Because I Love You

Because I Love You
Pengawal


__ADS_3

"Hai, hari ini ndak jadi ke Sentul ya, kita makan siang di Balena Hotel aja." kata Balen melalui sambungan video via handphonenya bersama Ulan dan Kia.


"Ceile Ante, tidak ada yang lebih dekat dari Balena Hotel apa? sama juga tongkrongin suami kerja kalau begini." Kia terkekeh.


"Ndak dong Kia, kita kan ndak mampir ke ruangan mereka, kita asik-asik aja di restaurant." kata Balen.


"Ndak apanya Baen, maunya dekat-dekat Bang Daniel saja nih." Ulan tertawakan Balen.


"Ulan ndak tahu sih, semalam Baen di sidang empat cowok nih, pada posesif. Aban sih tadinya santai akhirnya ikutan khawatir. Masa Chandra bilang kalau mau ke sentul sewa dokter sama Ambulance, jadi kalau lahiran bisa di ambulance." Balen mengadu pada keduanya, Ulan dan Kia tertawakan Balen.


"Ndak usah ketawa, ndak jadi ngopi ditempat viral deh." kata Balen bersungut.


"Balena Hotel juga viral kok, Bos nya ganteng-ganteng." kata Ulang terkikik geli.


"Eh Ulan jangan macam-macam ya." ancam Balen.


"Please deh Ante, memangnya Ante Ulan mau macam-macam sama siapa juga." Kia tertawakan Baen.


"Kia, banyak yang ganteng tahu di Balena Hotel, Ulan jangan cuci mata deh, itu loh anak-anak baru yang terakhir kita interview." Balen mengingatkan.


"Oh iya Ante, itu yang satu namanya siapa yang tinggi menjulang?" tanya Kia.


"Daniel." jawab Balen santai, Kia dan Ulan terbahak dibuatnya.


"Aban Daniel kan anak baru juga." jawab Balen terkikik geli.


"Ya tapi bukan Om Daniel yang Kia maksud." sungut Kia.


"Lucky dong." jawab Balen, Ulan tambah terbahak saja.


"Bodo ah Ante." Kia jadi ikutan tertawa.


"Udah deh pada ingat ya kalau ndak ada yang lebih ganteng selain suami kita." Balen ingatkan keduanya.


"Itu sih pasti." jawab Ulan cepat.


"Tapi yang Kia maksud tuh yang jadi asisten Aban Lucky ya? tinggi menjulang." tanya Balen akhirnya.


"Iya ganteng tuh Ante, mau dijodohkan sama siapa ya?" Kia sedikit berpikir.


"Biarin dia cari jodoh sendiri Kia, ndak usah dipikirin." jawab Balen terkikik geli.


"Ish Ante nih, si Beyin diajak saja ya. Biar Kia telepon, Balena Hotel kan dekat, jadi Noah tidak akan komplen seperti minggu lalu." kata Kia.


"Telepon sekarang ya, biar ngobrol berempat." kata Balen langsung hubungi Belin.


"Haiiii..." langsung heboh saat melihat wajah Belin.


"Ya ampun Ante, Beyin baru mau meeting nih." kata Belin cepat.


"Alasan aja nih Beyin, tahu ya mau kita culik?" tanya Ulan.

__ADS_1


"Beneran Ante, pada mau kemana lagi? acara kalian tidak pernah habis ya, kok kalian bertiga lebih sibuk dari kita yang kerja kantoran sih?" tanya Belin gelengkan kepalanya.


"Refreshing Beyin, di Ohio sama di Jepang ndak bisa kaya gini." jawab Balen terbahak.


"Masa?"


"Iya ndak bisa, C's mau dititip ke siapa disana? Noah baru dititipin sebentar sudah keburu balik ke Indonesia, si Oma ndak mungkin tiap hari direpotin." jawab Balen.


"Sekarang enak ya banyak yang nampung C's, mau kemana lagi hari ini?" tanya Belin.


"Makan siang di Balena Hotel yuk." ajak Kia.


"Beyin mau meeting, ada klien dari Philippines." jawab Belin menolak.


"Nah Beyin meeting disini aja, nanti selesai meeting kan bisa langsung kumpul sama kita." jawab Ulan.


"Beyin konfirm ke mereka dulu ya, siapin tempat meeting buat lima orang Ante." pinta Belin, setuju saja lah, kalau kasih alasan lainpun pasti mereka punya cara membujuk Belin agar bergabung.


"Oke." jawab Balen kemudian langsung ketak-ketik handphone untuk koordinasi ruang meeting yang Belin minta.


"Ruang meetingnya sedang di siapkan, kita mau langsung bertemu disana atau bagaimana?" tanya Balen.


"Langsung saja Ante, Kia kalau dijemput pasti Syabda minta ikut lihat Mobil Ante."


"Oke, Ulan mau Baen jemput ndak?" tanya Balen.


"Jemput dong, malas bawa Mobil. Nanti Bang Redi biar jemput Ulan ke Balena Hotel deh pulang kantor." jawab Ulan.


"Kalau mau bertemu Mama dan Papa mending ajak saja ke Balena Hotel, kalau malam Baen capek loh, bisa-bisa C's kirim dokter kandungan buat Mam." Ulang ingatkan Balen sambil tertawa.


"Hahaha Ante, untungnya Syabda tidak posesif seperti C's, bisa repot Kia kalau Syabda ikuti mereka." Kia terbahak.


"Ndak tahu tuh C's ikutin siapa, bisa-bisa bikin Baen terpenjara."


"Lebay ah, sudah pasti ikuti Ante lah lebay gitu C's." jawab Kia sembarangan, Ulang langsung terbahak sementara Balen monyongkan bibirnya.


"Kia sudah bilang Aban Lucky belum, kita ditawari jadi model baju Ibu hamil?" tanya Balen ingatkan Kia.


"Produknya Tante Hilma, Kia kok malas." Kia terkekeh.


"Ish Kia, sudah jadi saudara loh, itu kakak Iparnya Beyin." Balen ingatkan Kia.


"Iya sih, Kia tanya dulu deh nanti." jawab Kia, "lagian Kia kan tidak pengalaman jadi model, kalau Ante sih memang bidangnya." kata Kia lagi.


"Tanya dulu deh, tinggal senyum-senyum aja depan kamera ikuti arahan photographer nya." kata Balen, Ulan diam saja karena tidak ditawari, lagian sedang tidak hamil juga.


"Nanti bahas deh saat bertemu, Ulan mau siap-siap dulu." kata Ulang sudahi pembicaraan.


"Ya udah, Baen juga siap-siap." kata Balen.


"Sudah cantik rapi gitu mau siap-siap apalagi?" tanya Ulan.

__ADS_1


"Kan belum siapin tas sama sepatu yang mau dipakai."


"Ante jangan pakai high heels loh, Kia ingatkan C's ya."


"Ih dasar nih Kia, ndak high heels kok, Baen pakai sepatu yang tiga senti aja." jawab Balen.


"Tidak boleh, Ante pakai sneaker saja atau tidak usah pergi." ancam Kia.


"Ya ampun, Baen kira yang posesif dirumah aja, ndak tahunya nambah lagi nih yang mengekang Baen."


"Itu karena Ante minggu lalu hampir terpeleset karena pakai high heels, mau Kia laporkan kejadian minggu lalu?" Ulan ngangguk-ngangguk setuju dengan Kia.


"Awas ya, kalau ada yang tahu, Baen ngambek."


"Maaam hampir jatuh di mana?" ih tiba-tiba Chandra berdiri didepan Balen.


"Ya ampun kamu kok sudah pulang sekolah?" tanya Balen langsung matikan sambungan telepon.


"Hari ini pulang cepat karena tadi ada market day." jawab Chandra.


"Cadi sama Charlie mana?" tanya Balen.


"Ke rumah Papon." jawab Chandra.


"Kamu sendirian dong di rumah, Mama mau pergi."


"It's okay Mam, ada Bibi." Balen anggukan kepalanya, tidak khawatirkan Chandra yang lebih mandiri di banding kedua adiknya.


"Mam nanti aku mau ke Warung Elite cabang utara ikut latihan basket."


"Ok sayang, diantar Pak Imun kan?" tanya Balen sebut supir yang biasa antar jemput anak-anaknya.


"Ya, sekarang aku mau bobo dulu, Mam aku nanti makannya bawa saja, masih kenyang sekarang karena tadi di sekolah di kasih nasi kotak."


"Ok sayang." Balen mulai pikih sepatu.


"Mam pakai sneakers jangan High heels." Chandra ingatkan Balen saat Mamanya ambil sepatu yang menurutnya tidak aman untuk Mama.


"Iya."


"Mam kenapa tidak kasih tahu kalau Mam hampir jatuh?" mulai interogasi.


"Ndak jatuh kok." jawab Balen.


"Tapi itu berbahaya, Mam harus hati-hati. Aku akan minta Pap kasih Mam pengawal yang bisa pegangi Mam kalau jalan."


"Aduh Chandra, Mama bukan nenek jompo deh, Oma sama Mamon saya tidak pernah pakai pengawal buat gandeng-gandeng mereka kecuali anak dan suaminya."


"Kalau begitu aku ikut saja biar ada yang pegangi Mam."


"Kamu kan mau basket, tidur dulu sana, Mama janji akan hati-hati, pilihkan saja sepatu mana yang harus Mama pakai." kata Balen akhirnya minta Chandra yang pilihkan sepatunya, supaya anaknya itu tidak minta Papa kasih Mama pengawal.

__ADS_1


__ADS_2