Because I Love You

Because I Love You
Tidak lulus


__ADS_3

Sedikit saja kita bahas disini soal pesta bujangan ya, karena bintang utama tidak hadir dan acaranya gagal total. Redi batal bergabung karena sibuk luangkan waktu bersama Mama dan Papa. Richie juga pulang malam karena sibuk memantau Tori yang katanya kencan, sedangkan anak-anak dijemput paksa orang tuanya atas permintaan Balen yang tidak rela ada pesta bujangan tanpa kehadiran dirinya, tentu saja tanpa setahu anak-anak. Penonton dipastikan kecewa, rencana mereka ambyar dan Ante tertawa puas.


Pagi ini semua sibuk, selesai sholat shubuh langsung menuju hotel A, tempat akad nikah akan berlangsung. Kenapa tidak dirumah akad nikahnya? ini permintaan Ayah Eja yang mau bernostalgia saat menikah dengan Bunda Kiki. Sudah pasti Papon turuti kemauan Abang kesayangannya itu.


"Oma menangis terus." Balen peluki Oma Nina saat diruang rias.


"Kalau Opa masih ada, Opa pasti bahagia lihat kalian menikah, Baen." Oma ingat Opa Dwi yang sudah berpulang tiga tahun lalu. Balen jadi menangis ingat Opanya dan langsung kirim doa untuk Opa saat itu juga dalam hati.


"Oma, kalau Oma nangis terus, Baen ikut nangis juga kan. Mata Oma dan Baen sudah bengkak itu." Richie ingatkan Oma Nina.


"Bagaimana dong, air matanya keluar terus." kata Oma Nina pada Richie.


"Sini peluk Ichie, ada pelukan Opa juga disini." Richie langsung memeluk Oma yang duduk dikursi roda.


"Tuh Oma, kata Opa jangan menangis sayang, kamu harus bahagia." Richie bergaya seperti Opa Dwi. Oma langsung tertawa menepuk bahu Richie.


"Benar barusan Oma serasa dipeluk Opa." Oma Nina menarik nafas panjang.


"Opa lagi senyum bahagia ini, kita juga dong." kata Richie pada Oma yang jadi tersenyum seakan Opa sedang tersenyum pada Oma.


Balen mulai di dandani oleh make up artist professional yang biasa dandani Balen saat fashion show di Jakarta beberapa tahun lalu.


"Gila lu ya, nek. Balik Jakarta malah menikah." katanya dengan suara mendayung.


"Ketangkap basah gue, jadi dinikahi deh." jawab Balen terkekeh.


"Emang udah kagak perewi, nek?" nyerempet-nyerempet gitu.


"Ih apanya?" Balen terbahak.


"Yah katanya ketangkap basah, lagi dimenong? hotel?" pikirnya Balen serius.


"Hahhaa bercanda tahu, nanti masuk infotainment lagi." Balen terbahak.


"Ya kali, kan sudah kagak aneh cyiin." katanya lagi sambil terkikik geli.


"Kalau begitu sih bisa di gantung gue sama Abang gue." langsung tunjuk Nanta yang dari tadi amati adik kesayangannya.


"Abang lu ganteng ya nek." langsung cengar-cengir.

__ADS_1


"Sukanya depan yak bukan belakang." jawab Balen tertawa geli. Nanta gelengkan kepala saja dengar pembicaraan Balen dengan pria bukan wanita pun meragukan itu.


"Aban, Tania sudah dandan belum?" teriak Balen sambil memegang kaca kecil.


"Sudah cantik dong." jawab Nanta terkekeh.


"Oke sip nek, dijamin laki lu pengsan liat bininya cantik begini." katanya lagi.


"Jangan pingsan dong nanti gue yang repot." Balen terkekeh.


"Gue kan sebutnya Pengsan nek." katanya lagi keduanya pun terbahak.


"Nih adek gue, ganteng mana sama Abang gue?" tanya Balen saat Richie lewat.


"Depan apa belakang?" tanyanya lagi.


"Depan semua nek." Balen terbahak.


"Kagak ada yang ganteng deh, gue butuh yang main belakang." katanya lagi lalu keduanya kembali terbahak.


"Duh untung Balen cepat dinikahi Daniel." bisik Nanta pada Mamon.


"Dengar obrolannya aku ngeri sendiri." Nanta bergidik sementara Nona terbahak dibuatnya.


"Siap Niel?" tanya Larry pada adiknya yang sudah kenakan jas dan pecinya.


"Duh dag dig dug kok ya." Daniel tampak gugup.


"Minum air putih, tarik nafas, hembuskan pelan-pelan. Jangan lupa zikir terus." Larry menepuk bahu Daniel, sedikit merasa terharu perjuangan adiknya jadikan Balen istri dimudahkan Allah.


Penghulu, saksi nikah dan Papon sudah standby di bangku yang disediakan. Larry dudukan Daniel yang sedari tadi matanya berkeliling mencari Balen.


"Disembunyikan dulu mempelai wanitanya." bisik Larry terkekeh lalu tinggalkan Daniel di meja bersama yang lain.


"Pucat betul, boy." Kenan terkekeh.


"Gugup aku Om." katanya jujur, semua tertawakan Daniel.


"Sudah hapal belum, jangan sampai salah nama." Kenan bercandai Daniel.

__ADS_1


"Ah jangan bilang begitu, Om. Lancarkan lah ya Allah." Daniel langsung tadahkan kedua tangannya. Papa James tertawa lihat kelakuan anaknya itu. Mama Amelia dari tadi menangis saja, sementara mamon cengengesan bersama keluarganya yang lain.


Acara bertambah syahdu dengan lantunan ayat suci berikut doa-doa dan nasehat untuk kedua mempelai. Dari dalam ruangan Balen saksikan kesibukan diluar pada layar yang sudah disediakan.


"Duh gantengnya Aban Daniel Baen." katanya bikin Kia, Tori, Selin dan Belin bersorak. Mereka temani Balen sedari tadi. Tidak biarkan Balen menangis malah sibuk ajak Balen bercanda sehingga tertawa saja kerja mereka dari tadi setelah mata Balen bengkak menangis berdua Oma.


"Saya terima... dibayar tunai." Kabul Daniel ucapkan dengan lancar. Kemudian menarik nafas lega saat semua katakan,


"Sah!!!" ingin berlari saja mencari Balen rasanya Daniel saat ini. Lama sekali istrinya muncul, padahal sudah ucapkan sah sedari tadi. Biasanya tidak selama ini. Semua sudah celingak celinguk menunggu Balen. Sampai Dania susuli Balen ke ruang make up.


"Ya ampun kalian tidak dengar sudah disuruh kedepan dari tadi?" Omel Dania pada semuanya karena ke limanya cekikan tak perhatikan instruksi dari walkie talkie.


"Alatnya rusak nih Tania." Kia membela diri tunjuk headset ditelinganya. Padahal suara memang dia kecilkan karena asik bercanda dengan yang lainnya.


"Ayo Baen, kalian tidak lulus." desis Dania tatap semuanya kesal.


"Yah maap." jawab mereka sedikit menyesal, buru-buru kedepan kawal Baen antari ke tempat Daniel. Biasanya hanya diapit dua orang, kalau Balen di kawal oleh Kia, Belin, Selin dan Tori ditambah Dania, Lima orang yang antarkan Balen pada mempelai pria.


"Lama sekali." protes Daniel pada keponakannya.


"Uncle how lucky you are. Your angel coming." Tori mendorong Balen dekati Daniel, semua tertawa melihatnya karena Balen hampir saja terjatuh tapi buru-buru dipeluk Daniel.


"Ish untung saja sudah halal." Daniel gelengkan kepalanya kemudian mengecup kening Balen.


"Belum tanda tangan surat nikah woi." teriak Mike bikin semua kembali tertawa. Daniel tertawa geli kemudian menggandeng Balen menuju meja untuk tanda tangani surat nikah dihadapan penghulu.


"Ini yang ditunggu belasan tahun ya?" tanya Pak Penghulu yang sudah diceritakan kisah cinta keduanya.


"Hahaha iya Pak, perfect kan?" Daniel banggakan istrinya. Kenan senyum-senyum bahagia melihat Balen yang tampak malu-malu.


"Aban, Baen tanda tangannya disini?" tanyanya pada Daniel. Masih saja menggemaskan seperti bocah.


"Iya." jawab Daniel tidak sabar ingin memeluk Balen.


"Oke sudah selesai sudah boleh cium." kata Pak Penghulu akhirnya setelah urusan surat nikah beres.


"Tidak mau cium." Daniel gelengkan kepalanya, tapi langsung menarik Balen dan memeluknya sambil berputar, bikin semua berteriak takut keduanya jatuh.


"Aban!!!" teriak Balen sambil tertawa bahagia, untung saja akad nikah di taman jadi lahan cukup luas untuk berputar begitu.

__ADS_1


"Uncle Daniel sangat keren." Tori acungkan jempolnya memuji Daniel didepan Richie yang monyongkan bibirnya. Masih kesal karena kemarin Tori beneran kencan entah dengan siapa.


__ADS_2