan itu berhubungan badan tidak harus di masa subur. Bapak dan Ibu bisa berhubungan badan setelah mestruasi hingga dua hari sebelum ovulasi. Tapi ini juga bisa jadi Salah satu cara mencegah kehamilan, keberhasilan ya 75 persen, disaat itu kromosom x pada ****** bergerak lebih lambat untuk mencapai sel telur, harapannya hanya ada ****** yang membawa kromosom perempuan yang tertinggal di rahim untuk membuahi sel telur." Balen dan Daniel menyimak penjelasan dari dokter Magda yang lumayan detail.
"Selain itu juga Ibu bisa dengan cara menahan orgasme."
"Aduh masa ditahan-tahan." Balen langsung protes. Daniel dan dokter Magda tertawa. Repot kalau begini urusannya pikir Balen.
"Sering-sering pakai gaya misionaris." kata Dokter Magda tersenyum jahil.
"Aduh kaya gimana tuh gayanya Aban?" tanya Balen pada Daniel.
__ADS_1
"Nanti Bapak bisa praktekkan langsung kok bu." duh si dokter sudah tidak pakai malu bahas hal seperti itu.
"Pola makannya bagaimana dokter?" tanya Daniel pada dokter yang sepertinya seumuran Larry Abangnya.
"Sebaiknya banyak konsumsi makanan yang bersifat asam seperti lemon, yogurt, pasta, salmon, daging dan keju." jawab dokter Magda, tidak repot kalau yang ini Balen suka semua.
"Selain itu juga Ibu pilih makanan yang mempunyai kandungan kalsium dan magnesium yang tinggi." lanjut dokter Magda.
"Aban apa aja itu?" bisik Balen.
"Banyak Ibu, seperti sayuran hijau, alpukat, biji-bijian dan ikan berlemak." jawab dokter Magda yang mendengar bisikan Balen.
"Biji nangka." Balen tertawa ingat suaminya dulu minta Lucky paketkan biji nangka ke Ohio. Dasar Lucky bukannya dipaketkan malah datang sama orang-orangnya. Daniel jadi ikut tertawa, sekarang aman kalau mau biji nangka karena sudah ada di Indonesia.
"Selain hal yang tadi saya jelaskan Bapak dan Ibu juga bisa gunakan inseminasi buatan atau bayi tabung." kata Dokter Magda lagi.
"Oke dokter, mana yang lebih cepat menurut dokter?" tanya Daniel. Dokter Magda gelengkan kepalanya.
"Semua tergantung Allah, saya tidak berani jamin, semua ini tingkat keberhasilannya tidak ada yang seratus persen." jawab dokter Magda.
"Dokter benar ndak kalau mau punya anak perempuan saya harus miring ke ke kiri?" tanya Balen bikin Daniel tertawa.
"Aban pasti ingat gaya miring-miring. Oma bilang kemarin itu Baen miringnya ke kanan terus sih." oceh Balen tidak peduli ditertawakan dokter Magda.
"Paaap, kok laaaama?" protes Cadi pada Papanya saat Daniel turun dari Mobil.
"Antar Mama ke dokter dulu sayang." jawab Daniel segera hampiri Cadi dan memeluknya, sementara Balen yang berjalan di belakang Daniel tersenyum lihat keduanya.
"Maaam, sakit?" tanya Cadi khawatir.
"Mam jangan sakiit." langsung mewek lihat Balen, khawatir Mamanya sakit.
"Iih Mama sehat tahu." Balen tersenyum dengan mata berkaca-kaca, terharu campur sedih lihat Cadi mewek begitu.
"Mama tidak sakit." bisik Daniel langsung menggendong bungsunya, kaki Cadi yang panjang tampak menjulur di badan hingga kaki Daniel.
"Tapi kedokter." katanya dengan suara tertahan.
"Mama cuma ke dokter kandungan, periksa." jawab Balen mengusap bahu Cadi yang masih menangis.
"Kamu hamil Baen?" tanya Nona pada Balen, ia baru saja menyusul keluar mendengar Cadi menangis.
__ADS_1
"Ndak Mamon, Baen cuma konsultasi mau tambah anak." jawab Balen.
"Ya ampun Baen, Mamon bukannya tidak suka kamu hamil, tapi tiga saja cukup Baen." kata Nona pada Balen kemudian memandang Daniel seperti minta penjelasan.
"Papon mau cucu perempuan Mamon, tadi Daniel dan Balen konsultasi bagaimana supaya bisa hamil anak perempuan." Daniel menjelaskan.
"Tuh Cadi kamu mau dikasih adik perempuan." kata Nona pada cucunya.
"Hmmm..." merengek gelengkan kepalanya.
"Kenapa? tidak mau punya adik?" tanya Daniel yang masih menggedong Cadi.
"Tidak tahu." jawabnya sambil gelengkan kepalanya m
"Papon mau kamu punya adik perempuan." kata Kenan pada Cadi.
"Kan ada Sinna." Cadi sebut Sinna anak Winner.
"Tambah lagi, kebanyakan laki-laki, Sinna tidak ada temannya." jawab Kenan.
"Papon kenapa mau punya anak perempuan?" tanya Cadi sudah tidak menangis lagi.
"Ya mau saja lucu kan kalau nanti teriak minta ikut Abang Cadi." Kenan tertawa.
"Nanti aku dipanggil Abang kalau punya adik?" tanya Cadi semangat, ingin seperti Papanya yang dipangg Abang.
"Iya dong." jawab Balen.
"Aku panggilnya apa?" tanya Cadi.
"Adik." jawab Balen.
"Tapi kan adiknya belum lahir ya? tadi perut Mam disuntik?" tanya Cadi.
"Tidak sayang." Balen tertawa.
"Aku dengar kalau mau punya adik harus disuntik Mam nya." kata Cadi.
"Siapa yang bilang begitu?" tanya Daniel.
"Papa Lemon bilang Panta, suntik Tania terus, Abang Bima bisa punya adik." jawab Cadi, Kenan menepuk dahinya, dasar Raymond kalau bercanda tidak perhatikan lingkungan apakah ada anak kecil atau tidak, kalau begini Kenan jadi ingin menjewer telingan keponakan kesayangannya itu.
__ADS_1
"Tadi Mam yang suntik Pap apa dokter?" tanya Cadi serius.
"Dokter yang suntik." jawab Balen, kalau bilang tidak disuntik nanti dia sebut disuntik Pap saja, Balen juga jadi mau jewer telinga Aban Lemon kesayangannya itu kalau begini.