
"Minum dong Opon, jus nya." perintah Balen pada Opanya.
"Iya, sebentar lagi." jawab Opa Baron malas-malasan.
"Opon mau jadi gareng terus ya?" langsung ngomel.
"Punya cucu perempuan satu-satunya, tukang ngomel." gerutu Opa Baron menghela nafas.
"Kan biar Opon sehat, mulai sekarang Opon ndak boleh makan jeroan. Soto betawi yang Oma Mita masak, jangan Opon makan." tegasnya pada Opa Baron.
"Opon makan apa dong Baen? kamu main larang saja."
"Opon makan Pepes aja." jawabnya bikin semua tertawa, Opon yang keras kepala tidak bisa melawan deh sama cucu kesayangannya.
"Ingat ya kalau Opon nakal, Oma Mita kasih tahu Baen aja." katanya pada Oma Mita.
"Hahaha ya, gampang itu, Oma tinggal videokan dan Kirim ke kamu nanti." jawab Oma Mita tertawa geli.
"Ayo Opon jusnya nanti kalau kelamaan teroksidasi loh." katanya bikin Opa mendengus tapi akhirnya ambil jus yang baru di berikan asisten rumah tangga, dan menenguknya perlahan.
"Nah itu Opon pintar deh." katanya tertawa senang setelah lihat jus yang Opon minum sudah habis.
"Duh langsung sehat nih Opon." kata Samuel menggoda Opa Baron.
"Ndak secepat itu juga Om Muel." kata Balen tertawa.
"Opon, lihat dong calon cucu mantu Opon, cantik kan?" Balen mulai promosikan Tori yang asik ngobrol bersama Ante Dini dan Mamon.
"Iya cantik, sahabat kamu kok jadi calonnya Richie?" tanya Opa Baron.
"Yah kalau jodoh kenapa ndak Opon." Balen terkekeh.
"Sudah sana istirahat." kata Opa Baron pada Balen.
"Mau makan tape uli yang Mamon bawa ya? Opon ndak boleh makan ketan tahu." langsung melarang Opon makan tape uli.
"Kamu ini dokter ya bukan sih, kok larang Opon makan ini itu sih?" Opon mulai kesal.
"Ih, kalau dikasih tahu yang benar ndak nurut, nanti kalau ndak dikasih tahu cucunya dibilang durjana lagi." Daniel tidak enak hati menyolek Balen agar tidak terlalu keras sama Opon.
"Ndak apa Aban, Opon emang harus digituin, dia ndak ngerti-ngerti kalau dikasih tahu." jawab Balen pandangi suaminya.
__ADS_1
"Betul itu Daniel, Opon kalian ini memang suka tidak nurut." kata Oma Mita tertawa.
"Untung aja cucunya pada nurut." kata Balen bikin semua tertawa.
"Baen, Baen, untung Opon sayang loh, kalau tidak sayang Opon sudah biarkan kamu di Ohio selamanya, tidak usah pulang lagi ke Indonesia." kata Opa Baron bikin semuanya terbahak.
"Ih Opon, nanti kalau Baen di Ohio terus Opon kangen, terus telepon deh Baen kamu kok ndak pulang-pulang sih, memangnya ndak kangen sama Opon." Balen tirukan kalimat Opon saat hubungi Balen via telepon saat di Ohio.
"Memang pernah ya Opon bilang begitu, salah dengar kayanya kamu." kata Opa Baron terbahak.
"Terus aja ndak ngaku kalau Baen Salah satu cucu yang Opon rindukan." katanya tengil bikin Opa Baron menjewer kuping Balen gemas. Semua kembali tertawa dibuatnya.
"Richie, kamu kapan mau ambil alih perusahaan Opon nih, Om sama Mamon kamu tidak ada yang tertarik, apa Opon jual saja itu perusahaan?" tanya Opa Baron pada Richie.
"Kalau Ichie yang pegang tinggal di Malang dong Opon?" tanya Richie pada Opa Baron.
"Iya, mau dimana memangnya, kantornya ada disini." Opa Baron terkekeh.
"Mamon pernah kerja disitu loh." kata Nona bangga.
"Ya, keburu di ambil Papon jadi tidak lanjut kerja deh Mamon." kata Kenan tertawa.
"Ichie lagi ada proyek sama Papa dan Om Steve sih." jawab Richie tersenyum.
"Biarkan saja seperti sekarang Papa, kan kita juga awasi walaupun tidak ikut terjun. Lagi pula penghasilan masih bagus." kata Nona pada Papanya.
"Iya, Mas Kenan kan masih bisa awasi dari Jakarta, Pa." kata Samuel pada Papanya.
"Kalian ini terima beres saja sih, harusnya bisa lebih maju itu." gerutu Opa Baron.
"Bersyukur saja Opon, kalau masih ada untungnya sih kenapa pusing harus terjun langsung." kata Balen tertawa.
"Kalian kalau sudah satu suara Opon bisa apa?" keluh Opa Baron.
"Ya kan Baen bilang apa adanya Opon."
"Iya, terserah kalian saja. Opon berharap Richie bisa pegang perusahaan yang Opon rintis dari nol." kata Opa Baron pada semuanya.
"Richie saya kasih mainan di Jakarta Bang, baru saja mau mulai." jawab Kenan beritahukan Baron.
"Ya, sudah tahu kita kekurangan penerus, kamu malah bikin usaha baru terus." gerutu Opa Baron pada menantunya.
__ADS_1
"Yah ini buat Richie latihan bisnis sebenarnya, Steve calon mertuanya yang punya ide sih, saya pikir Bagus juga idenya." jawab Kenan terkekeh.
"Lagi pula Opon, Ichie mana mau tinggal di Malang, Tori itu kan di S'pore kuliahnya. Lebih dekat dari Jakarta lah." sahut Balen bikin Richie kode-kode takut di dengar Tori, ia belum beritahukan Tori jika ia tidak akan kembali Ke Ohio.
"Tori baru sekali ini ke Malang, Opon. Ichie belum tanya kesan-kesannya tentang kota Malang." jawab Richie pada Opon.
"Tori!" Opon langsung saja panggil Tori.
"Iya Opon..." Tori menoleh dan hampiri Opon.
"Kamu kalau menikah sama Richie, mau tinggal di Malang?" tanya Opa Baron pada Tori.
"Hehehe belum jelas kapan menikahnya Opon." jawab Tori terkekeh.
"Kalau tinggal di Malang, paling lama tiga bulan lagi kalian menikah." kata Opa Baron semena-mena.
"Tori bagaimana Richie saja Opon." jawab Tori tersenyum.
"Batalkan mainan di Jakarta, kasih Mainan yang lebih bagus di Malang, ini. perusahaan besar loh. Kamu kapan mau mulai kerja, beritahu Opon. Nah sambil pegang perusahaan Opon kamu bisa lanjutkan kuliah." kata Opa Baron pada Richie.
"Papa!" Nona mengerutkan dahinya.
"Saya sih setuju saja, saya pintar juga Bang Baron yang ajari." kata Kenan serahkan pada mertuanya.
"Jadi bagaimana Papa?" tanya Richie pada Papanya.
"Kalau mau cepat pintar belajar sama Opon di perusahaan besar, tiga bulan lagi kamu menikah. Kalau mau belajar pelan-pelan ya kamu belajar di Jakarta, menikah setahun atau dua tahun lagi." kata Kenan pada Richie.
"Gaji Ichie disini besar Opon?" tanya Richie tertawa, diotaknya sudah pasti pikirkan penghasilan.
"Besar dong, kamu Opon jadikan direksi." jawab Opa Baron langsung.
"Ah Papa Ichie jadi bingung." Richie garukkan kepalanya.
"Mau cepat menikah apa santai?" tanya Daniel tertawakan Richie.
"Roti! kamu mau kita tinggal di Malang?" tanya Richie pada Tori.
"Aku sih bagaimana suamiku saja." jawab Tori santai.
"Mamon, bagaimana menurut Mamon?" tanya Richie pada Nona.
__ADS_1
"Yah memang harus kamu sih penerusnya, semua tidak ada yang bisa diharap." jawab Nona pasrah.
"Ichie setuju sih Opon, tapi konsul sama calon mertua dulu ya." kata Richie langsung joget-joget bayangkan gajinya selevel direksi seperti yang dijanjikan Opa Baron.