Because I Love You

Because I Love You
Tidur


__ADS_3

"Minggu depan kita ke California, Baen." kata Daniel pada istrinya saat duduk santai sambil menonton TV.


"Honeymoon?" tanya Balen nyengir.


"Pikiran kamu honeymoon terus sih." Daniel tertawa lalu mengecup dahi Balen yang duduk disebelahnya.


"Mau apa kalau ndak honeymoon?" tanya Balen.


"Temani Abang kerja, Redi mau ke Jepang soalnya."


"Kerja aja terus Aban." gerutu Balen.


"Harus kerja dong, Istriku sebentar lagi pemilik hotel loh." jawab Daniel bikin Balen tertawa.


"Nanti Ledi Dei janjian sama Ulan?" tanya Balen ingin tahu kelanjutan hubungan Redi dan Ulan.


"Redi ada meeting, setelahnya mungkin sama Ulan." Daniel menjelaskan.


" Menurut Aban, Ledi Dei serius ndak sih mau jadikan Ulan future wife?" tanya Balen.


"Kalau dia sudah bilang sama orang begitu sepertinya serius." jawab Daniel.


"Bukan main-main ya, kasihan saudara Baen kalau Ledi Dei main-main." Balen menghela nafas.


"Banyak yang akan menghajar Redi kalau dia permainkan Ulan." Daniel tersenyum tenangkan Balen.


"Iya termasuk Baen." jawab Balen sok jagoan.


"Pokoknya Aban ndak boleh belain Ledi Dei." pandangi Daniel dengan wajah marah.


"Tidak jelas nih Ante Baen, belain apa coba? Itu tidak akan terjadi kamu tenang saja." Daniel terkekeh mempererat rangkulannya pada Balen


"Nanti di California Aban kerja, Baen di hotel aja kah?" tanya Balen.


"Kamu mau di hotel apa di rumah yang Redi tempati?" tanya Daniel.


"Terserah Aban aja deh. Tapi Baen ndak punya teman disana. Kalau Aban kerja, Baen ngapain? Aban lama di California?" bawel sekali banyak pertanyaan.


"Ikut Abang kerja sebentar tidak apa kan? setelahnya kita bisa keliling California. Kalau kamu tidak ikut ke California Abang stay di sana dua hari, kalau kamu ikut kita lanjut sampai long weekend." kata Daniel pada Balen, agak khawatir tinggalkan Balen sendiri di Ohio.


"Oke." anggukan kepala setuju.


"Oke apa? ikut kan?" Daniel harapkan Balen ikut.


"Iya, kasihan anaknya nanti nangis kalau Papanya ndak pulang dua hari." Balen menujuk perutnya.


"Anak Papa lagi apa nih?" Daniel mengusap lembut perut Balen lalu tempelkan pipinya di sana


"Lagi apa Ban katanya?" Balen tanyakan pada Daniel seakan si anak bisikkan sesuatu ditelinga Papanya.


"Minta dibesuk Papa katanya." jawab Daniel modus.

__ADS_1


"Ih itu sih Aban aja maunya." Balen ikut tertawa, tapi pasrah saja saat tangan Daniel mulai eksplore ke seluruh tubuhnya.


"Aban anaknya nanti mirip Aban aja deh, jangan mirip Baen." kata Balen sambil nikmati perlakuan suaminya.


"Abang maunya mirip Baen saja anaknya." jawab Daniel hentikan aksinya.


"Kalau perpaduan Aban sama Baen, penasaran jadinya bagaimana?" Balen bayangkan jika anak mereka nanti mirip Balen dan mirip Daniel.


"Matanya mirip Baen, Hidung ambil punya Aban aja, Bibir kita kan sama ya, jadi udah ndak pusing mau ikuti bibir siapa." Balen mengusap bibir Daniel dengan jarinya lalu majukan badannya ******* lembut bibir sang suami, tidak bisa dipancing memang langsung saja bergerak sendiri. Selanjutnya mereka sudah pindah saja ke kamar lanjutkan kegiatan membesuk anaknya.


"Baen, telepon kamu bunyi sayang." bisik Daniel pada Balen setelah aktifitas mereka.


"Aban aja yang angkat deh, Baen ngantuk." jawabnya dengan mata terpejam. Daniel abaikan bunyi handphone malah memeluk istrinya dan ikut pejamkan mata.


"Siapa yang telepon Aban?" tanya Balen dengan suara bantalnya.


"Tidak tahu, kalau penting pasti telepon lagi." jawab Daniel dengan mata yang terpejam juga. Benar saja handphone Balen kembali berdering, mau tidak mau Daniel bangkit dan mengambil handphonenya di nakas.


"Lucky, sayang." Daniel beritahukan Balen.


"Aban aja yang angkat." jawabnya sudah tidak bertenaga karena sudah terkuras oleh Daniel.


"Ya Lucky."


"Baen mana Bang?" tanya Lucky pada Daniel.


"Tidur." jawab Daniel apa adanya.


"Seperti yang dia bilang kalau dipeluk suami gampang tidurnya." Daniel ikut terkekeh.


"Kenapa cari Baen?" tanya Daniel lagi.


"Mau ngobrol saja." jawab Lucky santai.


"Besok saja kalau begitu telepon lagi." Daniel berikan saran.


"Tapi mau ngobrolnya sekarang." Lucky ngeyel.


"Tidak mau diganggu Istriku kalau sudah tidur." jawab Daniel.


"Duh begitu ya kalau punya istri, sebutnya Istriku?" Lucky terkekeh.


"Kamu kan sebentar lagi Lucky."


"Bang, bagaimana rasanya menikah dengan bocah?" tanya Lucky ingin tahu.


"Seperti yang kamu lihat saja." jawab Daniel tertawa.


"Happy? bikin ribet tidak?" tanya Lucky.


"Tidak tuh." jawab Daniel santai.

__ADS_1


"Kenapa? kamu naksir bocah?" tanya Daniel.


"Kepo deh kepo." jawab Lucky ngajak ribut, Daniel terbahak dibuatnya.


"Kapan kamu tunangan?" tanya Daniel ingin tahu.


"Kata siapa aku mau tunangan, itu hoax." jawab Lucky tertawa.


"Sampai sekarang Papa dan Mamaku belum bahas soal perjodohan kok, entah kenapa di Ohio malah heboh. Aku sih tidak mau tanya ya nanti malah direalisasikan lagi, mending pura-pura tidak tahu." Lucky jadi tertawa sendiri.


"Menurutlah sama orang tua, kalau disuruh menikah ya menikah." Daniel nasehati Lucky.


"Ais, situ sih enak dijodohkan dengan wanita idamannya dari dulu. Lah gue kan belum tahu siapa yang mau dijodohkan sama gue. Kia? ya tidak mungkin dong gue sama Kia." suaranya agak naik setengah oktaf.


"Kenapa tidak mungkin? bukannya kamu barusan tanya bagaimana rasanya menikah sama bocah? kalau mau tahu rasanya bagaimana, ya menikah saja dengan Lucky."


"Gampang sekali Pak Daniel ini bicara." Lucky menghela nafas.


"Susahnya dimana sih?"


"Gue sama Kia tidak saling cinta." mulai bicara cinta.


"Sama Hilma kemarin cinta?" tanya Daniel.


"Iya lah makanya gue pacari." jawab Lucky menyeringai.


"Tapi putus tuh." Daniel tertawa.


"Rese, itu karena dia cemburu sama Kia. Suruh gue pilih dia atau Kia, yang benar saja."


"Sampai begitu?"


"Iya lah, bikin pusing saja pasangan seperti itu."


"Kenapa tidak pilih Hilma saja, sedikit menjauh dari Kia rasanya tidak masalah, yang penting kamu bersama wanita yang kamu cintai." Daniel buat Lucky terdiam.


"Lucky!" Daniel panggil Lucky karena suasana tiba-tiba hening.


"Begitu penting Kia buat kamu berarti sampai rela kehilangan wanita yang kamu cintai, padahal sama Kia kamu tidak cinta." lanjut Daniel lagi.


"Ck... pusing gue." langsung speechless, tidak tahu mau jawab apa.


"Jangan-jangan justru kamu Cinta sama Kia, jadi tidak mau disuruh menjauh dari Kia." Daniel menyeringai.


"Masa sih?" bingung sendiri.


"Sekarang kalau wanita yang dijodohkan dengan kamu ternyata kamu suka dan cinta tapi dia sama seperti Hilma minta kamu menjauh dari Kia, bagaimana? Kalau aku jujur jika Baen minta aku menjauh dari wanita lain aku pasti menjauh demi menyelamatkan rumah tanggaku." kata Daniel entah kenapa malah banyak bicara Daniel malam ini.


"Kia saudara gue, keponakan gue masa disuruh menjauh. Itu tidak masuk akal. Seperti Abang saja kalau diminta Baen menjauh dari anaknya Bang Larry pasti Abang tidak mau."


"Masalahnya anak Bang Larry lebih dekat dengan Istriku dibanding denganku, Lucky." Daniel terkekeh sementara Lucky mendesah, harus pakai perumpamaan apalagi supaya orang-orang mengerti hubungannya dengan Kia seperti apa.

__ADS_1


__ADS_2