
"Cerita dong." Redi tidak sabar mendengar apa yang membuat Lucky hatinya sangat kacau.
"Bang Lucky mau nikah galau ya?" celutuk Ulan yang didengar oleh Lucky.
"Ih ikut-ikutan saja dia." Lucky terkekeh.
"Tidak dengar Ulan." jawab Redi.
"Tidak loudspeaker kah?" tanya Lucky.
"Ya kali elu curhat gue loudspeaker, kasihan Ulan nanti ikut galau." jawab Redi bikin Lucky dan Ulan terbahak.
"Gue takut diangkat jadi Kisah nyata untuk film Hollywood saja." Lucky melucu.
"Masalahnya gue di Jepang Luck, bukan di Amrik." jawab Redi tertawakan Lucky.
"Iya deh yang lagi happy bisa tertawakan gue." dengus Lucky, Redi mendengus sambil pandangi Ulan dihadapannya yang lagi nikmati makanannya.
"Nasib gue juga masih belum jelas." desis Redi bikin Lucky terbahak, sama saja mereka berdua.
"Kenapa Luck?" Redi penasaran.
"Bokap kasih ultimatum, akhir tahun gue sudah harus menikah, terserah gue mau sama siapa, kalau tiga bulan sebelum waktunya gue belum bawa calon, bokap sama nyokap yang siapkan calon istri." Lucky menghela nafas.
"Sepele itu sih." jawab Redi santai.
"Sepele pale lu." jawab Lucky bikin Redi terbahak.
"Akhir tahun itu enam bulan lagi Red, waktu jalan terus." lanjut Lucky.
"Yah bukannya tinggal pilih, repot sekali kakak."
"Masalahnya ini calon pasangan seumur hidup gue Dan calon Ibu Dari anak gue, Red. Tidak sesimpel itu, sampai sekarang gue belum ada bayangan siapa yang mau gue jadikan istri."
"Jadi bagaimana dong?" sebenarnya Redi mau selipkan nama Kia, tapi ada Ulan disana.
"Terus gue salah curhat lagi, gue curhat sama Kia, maksud gue biar bantu gue mikir, yang ada tuh anak malah jadi kusut. Sudah seminggu tidak mau jawab telepon gue." dengus Lucky.
"Jadi yang bikin elu kacau itu karena ultimatum bokap atau karena sudah seminggu diabaikan?" tanya Redi nyengir, masih saja menggoda Lucky.
"Yah sebab akibat deh Red, jadi berasa kacau semua."
"Memang elu curhat apa sama tuh bocah?" tanya Redi tidak sebutkan nama Kia, khawatir Ulan sampaikan pada Kia.
"Seperti yang gue bilang sama elu barusan, akhir tahun gue sudah harus menikah sama siapapun itu, gue tanya dia sudah siap menikah belum. Disitu masih santai ya dia bilang belum, masih mau ke Ohio sekolah." cerita Lucky.
"Gue bilang ke Ohio tidak boleh main sama Noah, kalau mau main sama Noah gue nikah sama Hilma saja. Sudah deh setelah itu dia menjauh."
"Nah elu sama Hilma saja." jawab Redi.
"Red, gue lepas Hilma karena Kia, kalau bikin Kia jauh-jauh juga mending tidak putus sama Hilma dari dulu dong."
"Jadi gue simpulkan yang bikin elu kacau tuh Kia ya." tidak tahan juga Redi akhirnya sebut nama Kia.
"Ya tidak begitu juga Red." Lucky menyangkal.
"Elu belum sadar nih, bagusnya tuh bocah benar-benar jauhin elu deh, sampai elu sadar." jawab Redi.
"Elu kira gue pingsan." sungut Lucky, Redi terbahak.
__ADS_1
"Ulan mana, gue curhat sama Ulan deh."
"Kaya bocah ya curhat mulu." Redi terbahak.
"Rese, gue butuh counseling." jawab Lucky.
"Butuh counseling apa butuh comblang? minta bokap lu jodohin elu sama Kia deh kalau butuh comblang, dijamin langsung beres tuh." Redi terbahak.
"Beneran Rese, gue sama Kia mana mungkin menikah."
"Tapi elu kacau diabaikan seminggu." goda Redi.
"Ck, bukan karena itu." Lucky berdecak.
"Elu ambil wudhu deh lu sholat terus dialog sama Allah, doa, doa." Redi menyarankan.
"Sudah." jawab Lucky.
"Lebih fokus." saran Redi.
"Biar apa?" tanya Lucky seperti bocah.
"Biar elu sadar sama perasaan lu." jawab Redi nyengir.
"Ya sudah, thanks Red." Lucky matikan sambungan teleponnya.
"Kenapa Bang?" tanya Ulan ingin tahu, tadi hanya dengar sebelah pihak saja.
"Kia kenapa tidak jawab telepon Lucky sudah seminggu, tanya Lan." pinta Redi pada Ulan.
"Biasanya Baen lebih tahu." jawab Ulan.
"Dekat juga tapi Baen lebih jadi tempat curhat anak-anak." jawab Ulan.
"Tapi nanti Ulan tanya deh." janji Ulan pada Redi.
"Coba telepon sekarang." pinta Redi pikirkan Lucky. Ulan ikuti maunya Redi hubungi Kia.
"Ante..." terdengar suara Kia dari seberang.
"Lagi apa?" tanya Ulan.
"Tunggu Bima jemput, kita mau karaoke." jawab Kia terdengar ceria.
"Enak betul lagi karaoke ramai-ramai." Ulan sedikit iri.
"Ante sih kuliahnya jauh, eh aku juga deh sebentar lagi ke Ohio."
"Boleh sama Papa dan Mama?" tanya Ulan.
"Boleh, Oma Monik sih yang rada keberatan, aku kan cucu kesayangan." katanya tengil.
"Yah kamu kan cucu sendirian." jawab Ulan tertawa.
"Apaan cucu sendirian." Kia terbahak, seperti tidak ada beban, pikir Redi. Sementara Lucky tadi kacau balau.
"Kia..." panggil Redi.
"Eh siapa tuh?" tanya Kia bingung.
__ADS_1
"Bang Redi." jawab Ulan.
"Ceile lagi ngapelin Ante Ulan, Om?" tanya Kia polos.
"Iya dong." jawab Redi bikin Ulan merah merona.
"Kia, Lucky apa kabar?" tanya Redi sok polos.
"Om Lucky... hmm, aku sudah seminggu tidak kontak Om." jawabnya jujur.
"Oh, sibuk ya dia?" tanya Redi pura-pura tidak tahu.
"Mungkin ya." jawab Kia.
"Kalian ribut?" tanya Redi langsung.
"Ribut? hahaha masa sama Om Lucky ribut sih." Kia terbahak.
"Ya kan tumben tidak kontak seminggu." jawab Redi.
"Baru juga seminggu Om, Om Redi disuruh Om Lucky hubungi aku?" tanya Kia curiga.
"Bilang Lucky suruh hubungi aku ya penting." Redi abaikan pertanyaan Kia.
"Om telepon saja langsung." jawab Kia.
"Tidak diangkat." Redi berbohong.
"Coba lagi dong, nanti juga diangkat." jawab Kia.
"Kamu kenapa tidak mau telepon Lucky?" tanya Redi penasaran.
"Sok tahu ah." Kia tertawa.
"Lucky galau tuh." Redi jujur.
"Om Lucky galau bukan karena Kia kali, karena Tante Hilma." jawab Kia.
"Cemburu ya sama Hilma?" Redi menggoda Kia.
"Memang Kia siapa? Om Lucky mah bebas mau sama siapa, tapi Kia dilarang berteman sama Noah. Kapan Kia punya pacar dong kalau Om Lucky begitu terus." dengus Kia kesal.
"Begitu terus?" Redi kernyitkan dahinya sambil tersenyum.
"Iya, Om Lucky ngalah-ngalahin Papa, sortir semua teman cowok Kia. Alex aja nomornya sudah di blokir Om Lucky. Jadi dia tidak bisa chat Kia lagi." Kia curhat, Redi terkikik geli, Dasar Lucky posesif begitu masih belum sadar juga kalau dia memang naksir Kia.
"Jadi kamu sekarang musuhan sama Lucky?" tanya Redi.
"Yah tidak musuhan sih, Kia sebel aja, Om Lucky seenaknya, bebas pacaran sama siapa saja, sebentar lagi juga mau menikah, sementara Kia tidak boleh berteman sama cowok selain geng rusuh." dengusnya kesal.
"Kan kamu memang tidak boleh pacaran." Redi tenangkan Kia.
"Ya tapi bukan berarti tidak boleh berteman dong Om." suara Kia terdengar kesal.
"Ya kamu temannya Om Lucky saja." Redi tertawakan Kia.
"Ish nanti dia menikah, istrinya musuhin Kia lagi." dengus Kia masih terdengar kesal.
"Kalau begitu kamu saja yang jadi istri Lucky." kata Redi tersenyum.
__ADS_1
"Bodo ah, Om Redi." langsung matikan telepon, sekarang Kia yang kesal sama Redi.