Because I Love You

Because I Love You
Eyang


__ADS_3

"Assalamualaikum, eyaaaang..." Bima langsung menghambur masuk kerumah Eyang. Meskipun Nanta tidak pernah injakkan kakinya ke sini tapi Bima dan Aca tetap diminta jalin silaturahmi dengan kakek buyutnya. Masih terlihat sisa-sisa tampannya meskipun sudah keriput sana sini.


"Waalaikumusalaam, sama siapa kamu Bim?" tanyanya sambil duduk dikursi goyang.


"Sama Panta dan Om Redi." jawab Bima, Nanta masih diluar bicara dengan buleknya dan juga Redi.


"Tumben bapakmu mau kesini." senyumnya agak sinis.


"Kangen sama Eyang tahu." jawab Bima tersenyum manis pada kakek buyutnya yang tetap dipanggilnya Eyang mengikuti yang lain.


"Mimpi apa dia mau kesini." masih sinis si Eyang.


"Mimpi dipeluk Eyang." jawab Bima asal.


"Masa iya?" Eyang percaya saya sama Bima.


"Lihat saja nanti, dia pasti langsung peluk Eyang deh." jawab Bima tertawa, yakin kalau Panta akan peluki Eyang.


"Ndak sudi." Eyang jual mahal.


"Eyang ih, tidak memberi contoh yang baik." kata Bima bikin Eyang terkikik geli.


"Eyang Putri mana sih?" tanya Bima.


"Disawah." jawab Eyang.


"Sudah tua jangan dikasih ke sawah Eyang, kalau jatuh bagaimana?"


"Sana kamu susul."


"Tidak mau, nanti aku kotor." langsung menolak harus becek-becekan disawah.


"Dasar anak kota." Eyang langsung mencibir.


"Eyang sih, tidak mau ke kota." kembali tersenyum duduk di dekat Eyang.


"Eyang, Om Redi calonnya Ante Ulan loh, ganteng, calon suami idaman." langsung promosikan Redi pada Eyang.


"Mana orangnya?"


"Itu diluar sama Oma, ayo Eyang kita keluar." ajak Eyang keruang tamu. Eyang gelengkan kepalanya.


"Tidak mau bertemu calon cucu menantu yang gantengnya seperti Eyang waktu muda ya?" bilang Eyang ganteng.


"Memang iya?"


"Kalau tidak mana mungkin Ante Ulan mau."


"Ulan ikut?"


"Memang Eyang belum videocall Ante Ulan dan Oma Ai?"


"Sudah sih." Eyang terkekeh.


"Ih dasar Eyang, sudah tahu pura-pura tidak tahu lagi." Bima bersungut pura-pura merajuk.


"Pindahkan Eyang ke kursi roda, bisa tidak?" tanya Eyang.


"Bisa dong, mau aku gendong saja tidak sampai depan?"


"Enak saja, ndak sudi."


"Eyang, Gigi Eyang sudah komplit lagi kok?"


"Palsu."


"Seperti asli loh, Eyang. Jadi terlihat sepuluh tahun lebih muda. Aku nih gantengnya seperti Eyang dulu apa tidak sih?"


"Kamu ini paling pintar ambil hati, mau apa dari tadi bilang ganteng terus? Biar Eyang baik sama bapakmu?"


"Eyang kan memang baik." Bima bantu Eyang pindah ke kursi roda.


"Kenan saja yang tidak baik."


"Ih Eyang, Opa Kenan baik juga kok."


"Kamu tidak tahu saja, dulu dia bikin Tari sakit."

__ADS_1


"Itu kan dulu Eyang, sekarang baik-baik saja sudah pada bahagia."


"Jahat!"


"Ih Eyang, aku sedih loh Opaku dibilang jahat." pasang wajah sedih.


"Sudah sana kamu ke Opa kamu saja." merajuk karena Bima membela Kenan.


"Aku juga sedih kalau Eyang usir aku." mendorong kursi roda perlahan.


"Kamu ndak sekolah kah?"


"Libur sehari demi Eyang hehehe."


"Ada maunya pasti makanya kalian kesini."


"Aku sama Panta sih mau bertemu Eyang, kalau Om Redi tuh yang ada maunya." kata Bima santai.


"Mau apa dia?"


"Nanti juga dia bilang sama Eyang." jawab Bima melempar senyum pada Nanta dan Redi yang melihat kearah mereka.


"Masih ingat jalan ke sini kamu Nanta?" langsung saja menegur Nanta.


"Apa kabar Eyang, maaf ya Nanta baru muncul sekarang." Nanta langsung hampiri Eyang Dan berjongkok memeluk Eyang yang duduk dikursi roda.


"Masih ingat punya Eyang kamu?" tidak membalas pelukan Nanta.


"Masih Eyang, ini Nanta datang." tersenyum semanis mungkin pada Eyang.


"Dilarang sama Kenan kamu bertemu Eyang ya?"


"Duh Papa tidak pernah larang Nanta kok, malah Papa mau kesini nanti saat ke Malang, mau sowan ke Eyang. Papa Kirim salam dulu."


"Ndok, panggil Ibumu, ini ada cucu yang sudah lama menghilang." katanya pada Buleknya Nanta.


"Eyang, ini kenalkan Redi calonnya Ulan." Nanta kenalkan Redi pada Eyangnya.


"Assalamualaikum Eyang." sapa Redi hampiri Eyang sambil tersenyum dan menyalaminya.


"Sehat Eyang?" tanya Redi tersenyum.


"Alhamdulillah." menganggukkan kepala sambil Gigi mengunyah kosong, tidak ada makanan dimulutnya.


"Nanta... ya Allah Nak, ingat juga kamu sama Eyang Uti." Eyang Putri berlari hampiri Nanta padahal jalannya sudah tidak stabil


"Uti... Nanta kangen." Nanta peluki Eyang putrinya, jujur Nanta selalu rindukan Eyang putrinya, tapi tertutup kesalnya dimasa muda.


"Maafkan Nanta Uti, baru lihat Uti sekarang." kata Nanta lagi lihat Eyang Putri menangis.


"Uti yang minta maaf bikin kamu tersinggung."


"Sudah dong jangan sedih-sedihan, ada aku juga nih Eyang Putri." kata Bima yang dari tadi diabaikan.


"Bima kamu ikut toh."


"Ikut dong, Eyang Putri ada Om Redi nih calon cucu menantu." langsung kenalkan Redi.


"Assalamualaikum Uti..." ikutan panggil Uti seperti Masanta.


"Waalaikumusalaam, duh guantenge pol." langsung bilang Redi ganteng.


"Tuh Eyang benarkan aku bilang, seperti Eyang masih muda." kata Bima bikin Eyang senyum-senyum.


"Ayo duduk, bikinkan minum ndok."


"Tidak usah Eyang, nanti ambil sendiri." kata Bima nyengir, langsung ambil alih ambilkan minum untuk Nanta dan Redi.


"Oma duduk manis saja." katanya pada Bulek Lina adik Tari.


"Jadi Eyang dan Uti, Redi kesini mohon restu Eyang dan Uti untuk menikah dengan Ulan. Papa dan Mama sudah setuju, sekarang tinggal menunggu restu Eyang dan Uti." kata Redi langsung pada tujuan.


"Kamu kerja di mana?" tanya Eyang pada Redi.


"Redi buka usaha sama Abang di Ohio, mulai bulan depan mulai berkantor di Kyoto." jawab Redi apa adanya.


"Jadi sebelum Redi pindah ke Kyoto, Mama sama Om Bagus maunya mereka menikah saja, Eyang. Supaya tidak jadi fitnah." kata Nanta pada Eyang.

__ADS_1


"Apa ndak mikir kalau Ulan itu belum lulus kuliah, main nikahkan saja. Pasti karena ikut-ikutan Kenan ini." langsung salahkan Kenan, Nanta tersenyum pandangi Eyangnya yang masih juga kesal karena Kenan.


"Dari pada berzinah Eyang." celutuk Bima nyengir.


"Kamu ini kok yo ngomong sembarangan." omel Eyang pada Bima.


"Ih beneran Eyang, kan kalau berdua-duaan tidak ada yang awasi, keburu hamil deh Ante Ulan." malah tambah-tambahin bikin Eyang ngeri.


"Betul yang Bima bilang itu, Pak. Restui saja mereka daripada kita berdosa." Uti ikut bujuk Eyang.


"Memangnya kalian kapan rencana menikah?" tanya Eyang pada Redi.


"Mumpung masih di Indonesia, secepatnya saja Eyang. Minggu depan rencananya." jawab Redi pandangi Eyang, sudah aman Uti sudah setuju.


"Duh kok yo masih kecil sudah dipaksa jadi istri." gelengkan kepala pandangi istrinya.


"Yo ndak kecil juga Pak, Ulan sudah bisa hidup sendiri di Jepang sana." Bulek Lina ikutan buka suara.


"Kalau mau menikah minggu depan kenapa baru datang ke sini sekarang?" omel Eyang pada Redi yang langsung nyengir lebar.


"Kan Redi baru sampai Jakarta kemarin Eyang." jawabnya dengan senyum yang membuat Uti meleleh.


"Kamu tuh kok cakep sekali sih?" Uti gagal fokus.


"Cakep mana sama Eyang waktu muda?" tanya Bima jahil.


"Sama cakepnya, Ulan memang seperti Uti, dapatnya suami cakep." jawab Eyang Putri.


"Tapi Om Redi tidak galak seperti Eyang." kata Bima menggoda Eyang.


"Iya, Eyang galak seperti kamu." jawab Eyang bikin Bima tertawa, senang sekali menggoda Eyangnya yang lagi sok galak.


"Jadi sudah direstui belum nih?' tanya Nanta pada Eyang.


"Hmm..." hanya berdehem dan mengangkat alisnya tanda setuju.


"Terima kasih Eyang, sebelum menikah Papa dan Mama akan Redi ajak kesini." kata Redi senang.


"Kalian menikah dimana?"


"Di sini Eyang, mungkin di rumah Mama." jawab Nanta.


"Disini saja bilang sama Tari."


"Oke Eyang."


"Kenan tidak usah datang, Eyang malas lihat mukanya."


"Papa juga bilang begitu tidak datang, tapi Ulan menangis sih kemarin saat Papa bilang kalau Eyang tidak ijinkan Papa tidak akan datang." jawab Nanta agak lebay.


"Ck..." berdecak kesal dan serba salah.


"Papa mau kesini sebelum pernikahan Ulan kok, sekalian antar Ichie dan istrinya." kata Nanta lagi.


"Biar Papa bertemu Eyang Dan Uti dulu ya. Jangan kesal terus sama Papa. Mama sudah bahagia sama Om Bagus loh. Sudah ada Ulan dan Krisna tambah bahagia Mama. Bisa tidak Eyang maafkan Papa?" pinta Nanta pada Eyangnya.


"Ndak tahu."


"Tapi Eyang lihatkan Mama bahagia sama Om Bagus?"


"Iya."


"Kalau Eyang kesal terus sama Papa, kasihan Om Bagus dong tidak dianggap menantu." kata Nanta lagi.


"Enak saja. Bagus itu menantu idaman." Eyang banggakan Bagus.


"Nah kalau begitu Eyang bersyukur dong Papa pisah sama Mama, akhirnya mama kasih Eyang menantu idaman." kata Nanta dekati Eyang.


"Sudah bisa ajari orang tua ya kamu."


"Lah Panta juga sudah tua Eyang, nih anaknya saja sudah sebesar ini." kata Bima pada Eyangnya.


"Enak saja sudah tua, yang tua itu Eyang." kata Nanta bikin Uti dan Bulek Lina tertawa, Nanta sudah berani bercandai Eyangnya bersama Bima.


"Ya sudah biar saja Kenan datang sama istri dan anak-anaknya." kata Eyang akhirnya mengalah mau menerima kehadiran Kenan nanti saat pernikahan Ulan.


"Yeah gitu dong Eyangku yang guantenge pol-polan." kata Bima langsung peluki Eyang, senang Papon boleh datang acara pernikahan Ante Ulan nanti.

__ADS_1


__ADS_2