Because I Love You

Because I Love You
Ayo


__ADS_3

"Kita ketemu dimana sama yang lain, Bang?" tanya Ulan pada Redi.


"Langsung ke kamar saja, semua sedang istirahat tidak mau diganggu." jawab Redi sambil menggandeng tangan Ulan menuju receptionist untuk mengambil kunci kamar.


"Tapi mereka sudah ada di sini?" tanya Ulan penasaran.


"Sudah." jawab Redi tersenyum ramah menyapa petugas hotel sebutkan nomor kamar yang sudah diberikan Lucky.


"Bapak Redi, silahkan..." petugas hotel berikan kunci kamar pada Redi.


"Terima kasih." selanjutnya pasangan baru tersebut langsung diantar menuju lift oleh petugas lainnya.


"Are you ready, Mrs. Redi?" tanya Redi bercandai Ulan.


"Yah, Redi is always Ready." jawab Ulan tertawa.


"Bisa bercanda juga kamu ya." Redi mencubit pipi Ulan sambil tertawa, tidak pedulikan petugas hotel yang salah tingkah lihat kemesraan mereka berdua.


Sementara itu di kamar lain, di lantai yang sama,


"Masa kita di kamar aja sih." protes Balen pada Daniel.


"Kamu yang latah minta ikut menginap di hotel loh." Daniel ingatkan Balen.


"Tapi kan Baen maunya ngobrol-ngobrol Aban." dengus Balen kesal.


"Ngobrol sama Abang saja." Daniel tertawa.


"Seru-seruan ramai-ramai, Aban." pintanya lagi sambil memeluk Daniel.


"Kita berdua juga bisa seru tahu." Daniel mengecup bibir Balen beberapa kali.


"Kamu minta ikut sama orang yang baru berapa hari menikah, bahkan Redi dan Ulan baru berapa jam jadi suami istri, sayang. Pasti lebih asik pelukan di kamar daripada ngobrol sama kita." Daniel dan Balen langsung tertawa bersama.


"Kita juga asik pelukan." jawab Balen langsung ciumi suaminya secara brutal, Daniel terbahak dibuatnya, tapi menerima dengan senang hati.


Kembali Ke pengantin baru,


"Segarnya..." kata Ulan yang baru saja selesai mandi, tadi seluruh badannya serasa lengket, makanya begitu masuk kamar Ulan langsung ijin pada Redi untuk mandi duluan.


"Cantik, kok tidak pakai lingerie?" tanya Redi menggoda Ulan.


"Hihi Abang." langsung tersenyum malu karena saat ini Ulan hanya kenakan t-shirt polos dan celana sedengkul.


"Abang, besok ambil baju dulu ya di rumah, Ulan ndak tahu mau ke Korea jadi ndak bawa baju banyak." pintanya pada Redi yang bersiap untuk mandi.


"Boleh, mau beli disana juga boleh." jawab Redi santai.


"Pemborosan." anak kos selalu hitung pengeluaran lupa kalau sekarang sudah punya suami.


"Kata Krisna pakai jatah dari suami." Redi tertawa.

__ADS_1


"Krisna bukan Ulan yang ajari loh." Ulan tidak mau disangka provokasi adiknya untuk menyentil Redi.


"Iya percaya, cantik." Redi tersenyum mengelus pipi Ulan lembut.


"Aku mandi dulu ya." gantian Redi yang minta ijin, Ulan anggukan kepalanya. Tidak begitu canggung berduaan dikamar hotel bersama Redi karena sudah biasa di apartment saat Redi ke Kyoto.


"Mau ikut?" Redi kembali menggoda Ulan.


"Hehehe..." malah cengengesan, selalu begitu kalau digoda senyum malu-malu.


Saat Redi mandi, Ulan segera berkutat dengan emailnya memastikan kalau ada tugas dari kampus saat ia tidak masuk kuliah, jangan sampai ketinggalan pelajaran dan jangan sampai juga beasiswanya hangus karena prestasinya menurun.


"Dek, kita lagi honeymoon loh. Kamu malah sibuk." Redi yang baru selesai mandi, sudah duduk manis disebelah Ulan yang sedang otak-atik tabnya.


"Ulan cek tugas sambil tunggu Bang Redi mandi." jawab Ulan melirik sekilas pada Redi yang hanya kenakan celana pendek, handuk masih bergantung di pundak.


"Ada tugas?" tanya Redi.


"Ndak ada, Alhamdulillah. Abang pakai baju dong." pinta Ulan pada suaminya.


"Ambilin dong." minta diladeni.


"Sebentar ya, Ulan harusnya siapkan baju Bang Redi, malah sibuk lihat email." Ulan jadi nyengir segera berdiri, menuju koper Redi.


"Ulan buk... Bang!" Ulan hampiri saja lompat karena tiba-tiba Redi memeluknya dari belakang.


"Nanti saja." bisik Redi sambil sandarkan bahunya dileher Ulan yang menelan salivanya, jantungnya dag dig dug der, bulu tangannya langsung meremang.


"Nanti saja, peluk begini boleh kan?" Ulan anggukan kepalanya.


"Kalau cium begini boleh kan?" Redi ciumi leher Ulan.


"Ah..." sedikit berontakan karena kegelian. Redi tidak alami kesulitan rupanya, karena Ulan pasrah-pasrah saja, yang Redi tanya boleh itu dibolehkan semua oleh Ulan dengan anggukan kepalanya.


"Cantik, opening ceremonial sekarang saja ya?" lagi Redi minta persetujuan malah bikin Ulan tertawa.


"Pakai hormat gerak?" tanya Ulan masih tertawa geli.


"Ih malah bercanda." Redi langsung saja lakukan pergerakan mulai ciumi Ulan sambil bercanda awalnya, lama-lama berubah ritme melembut perlahan hingga akhirnya yang terdengar hanya decapan dan *******, terjadilah yang Redi inginkan di menjelang sore. Benar yang Larry bilang, Redi tidak perlu diajari, semua berjalan lancar tanpa hambatan.


"Terima kasih ya." bisik Redi sambil memeluk Ulan setelah aktifitas mereka selesai, masih malas-malasan dikasur dan tenggelamkan wajahnya didada Ulan.


"Harus mandi lagi, mau magrib." Ulan ingatkan Redi.


"Ya, sebentar lagi." jawab Redi masih malas bergerak.


"Ulan ndak bawa pengering rambut, nanti malu kalau bertemu yang lain rambutnya basah-basah, dilaci ndak ada, mesti minta ya?" tanya Ulan pada Redi.


"Ada di kamar mandi, dekat wastafel." jawab Redi.


"Kok Abang tahu?"

__ADS_1


"Tadi aku periksa dulu, persiapan harus mantap kan." jawabnya terkekeh.


"Abang, mandi yuk."


"Eh kamu ajak aku mandi bersama?" Redi langsung bersemangat dapat tawaran dari Ulan.


"Eeh, maksudnya Ulan duluan nanti Abang belakangan." kata Ulan benarkan kalimatnya.


"Oke kamu duluan nanti aku susul." jawab Redi tersenyum senang.


"Idih..." Ulan jadi tertawa dibuatnya.


"Cantik..."


"Abang jangan panggil begitu nanti Ulan malu kalau ada yang dengar."


"Memang kenapa? beneran kamu cantik kok." jawab Redi.


"Abang saja yang bilang cantik."


"Harus aku saja dong, kamu kan cantiknya Redi." Redi bikin Ulan senyum-senyum.


"Cantik, kamu tidak menyesalkan ke Jakarta sama aku, malah dinikahkan?" tanya Redi pada Ulan.


"Kok menyesal?"


"Kan rencananya hanya minta restu."


"Ndak apa, Abang dapat bonus." jawab Ulan tersenyum.


"Hu uh." Redi setuju memang berasa dapat bonus.


"Ayo Bang, Ulan mandi." Ulan ingatkan Redi.


"Ayo sama-sama." semangat dengar kata ayo, berarti diajak mandi bersama.


"Sendiri-sendiri saja." jawab Ulan nyengir.


"Tidak mau, kamu kan sudah ajak."


"Ndak gitu maksud Ulan.


"Maksudnya bagaimana? sudah jelas kalau ayo mandi itu berarti ajak mandi bersama." jawab Redi modus.


"Tadi Ulan ndak bilang gitu."


"Lama kalau berdebat ah, ayo aku saja yang ajak kamu mandi." semangat empat lima berdiri tanpa kenakan pakaian celana pendek yang berserakan di lantai.


"Ya ampun Abang, malu." Ulan menutup wajahnya lihat Redi tanpa pakaian.


"Sudah merasakan masih malu ya." Redi terkekeh segera bangun dan mengangkat tubuh istrinya ke kamar mandi, karena Redi yang ajak mandi makan Redi yang bergerak lebih dulu, entahlah setelah di dalam mereka beneran mandi atau bagaimana.

__ADS_1


__ADS_2