
"Aban, kok Beyin ndak ikut?" tanya Balen pada Larry via telepon, seperti biasa Larry tetap hubungi Balen meskipun sekarang sudah menjadi Iparnya. Larry tetap tanyakan kabar terkini kesayangannya, juga ingin mendengar kesan-kesan Baen mendapatkan surprise.
"Yang boleh ikut hanya yang punya pasangan." jawab Larry terkekeh.
"Ih, Kia belum punya pasangan tapi boleh ikut." protes Balen.
"Kia ada Lucky, Ulan ada Redi yang menjaga disana. Tori juga ada Ichie, Belin kalau ikut malah merepotkan Opa dan Oma saja." jawab Larry.
"Ada Baen yang jaga Beyin, Aban." sungut Balen.
"Opa Santoso juga keberatan kalau dua cucu perempuannya ikut ke Ohio, nanti yang ngobrol sama Opa siapa." kata Larry lagi, rupanya salah satu harus tinggal luangkan waktu untuk Opa Santoso, walaupun sudah punya pengurus sendiri tetap saja perwakilan cucu buyut yang ceriwis harus ada temani Opa Santoso setiap hari. Selin tidak mungkin karena ada di S'pore, mau tidak mau Belin dan Billian bergantian.
"Padahal Baen kangen Beyin, lagipula Kia belum dapat restu Baen untuk jadi pasangan Aban Lucky." Balen terkekeh.
"Loh bukannya kamu setuju?" tanya Larry bingung.
"Awalnya sih iya, tapi Aban Lucky tadi bilang kalau Kia sama Aban Lucky, Baen harus panggil Kia, Kak Kia." sungut Balen bikin tawa Larry meledak, sudah pasti harga diri Balen tercabik-cabik kalau Lucky kasih persyaratan seperti itu.
"Aban ketawain Baen lagi." sungut Balen bikin Larry bsemakin terbahak.
"Daniel..." panggil Larry pada Daniel yang ada disebelah Balen.
"Ya Bang."
"Istrimu mau punya kakak sebentar lagi." kata Larry sambil tertawa.
"Ih Aban, Baen sudah punya Kak Yumi, Tania, Kak Dona dan Kak Seiqa." jawabnya cepat.
"Sebentar lagi tambah jadi Kak Kia." Larry malah menggoda Balen.
"Huaaa Baen masih minta petunjuk." jawabnya bikin Larry dan Daniel kompak tertawakan Balen.
"Jadi Lucky kasihan kalau terhalang restu Baen." kata Daniel masih tertawa.
"Aban Lucky cari gara-gara sih, Baen mau protes sama Om Mito." katanya lagi.
"Memang kenapa kalau kamu panggil Kia kakak?" tanya Daniel.
"Kia aja panggil Baen Ante, Aban Lucky mau bikin kacau aturan Baen aja nih." salahkan Lucky, Larry dan Daniel kembali terbahak.
"Biarkan saja mereka berdua berjodoh, kamu panggil Kia sambil tutup mata saja." Larry memberi ide.
"Nanti Baen bahas sama Kia dulu, bagaimanapun Baen ini Ante, bukan adiknya Kia." jawab Balen lagi-lagi Daniel dan Larry tertawa.
"Iya Ante Baen." jawab Daniel mencubit pipi istrinya gemas.
"Aban..." pandangi Daniel sambil cemberut dan mengusap pipinya.
"Aban Leyi, sebenarnya kita ada berita gembira loh." Balen senyum pandangi Larry.
"Hamil ya?" tanya Larry nyengir.
"Masih rahasia lah, belum bisa jawab." sok rahasia tapi bikin orang bisa menebak apa berita bahagia itu.
"Oh jadi apa dong berita gembiranya?" tanya Larry.
"Kasih tahu saja." bisik Daniel.
"Ndak usah kan rahasia." jawab Balen bikin Larry terkekeh.
"Sudah tahu pasti kamu hamil." jawab Larry yakin.
"Ah ndak seru cerita sama Aban, tahu terus rahasia Baen." Balen merasa gagal sampaikan berita gembira.
"Jadi sudah berapa minggu usia kandungan kamu?" tanya Larry.
__ADS_1
"Belum bisa jawab kan rahasia." masih mau menyimpan rahasia.
"Paling baru empat minggu." tebak Larry.
"Ih enam minggu sih." lupa kalau itu rahasia, Larry terkikik geli.
"Oke berarti Baen sudah hamil enam minggu ya, Aban ikut senang." Larry tersenyum.
"Ah ndak jadi rahasia kan, Aban jangan kasih tahu yang lain." pesan Balen.
"Memang selain Abang siapa lagi yang tahu?" tanya Larry.
"Yang di Ohio sih tahu semua kecuali pembuat kejutan." jawab Balen.
"Nanta belum kamu kasih tahu?" tanya Larry.
"Nanti kalau Aban telepon aja."
"Berarti tidak rahasia dong." Larry tertawa.
"Ndak usah rahasia deh, sudah tahu semua yang disini. Tapi Aban kasih tahu kalau ada yang tanya aja ya, kalau ndak ada yang tanya ndak usah kasih tahu." pesan Balen pada Larry.
"Ok sayang." jawab Larry tersenyum.
"Please deh jangan panggil Istriku sayang." sungut Daniel.
"Bawaan orok ya, jadi dengar begitu saja emosi." Larry julurkan lidahnya.
"Hahaha..." Daniel terbahak.
"Aban Leyi kesini dong." pinta Balen pada Larry.
"Kamu dong yang kesini." kata Larry pada Balen.
"Ih Aban mah bercanda."
"Ke rumah Adira dong, Semua pembuat kejutan kan menginap disana." Balen beritahukan Larry.
"Iya, ada kejutan lagi nih, cepat kamu lihat di rumah Adira ada siapa." Larry tertawa.
"Ada siapa Aban?" tanya Balen.
"Nyebrang dulu dong, nanti kamu lihat deh." jawab Larry terkekeh.
"Baen berita gembira tidak beritahu Aban ya." tiba-tiba wajah Nanta muncul pada layar, dia ada diruangan yang sama dengan Larry rupanya.
"Ih dari tadi berdua ya?" tanya Balen.
"Iya." Larry tertawa.
"Aban Nanta jahat ih ndak mau ngobrol sama Baen tadi."
"Abang lagi ngobrol sama Ulan, sekarang sama Baen dong." jawab Nanta.
"Oh Aban telepon Ulan ya." Balen terkekeh.
"Ngobrol langsung dong masa lewat telepon." Nanta tertawa.
"Ih Aban bercanda terus." Balen setengah merengek.
"Baen tidak percayaan sih, Aban serius dibilang bercanda." Larry mendesah.
"Nanti Baen nyebrang deh, Baen masih mau ngobrol sama Aban, jadi nanti aja nyebrangnya kalau sudah selesai ngobrolnya. Balen enggan matikan teleponnya.
"Kalau begitu jangan dimatikan teleponnya, tapi kamu tetap nyebrang ke rumah sewaan, kasihan tamu kalian diabaikan." kata Nanta pada Balen.
__ADS_1
"Iya, tadi Baen ijin tidur sebentar, Baen ngantuk." Balen menjelaskan.
"Ada yang komplen tuh, ayo kita kesana." Daniel segera beranjak lalu ulurkan tangannya agar Balen ikut beranjak.
"Baen sebenarnya masih mau tiduran." Balen terkekeh.
"Bawaan hamil sih." celutuk Nanta.
"Eh Aban emangnya tahu Baen lagi itu?" tidak mau sebut hamil karena belum empat bulan.
"Tadi Abang dengar waktu Larry tebak usia kandungan kamu." jawab Nanta.
"Aban berdua ndak ke kantor ya? kok background nya beda?" tanya Balen pada Nanta.
"Iya, kita bolos." jawab Nanta.
"Seperti anak sekolah aja bolos." Balen terkekeh.
"Cepatlah kalian ke rumah sewaan, banyak makanan loh." kata Larry pada Balen.
"Kok Aban tahu?"
"Iya lah Aban yang beli." Larry terkekeh.
"Aban di Ohio?" tanya Balen tiba-tiba sadar.
"Iya." Larry tertawa, Nanta pun ikut tertawa, Balen segera matikan handphonenya lalu menggandeng Daniel menuju rumah Adira.
"Aaah, ini kejutan lagi." Balen langsung berlari memeluk Nanta yang hampil terjungkal dibuatnya.
"Lama deh, dari tadi disuruh kesini." Nanta tertawa menepuk bahu adiknya yang masih memeluknya erat.
"Sejak kapan ada disini?" tanya Balen.
"Sejak tadi pagi." jawab Larry tertawa.
"Kok ndak ke rumah?" tanya Balen tidak terima.
"Kita berdua ngantuk berat, jadi begitu sampai langsung tidur." jawab Nanta.
"Tania sama Kak Yumi mana?" tanya Balen.
"Kami disini." teriak Dania dari dalam kamar.
"Keluar dong, ndak kangen Baen emangnya?" teriak Balen.
"Kangen lah." jawab Rumi yang pertama kali keluar dari kamar senyum-senyum pandangi perut Balen.
"Aban sudah tahu?" tanya Balen pada Daniel."
"Sudah." Daniel anggukan kepalanya sambil tertawa.
"Baen sudah tebak sih kejutannya pasti Aban Nanta sama Aban Leyi, tapi tadi siang yang muncul beda, Baen kira salah. ah Baen senang semua kumpul disini." Langsung joget-joget seperti bocah, Daniel dan yang lainnya tertawa geli melihat Balen.
"Anak Baen mana sih?" langsung teringat Kia yang seharusnya ada di rumah ini bersama rombongan yang lain.
"Kakak Kia Baen lagi sama calon suaminya dan yang lain menjemput Redi ke Bandara." jawab Larry terbahak.
"Aban, masa Baen jadi adiknya Kia sih." kembali protes, semua tertawa dibuatnya.
"Ledi Dei juga manja deh masa yang jemput serombongan." kembali protes.
"Biar saja mereka pendekatan." jawab Nanta.
"Aban setuju Ulan sama Ledi Dei ya?" Balen tersenyum lebar.
__ADS_1
"Kalau memang jodohnya." jawab Nanta, Balen kembali joget-joget tanpa musik, ah istri Daniel ini benar-benar tidak bisa diam.