Because I Love You

Because I Love You
Telmi


__ADS_3

"Loh, lu juga disini?" Lucky mengerutkan keningnya saat melihat Winner dan juga Nanta di rumah Raymond.


"Surprised..." Winner tertawa melihat ekspresi adiknya.


"Mana oleh-oleh Bandung?" tanya Nanta pada Lucky.


"Ada sama Kia tuh." tunjuknya kearah Kia yang sudah lebih dulu masuk ke kamar.


"Beda ya Bang mukanya Lucky." tunjuk Winner pada Nanta.


"Beda kenapa?" tanya Lucky bingung.


"Tiga minggu kemarin kusut, iya tidak Bang?" Winner minta persetujuan Nanta yang cengengesan pandangi Lucky.


"Bagaimana Lucky, masih belum mau mengaku kalau kamu suka Kia? gue tanya didepan bokapnya nih." tanya Winner konyol.


"Jangan ngaco deh." Lucky menoyor kepala Abangnya.


"Tadi jebak gue lagi bertemu Keiko." sungut Lucky.


"Jadi bagaimana setelah bertemu Keiko? Kia tetap tidak tergeser toh?" tanya Nanta tertawakan Lucky.


"Abang lagi, ikut-ikutan Winner." Lucky monyongkan bibirnya.


"Jadi pilih siapa, dari sekian banyak calon yang disodorkan Papamu?" tanya Raymond santai.


"Bang Ray, memang mau punya menantu seperti aku?" tanya Lucky pada Raymond, yang lain langsung tertawakan Lucky.


"Shalat istikharah dulu lah." jawab Raymond sambil tertawa.


"Sudah siap jadi menantu Bang Ray ya?" Winner tertawa geli.


"Rese, tadi gue coba tanya Kia, dia malah bilang idih."


"Ditolak lu sama Kia?" Winner nyengir lebar.


"Bukan ditolak juga, gue kan tidak menyatakan perasaan atau meminta Kia jadi istri gue. Gue cuma bilang kalau Papa minta gue lamar Kia." jawab Lucky selamatkan diri.


"Jadi bagaimana kira-kira?" tanya Nanta.


"Bagaimana apa Bang?" tanya Lucky.


"Kamu sama Kia?"


"Ya seperti yang Abang lihat saja." jawab Lucky.


"Yang Abang lihat kamu jungkir balik untuk Kia." jawab Nanta bikin Lucky terdiam, mau menyangkal tapi tidak temukan kalimat yang tepat.


"Kelihatannya begitu ya?" tanya Lucky setengah bergumam.


"Ya begitu memang." jawab Raymond terkekeh.


"Keenakan Kia tuh." lanjut Raymond lagi.


"Keenakan gue juga sih." Raymond kembali tertawa.

__ADS_1


"Bagaimana ya? aku juga bingung." Lucky menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kamu sudah sholat minta petunjuk Allah belum sih? waktu berjalan terus loh, Papa tidak bisa di tolak kalau sudah punya mau." Nanta ingatkan Lucky.


"Iya Bang." hanya bilang iya saja.


"Mungkin ya, ini hanya mungkin. Gue memang suka Kia, tapi Kia cuma anggap gue Om, tidak lebih. Jangan hanya perasaan gue sama Kia, hubungan gue sama Kia merenggang, jangan sampai deh." gumam Lucky lagi. Winner dan Nanta saling berpandangan lalu menaikkan alisnya satu sama lain. Setidaknya Lucky sudah mengakui perasaannya walau belum yakin seratus persen.


"Kia bulan depan beneran berangkat ke Ohio, Bang?" tanya Lucky pada Raymond.


"Kamu keberatan?" tanya Winner sebelum Raymond menjawab.


"Memang gue punya hak untuk keberatan ya? sementara Bang Ray sama Kak Roma setuju." jawab Lucky pandangi Winner.


"Ya, kita sih ikuti kemauan Kia saja, mumpung anaknya mau belajar serius, selama itu baik untuk masa depannya kenapa tidak?" jawab Raymond tersenyum.


"Lagipula ada Balen dan Daniel yang bisa awasi Kia." jawab Raymond.


"Ck..." Lucky berdecak.


"Kenapa lu?" tanya Winner.


"Sepi betul hidup gue tidak ada Kia." jawab Lucky sendu yang lain terbahak mendengarnya.


"Coba ya yang punya mantan pacar lebih dari sepuluh bilang hidupnya sepi." Raymond terbahak.


"Duh, Abang. Kok dihitungi mantan pacarku?"


"Iya lah, Papa kamu minta aku terima kamu jadi menantu kok, harus kupelajari betul sepak terjangnya kamu didunia percintaan Lucky." jawab Raymond bikin Lucky mencebik.


"Dan ternyata anak gue pernah dilabrak sama lima orang mantan pacar Lucky." Raymond tertawa sambil gelengkan kepalanya.


"Jadi kalau sepuluh, lima orang melabrak itu termasuk Keiko bukan?" tanya Nanta.


"Bukan, Keiko pacar waktu kuliah, malah dekat dengan Kia yang dulu masih ingusan. Ini yang melabrak Kia setelah dia jadi cantik jelita seperti sekarang." jawab Lucky cengengesan.


"Bang, Kia naksir Noah adiknya Hilma." Lucky menepuk dahinya.


"Banyak yang dia taksir asal kamu tahu saja." kata Raymond terbahak.


"Iya dia juga naksir kapten basket yang hari ini bertanding di istora." jawab Lucky mendesah.


"Yopi?" tanya Nanta.


"Aku tidak tahu namanya siapa, tadi ajak aku ke istora, sorry to say masa iya gue mau temani Kia cari jodoh sih." jawab Lucky konyol semua terbahak dibuatnya.


"Maunya jodohnya Kia elu ya?" tanya Winner.


"Eheem..." tidak menjawab hanya berdehem saja, Nanta dan Raymond tertawa geli dibuatnya.


"Duh jangan pada menghayal aku sama Kia menikah deh, gue tidak mau Kia menjauh gara-gara itu." kata Lucky menghela nafas.


"Luck, elu kan playboy, masa tidak bisa yakinkan Kia sih?" kata Winner pada Lucky.


"Elu bilang begini, seperti bapaknya sudah terima gue saja." gerutu Lucky yang melirik Raymond.

__ADS_1


"Shalat istikharah jangan lama-lama lah Bang." kata Nanta pada Raymond.


"Hahaha fokus sama Ichie dulu ya, setelah itu baru pikirkan Kia." jawab Raymond menepuk bahu Lucky.


"Direstui tuh berarti." kata Winner pada Lucky.


"Iya Bang?" tanya Lucky nyengir.


"Belum lah, belum juga minta petunjuk Allah. Lagipula apa yang bisa kamu yakinkan sama aku kalau kamu layak jadi menantu Raymond dan Roma?" tanya Raymond menantang Lucky.


"Apa ya? aku mantapkan hatiku dulu deh Bang, setelah itu baru bisa jual diri ke Abang sebagai calon menantu." jawab Lucky serius.


"Wih, keburu berangkat tuh Kia." kata Winner pada adiknya.


"Tidak bisa diburu-buru juga Win." dengus Lucky pada Abangnya.


"Gue tidak sabar karena elu telat mikir sih alias telmi."


"Sialan..." Lucky kembali menoyor kepala Abangnya.


"Papa..." Kia hampiri Raymond dan peluki Papanya.


"Tadi Kia naik helicopter tahu." langsung bangga ceritakan pengalaman ke Bandung naik helicopter.


"Segitunya Om Lucky sampai sewa Heli ajak kamu ke Bandung." Raymond terkekeh melirik Lucky.


"Om Lucky gitu loh." langsung acungkan jempolnya pada Lucky.


"Nanti bagaimana di Ohio tidak ada Om Lucky nih?" tanya Winner pada Kia.


"Yah harus bisa, lagipula Om Lucky juga sudah mau menikah." jawab Kia santai.


"Menikah sama siapa?" tanya Raymond.


"Tidak tahu, mungkin sama Tante Lee." jawab Kia nyengir.


"Enak saja." Lucky langsung menolak.


"Maunya menikah sama siapa Lucky?" pancing Nanta sambil cengengesan.


"Sama kamu saja ya Kia, daripada sama orang lain, nanti kamu di labrak lagi." sahut Winner pandangi Kia.


"Idih... masa sama Kia sih, ngaco deh." Kia terbahak.


"See?" Lucky naikan alisnya pandangi Winner, Nanta dan Raymond bergantian.


"Tidak ngaco Kia, kalau atas restu orang tua." kata Nanta pada Kia.


"Panta ih, mau jadikan Kia seperti Ante Baen nih." duduk dipangkuan Papanya sambil monyongkan bibirnya pada Nanta.


"Ih sudah besar masih dipangku." goda Lucky pada Kia.


"Biarin... Papa, Om Lucky tadi acak-acak rambut Kia." kembali mengadu sama Papanya.


"Biar saja, sama calon istrinya ini." jawab Raymond jahil.

__ADS_1


"Papaaa..." Kia menutup wajah malu karena jawaban Raymond.


"Bang!" desis Lucky sambil menghela nafas, Raymond, Winner dan Nanta terbahak lihat ekspresi keduanya yang malu-malu.


__ADS_2