
Mundur sedikit saat Redi hampiri Ulan di Kyoto minggu lalu...
"Hai..." Redi mengangkat tangannya sambil tersenyum manis saat Ulan datangi Redi dicafe terdekat kampus Ulan.
"Hai Bang." Ulan balas tersenyum tak kalah manis. Duh apa ini hai-hai, bathin Redi yang sedikit salah tingkah, kemana jiwa playboynya kali ini. Sudah jauh-jauh datangi Ulan tapi malah seperti jaga image.
"Ayo." Redi segera bangkit dari kursinya mengajak Ulan pergi dari cafe tersebut.
"Mau kemana?" tanya Ulan bingung.
"Eh iya mau kemana ya?" Redi terkekeh, disini Ulan yang lebih tahu tempat bukan Redi.
"Kamu sudah makan?" tanya Redi tutupi rasa canggungnya.
"Belum." jawab Ulan.
"Mau makan?" pertanyaan macam apa ini, kalau belum makan sudah pasti lapar dan mau makan.
"Makan di apartment saja Bang." jawab Ulan, disini malah Ulan yang terlihat santai, Redi beberapa kali mengatur nafasnya atasi grogi.
"Beli dulu?" tanya Redi.
"Di apartment ada masakan, tadi Abang jadi ke apartment kan?" Ulan balik bertanya.
"Jadi, tapi taro koper terus pergi lagi." jawab Redi. Butuh waktu dua puluh menit berjalan kaki menuju kampus Ulan. Disini sudah tidak perlu berolah raga karena lebih banyak jalan kakinya, pikir Redi.
"Kamarnya sudah Ulan bersihkan." kata Ulan.
"Tidak apa ya aku tidur di apartment kamu?" akhirnya sudah bisa keluarkan kalimat panjang. Sebenarnya Redi sudah mau pesan hotel, tapi Nanta tawarkan menginap di apartment Ulan sudah pasti Redi tidak menolak.
"Kan pisah kamar." jawab Ulan tersenyum, tidak khawatir Redi akan nakal karena Redi masih saudara Balen, apalagi Masanta ijinkan.
"Lagipula Masanta yang suruh Abang menginap di apartment, dari pada dihotel mubazir." Redi tersenyum mendengarnya, restu Masanta sudah ditangan nih.
"Oke." jawabnya senang sudah tambah rileks lagi.
"Tapi kata Masanta Abang disuruh baca pesan dari Masanta."
"Oh sudah baca kok." Redi terbahak ingat pesan Nanta yang penuh peringatan dan ancaman berbahaya. Belum lagi telepon Larry yang mengoceh panjang lebar kasih petuah lebih bawel dari Mama.
"Abang duduk disini dulu, Ulan mau pesan minuman. Ulan haus..." kata Ulan bikin Redi sadar kalau ia tidak pesankan minuman ataupun snack untuk Ulan karena begitu sibuk pikirkan apa yang harus ia katakan pada Ulan tentang rencananya yang terlalu cepat ini. Baru beberapa kali bertemu dengan Ulan, apa Ulan mau menerima Redi nanti. Itu yang Redi khawatirkan.
"Aku saja yang pesan, kamu duduk." kata Redi cepat.
"Ndak usah, Abang kan capek habis jalan jauh." jawab Ulan menahan Redi agar tetap duduk di tempatnya.
__ADS_1
Ulan kembali dengan air mineral ditangannya lalu menganggukkan kepala pada Redi sebagai kode mengajak Redi keluar dari cafe.
"Bagaimana meetingnya?" tanya Ulan ingin tahu.
"Kabar bagus sih." jawab Redi tersenyum.
"Perlu dirayakan dong." Ulan ikut tersenyum.
"Nanti ya ada satu PR yang belum selesai. Setelah itu baru kita rayakan." jawab Redi tersenyum.
"Besok kita jadi ke Tokyo?" tanya Ulan pandangi Redi yang berjalan disisinya.
"Kamu mau?" tanya Redi.
"Terserah Bang Redi, ada yang dicari di Tokyo?" tanya Ulan lagi.
"Tidak ada sih." Redi terkekeh, sudah jelas yang dicarinya ada disebelahnya saat ini.
"Aku ikut kamu saja deh, mau ajak aku kemana aku pasrah." Redi bikin Ulan terbahak.
"Ada yang lucu?" tanya Redi.
"Abang Redi lucu bilang pasrah." jawab Ulan terkikik geli.
"Kata Baen disuruh belajar bikin pempek sama kamu, karena pempek di kulkas aku dihabiskan Balen dan Daniel." jawab Redi malah ingat ucapan Balen.
"Ya sudah kalau begitu kita mampir ke minimarket beli bahan bakunya. Ikannya sedikit beda ndak apa ya Bang. Tetap enak kok, walaupun pasti lebih enak yang di Palembang langsung." Ulan tertawa renyah sekali walaupun sambil menutup mulutnya seperti biasa.
"Cari makan dulu deh, kamu belum makan." kata Redi pikirkan Ulan.
"Nanti saja Bang, sayang masakan Ulan." jawabnya bergaya anak kos yang sedang pengiritan.
"Nanti dirumah kamu makan lagi." Redi membujuk Ulan.
"Berarti sekarang makan sedikit ya." Ulan anggukan kepalanya.
"Yang penting perut kamu tidak kosong. Jangan sampai kamu sakit, nanti aku yang dikira penyebabnya karena ada disini." Redi mulai mengoceh.
"Iya." Ulan tidak membantah.
"Mau makan dimana?" tanya Ulan.
"Kan kamu yang tahu, aku ikut saja." Redi tersenyum.
"Ini bagian dari pasrah ya Bang." Ulan tertawa.
__ADS_1
"Aku selalu pasrah deh kalau sama kamu." jawab Redi bikin Ulan nyengir sambil melengos.
"Abang Redi kan waktu itu minta Ulan ajak keliling Tokyo ya, Ulan sudah bikin destinasi loh." kata Ulan kemudian, mereka sudah masuki Restaurant halal yang waktu itu Ulan dan Redi datangi. Mereka langsung pesan menu yang diinginkan, berhubung Ulan mau makan hanya sedikit, maka mereka hanya pesan satu menu yang akan dimakan berdua, so sweet kan? bisa makan sepiring berdua, pikir Redi senang.
"Tidak usah ke Tokyo juga tidak apa kok, kecuali Ulan mau jalan-jalan kesana." kata Redi sambil menunggu pesanan disiapkan masih menunggu di depan counter.
"Kalau Abang capek tidak usah ke Tokyo, nanti saja saat Abang pulang ke California lewat Tokyo juga."
"Besok saja kita pikirkan, bikin pempek juga tidak usah nanti kamu capek." kata Redi sambil membawa baki yang berisi pesanannya.
"Bikin pempek sih kalau ada bahannya cuma sebentar kok." jawab Ulan santai.
"Tidak usah, bikin repot." kata Redi menolak, ia tidak mau bikin repot Ulan, mau ajak senang-senang saja. Redi memilih tempat duduk dipojokan yang tidak banyak orang lalu lalang.
"Abang, kalau tahu ndak jadi bikin pempek kita makan di apartment saja." Ulan sedikit menyesal.
"Tidak apa, nanti makan lagi." jawab Redi tersenyum semanis mungkin.
"Kamu tidak terganggu kan, aku datang?" tanya Redi ingin tahu.
"Ndak kok, senang malah." jawab Ulan jujur.
"Senang aku datang?" tanya Redi agak berbunga-bunga.
"Ulan selalu senang kalau ada keluarga yang datang." jawab Ulan bikin Redi melengos.
"Aku kira kamu senang karena aku datang." dengus Redi.
"Senang, kan tadi ulan sudah bilang."
"Kadar senangnya seberapa?" tanya Redi.
"Memang kalau senang pakai Kadar ya?" tanya Ulan bingung.
"Ya aku mau tahu tingkat kesenangan kamu itu, sampai mana?" tanya Redi bikin Ulan mengerutkan keningnya, ia tidak tahu bagaimana senangnya. Yang pasti Ulan senang didatangin Redi, bahkan Ulan sudah tidak sabar saat dua hari kemarin Redi kabarkan sudah sampai di Tokyo.
"Senang saja Bang, pokoknya senang." jawab Ulan.
"Senangnya pakai banget?" tanya Redi.
"Ndak boleh terlalu senang, yang sedang-sedang saja." jawab Ulan. Redi terkekeh, mau acak anak rambut Ulan jadi sungkan sendiri.
"Ayo makan." ajak Redi.
"Minta piring kosong sama sendok dulu ya." ijin Ulan. Lah kalau begini tidak jadi so sweet deh, Redi pikir bakal makan sepiring berdua mereka.
__ADS_1