
Balen akhirnya keluar kamar juga tinggalkan Tori, Ulan dan Kia. Misi kenalkan Kia dengan Noah didukung oleh yang lainnya setelah perdebatan sengit. Ulan agak keberatan karena kasihan dengan Lucky, tapi Tori setuju Kia dikenalkan pada Noah dengan alasan, Lucky sebentar lagi mau dijodohkan entah dengan siapa. Lagipula deretan mantan pacar Lucky banyak dan cantik-cantik, sepertinya Kia yang masih bocah bukan selera Lucky.
Misi pertama Balen adalah minta ijin Daniel agar boleh hubungi Noah dan besok pertemukan Noah dengan Kia. Sepertinya Noah sudah pernah bertemu Kia kecil deh saat ikut saksikan pertandingan Tenis yang Balen ikuti, tapi mereka belum pernah berkenalan.
"Abaaan..." Balen langsung berteriak begitu menutup pintu kamar yang ditempatin Kia dan yang lainnya.
"Yaa..." Nanta dan Larry yang masih ngobrol bersama Lucky, Redi dan Daniel langsung saja menjawab bersamaan. Richie sedang mengantar rombongan Opa dan Oma nikmati pemandangan malam di Ohio.
"Aban, kalau mau pulang ajak Baen ya." Balen hampiri Daniel abaikan Nanta dan Larry.
"Loh tidak jadi menginap disini?" tanya Daniel yang sudah siap tidur sendiri nantinya, tapi tentu saja Daniel senang jika istrinya tidak jadi tidur di lain kamar.
"Kata Kia sempit." jawab Balen terkikik geli, selain itu tentu saja ada maksud terselubung.
"Memang sempit sih kalau berempat." Redi terkekeh.
"Iya makanya Baen sudah selesai ngobrolnya jadi pulang aja." jawab Balen.
"Mau pulang sekarang?" tanya Daniel pada Balen.
"Nanti lah, mentang-mentang rumah kosong kesempatan ya mau berduaan?" tanya Larry pada Daniel.
"Tidak ngaruh ya, mau rumah ramai juga bisa berduaan di kamar." jawab Daniel tertawa.
"Kia masih galau?" tanya Lucky pada Balen.
"Ndak dong, ada Baen gitu loh." jawab Balen bangga.
"Syukurlah." Lucky menarik nafas lega.
"Aban kapan menikah sih?" tanya Balen pada Lucky.
"Gue masih muda sih, masih lama lah." jawab Lucky santai, Daniel tertawa mendengarnya.
"Dua puluh tujuh tahun sih tidak muda juga Lucky, kita menikah sebelum itu." kata Nanta pada Lucky.
"Yah Abang kan genit aku tidak." jawab Lucky bikin semua terbahak.
"Gue dibilang genit." Nanta tertawa gelengkan kepalanya.
"Genit lah masih kecil sudah menikah." jawab Lucky konyol.
"Yah kan dampaknya sekarang sama Bima dan Aca suka dibilang adik kakak." jawab Nanta bangga.
"Iya juga sih." Lucky terkekeh.
"Aban Lucky kan mau dijodohkan ya, Kia juga mau Baen jodohkan sama Noah." kata Balen santai sementara Lucky mengerutkan keningnya.
"Setuju kan semua?" tanya Balen pada semuanya.
"Kia sama Noah memang mau dijodohkan?" tanya Redi.
__ADS_1
"Yah ndak tahu, besok Baen kenalkan aja dulu." jawab Balen.
"Boleh biar Kia tidak mengganggu Lucky terus." jawab Nanta terkekeh.
"Aku tidak terganggu." jawab Lucky cepat.
"Istrimu nanti yang terganggu." jawab Larry tertawa.
"Kak Yumi tidak terganggu dengan Baen, kuharap Istriku nanti juga tidak terganggu dengan Kia." jawab Lucky pandangi Larry.
"Hmm, Baen sama gue sih beda ya." jawab Larry terkekeh.
"Apa bedanya sama aku dan Kia?" tanya Lucky pada Larry.
"Beda sih." jawab Nanta anggukan kepalanya.
"Iya beda." Redi ikut-ikutan, Daniel tertawa lihat Lucky yang tampak bingung.
"Bedanya apa?" tanya Lucky penasaran.
"Tatapan lu ke Kia tuh penuh cinta." jawab Redi terbahak.
"Rese..." Lucky melempar bantalan kursi kearah Redi sambil ikut tertawa.
"Kia itu keponakan sudah pasti lah penuh cinta." jawab Lucky.
"Baen adik tapi ndak penuh cinta kok?" tanya Balen ikut menggoda Lucky.
"Iya kan memang tiap kamu datang kita lagi ajari Baen berenang." kata Larry lagi.
"Iya itu, jadi jarang main sama Baen aku." jawab Lucky tersenyum.
"Baen kan sibuk juga." kata Redi lagi.
"Iya itu lah. Makanya gue lebih dekat sama Kia deh." jawab Lucky apa adanya.
"Jadi Baen boleh telepon Noah ndak biar besok bisa kenalan sama Kia?" tanya Balen pada Daniel.
"Boleh." jawab Daniel tersenyum melirik Lucky yang masih menyangkal jika ada perasaan khusus dengan Kia.
"Oke, pinjam handphone Aban deh." kata Balen karena ternyata ia tidak membawa handphone.
"Mau apa?" tanya Daniel.
"Telepon Noah pakai nomor Aban aja." jawab Balen yang sudah menyimpan nomor handphone Noah di kontak Daniel.
"Noaaaah..." langsung saja heboh saat Noah angkat handphonenya.
"Aku kira suami kamu Baen." Noah terkekeh.
"Ndak mungkinlah Aban Daniel telepon Noah, kecuali Noah ada orderan jengkol puluhan kilo." jawab Balen bikin Noah terbahak.
__ADS_1
"Noah, besok ketemu ya. Di cafe biasa jam sepuluh bisa ndak?" tanya Balen pada Noah.
"Sama Denise dan Besta juga?" tanya Noah.
"Ndak, Noah aja sama Baen dan saudara Baen yang lain. Kia keponakan Baen mau tanya-tanya soal kampus, dia mau kuliah disini." kata Balen pada Noah yang memang aktif dengan kegiatan di kampus.
"Oh, memang kamu tidak bisa jelaskan sendiri?" tanya Noah.
"Malas ah, Noah aja yang jelaskan. Lagipula keponakan Baen cantik loh, siapa tahu Noah natsi." jawab Balen cekikikan.
"Buset, gue masih patah hati ditinggal Kawin Baen." jawab Noah bikin Balen terbahak tanpa dosa.
"Yah siapa tahu kalian bisa saling menghibur." kata Balen terkekeh.
"Oke lah besok jam sepuluh ya, jangan terlambat Baen, jam sebelas ada rapat dengan kedutaan." Noah ingatkan Balen.
"Iya, Baen mana pernah terlambat sih." jawabnya santai.
"Cafe mana sih?" tanya Lucky begitu Balen matikan sambungan teleponnya.
"Dekat kampus Baen, itu cafe andalan karena minuman dan makanannya enak-enak." jawab Balen tersenyum.
"Abang ikut yah." Lucky pandangi Balen penuh harap.
"Ih Aban ganggu dong kalau ikut." Balen menolak.
"Pisah meja deh." kata Lucky lagi. Redi terbahak dibuatnya.
"Semua ikut saja, kita pisah meja." kata Nanta akhirnya.
"Ih bagaimana sih, mau carikan Kia jodoh yang ikut satu keluarga." Balen mendengus.
"Tadi kan kamu bilang makanan dan minumannya enak, kita mau coba." Lucky berkelit.
"Iya, Aban juga harus lihat dong cowok yang kamu jodohkan dengan Kia itu." kata Nanta terkekeh.
"Yah kan Aban sudah kenal Noah." jawab Balen bingung.
"Lupa, kan sudah lama tidak bertemu." jawab Nanta.
"Baru kemarin acara Aban ngobrol sama Noah deh, jangan alasan mau mata-matai Kia deh Aban."
"Iya Abang kan harus kasih laporan sama Bang Ray, Baen." kata Nanta jujur, ia harus amati setiap pergerakan Kia.
"Ini saja Kia mau kuliah di Ohio, kita baru tahu. Abang rasa Bang Ray belum tahu kan?" tanya Nanta pada Balen.
"Iya belum, Kia baru bilang mau kuliah disini tadi dikamar. Minta Baen rayu Aban Lemon sama Kak Yoma." Balen tersenyum penuh arti.
"Beneran mau menjauh dari aku dia Bang." Lucky mengadu pada Nanta.
"Perasaan kamu saja itu Lucky. Dulu memang Baen selalu ribut mau kuliah di Ohio sama Kia. Mungkin ini jawaban dari doa Balen waktu kecil." Nanta tenangkan Lucky yang menghembuskan nafasnya perlahan.
__ADS_1