Because I Love You

Because I Love You
Santai


__ADS_3

"Ayah kira lupa sama Ayah kamu Baen." kata Ayah Eja saat Balen dan rombongan tiba di rumahnya.


"Ndak dong Ayah, cuma jadwal Baen padat." jawabnya sok iye, setelah memeluk Ayah dan Bunda langsung hampiri Oma Nina ke Kamar.


"Oma, ada cucunya nih." peluki Oma Nina yang berbaring dikasur.


"Kenapa baru datang?" tanya Oma Nina pada Balen.


"Kemarin Baen istirahat dulu Oma, keluar yuk." ajak Oma keluar, bantu Oma bangun dari kasur dan siapkan kursi roda Oma.


"Pelan-pelan Oma." ingatkan Oma saat akan melangkah menuju kursi roda.


"Kapan Baen kembali Ke Ohio?" tanya Oma.


"Duh sebentar lagi Oma." sadari waktu cepat berjalan hampir seminggu lagi Balen tinggalkan Indonesia. Oma Nina menangis mendengarnya.


"Oma jangan nangis dong Baen jadi sedih." ikut menangis peluki Oma.


"Kapan kita kumpul semua di Jakarta?" tanya Oma Nina menghapus air matanya, membelai rambut cucunya yang sedang berdiri diatas lututnya karena memeluk Oma.


"Oma, Ichie mau kerja di Malang juga bantu perusahaan Opon." kata Balen pada Oma, isyaratkan mereka tidak bisa kumpul semua di Jakarta.


"Kalau di Malang, seminggu sekali masih bisa lihat Oma di Jakarta." kata Oma lagi.


"Ohio jauh ya Oma, tiap hari kita video call ya." kata Balen pada Oma.


"Yah, Oma mau peluk seperti ini." Oma menarik nafas panjang.


"Oma sehat-sehat ya doakan Baen juga disana sehat, pulang bawa cicit nanti, mau ndak?" ajak Oma bercanda.


"Hihi secentil kamu tidak cicitnya?" Oma langsung tertawa geli.


"Baen tak tertandingi Oma, cicitnya kalem aja seperti Aban Nanta dan Aban Daniel."


"Laki-laki dong." Oma kembali tertawa.


"Oma maunya perempuan ya?"


"Ya seperti Kia dan kamu tuh yang ceriwis." kata Oma tertawa geli sendiri.


"Bikin kangen ya Oma." lupa mau ajak Oma keluar kamar sibuk saja ngobrol berdua sampai tertawa geli. Mereka baru keluar kamar saat Daniel menyusul hampiri Balen dan Oma.


"Aban, kata Oma nanti cicitnya yang seperti Baen bikin kangen." langsung lapor pada Daniel.


"Hehehe doakan ya Oma." Daniel langsung cengengesan.


"Iya dong, satu kalem seperti kamu, satunya seperti Baen." kata Oma Nina.


"Kembar dong Oma kalau mau langsung dua." Daniel terkekeh.

__ADS_1


"Ya kalau tidak kembar juga kan bisa disusul tahun berikutnya." kata Oma lagi.


"Aamiin." jawab Daniel dan Balen berbarengan. Daniel yang mendorong kursi roda Oma segera carikan posisi enak untuk Oma di ruang keluarga.


"Oma mau duduk di sofa?" tanya Kia pada Oma Nina, ia baru saja datang bersama Roma. Raymond tentu masuk kantor karena hari ini Kenan pun sudah mulai bekerja. Reza dan Nanta saja yang ambil cuti demi sehari bersama Balen.


"Disini saja." jawab Oma Nina tunjuk kursi rodanya.


"Pempeknya banyak tidak?" tanya Roma pada Balen.


"Ada Lima pack tuh." jawab Balen


"Bunda, satu pack untuk Mami ya." ijin sama Bunda Kiki berikan satu pack untuk Mami Monik.


"Ambil saja." jawab Bunda tersenyum manis.


"Kak Roma, Kia ada yang naksir tuh, sepupunya Aban Daniel." Balen langsung laporan pada Roma.


"Oh ya, siapa?" penasaran karena Kia tidak pernah cerita.


"Namanya Alex." jawab Balen lagi, sementara Kia cengar-cengir saja.


"Namanya kok sama dengan Opa Alex." Roma tertawa ingat Papinya.


"Ingat ya Kia, tidak boleh pacaran." Oma Nina ingatkan cicitnya. Kalau sama Opa Alex dan Oma Monik sih pasti dibolehkan pacaran, keluarga Roma tidak sekolot keluarga Raymond.


"Perjalanan Kia masih panjang Manin." jawab Kia tersenyum pada Oma Nina yang ia panggil Manin.


"Ih Bima sih banyak yang suka Panta." lapor Kia pada Nanta.


"Yang Bima suka juga banyak?" tanya Dania.


"Oh itu ada, aku tidak dekat sih." Kia mengedikkan bahunya, tidak terlalu suka dengan gadis yang dekat dengan Bima.


"Kenapa?" tanya Balen.


"Tidak lulus seleksi aku dan Belin." jawab Kia monyongkan bibirnya.


"Menyebalkan." tambah bersungut. Semua tertawakan Kia.


"Sudah bilang langsung sama Bima?" tanya Nanta.


"Sudah, tapi tiba-tiba buta dan tuli tuh tidak bisa dikasih tahu." asem deh wajah Kia.


"Ish tidak usah dibahas kalau merusak mood." kata Balen pada Kia.


"Iya sih, Bima dan Aca mana deh Panta?" tanyakan Bima dan Aca.


"Tadi habis antar kita lanjut janjian sama Billian dan yang lain." jawab Nanta tersenyum.

__ADS_1


"Bang Raymond nanti ke sini Kak?" tanya Richie pada Roma.


"Iya dong, Om Kenan juga kan." jawab Roma tersenyum, mereka sudah janjian kumpul keluarga makan malam bersama dirumah Kiki.


"Ke rumah Papa Mito kapan dong?" tanya Balen pada Dania.


"Papa sekeluarga yang kesini." jawab Dania membuat Balen menarik nafas lega. Rasanya sulit membagi waktu harus temui semua satu persatu, bertemu Om dan Tantenya Daniel saja belum.


"Bunda masak apa? padahal Baen mau belajar masak, eh masakan Bunda sudah jadi semua." Balen tertawa geli sendiri


"Katanya mau beli jadi saja di kantin kampus." Daniel ingatkan Balen.


"Iya sih, nanti Baen belajar lewat youcub aja deh." katanya lagi bikin semua tertawa.


"Medsos banyak kasih resep kok sekarang." kata Bunda Kiki disambut anggukan kepala Roma.


"Lagi pula Bang Daniel mulai distribusikan bumbu instant kok disana, Baen." Richie ingatkan Balen.


"Ya ya." Balen anggukkan kepalanya.


Sore hari semua mulai berdatangan, langsung heboh ketika Papa Micko dan keluarga datang. Winner pun datang bersama anak dan istrinya.


"Baen, ya ampun duluin gue lu." Lucky mengacak anak rambut Balen.


"Aban Lucky sih pilih-pilih. Eh katanya pacaran sama artis?" Balen terkikik pandangi Lucky yang hanya mencibir.


"Aban ini loh Aban Lucky." Balen kenalkan Daniel pada Lucky.


"Oh Hai." Lucky salami Daniel dan tersenyum ramah.


"Ini Aban Daniel Baen." kata Balen pada Lucky.


"Yah, waktu kecil dia bilang kalau tidak jadi menikah sama Larry mau menikah sama temanku saja." Lucky sampaikan pada Daniel.


"Tapi temannya masih di awang-awang waktu itu." Balen tertawa ingat konyolnya waktu kecil.


"Sudah kenal Abang kenapa mau sama temannya Lucky?" tanya Daniel.


"Baen kan ndak tahu Aban Daniel mau tunggu Baen." jawab Balen tertawa.


"Enak saja mau ke lain hati." Daniel langsung merangkul Balen yang tertawa geli dibuatnya.


"Ini yang bikin gue belum menikah sampai sekarang." Lucky menghela nafas panjang.


"Buruan loh, Ichie tiga bulan lagi." Balen ingatkan Lucky.


"Waduh masalahnya gue tidak sebucin cowok-cowok yang ada disini termasuk elu Daniel." kata Lucky bikin Daniel terbahak.


"Aban Lucky main pianonya jago nih Ban." kata Balen promosikan Lucky.

__ADS_1


"Wah kapan-kapan undang ya mau lihat." kata Daniel tersenyum.


"Nanti lah saat santai ya. Tidak tahu kapan santainya." seloroh Lucky bikin ketiganya tertawa bersama. Daniel langsung suka lihat gaya Lucky dan pastikan tidak cemburu sama adik Tania ini. Dasar Daniel.


__ADS_2