Because I Love You

Because I Love You
Gradasi


__ADS_3

"Ah sampai juga di Cirebon." Balen menarik nafas lega, bersyukur setelah menempuh perjalanan tiga jam lebih ia sudah berada di rumah Om Deni kini.


"Kita menginap disini?" tanya Daniel pada Balen.


"Ndak, kita langsung, cuma jemput Om Deni sama Om Samuel aja, biar konvoi." jawab Balen terkekeh.


"Aban, turun dulu ndak?" tanya Balen pada suaminya yang masih duduk nyaman di mobil.


"Ya, tidak banyak berubah sejak terakhir aku kesini deh." kata Daniel tertawa.


"Ayo masuk deh, lihat Aban dulu bobo dimana." Balen penasaran menarik tangan suaminya. Daniel segera turun Mobil ikuti kemauan Balen masuk kedalam rumah Om Deni, sekalian Daniel mau numpang ke Toilet.


"Waduh pengantin barunya muncul juga." Dini tertawa lihat Balen yang tarik-tarik tangan suaminya.


"Ante Dini, Baen udah lama ndak dapat baju berenang nih." katanya pada istri Om nya yang perancang baju berenang.


"Mau baju berenang batik lagi Baen?" tanya Dini tertawa.


"Ndak dong, Baen lagi suka yang gradasi Ante." pintanya pada Dini.


"Oh tenang saja kembali dari Malang kalian menginap disini dulu toh, Ante siapkan. Mau yang sesi sesi atau yang hijaber?" Dini tertawa ingat Balen dulu bilang sesi sesi.


"Sesi sesi dong Ante, Baen kan berenangnya dirumah aja, ndak di depan orang-orang. Baen jarang berenang di Ohio Ante, dingin soalnya." kata Balen sedikit curhat. Daniel tersenyum saja dengar istrinya mengoceh.


"Ante, anak Ante mana deh?" tanyakan sepupunya.


"Lagi kursus Mathematics." jawab Dini tersenyum.


"Aban, ingat Ante Dini kan?" tanyakan pada Daniel.


"Ingat dong, tidak mungkin lupa." Daniel tertawa.


"Daniel, kamu waktu menginap disini masih segini." Dini tunjukkan pinggangnya.


"Hahaha masa sih, bukannya lebih tinggi ya Ante?" tanya Daniel.


"Oh iya kamu sudah SMA ya, berarti segini." Dini tunjuk dadanya.


"Ih Ante jangan tunjuk disitu dong, disini aja." Balen tunjuk dadanya bikin ketiganya terbahak, dasar Balen mulai mesum rupanya.


"Baen sudah pintar sekarang ya." Dini tertawa geli lihat gaya keponakannya.


"Ante, sewa Mobil juga ndak?" tanya Balen pada Dini.


"Tidak, kita cuma berempat naik mobil yang ada saja." jawab Dini.


"Tukaran saja Ante, Om dan Ante yang naik mobil Van, biar kita bawa Mobil Om." Daniel tawarkan diri, kasihan juga lihat para Om harus menyetir jauh.


"Nanti tanyakan sama Om Deni dan Om Samuel saja." jawab Dini, ikuti saja keputusan suaminya nanti.

__ADS_1


"Ya, biarkan mereka anak muda bawa Mobil, kita yang baya-baya ini naik Mobil mewah lah." kata Om Deni langsung.


"Ceile, mewah juga bile sewa Om." kata Richie tertawa.


"Eh Chie kamu sama siapa itu tidak kenalkan sama Om." Samuel alngsing saja menggoda Richie.


"Namanya Tori nih Om." Richie menepuk bahu Tori, otomatis Tori langsung hampiri Samuel dan Deni, menyalaminya.


"Cucunya Papi Mario." Balen menjelaskan.


"Tidak jauh-jauh ya Chie, seputaran situ saja." Deni menggoda Richie yang tertawa saja mendengarnya.


"Kamu belum pernah bertemu Om aku ya?" tanya Richie pada Tori.


"Belum." jawab Tori tersenyum pada Om dan Tante.


"Tori selama ini di S'pore Om, makanya tidak pernah bertemu." Balen menjelaskan.


"Yah, kita cuma dengar cerita saja tentang Tori sahabatnya Balen." kata Dini tertawa.


"Sahabat kecil." jawab Balen tertawa.


"Centilnya sama, bolotnya juga sama." sahut Richie tertawakan keduanya.


"Enak aja Ichie bilang Baen bolot." Balen langsung saja protes.


"Ante, Tori ini calon istri Ichie loh." kata Balen buka rahasia.


"Oh ya? sudah mantap ya Chie?" Dini terkekeh.


"Ya begitulah Ante." Richie ikut terkekeh.


"Kapan menikah kalian?" tanya Dini.


"Jangan mendadak seperti Balen dan Daniel." kata Deni lagi.


"Ndak mendadak sih harusnya." kata Kenan tertawa.


"Persiapan sudah lama, tapi kita malah lupa beri kabar keluarga di luar kota." kata Nona tertawa.


"Adik macam apa ini." Samuel gelengkan kepalanya. Semua tertawa jadinya, Nona tidak lagi asal bicara pada Samuel mengingat mereka sudah berumur dan khawatir jadi contoh yang tidak baik untuk anak cucunya. Sedikit banyak Nona berubah jadi sedikit lebih kalem, sedikit loh ya, hanya ditengah keramaian, kalau lingkup mereka saja kembali cablak bicaranya.


"Oke yuk lanjut, semua sudah ke Toilet kan?" Kenan pastikan semuanya.


"Sudah." jawab Richie mantap.


"Oke anak muda, mohon maaf bukannya mengambil kenyamanan kalian, tapi tenaga dan energi kalian lebih baik dari pada kami, jadi kita serah terima kunci." Samuel serahkan kunci pada Richie.


"Ingat ya Ichie, kalian harus selalu di belakang minivan, tidak boleh mendahului." pesan Kenan pada bungsunya supaya tidak ngebut.

__ADS_1


"Iya Papa." menurut santun.


"Hati-hati ya kalian." pesan Deni pada para anak muda.


"Yah kita semua hati-hati. Pak Supir kamu jangan ngebut loh ya, jalan santai saja, sayang mobilnya kalau rusak, jangan bikin penumpangnya tidak nyaman." Balen bergaya seperti pemilik kendaraan.


"Injih Bu." mengangguk sopan.


"Idih Baen dipanggil Ibu." tertawa geli sendiri.


"Habisnya ibu-ibu saja tidak cerewet seperti kamu, makanya bapaknya pikir yang ibu-ibu tuh kamu loh." kata Nona tertawa geli.


"Mamon ih, Baen begini juga karena siapa, karena Mamon pasti, Papon aja ndak cerewet orangnya."


"Kamu tuh seperti Opon, jahil." kata Nona tertawa.


"Ndak sih, Opon tuh yang jahil seperti Ichie." jawab Balen tidak mau dibilang jahil.


"Yah Baen, gue kan mau setir jadi gue tidak mau debat." jawab Richie tertawa.


"Yah kamu lebih tampan kalau tidak mendebat." Tori tersenyum pada Richie.


"Ih ada suaranya, tadi diam saja." Richie tertawa menggoda Tori.


"Yuk jangan buang waktu." ajak Daniel segera menuju kemobil yang tadi ditunjuk Samuel.


"Ichie apa Abang yang setir?" tanya Daniel pada Richie.


"Aku dulu deh Bang, nanti kalau capek baru Abang yang gantikan." kata Richie pada Daniel.


"Sayang Abang duduk depan temani Ichie ya?" ijin Daniel pada Balen.


"Ndak, biar Tori aja yang temani Ichie." gantian Balen yang menolak jauh dari Daniel kini.


"Ish Baen, lebay deh." sungut Richie kesal.


"Biarin, Tori kamu temani Ichie di depan ndak apa kan?" tanya Balen pada Tori


"Tidak apa." jawab Tori tertawa. Ia langsung ambil posisi duduk di bangku penumpang depan seperti yang Balen mau.


"Tadi katanya mau temani Tori." bisik Daniel jahil ketika mereka sudah duduk di bangku penumpang belakang.


"Baen berubah pikiran, mau temani Aban aja." jawabnya bikin Daniel tertawa. Richie mulai lajukan kendaraannya setelah membaca doa dalam hati.


"All jangan lupa baca doa." Richie ingatkan semuanya.


"Oke." jawab Daniel mulai berdoa dalam hati, sepertinya Balen dan Tori pun begitu.


Done empat chapter today ya, terima kasih selalu menunggu, yopiu allπŸ’‹πŸ’‹

__ADS_1


__ADS_2