
"Ah... Aban, ini terlalu sering." desah Balen saat Daniel satukan diri mereka.
"Hmm..." hanya itu saja yang keluar dari mulut Daniel selebihnya konsentrasi dengan olah raganya. Selanjutnya hanya teriakan, ******* dan ocehan Balen yang bikin Daniel kadang tertawa. Tidak bisa diam, lagi aktifitas di ranjang pun ada saja cerita yang di bahas Balen. Istri centilnya ini memang cerewet dan menggemaskan.
"Aban..." kembali panggil Daniel setelah mereka selesai lakukan aktifitas, mandi bersama dan sudah berpakaian lengkap kini.
"Ya..." Daniel masih memeluk istrinya sambil benamkan wajahnya dileher Balen.
"Temannya Alex itu cakep ya?" tanya cowo lain sama Daniel.
"Cakepan Abang." jawab Daniel cepat.
"Itu sih iya, Aban Daniel Baen gitu loh." Daniel langsung tertawa mendengarnya dan eratkan pelukannya.
"Kia sama Belin cuma mau cuci mata sih, tapi kalau bisa natsi juga." katanya lagi.
"Mereka masih sekolah, suruh belajar yang benar jangan kenal pacaran dulu." kata Daniel jahil mencium leher Balen.
"Aban, Baen ndak mau lagi. Hari ini udah kebanyakan." katanya pada Daniel.
"Nanti malam lagi ya?" bisik Daniel.
"Kalau keseringan nanti Aban bosan ama Baen." katanya lagi.
"Kata siapa begitu?" Daniel terkekeh.
"Kata Baen." jawabnya serius.
"Mana ada bosan, yang ada mau lagi, mau lagi, mau terus." jawab Daniel mencium pipi Balen gemas.
"Benar ya?" hahaha malah menagih. Daniel kembali terbahak.
"Iya, kecuali Abang sakit atau capek." jawab Daniel masih tersenyum lebar.
"Jangan sakit dong, nanti Baen gimana kalau Aban sakit. Kita cuma berdua aja di Ohio." langsung khawatir.
"Iya Aban jaga kesehatan in syaa Allah, Baen juga ya."
"Yah..." menghela nafas panjang.
"Aban..." kembali panggil Daniel yang masih memeluknya, tapi mata mulai kriep-kriep.
"Hmm..."
"Jangan bobo, masih sore."
"Iya."
"Turun yuk, lihat Papa berenang. Tadi Mama juga mau turun kan?" ajak Balen pada Daniel.
"Tidak usah, banyak cowok disana, mereka tidak pakai baju." jawab Daniel keberatan.
"Terus kita dikamar aja?"
__ADS_1
"Iya, dikamar saja."
"Baen bosan." merengut, hanya dikamar saja bikin bosan rupanya.
"Mau kemana? tapi jangan berenang." tegas Daniel pada istrinya.
"Makan sop yuk Aban, udah lama ndak makan sop." ingat makanan andalan saat kecil dulu.
"Pesan saja ya, disini ada sop iga enak dan terkenal." kata Daniel.
"Makannya dikamar?"
"Yah, Baen mau makan dimana?" tanya Daniel."
"Di restaurant aja."
"Belum buka, mereka cuma terima pesanan untuk makan di kamar." kata Daniel pada istrinya.
"Baen mau makan di restaurant Aban, ndak usah di hotel, tempat lain juga boleh. Baen mau jalan-jalan." pintanya pada Daniel.
"Restaurant mana yang Baen mau?" tanya Daniel.
"Ndak tahu, Baen ndak pernah makan sop di restaurant, cuma di hotel sama di rumah aja." jawabnya bikin Daniel tertawa.
"Nanti kalau asal masuk restaurant tidak enak makannya, bagaimana?" Daniel tanyakan Balen.
"Ndak apa, yang pentingkan jalan-jalan, ndak di kamar aja." jawabnya terkekeh.
"Sop ayam." jawabnya mantap.
"Sop Ceker." jawabnya lagi.
"Ih..." Daniel langsung bergidik tidak suka ceker.
"Ya udah sop ikan aja deh Aban." jawab Balen lagi, karena kalau sop ayam, Balen mau yang ada cekernya.
"Sop ikan ya, banyak nih. Abang juga mau." Daniel langsung semangat ingat sop ikan kesukaannya yang ditaburi irisan cabe rawit.
"Aban, Baen yang ndak pedas ya."
"Iya, ayo kita turun, pinjam mobil Papa saja." kata Daniel langsung beranjak dari kasur, ulurkan tangan pada Balen. Tidak sabar mau segera makan sop ikan, Balen yang minta, Daniel yang nafsu sekarang.
"Gendong..." ulurkan tangan manja, Daniel bantu Balen untuk bangun dari tidurnya. Setelah istrinya berdiri, baru Daniel menggendong Balen yang kembali bergaya koala.
"Berat badan jangan naik lagi ya, kalau kamu membesar Aban tidak kuat gendongnya." kata Daniel sambil mengecup bibir Balen.
"Kalau Baen hamil, ndak bisa gendong kaya gini dong."
"Ya tidak bisa, mau cium yang lama tidak?" Daniel menawarkan.
"Ndak usah, nanti mau cium yang lain lagi." jawab Balen tertawakan Daniel.
"Ya sudah ayo, mau digendong begini sampai bawah? nanti orang kira anaknya kok sudah besar ya, bapaknya masih muda ganteng lagi. Duh pada naksir Abang deh karena sudah ganteng sayang anak." Daniel menggoda Balen.
__ADS_1
"Ih..." langsung menepuk bahu suaminya dan turun tidak mau digendong, Daniel terbahak dibuatnya.
"Kalau Baen anak Aban, Ibunya siapa Adira, Jacklin, Windy, Anne dan Lisa?" langsung sebut sekumpulan wanita yang pernah naksir Daniel.
"Ih sebut mereka lagi." Daniel terbahak.
"Ibunya Balena." bisik Daniel kemudian.
"Anaknya Baen juga?" masih saja kesal.
"Anaknya masih di cetak." jawab Daniel pegangi perut istrinya sambil tertawa.
"Awas ya nanti kalau di Ohio Aban genit-genit sama mereka, Baen semprot pakai keran kalau datang." sungutnya bikin Daniel kembali terbahak.
"Pernah lihat Abang genit-genit?" tanya Daniel peluki istrinya.
"Ndak tahu kalau dibelakang Baen." jawab Balen.
"Kamu boleh kok mata-matai Abang kalau tidak percaya." Daniel mengecup pipi istrinya.
"Malas..." bersungut kesal.
"Nanti sopnya habis loh kalau marah-marah begini." Daniel ingatkan mereka yang akan pergi makan sop.
"Makanya jangan bilang Baen anak Aban dong." masih ngomel.
"Memang bukan, itu kan kalau Baen digendong sampai keluar." jawab Daniel.
"Ingat ya, Baen istri Aban bukan anak Aban." hahaha panjang ya Daniel masih saja tertawa.
"Mau lanjut ngomel sampai kapan?" tanya Daniel disela tawanya.
"Sampai Ohio." jawabnya.
"Ih, masih lama itu, sekitar dua minggu lagi."
"Bodo ah Aban, Baen ndak mau dibilang anak Aban." merengek masuk kedalam pelukan Daniel.
"Memang bukan Bu Balen. Bu Balen itu istrinya Pak Daniel." kata Daniel terkekeh.
"Cium..." merengek minta dicium, Daniel pun mengecup bibir istrinya.
"Yang lama..." pintanya manja, tentu saja Daniel lakukan dengan senang hati, ******* lembut bibir istrinya sampai mereka hampir kesulitan bernafas, istirahat sebentar lalu lanjutkan lagi, selama yang Balen mau.
"Sudah?" tanya Daniel ketika mereka berhenti kesekian kalinya untuk mengambil nafas. Daniel sudah menahan hasratnya sejak tadi mengingat Balen katakan tidak mau lagi. Tapi Balen tidak mau berhenti minta dicium terus.
"Makan sop jadi?" bisik Daniel dengan suara yang berbeda.
"Nanti aja." jawab Balen dan kembali mencium bibir suaminya yang bikin Balen ketagihan.
"Baen, kalau begini Aban mau lagi." bisik Daniel sudah tak kuasa menahan hasratnya.
"Baen juga." jawabnya mulai aktif membuka baju Daniel dan meraba dada suaminya. Selanjutnya terjadilah yang kesekian kalinya pada hari kedua, mereka ternyata lebih bersemangat dibanding para pendahulunya.
__ADS_1