
"Loh kok cepat, ndak makan disana ya?" sambut Balen pada Redi dan Ulan saat bukakan pintu apartment.
"Makan sama-sama saja ya." Ulan tersenyum pada Balen.
"Tadi bobo ndak?" tanya Ulan lagi.
"Ndak, Baen rebahan aja." jawab Balen kemudian membantu Ulan membuka bungkus makanan sementara Ulan ambilkan mangkok dan piring.
"Masanta tadi telepon, doakan ya Ulan bisa liburan ke Ohio semester depan." Ulan beritahukan Balen.
"Asik, betul ya, Baen tunggu loh."
"Iya, tapi belum ijin Mama dan Papa." Ulan mendesah, khawatir tidak diijinkan. Tapi kan di Ohio ada Baen.
"Pasti diijinkan, Masanta saja tadi setuju." Redi menepuk bahu Ulan.
"Idih ikut panggil Masanta." Balen mencibir.
"Iya dong biar sama dengan Ulan, Bang Daniel mana ya?" tanya Redi.
"Di toilet." jawab Balen tersenyum.
"Ulan kok ada soto betawi, hebat ih." kagum gitu Ulan bawakan soto betawi untuk menu makan siang hari ini.
"Di kamar, kita di Jakarta ndak makan soto betawi ya Ledi kemarin. Abaan..." berteriak panggil suaminya.
"Kita? aku sih makan." Redi terkekeh.
"Ih, ndak cerita." protes sama Redi.
"Masa setiap menu yang dimakan harus diceritakan sayang." Daniel tertawa mendengar istrinya protes pada Redi.
"Dia sih yang penting kan protes saja dulu." oceh Redi bikin Balen terbahak.
"Ledi ih, sama Baen suka begitu." senyum sendiri.
"Aban, Ulan beli soto betawi loh." ambilkan piring dan sendok serahkan pada Daniel.
"Sepertinya enak." Daniel tersenyum menerima piring dan sendok dari istrinya.
"Ndak kamu ambilkan Bang Danielnya?" Ulan ingatkan Balen.
"Ada juga dia yang diambilkan Daniel." Redi terkekeh.
"Ih Ledi cari gara-gara, kita tinggal pulang ke hotel aja yuk Ban, biarin dia disini sama Ulan." pura-pura merajuk tapi bikin Redi cengar-cengir senang.
"Habis makan mau susul anak-anak ndak?" tanya Ulan pada semuanya, mereka sudah duduk dimeja makan yang hanya muat untuk empat orang.
"Baen mau?" Daniel tawarkan Balen.
"Ulan mau?" malah tanyakan Ulan.
"Mau, kapan lagi seru-seruan sama mereka." mata Ulan tampak berbinar-binar.
"Ya sudah." menurut saja.
"Kita kemana?" tanya Redi.
"Ndak tahu nanti mereka ada dimana." jawab Ulan tersenyum. Kenapa harus senyum sih? batin Redi. Bikin meleleh saja, Redi jadi baper kan.
"Nanti telepon saja." Daniel ambilkan nasi dan soto betawi serahkan pada Balen.
__ADS_1
"Benar kan aku bilang." bisik Redi pada Ulan, Ulan pun tertawa dibuatnya.
"Apa sih Ban Ledi?" bersungut lihat Redi dan Ulan berbisik-bisik.
"Hahaha..." tertawa senang lihat ekspresi Balen.
"Balen, nanti kamu sepi loh di Ohio, tidak ada aku sama Ichie." Redi cengar-cengir.
"Iya ndak ada teman berantem." jawab Balen bikin Daniel terkekeh.
"Kalau teman berantem sih masih ada tuh." jawab Redi.
"Siapa?" tanya Balen.
"Adira." Redi langsung terbahak.
"Ih bikin Baen ndak nafsu makan aja." langsung menyuap nasi dan soto ke mulutnya, mengunyahnya dengan emosi. Semua terbahak dibuatnya, bilang tidak nafsu makan tapi malah masukan makanan kemulutnya.
"Baen, makan terus ya. Nanti ndak bisa jalan di catwalk lagi dong."
"Sudah ndak boleh sama Aban Nanta dan Aban Leyi." menghela nafas.
"Tapi mesti jaga badan juga, jangan sampai melar." Redi ingatkan Balen.
"Aban kalau Baen gendut, masih sayang ndak?" tanya sama Daniel.
"Masih dong." Daniel tertawa.
"Bilang masihnya ndak serius."
"Abang yakin kamu tidak akan gendut deh, kalau masih rajin Tenis dan berenang." kata Daniel pada istrinya.
"Baen masih boleh main Tenis ya?" langsung pasang wajah sumringah.
"Terlalu bucin." bisik Redi pada Ulan yang tertawa melihatnya.
"Sukanya sekarang bisik-bisik deh." Balen gelengkan kepalanya.
"Tandanya mereka mulai dekat." Daniel balas berbisik. Balen tertawa menepuk bahu Daniel.
"Ih apa sih?" tanya Redi penasaran, Daniel hanya mencebik.
"Apa sih?" Ulan ikut bertanya.
"Ndak, cuma mau balas aja ikut bisik, ndak enak kan?" Balen tertawa jahil.
"Dasar! ayo makan, nanti keburu sore." kata Redi ajak semua konsentrasi nikmati makanan yang ada.
"Aban, sotonya enak juga ya." tetap mengoceh walau sambil makan.
"Hmm..." anggukan kepalanya nikmati makanan yang ada.
"Selain soto apa lagi?" tanya Balen pada Ulan.
"Ada dendeng balado loh tadi, tapi Ulan ingat Baen suka makanan berkuah."
"Ih Ulan ingat aja, makasih loh." Balen tersenyum senang.
"Ingat dong, mana mungkin lupa."
"Ulan kok ndak pesan ikan sama sayur?" tanya Balen ingat menu yang Ulan biasa makan.
__ADS_1
"Lagi pengen soto juga. Tiap hari makan ikan, Ulan disini." jawab Ulan yang sudah selesai makan.
"Kamu makannya sedikit sekali." Redi pandangi Ulan.
"Ulan ndak bisa makan banyak." jawab Ulan, beresi piringnya.
"Oh beda ya sama Baen." Redi kembali menggoda Balen.
"Baen makannya juga dikit kok." katanya yakin.
"Dikit tapi sering." jawab Daniel.
"Iya, memang harus begitu. Ulan juga loh harus begitu."
"Ulan jarang makan paling sehari dua kali." jawab Ulan.
"Ndak boleh begitu, kalau dikit harus lebih dari tiga kali." jawab Balen.
"Masa sih?"
"Iya lah, kalau asupannya kurang, otot dan tulang Ulan bakal lemah." ceile sudah seperti pakar saja.
"Gaya ah." Redi tertawakan Balen.
"Ndak percaya lagi. Kita itu kalau kurang nutrisi otak juga ndak bisa mikir." kembali seperti pakar.
"Iya juga sih." jawab Ulan.
"Tuh Ledi harusnya seperti Ulan, percaya Baen bilang apa."
"Aban, kalau Ledi ndak ada kita berdua aja dong dirumah. Ledi, memangnya Aban Ledi langsung ke California nanti?" mulai merasa kehilangan.
"Gue belum berangkat mukanya sudah sedih gitu." Redi tertawa.
"Yah soalnya yang pergi langsung dua, Ichie sama Ledi. Huhu Baen jadi sedih.' sandarkan kepalanya dibahu Daniel, langsung disambut kevupan didahinya, Redi sih sudah biasa lihat Daniel begitu, sementara Ulan tampak salah tingkah
"Mulai andalkan suamimu dong. Selama ini kamu selalu mengerahkan banyak orang loh." kata Redi serius.
"Masa sih?"
"Kamu mana pernah sendiri sih Baen, selalu saja ada Daniel, aku, Ichie, Bang Nanta dan Bang Leyi, belum lagi si Noah."
"Benar juga ya, Papon juga." Balen tertawa.
"Aban, nanti jangan kerepotan jagain Baen." katanya angkat kepala lalu pandangi Daniel.
"Memang suka merepotkan sih dari kecil." Redi kembali menggoda Balen.
"Ndak sih." tertawa menolak ucapan Redi.
"Iya kan Ban?" menoleh pada Daniel.
"Iya, kita saja yang suka sekali menempel sama kamu tanpa merasa direpotkan. Bukan begitu Ledi Dei?" tertawa pada adiknya.
"Iya rese nih bocah." ikut tertawa.
"Heh Baen kakak Ipar kamu loh Ledi." bergaya senior.
"Hahaha kenapa kalau kakak ipar?" Redi terbahak.
"Harus sopan dong sama Kakak Ipar." katanya sambil selipkan rambut ditelinga, dengan mata sedikit memicing, Ulan tertawa dibuatnya.
__ADS_1
"Kalau dia menikah sama Ulan, jadi kakak lagi dia." bisik Daniel pada Balen.
"Eh sama-sama kakak dong." Balen balas berbisik, keduanya pun tertawa sementara Redi dan Ulan tersenyum saling pandang.