Because I Love You

Because I Love You
Denied


__ADS_3

"Lama betul buka pintunya." protes Belin saat Daniel bukakan pintu kamarnya.


"Ketiduran." jawab Daniel tertawa.


"Rambutnya basah." Kia mencibir.


"Ya langsung cuci muka basahkan rambut begitu terbangun, kenapa?"


"Mau masuk." pinta Belin.


"Tidak usah, mau apa masuk?"


"Ngobrol sama Ante Baen." jawab Kia.


"Baen lagi mules." jawab Daniel tidak persilahkan ketiganya masuk, Balen masih keringkan rambutnya.


"Uncle, kenapa sombong sekali sejak menikah?" tanya Tori bersungut.


"Dari dulu kan memang sombong." jawab Daniel. Ketiganya memandang Daniel sambil cemberut, berharap Balen segera muncul. Balen terkekeh datangi ketiganya sambil sandarkan kepala pada Daniel.


"Baen, kamu lagi apa sih? aku panggil dari tadi tidak jawab." sungut Tori pandangi Balen.


"Tadi lagi di Toilet." jawab Balen tersenyum.


"Mau masuk sini." Balen menawarkan tapi ketiganya memandang Daniel karena tadi di tolak oleh Daniel.


"Baen kamu terlihat lelah." kata Tori pandangi Balen.


"Tuh, sudah tahu lelah harusnya kalian biarkan Baen dan Om istirahat dulu, tapi kalian malah mengganggu." kata Daniel apa adanya, ia merasa terganggu.


"Ck... Nanti di Ohio, Om puas berdua saja sama Ante, sekarang biarkan Ante bersama kami dulu, Om Daniel bergabung saja dengan yang laki-laki." kata Belin dengan kening berkerut dan mulut monyong-monyong.


"Ya, Ya, Om akan bergabung dengan yang lain, kalian silahkan masuk." kata Daniel segera bergegas keluar kamar.


"Aban, mau kemana?" tanya Balen pada suaminya.


"Abang ke kamar Papa dan Mama." jawab Daniel tersenyum pada Balen.


"Thank you, uncle." Tori tersenyum manis pada Daniel.


"Hmmm..."


Langsung saja ketiganya masuk ke kamar Balen dan Daniel.


"Oh my god, kamar Ante berantakan sekali." Belin gelengkan kepalanya.


"Ayo bantu bereskan." pinta Balen pada Belin.


"Aah Ante, aku malas."


"Tadi Aban Daniel mau bereskan kalian suruh keluar." omel Balen pada Belin dan yang lainnya.


"Panggil petugas hotel saja Ante." kata Kia tersenyum pada Balen.


"Kita kemana selama dibersihkan?" tanya Balen.


"Kekamarnya Opa dan Oma saja." kata Belin bikin Balen tertawa geli, akhirnya mereka berempat pun keluar kamar setelah Balen hubungi petugas hotel untuk bersihkan kamarnya, lalu menuju kamar Opa dan Oma.


"Ck... kenapa lagi sih? selalu saja mengganggu." Daniel gelengkan kepalanya saat melihat keempatnya berdiri didepan pintu kamar sambil cengengesan.

__ADS_1


"Om, kamarnya lagi diberesin, jadi aku ajak Ante kesini saja." kata Belin pada Daniel.


"Memang senangnya mengganggu Om saja sih kamu." kata Daniel tertawa persilahkan keempatnya masuk. Setelah Tori, Belin dan Kia masuk baru Balen menyusul, tapi apa daya ia dicegat oleh suaminya.


"Kiss me." pinta Daniel sambil tunjuk bibirnya.


"Aban, ini kan kamar Mama." sungut Balen menolak sambil lihat situasi so depannya.


"Bodo amat, harus cium, tidak mau tahu." jawab Daniel tangkupkan kedua pipi Balen dan ciumi bibirnya bertubi-tubi dengan kecupan demi kecupan.


"Aban, Baen malu." bisik Balen lagi setelah Daniel selesai menciumnya. Daniel kembali mencium bibir Balen kemudian tertawa jahil.


"Uncle, what are you doing?" tanya Tori pada Daniel.


"I kiss my wife? something wrong?" tanya Daniel bikin Tori mengedikkan bahunya, sementara Kia dan Belin asik negosiasi dengan Oma entah apa yang diminta ya.


"Soon I'll be kissing." katanya lagi tanpa beban.


"Hei! menikah dulu." kata Daniel pada Tori.


"Yah..." jawabnya dengan mata menerawang, membayangkan entah kapan ia akan di Lamar oleh Richie yang terlihat acuh saja pada Tori dari tadi.


"Uncle, which one better, Ichie or Noah?" tanya Tori pada Daniel.


"Hei kenapa tanya Noah, kamu kenal dia?" tanya Daniel.


"No, kalau aku ke Ohio pasti aku akan kenalan." jawab Tori.


"Kamu tidak akan ke Ohio, Tori." jawab Daniel terkekeh.


"Aku malas di S'pore, aku mau dekat Baen saja."


"Untuk menemani Baen, uncle bilang Baen butuh teman disana bukan?"


"Bukan teman seperti kamu juga, Baen hanya butuh Asisten Rumah tangga disana, makanya uncle pikir apa bawa orang dari sini saja." jawab Daniel.


"Ndak usah Aban, Baen bisa sendiri bersihkan rumah kok, kalau masak Baen beli makanan jadi di kantin kampus aja." jawab Balen pada Daniel.


"Yakin?"


"Iya, Baen juga bisa minta Oma Margarita temani Baen nanti." jawab Balen sebutkan tetangga sebelah rumah mereka.


"Ya sudah kalau begitu, Abang tidak usah cari orang yang bisa temani kamu dirumah." jawab Daniel, Balen anggukan kepalanya.


"Baen, how lucky you are." Tori tersenyum pada Balen.


"Kenapa?" tanya Balen ingin tahu kenapa dibilang beruntung.


"Uncle Daniel love you so much." jawab Tori bikin Daniel senyum-senyum mendengarnya.


"Baen juga tahu." jawab Balen terkekeh.


"Masa?" Daniel ikut terkekeh.


"Oh c'mon, jangan terlihat mesra di depan aku Uncle, aku iri." jawab Tori jujur.


"Kamu kan ada Ichie." Balen menepuk bahu Tori.


"He doesn't care about me." jawab Tori mengedikkan bahunya, jadi malas sendiri bayangkan Ichie.

__ADS_1


"Dia sangat peduli terhadap kamu, Tori." kata Daniel pada Tori.


"Mana, dia tidak pernah hubungi aku Dari terakhir kasih cincin. Tadi saja aku datang sendiri tidak dijemput, sekarang aku mau pulang juga dia tidak peduli." jawab Tori lagi.


"Baen kenalkan saja aku sama Noah, bagaimana menurut kamu?" Tori senyum jahil.


"Mau menduakan adikku, mana boleh begitu." Balen menolak keras.


"Uncle, please bujuk Baen kenalkan aku sama Noah." Tori beralih pada Daniel.


"Sorry, denied." jawab Daniel terkekeh.


"Duh kalian kenapa sih, tidak mendukung aku." sungut Tori.


"Kami tim Ichie." jawab Balen terkekeh.


"Beyin juga tim Om Ichie." teriak Belin.


"Kia juga." Kia ikut teriak.


"Jahat, aku mau pulang saja." sungut Tori merajuk.


"Oma, Opa, Tori pulang ya." hampiri Mama Amelia dan Papa James.


"Kamu tidak menginap?" tanya Mama Amelia pada Tori.


"Tidak Oma, aku lupa dirumah ada acara, tadi aku kabur kesini." jawabnya terkekeh.


"Ya ampun, Baen juga lupa kamu kan ada acara keluarga Ishak ya." Balen terkekeh.


"Iya, see you all." kata Tori segera keluar kamar tinggalkan semuanya.


"Telepon Om Ichie." kata Kia pada Belin.


"Ah iya." Belin segera hubungi Richie via telepon.


"Kenapa Beyin? sudah selesai ngobrolnya?" tanya Richie pada Belin.


"Kak Tori menuju parkiran." kata Belin pada Richie.


"Oke, thank you." Richie terkekeh.


"Handphone jangan lupa." tegas Belin pada Richie.


"Kamu sama Kia kan? Oke. Bukan Iphone loh, Popon saja ya." Richie tertawa.


"Opon saja sekalian." dengus Belin kesal, Richie kembali terbahak lalu matikan sambungan teleponnya.


"Harusnya kita tidak boleh jadi make comblangi loh, kita saja belum punya pacar." keluh Belin pada Kia.


"Iya ya, nasib percintaan kita masih belum jelas." sahut Kia lagi, Opa dan Oma tertawa mendengarnya.


"Belajar dulu pikirkan percintaan nanti saja." kata Opa James terkekeh.


"Opa, teman Bang Alex itu sepertinya tertarik sama Ante Baen bukan sama kami." Belin mengadu pada Opa James.


"Baen kan sudah menikah, mereka tahu itu." jawab Opa James.


"Yah, tapi mereka mengeluh terlambat mengenal Ante Baen, pokoknya mengecewakan." kata Belin lagi bikin Daniel langsung merangkul istrinya padahal tidak ada teman-teman Alex disana.

__ADS_1


__ADS_2