Because I Love You

Because I Love You
Aneh-aneh


__ADS_3

Daniel pandangi Balen dengan cemas, sementara istrinya sudah asik kembali bercanda dengan yang lain, seperti tanpa beban. Rasanya Daniel ingin cepat sampai saja di Jakarta, hingga bisa langsung membawa Balen ke rumah sakit. Kenapa kereta cepat Jakarta Bandung belum beroperasi, rasanya Daniel butuh kereta itu saat ini.


"Rileks Daniel." Larry menepuk bahu adiknya.


"Panik aku Bang." Daniel menghela nafas.


"Santai aja Aban, ini kan biasa." Balen ikut tenangkan Daniel.


"Sayang kamu tahu tidak, kalau kamu kenapa-napa, jantung Abang rasanya mau lepas." Daniel sampaikan apa yang dirasanya.


"Baen ndak apa kok." Balen sandarkan kepalanya di bahu Daniel.


"Setelah ini, kamu di rumah saja tidak boleh kelayapan lagi." tegas Daniel.


"Kan justru harus banyak jalan, Aban."


"Jalan pagi, Abang temani." Balen monyongkan bibirnya.


"Dulu hamil C's, Aban ndak gini deh." Balen mengeluh.


"Dulu juga saat hamil C's kamu tidak begini." Daniel terkekeh.


"Ya kan kita di negara orang, mau kemana juga Baen, bosan. Kalau disini kan banyak makanan yang mau dicoba." jawab Balen rusuh, Daniel mengusap rambut istrinya sambil tertawa.


"Baen, Baen... sudah bawa dokter pun tetap bikin panik." Nanta tertawakan adiknya.


"Aban, itu kan biasa ya, keram-keram dikit." Balen minta suaka.


"Tidak tahu, Abang kan tidak pernah hamil." jawab Nanta terbahak.


"Bang Raymond tuh yang tahu." tunjuk Larry.


"Menurut kamu, aku pernah hamil Leyii?" tanya Raymond, semua langsung terbahak.


"Maksud aku, Abang tuh serba tahu." Larry membenarkan.


"Mana, waktu Kia lahir, dia malah menangis lihat Roma kesakitan." Bunda Kiki mengenang masa lalu.


"Papa, masa sih?" Kia langsung senyum bangga gitu.


"Ya, namanya juga suami sayang istri." jawab Raymond tengil.


"Kalau sayang temani istri di dalam, bukannya menangis diluar bikin stress." oceh Reza, semua kembali tertawakan Raymond.


"Itu sudah berapa tahun yang lalu Ayah, buktinya saat Syabda lahir aku temani Kia." jawab Raymond, Kia naikkan alisnya sambil tersenyum.


"Aban Lucky kemana?" tanya Balen.


"Tugas ke luar kota." jawab Kia nyengir.


"Wah, anak kedua ndak boleh gitu." Omel Balen.


"Gara-gara Balena Hotel kan Baen, kerja rangkap." Lucky sampaikan alasannya.

__ADS_1


"Ya ampun, Syabda. Maafkan Ante..." Balen bergaya lebay.


"Ante, Oma kali." sahut Raymond.


"Aban..." Balen langsung komplen.


"Memang Oma, Baen." Lucky terkekeh.


"Ih, kalau Baen Oma, Aban Lucky Opa juga."


"Mana ada, sudah jelas Syabda anak aku." Lucky terkikik geli.


"Ish, Syabda... ini siapa?" tanya Balen tunjuk dirinya.


"Womah." jawab Syabda bikin Balen meringis, yang lain terbahak dibuatnya.


Saat yang ditunggu Daniel pun tiba, mereka tiba di Jakarta tepat waktu, untung saja Daniel biarkan kendaraannya menginap, jadi ia langsung menitipkan C's pada Papa James dan Daniel membawa Balen ke rumah sakit dekat rumah mereka.


"Tidak naik ambulan saja?" tanya Reza pada Daniel.


"Ayah apaan sih, Baen masih bisa jalan juga." Balen bersungut.


"Kalau naik ambulan bisa dipantau dokter Ranti dan Tim." kata Kenan.


"Papon nih, sama aja." sungut Balen.


"Biar sama Daniel saja, Papon." Daniel tersenyum pada mertuanya sambil kasih isyarat agar istrinya tidak lagi ngomel.


"Oke hati-hati kalian. Rumah sakit terdekat dari sini saja kalau begitu." kata Nona.


"Ante, si gerbong gagal dong." celutuk Bima, Balen terbahak mendengarnya.


"Ketawanya di jaga Baen, nanti keram lagi tuh perut." Redi mengingatkan.


"Iya Ledi Dei, Baen lupa nih gara-gara Bima." Balen terkekeh. "Bye, Baen jalan-jalan dulu sama Aban." katanya centil, yang lain tertawa saja melihat kecentilan Balen.


"Mama kalian masih abege." kata Nanta pada C's.


"Apa Abege?" tanya Chandra bingung.


"Kemanjaan." celutuk Cadi sok tahu.


"Memang Mam manja." jawab Charlie sok tua, semua terbahak mendengarnya.


"Aban, habis dari dokter kita kemana?" tanya Balen pada suaminya, belum mau pulang dia rupanya.


"Pulang." jawab Daniel.


"Masih ada matahari sudah pulang." sungut Balen, Daniel terkekeh sambil fokus menyetir.


"Kamu tuh sejak di Jakarta jadi suka kelayapan ya, balas dendam ya?" tanya Daniel.


"Balas dendam sama siapa?"

__ADS_1


"Ya karena beberapa tahun kita di Ohio, jadi begitu sampai di Jakarta hilang arah."


"Ndak ada hilang arah, semua jelas tujuannya." jawab Balen.


"Ya tapi pikiran kamu itu jalan terus."


"Aban, ini pasti kemauan baby, buktinya hamil tiga kali di Ohio ndak kaya gini Namanya juga anak kembar, jadi banyak maunya." jawab Balen sotoy, Daniel tertawa saja dibuatnya.


Mereka tiba di rumah sakit terdekat dari gambir, di daerah cikini. Konon katanya rumah sakit ini cukup terkenal karena banyak artis yang melahirkan disana. Daniel langsung lakukan pendaftaran, lalu mengajak istrinya duduk di depan Poli kandungan.


"Aban, Baen kok jadi pengen melahirkan di Ohio." Daniel terbahak, ada lagi kemauan aneh istrinya.


"Sudah tidak bisa naik pesawat kan sayang." kata Daniel.


"Nanti tanya dokter deh Aban, kalau dokter bilang boleh, mau ndak?" tanya Balen.


"Nanti kita harus lama di Ohio loh, paling tidak tiga empat bulan, pekerjaan di Hotel mau diserahkan sepenuhnya ke Lucky lagi kah? Kia juga mau melahirkan loh." Daniel berikan Balen pengertian.


"Iya sih, Baen juga ndak ngerti nih, kenapa Baen ndak betahan sih." Balen mengetuk kepalanya sendiri.


"Sakit dong..." Daniel seperti merasakan kesakitan di kepala Balen, diusap-usapnya kepala istrinya itu.


"Abaan, kalau Baen lahiran, Aban tetap sayang Baen kan?" mulai drama, keluar manjanya.


"Sayang terus, masa masih di tanya."


"Janji ya, ndak berubah." pinta Balen.


"Kenapa punya pikiran begitu?" tanya Daniel.


"Soalnya kalau anaknya kebanyakan, pasti Baen sibuk, nanti Aban ndak keperhatiin." jawab Balen.


"Buktinya ada C's kamu tetap perhatian kok, pasti kalau si kembar lahir kamu tetap akan perhatian."


"Tapi kan anaknya perempuan."


"Kenapa kalau perempuan?" tanya Daniel.


"Nanti Aban sayangnya sama kembar aja karena pasti deh lebih lucu dari Baen." Daniel terbahak.


"Masa kamu cemburu sama si kembar sih. Anak kita loh ini." Daniel masih saja tertawa.


"Psst, Aban. Nanti yang lain dengar." bisik Balen malu karena suara Daniel begitu besar efek tertawakan Balen.


"Habisnya kamu lucu." Daniel gelengkan kepalanya, lalu mendekati perut Balen sambil mengusap pelan.


"B's nanti bantu Papa perhatikan Mama ya." ucap Daniel.


"Kok B's, namanya pakai hurup B?" tanya Balen.


"Iya, biar bisa kerja sama dengan Mamanya perhatikan D dan C's ." jawab Daniel cengar-cengir.


"Aban, kalau namanya B jadi siapa, Bolen?" tanya Balen.

__ADS_1


"Sayang, kamu saja yang singkong rebus, anak kita jangan jadi Pisang Bolen." Daniel langsung pasang wajah serius, Balen terkikik geli bayangkan anaknya punya nama kesayangan Bolen, enak kan manis gitu banyak yang suka.


"Jangan ya..." sekali lagi Daniel mengingatkan istrinya, supaya jangan jahil namakan anaknya yang aneh-aneh.


__ADS_2