
"Mam sekarang kerjanya tidur terus." keluh Charlie berbisik pada Chandra dan Cadi.
"Mam capek ya?" tanya Cadi pada Abangnya.
"Mungkin ya karena diperutnya ada adik." jawab Chandra.
"Dulu waktu Cadi di perut Mam tidak seperti ini, tidak terus tidur sepanjang weekend." dengus Charlie.
"Aku kan tidak ajak Mam tidur waktu masih diperut, mungkin Adik ajak Mam tidur." jawab Cadi konyol.
"Memang kamu ingat waktu kamu masih diperut? aku saja tidak ingat." jawab Charlie.
"Aku kan bilang mungkin." jawab Cadi, Charlie mencibir, Chandra tertawa.
"Jadi bagaimana ini? kita jadi pergi tidak sih?" tanya Charlie gelisah menunggu Mama dan Papa keluar dari kamar.
"Ketuk saja kamarnya." kata Cadi.
"Malas." jawab Charlie.
"Aku ketuk ya?" Cadi minta persetujuan.
"Nanti seperti minggu lalu, Mam muntah-muntah." jawab Charlie.
"Kalau begitu di rumah saja." jawab Chandra.
"Aku mau jalan, masa di rumah terus." sungut Charlie mulai merajuk.
"Kalau begitu sabar." jawab Chandra.
"Huaaa..." Charlie mulai menangis.
"Ih, Cayi cengeng." keluh Cadi lihat Abangnya menangis.
"Aku kan bosan di rumah terus, kamu sih enak tiap hari dirumah Papon, malam di jemput." sambil menangis mengomel pada Cadi.
"Gantian saja kerumah Papon." sahut Chandra.
"Tidak mau." jawab Cadi cepat, dia punya mainan baru disana mana mau kalau harus gantian.
"Huaaa it's unfair for me, huaa..." Charlie makin kencang saja nangisnya. Daniel yang mendengarnya Charlie menangis langsung keluar kamar.
"Kenapa Cayi?" tanya Daniel hampiri Charlie.
"Aku bisa dirumah terus Pap." jawabnya sambil terisak. Daniel menghembuskan nafas, bingung sendiri. Di kamar Balen minta perhatian, sekarang Charlie juga ikutan minta perhatian.
"Sabar, Papa urus Mama dulu ya." bujuk Daniel pada Charlie.
"Lama, lama, kemarin Pap juga bilang urus Mam dulu, akhirnya Pap ketiduran huaaa..." kembali menangis kesal.
"I'm so sorry boy, kamu mau kemana hari ini, nanti Papa antar." Daniel jadi sedikit merasa bersalah, kemarin habis urus Balen yang mual parah, Daniel malah ketiduran karena lelah.
"Tidak tahu, aku tidak tahu harus kemana, aku hanya bosan dirumah terus." jawabnya tantrum.
"Cayi jangan begini Papa pusing lihatnya." Daniel beritahukan Charlie.
"Aku juga pusing." hentak-hentakkan kakinya, Charlie tidak pernah begini sebelumnya, Daniel jadi pusing sendiri.
"Kenapa ini cucu Opa?" tanya Papa James hampiri cucunya. "Tangisnya terdengar sampai kamar Opa, nanti Mora ikut menangis lihat Abang menangis." Opa James ingatkan Charlie.
"Aku mau jalan Opa, Tapi Pap sibuk sama Mam." adu Charlie pada Opanya, Chandra dan Cadi jadi penonton.
"Biarkan Papa sama Mama dirumah, Cayi jalan sama Uncle Redi saja ya." bujuk Papa James.
"Huaa... memangnya Uncle Redi tidak capek?" tanya Charlie masih menangis.
__ADS_1
"Kenapa?" Redi yang mendengar Charlie menangis ikutan masuk ke rumah Daniel.
"Ini anaknya minta diajak jalan Uncle, Pap lagi urus Mam." Papa James menjelaskan.
"Wah masa karena itu saja menangis, ayo jalan sama Uncle, mau kemana sih?" tanya Redi meraih Charlie dan langsung menggendongnya.
"Uncle, Cayi sudah besar tahu." protes Cadi lihat Abangnya digendong.
"Kalau sudah besar tidak menangis seperti tadi." komentar Chandra bikin Charlie tambah menjerit saja.
"Cayi, jangan tantrum." Balen keluar kamar sambil membawa ember. Tangisan Charlie langsung reda saat melihat kondisi Mamanya yang berantakan.
"Kenapa lu Baen?" tanya Redi terkekeh.
"Ini buat nampung kalau mual, jadi ndak lari-larian ke toilet." jawab Balen.
"Tuh tidak kasihan lihat Mam?" bisik Redi, sambil terisak Charlie anggukan kepalanya.
"Mam are you ok?" tanya Charlie khawatir. Balen menganggukkan kepalanya
"Kamu ken hueeek." Balen balikkan badannya, Daniel segera hampiri Balen dan mengusap punggung istrinya. Ia berikan tissue pada Balen.
"Baen ke kamar lagi ya." pamit Balen, Papa James dan Redi anggukan kepalanya.
"C's jalan sama Uncle Redi dan Opa dulu ya." kata Daniel lalu membantu istrinya masuk kedalam kamar.
"Ayo mau kemana?" tanya Redi pada Charlie.
"Di rumah saja." jawabnya setengah terisak.
"Kenapa?" tanya Redi lagi.
"Kasihan Mam, aku mau jaga Mam." jawab Charlie dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak jadi jalan?" tanya Redi, Charlie gelengkan kepalanya.
"Tidak Opa." jawab Charlie berjanji.
"Oke berarti kita di rumah ya, ayo ke rumah Opa saja main sama Mora." ajak Redi pada Chandra dan Cadi, keduanya mengikuti Opa dan Uncle Redi, sedang Charlie masih digendongnya.
"Kamu tidak mau dirawat saja?" tanya Daniel saat di kamar.
"Ndak Aban." jawab Balen sambil rebahan.
"Abang khawatir kalau kamu begini." jawab Daniel resah.
"Kan kata Dokter biasa."
"Tapi kamu tidak mau makan."
"Ndak napsu Aban." jawab Balen ulurkan tangannya minta dipeluk Daniel. Daniel yang semula duduk dipinggir tempat tidur pun bungkukkan Badannya lalu memeluk Balen dengan erat.
"Jangan sakit sayang." bisik Daniel.
"Hu uh." Balen anggukan kepalanya.
"Mau makan masakan siapa? Mama Lulu?" tanya Daniel, Balen gelengkan kepalanya.
"Kalau sampai siang ini tidak makan, Abang bawa ke rumah sakit biar dirawat ya."
"Ndak mau Aban."
"Berarti kamu harus makan kalau tidak mau dirawat."
"Baen mau makan masakan Aban Lemon." jawab Balen akhirnya.
__ADS_1
"Memang Abang Raymond pintar masak?" tanya Daniel bingung.
"Ndak tahu, maunya dimasakin Aban Lemon aja." jawab Balen, Daniel jadi tertawa bayangkan ekspresi kocak Abang kesayangan istrinya itu.
"Abang telepon ya?"
"Pakai handphone Baen aja Aban." pinta Balen, Daniel langsung ambil handphone istrinya lalu menekan nomor Raymond pada kontak.
"Assalamualaikum Baen cantik kesayangan keluarga." menyambut telepon adiknya dengan panjang lebar.
"Aban..." panggil Balen lemah.
"Eh kenapa lu, disiksa Daniel?" tanya Raymond.
"Iih, ndak Aban." Balen terkekeh mesti suaranya terdengar lemas.
"Bang..." panggil Daniel.
"Iya, Baen meresahkan kenapa deh?" tanya Raymond.
"Baen ngidam nih." lapor Daniel pada Raymond.
"Pantas suaranya meresahkan, kenapa ngadunya sama gue, perasaan gue kok tidak enak nih." kata Raymond tertawa.
"Nah itu..." Daniel bingung mau bilang apa, Balen cekikikan jadinya.
"Aban..." panggil Balen.
"Iya."
"Baen pengen makan masakan Aban." kata Balen pada Raymond.
"Masakan Roma? mau dimasakin apa?" tanya Raymond.
"Bukan masakan Kak Yoma, Masakan Aban Lemon." jawab Balen.
"Eh buset, Baen..." Daniel terbahak dengar jawaban Raymond.
"Yang hamilin Daniel kenapa gue yang masak Baen?" tanya Raymond, Baen jadi tambah cekikikan dengar jawaban Abangnya.
"Aban kesini ya." pinta Balen.
"Iya kamu mau makan apa nanti Abang bawa." jawab Raymond.
"Aban masaknya disini, di rumah Baen." jawab Balen.
"Masak disini saja, nanti tinggal makan di rumah kamu."
"Ndak mau, pasti Aban beli kalau begitu, percuma ndak kemakan nanti." tolak Balen.
"Baeen, lu kan tahu gue tidak bisa masak." protes Raymond.
"Nanti diajari Aban Daniel."
"Ya kalau begitu Daniel saja yang masak." tegas Raymond, Dari pada nanti Balen makan masakan gosong.
"Baen mau lihat Aban pakai celemek." jawabnya bikin Daniel terbahak
"Kesini ya Aban." bujuk Balen lagi.
"Iya, demi kamu Baen, duh sigembul bisa komplen nih lihat Opanya pakai celemek." gerutu Raymond sebut cucunya.
"Abaaan, nanti Baen telepon Kia biar kesini juga."
"Sekalian gue ajak semua keluarga kita nih Baen biar kumpul di sana."
__ADS_1
"Iya." jawab Balen setuju.