
Esok harinya semua sibuk bersiap ke Malang, rencananya siang ini mereka akan berangkat gunakan private jet Achara bersama Papon dan Mamon. Nanta dan keluarga baru akan berangkat lusa. Pagi ini Balen banyak melamun, sesekali menghela nafas. Daniel jadi khawatir dibuatnya. Biasanya kalau mau sesuatu Balen pasti langsung bicara, tapi ini seperti ditahan dan pikirkan sendiri.
"Kamu kenapa?" tanya Daniel pada Balen ditengah kesibukannya menyiapkan keperluan istrinya selama di Malang.
"Kenapa?" Balen kernyitkan dahinya malah bertanya balik, ia tidak ikut sibuk karena semua sudah diurus Daniel.
"Itu tarik nafas terus, sesak?" tanya Daniel, Balen gelengkan kepalanya.
"Kalau ada sesuatu jangan dipendam Baen, tidak bagus untuk kesehatan." Daniel ingatkan istrinya. Balen menghembuskan nafas panjang.
"Aban..." mulai panggil biasanya sudah mau sampaikan sesuatu.
"Ya..." Daniel menunggu kalimat lanjutkan istrinya.
"Kalau sewa private jet itu mahal ndak sih? buat kita berdua." tanyanya pada Daniel.
"Pffttt..." Daniel malah tertawa, dia ingat Richie yang panasi Balen membuat anak diatas awan, pasti itu yang membuat istrinya melamun.
"Aban ketawain Baen." Balen bersungut mulai merajuk.
"Kamu mau sewa private jet untuk kita berdua, mau kemana?" tanya Daniel menahan senyum.
"Baen tanya aja kok." katanya masih maju bibirnya.
"Tergantung jarak sayang." jawab Daniel tersenyum lebar. "Kamu mau kemana?" tanya Daniel lagi.
"Untuk apa sewa private jet Baen, pakai punyaku saja." Achara tawarkan pada Balen, ia yang baru saja keluar kamar mendengar percakapan Balen dan Daniel.
"Kamu sewain ke Baen ya Achara." Balen langsung semangat.
"Pakai saja Baen, nanti kuminta staff Papa untuk urus ijinnya." jawab Achara tersenyum.
"Mau kemana sih?" Achara jadi kepo.
"Cuma terbang-terbang aja." jawab Balen bikin Daniel tertawa.
"Terbang-terbang juga ada tujuannya Baen." gerutu Achara tapi ikut tertawa.
"Iya Baen aja bingung mau kemana, Ke Korea kan kita ramai-ramai ya Ban, Baen mau berdua Aban aja." jawab Balen, Daniel terkikik geli.
"Aban ketawa aja, ndak mau ya?" mulai sewot lihat ekspresi suaminya.
"Mau dong." jawab Daniel nyengir.
__ADS_1
"Nanti kita pikirkan setelah di Ohio." kata Daniel pada Balen, "kita sewa disana saja." lanjut Daniel lagi.
"Baen ke Philippina saja, sekalian parkir tuh private jet." kata Achara sambil tertawa.
"Wah kita jalan-jalan ke Philippina sekalian Aban." dasar Balen langsung saja banyak ide. Daniel gelengkan kepalanya, terlalu banyak tempat yang mau Balen datangi, khawatir terlalu lelah nanti.
"Setelah mendarat di Malang kalian terbang lagi saja." Achara berikan ide.
"Mau ndak Aban?" Balen membujuk suaminya.
"Mau kemana?" tanya Daniel.
"Terbang-terbang aja." jawabnya bikin Daniel kembali tertawa, sudah tahu sih maksud Balen, tapi benar yang Achara bilang terbang-terbang juga harus ada tujuannya.
"Ribet ya Balena, kamu tuh bikin repot suami kamu saja." celutuk Nona sambil membawa kopernya.
"Mamon ini urusan anak muda tahu." jawab Balen bikin Nona menoyor pelan dahi anaknya.
"Mamon juga pernah muda tahu, tapi tidak rewel minta terbang-terbang pakai private jet." omel Nona pada Balen.
"Mamon ih." Balen cemberut.
"Achara, besok aku pinjam private jet kamu jemput Abang aku sama keluarganya ya." akhirnya Balen temukan ide pakai private jet.
"Mamon ndak ngerti main protes aja." gerutu Balen pada Nona.
"Kenapa juga kamu ikut ke Malang sekarang terus besok terbang lagi ke Jakarta jemput Abang kamu." Nona gelengkan kepalanya.
"Kan Baen bilang mau terbang-terbang aja Mamon." jawabnya bikin Nona gelengkan kepalanya.
"Pikirkan suami kamu juga dong Balena, Daniel pasti capek tuh ikutin kemauan kamu. Minta ke Korea lah, padahal di Jakarta juga Daniel banyak kerjaan. Belum lagi kamu seharusnya habiskan waktu untuk keluarga mumpung lagi di Indonesia." Mamon kembali ngomel.
"Ini yang minta cucu Mamon loh yang diperut, Baen sih senangnya dirumah aja, tapi kan anak Baen pengen jalan-jalan Mamon." bawa-bawa anak diperut, Achara yang tidak mengerti bahasa Balen nyengir saja melihatnya.
"Banyak alasan. Harusnya kamu tidak usah ke Korea Balen, kamu pantau dong hotel kamu sudah sampai mana, jangan cuma minta saja bisanya." lanjut ya ngomelnya Mamon.
"Iya Mamon, makanya hari ini ke Malang, besok Baen balik ke Jakarta untuk pantau pembangunan hotel Baen, lusa balik lagi ke Malang sama Aban Nanta." akibat Mamon ngomel jadi tercetus ide begitu, Daniel tertawa dibuatnya.
"Papon mama sih?" tanya Balen cepat tanyakan Papon, biar Mamon tidak lanjut ngomel.
"Papooon..." langsung berteriak panggil Papon tinggalkan Nona bersama Daniel dan Achara.
"Kenapa sih dia mau terbang naik private jet?" tanya Nona pada Daniel.
__ADS_1
"Mungkin bawaan baby, Mamon." jawab Daniel tidak beritahukan niat terselubung Balen.
"Ada-ada saja, Achara berapa biayanya, biar saya transfer ke kamu." kata Nona pada Achara.
"Tidak usah Mamon, biar Daniel saja." jawab Daniel cepat.
"Ini untuk cucu Mamon." jawab Nona.
"Jangan Mamon." Daniel tidak enak hati masa iya mau enak-enakan malah Mamon yang bayar sewa private jet.
"Tidak usah Mamon, itu tidak disewakan, Balen boleh pakai kapan dia mau." jawab Achara.
"Jangan sayang, itu biayanya mahal."
"Tidak sebanding dengan apa yang Balena juga keluarganya lakukan untuk aku Mamon." jawab Achara tersenyum.
"Duh kamu hitung begitu." Nona tidak enak hati.
"Aku tidak hitung, tapi itu memang tidak sebanding. Nanti aku hubungi asisten Papa untuk urus semuanya." jawab Achara.
"Daniel, susul Balen ke belakang sama Papon deh, mereka kalau sudah berdua suka lupa waktu." Nona pinta Daniel menyusul Balen di taman belakang.
"Mamon ih." Balen sudah muncul sambil menggandeng Kenan.
"Ndak sabaran." gerutu Balen.
"Sama Mamon tidak boleh begitu, nanti anak kamu mencontoh yang tidak baik." oceh Nona pada Balen.
"Baen cuma bilang Mamon tuh ndak sabaran. Nak nanti harus sabar ya, biar Mamon aja yang ndak sabaran." ocehnya mengusap perut, Kenan terbahak dibuatnya. Nona dan Balen selalu saja ramai kalau bertemu, ada saja yang bikin Nona naik satu oktaf kalau lihat Balen.
"Masih diperut sudah pengaruhi cucu Mamon." gerutu Nona Balen tertawa dibuatnya.
"Habis Mamon marah terus sama Baen." jawabnya lalu hampiri Nona dan memeluknya.
"Kangen ndak sih sama Baen, malah diomelin terus." Balen ciumi pipi Mamon.
"Nih istri kamu tuh paling pinter baik-baikin Mamon." kata Nona nyengir pandangi Daniel.
"Memang begitu Mamon." jawab Daniel tertawa.
"Hayo Aban, mau berkubu sama Mamon ya?" Balen pasang wajah menggemaskan dimata Daniel.
"Ayo berangkat, tidak habis-habis nanti perangnya." Kenan segera ambil koper Dan berikan pada supir yang sudah standby, siap mengantar Kenan dan keluarganya ke Bandara.
__ADS_1
"Achara, thanks before ya." kata Balen kedipkan matanya pada Achara bayangkan besok terbang-terbang sambil pandangi Awan bersama suaminya, berdua saja.