
"Mam sudah makan?" tanya Cadi yang baru saja pulang sekolah, tadi dijemput oleh supir Kenan, seperti biasa ia pulang kerumah Papon sedang kedua Abangnya pulang kerumah Opa James.
"Sudah sayang." jawab Balen tersenyum, sekarang tidak lagi menangis karena bayangkan akan ke Bandung bersama keluarga besarnya, bukan hanya bertiga dengan Kia dan Ulan.
"Good Mam." Cadi bergaya sok tua, "Mam sudah tidak kesal karena tidak ke Bandung hari ini kan?" tanya Cadi lagi tersenyum manis dan menggelendot pada Balen.
"Tidak, nanti weekend bersama kalian kan?" Balen memastikan sambil mengusap rambut anak bungsunya itu.
"Of course, Aku tadi ajak Opa dan Oma juga loh." katanya pada Balen.
"Papon sama Mamon juga ikut." sahut Kenan.
"Wow Mam, hanya menunggu berapa hari, perjalanan Mam ke Bandung lebih seru." katanya berusaha membuat Mamanya bahagia. Kenan terkekeh melihat cucunya tengah menghibur Balen.
"Iya kalian hebat." jawab Balen tersenyum lebar, setelah tadi nangis Bombay tidak mendapat respon dari Mamon dan Papon, sekarang seperti tidak terjadi apapun.
"Aku makan ya, aku lapar." kata Cadi kemudian langsung menuju meja makan, ambil piring, tidak minta diladeni, ia sudah biasa makan sendiri kalau pulang sekolah, setelahnya bermain di kamar Panta di masa abege.
"Mau mama temani?" tanya Balen.
"Tidak usah, Mam ngobrol saja sama Papon dan Mamon." jawabnya bikin Kenan tertawa, kadang-kadang Cadi bergaya seperti orang dewasa.
"Maaaam, Mam disini sampai malam kan, temani aku?" tanya Cadi sambil mengunyah.
"Iya."
"Aku senang kalau ada Mam dirumah." jawabnya sambil nikmati makanan.
"Kenapa begitu?" tanya Balen.
"Tidak tahu, senang ya senang saja jangan ditanya kenapa." jawab Cadi bikin semua terbahak.
"Tadi ada yang nangis loh Cadi." Nona berkata ada Cadi sambil melirik Balen yang besarkan bola matanya.
"Siapa Mamon?" tanya Cadi.
"Kucing liar di depan nangis." jawab Balen cepat.
"Mamon tidak kasih makan kucingnya ya, jadi menangis?" tanya Cadi.
"Kucingnya minta ke Bandung." jawab Nona.
"Wow Mam ada temannya." jawab Cadi bikin semua terbahak.
Sementara itu di kantor Daniel menghela nafas lega setelah dapat laporan dari Kenan jika istrinya sudah tidak lagi merajuk. Sewaktu sampai di kantor tadi Daniel sudah sampaikan pada mertuanya jika Balen uring-uringan dan mendiamkan Daniel karena tidak diijinkan ke Bandung bersama Kia dan Ulan hari ini. Entah kenapa hamil kali ini Balen tidak pernah betah di rumah, bahkan kalau dilarang bisa merajuk seperti anak remaja. Padahal setahu Daniel, istrinya dari dulu anak yang patuh, apa nanti bayi diperut akan keras kepala seperti Mamanya saat ini.
"Melky, kamu booking kereta wisata untuk ke Bandung hari sabtu besok ya." pinta Daniel pada Melky asistennya.
__ADS_1
"Buat berapa orang Pak?" tanya Melky.
"Satu gerbong Melky, saya ada acara keluarga." jawab Daniel. "Coba kamu cek satu gerbong ada berapa seat."
"Siap pak." jawab Melky cepat, tidak lama kemudian,
"28 Seat Pak." jawab Melky.
"Ok, booking ya, yang jam delapan saja jangan terlalu pagi." Daniel mengingatkan.
"Iya Pak."
Daniel tersenyum bayangkan istrinya akan senang berada satu gerbong dengan keluarga besar. Ia juga sudah meminta Billian menghitung siapa saja yang akan ikut serta mendampingi Balen ke Bandung nanti, setelah mendapat laporan dari Melky.
"Om, siapa saja yang mau diundang?" tanya Billian.
"Kamu atur saja, yang pasti itu keluarga kita lengkap, Papon dan Mamon, sisanya kamu yang atur." jawab Daniel.
"Om Lucky dan Kak Kia?" tanya Billian.
"Iya mereka ikut juga." jawab Daniel.
"Oke Om, siap."
"Billian atur sebaik mungkin jangan bikin Ante kesal ya, dia suka ngambek akhir-akhir ini." kata Daniel pada Billian.
"Masa Om?" Billian tidak percaya.
"Aca sama Bari kemana Om?" tanya Billian sedikit heran karena Daniel berikan tugas padanya.
"Keluar kantor." jawab Daniel singkat.
"Ok Om, setelah aku hitung geng rusuh bisa ikut ya, Bang Noah sama Beyin nanti aku tanya, weekend ini mereka ke Singapore apa tidak." kata Billian kemudian.
"Oke."
"Om, kalau Ante ngambek, om juga ikut ngambek saja, mana bisa tahan Ante Om acuhkan." Billian cari gara-gara, mana pernah Daniel selama ini acuhkan istrinya.
"Cari masalah kamu."
"Ih test om, test." kata Billian."
"Tidak mau." Daniel menolak tegas, Billian terbahak, "Dasar Om Bucinnya tidak habis-habis." komentar Billian.
"Baen tidak pernah rewel selama ini, kalau sekarang dia rewel itu pasti karena bawakan hamil." Daniel memaklumi.
"Ya sudah kalau Om pikir begitu."
__ADS_1
"Memang begitu, kamu cari pasangan sana."
"Lah malah aku yang kena."
"Bima saja sudah hampir dapat, kamu kapan?"
"Om, ada nih, teman kantornya Beyin, Vina namanya. Ayo Om kita pantau, nanti Om kasih penilaian layak tidak buat aku." malah ajak Om Daniel memantau gebetannya.
"Ajak saja nanti ke Bandung."
"Lucu dong Om, kalau dia saja yang aku ajak. Nanti semua tahu lagi, ini kan masih pantau-pantau." Billian menolak.
"Jadi kamu mau ajak Om pantau bagaimana?" tanya Daniel.
"Ya kita ke kantor Beyin, kunjungan." jawab Billian konyol.
"Om banyak kerjaan." tolak Daniel.
"Ok sama anaknya sendiri begitu, tadi suruh aku cari pasangan." Billian setengah merajuk.
"Kamu sama saja seperti Ante kamu ya, sedikit-sedikit merajuk." Daniel terbahak.
"Ayo lah Om, aku jemput ya, kita ke kantor Beyin." pinta Billian.
"Ajak geng kamu saja." Daniel masih enggan, lagipula tidak ada urusan juga kekantor Belin.
"Om, Balena hotel memangnya tidak mau memasok rumput laut rasa kekinian, ayo kita bahas disana." ada saja idenya Billian.
"Itu urusan Lucky, kamu ajak Lucky saja."
"Aku maunya Om Daniel, tidak mau Om Lucky. Om masa sama anak sendiri begitu."
"Kapan mau kekantor Beyin, coba kamu hubungi Kakakmu, ada dikantor apa tidak. Apa ada ruang pertemuan dikantor kecilnya itu?" tanya Daniel
"Bisa pinjam ruang pertemuan Bang Noah, jadi kalau Balena tidak butuh rumput laut, paling tidak rumput laut bisa jadi snack saat perjalanan ke Bandung weekend ini Om, ok Om."
"Ya sudah, padahal kalau cuma butuh snack untuk ke Bandung, kamu tinggal telepon Beyin." Daniel akhirnya mengalah
"Masalahnya bukan pada snack, tapi aku mau Om amati Vina dan kasih penilaian dia cocok tidak jadi keluarga kita." kata Billian.
"Standard kami siapa sih?" tanya Daniel ingin tahu.
"Ante Baen, makanya aku ajak Om Daniel." jawab Billian jujur, Daniel terbahak dibuatnya.
"Ante kamu suka merajuk, sanggup?" tanya Daniel.
"Kata Om tidak pernah rewel, kecuali sekarang saat hamil." jawab Billian.
__ADS_1
"Ante anaknya banyak loh, mau nanti punya anak banyak?" tanya Daniel.
"Itu sih karena ulah Om." jawab Billian bikin Daniel sekali lagi terbahak, senang juga lihat anaknya mau terbuka tentang cewek yang ingin didekatinya.