Because I Love You

Because I Love You
Kepinteran


__ADS_3

"Aca cerita ndak?" Balen pasang wajah sangar saat sudah dimobil Aca.


"Itu gosip Ante." jawab Aca melengos, Bari juga ikut melengos takut di tanya Balen.


"Kalian main rahasia-rahasiaan ya sekarang bikin sebal deh." gerutu Balen.


"Ante aku belum mau menikah, kalau Panta dengar bisa langsung dinikahkan." jawab Aca.


"Oh jadi karena itu main belakang?" tanya Balen.


"Siapa yang main belakang sih." Aca terkekeh.


"Ante nanti mau makan apa disana?" tanya Aca bikin Balen kesal.


"Jangan sok alihkan pembahasan deh." omel Balen.


"Mam jangan marah-marah, Mam tidak sayang Aca ih." kata Aca menggoda Balen meniru gaya bahasa C's, tentu saja Balen terbahak mendengarnya.


"Sama Ante jangan rahasia-rahasiaan deh, dari dulu kan kita sohib, ndak asik ah kalau Ante ndak tahu." gerutu Balen.


"Mam, mereka memang lagi dekat tapi tidak pacaran." Bari mendapat toyoran dari Aca yang sedang menyetir.


"Hihi jadi lagi pedekate?" tanya Balen dekatkan wajahnya pada Aca, ia duduk di penumpang belakang.


"Ante cuma teman, jangan dibesar-besarkan." jawab Aca.


"Oh teman toh, dia setahu Ante banyak yang naksir loh, kamu sanggup punya pasangan public figure?" tanya Balen.


"Ante juga public figure kan?" Aca terkekeh mengingat Antenya cukup terkenal.


"Ndak, sudah stop begitu menikah, jadi istri dan Ibu aja. Sekarang aja mulai kerja karena C's sudah pada besar." jawab Balen tersenyum.


"Nah itu yang bikin mereka belum jadian, Aca ajukan syarat dia berhenti menyanyi saat menikah dengan Aca." Bari lancar sekali bercerita.


"Begitu Ca?" tanya Balen.


"Tanya Bari saja Ante, dia cocok jadi jubir." sungut Aca bikin Bari terbahak.


"Sama Mam jangan rahasia-rahasiaan, Ca." kata Bari terkikik geli.


"Mending kamu ceritakan kisah cintamu deh, Daripada bahas kisah gue." jawab Aca kembali menoyor Bari yang terbahak dibuatnya.


"Si Bari tuh Mam, naksir sama istri orang." sekarang gantian Aca yang kena toyor.


"Bari yang benar kamu." Balen menjewer telinga Bari.


"Aku naksir dia dari sekolah Ante, eh dia malah sekarang sudah menikah, mana tambah cantik lagi." gerutu Bari.


"Ya kalau sudah menikah tambah cantik berarti dia bahagia sama suaminya, jangan konyol deh, di hotel banyak yang cantik-cantik tuh tadi. Manager Marketingnya kamu ndak lihat, cantik tuh." Balen mulai sodorkan cewek-cewek cantik.


"Masalahnya itu dia Ante." Bari garuk kepalanya.


"Manager marketing itu yang Bari taksir dari sekolah Mam." Aca terbahak.


"Suwe kenapa juga dia kerja di Balena Hotel." Bari jadi ikut tertawa.


"Idih deketan kerjanya, awas ya jangan jadi pebinor." ancam Balen pada Bari.


"Tapi dia lihatin aku terus dari tadi." jawab Bari tengil.

__ADS_1


"Dia tahu kamu naksir dia dulu?" tanya Balen.


"Tahu lah." jawab Aca.


"Tuh jubir lagi mau buka rahasia, Mam." kata Bari bikin mereka bertiga terbahak.


"Siapa tadi namanya?" tanya Balen.


"Merina." jawab Bari.


"Oh si Merina yang pernah kamu kasih oleh-oleh dari Ante itu dia toh." Balen anggukan kepalanya.


"Cari yang lain ya, jangan sama dia yang sudah jadi jodoh orang." kata Balen menepuk bahu Bari.


"Kayanya Bari mau nunggu jandanya deh Mam." jawab Aca terkikik geli.


"Iya dia jadi jandanya pas umur tujuh puluh tahun tapi, kamu mau nunggu?" tanya Balen, mereka kembali tertawa bersama.


Tidak terasa Aca sudah parkirkan kendaraannya di Warung Elite cabang Utama, dimana yang lain sudah menunggu.


"Bima sekarang yang pegang Warung Elite?" tanya Balen.


"Iya, Panta kan pegang Syahputra juga bantu Papa Lemon." jawab Aca.


"Suryadi bagaimana?" tanya Balen.


"Sementara aku bantu Ante dan Bima bantu disini, Suryadi masih di pegang Om Mike, Om Lucky, Om Winner sama Shaka." jawab Aca.


"masih banyak pentolannya Ante, tapi Om Mike bilang kalau dia pensiun, aku harus ke Suryadi, oke kan Ante?" tanya Aca


"Iya oke saja, kamu serap ilmu dulu di Balena." jawab Balen.


"Sekali waktu." jawab Bari.


"Masih support system di Balena Hotel kan dia?" tanya Balen.


"Masih Ante." jawab Aca.


"Ante jangan tanya Ben terus, nanti Om Daniel marah." Aca ingatkan Balen.


"Cuma tanya urusan pekerjaan, kalau dia di Indonesia kan lebih mudah kalau ada masalah system." jawab Balen.


"Dia di Aussie saja mudah handelnya Ante, dia sih jenius." jawab Aca, mereka sambil berjalan masuk menuju meja VIP dimana yang lain menunggu.


"Wah Bos hotel ikutan." sambut Bima sambil terkekeh.


"Bos Warung Elite langsung loh yang sambut kita." balas Balen langsung sambil ambil posisi duduk didekat Bima.


"Maaf ya Bari Ante ambil." Balen menepuk bahu Bima.


"Masih kekuasaan Panta, Ante. Aku cuma bantu, disuruh ke Warung Elite hayo, ke Suryadi hayo, ke Syahputra juga hayo, bolak-balik saja kaya orang gabut." jawab Bima tertawa.


"Bil, Belin tidak di ajak?" tanya Balen.


"Dia ada acara sama Pingkan kalau tidak salah." jawab Billian.


"Suruh kesini aja ajak temannya." Balen berharap Belin bisa ikut bergabung.


"Dia jarang mau sih, setiap kita ajak." sahut Bima.

__ADS_1


"Memang masih sama Panji?" tanya Balen.


"Tidak tahu beberapa kali yang antar pulang orang lain, tapi aku belum pernah bertemu orangnya." jawab Billian.


"Cowok?" tanya Balen, Billian anggukan kepalanya.


"Wah Noah keduluan lagi dong." Balen mendengus,.berharap Belin berjodoh dengan Noah.


"Ante, Noah kerja dimana?" tanya Bima.


"Ndak tahu, lupa tanya." Balen terkekeh.


"Nama lengkapnya siapa?" tanya Bima lagi.


"Wah Baen lupa, siapa ya Ahmad Noah atau siapa gitu, kenapa sih?" tanya Balen.


"Mau tahu saja kalau jodohnya Belin kan harus kita amati, pantas apa tidak." jawab Bima.


"Nanti Baen tanya Noah deh, Bima mana makanannya sama minuman juga." Balen menunjuk meja yang masih kosong.


"Sebentar ya sabar, sudah dipesan kok tadi." jawab Bima terkekeh.


"Ante, C's malam ini tidur sama aku saja." Billian tawarkan diri gantikan Aca dan Bima yang semalam mengasuh C's.


"Mereka lagi di Dufan loh sama Papon dan Mamon, Papanya tadi menyusul.


"Wah sudah diajak ke Dufan, aku masih punya hutang janji sama mereka." kata Bima ingat mau ke Taman Mini.


"Aku juga." jawab Aca.


"Padat betul acara mereka, kapan mau ke Taman Mini dan naik helicopter?" tanya Balen.


"Minggu." jawab Aca dan Bima berbarengan.


"Kok?" Balen tampak bingung.


"Naik heli dulu setelah itu langsung ke Taman Mini." jawab Bima.


"Ikuuut." Bari, Shaka dan Billian langsung saja minta ikut.


"Gue sewa helicopter yang kecil, tidak muat." jawab Aca.


"Payah." dengus Billian.


"Jadi bagaimana?" tanya Aca.


"Ganti yang besar." jawab Shaka.


"Ish uangnya tidak cukup." jawab Aca.


"Gue minta Kakek Suryadi." jawab Shaka.


"Eh kalian Kakek sudah jompo masih saja dipalakin." Omel Balen pada Shaka.


"Uang Kakek banyak, mau buat apa kalau bukan buat kita." jawab Shaka, bocah jaman now benar-benar manfaatkan fasilitas.


"Eh Baen ndak enak, jangan." Balen menolak.


"Ih ini kan buat aku bukan buat Ante, aku mau ikut naik heli, Daripada sewa satu heli lagi mending di upgrade biar seru." jawab Shaka bikin Balen gelengkan kepalanya, anak-anak Baen beneran deh kepinteran.

__ADS_1


__ADS_2