
"Aban, kita ke California kapan?" tanya Balen pada Daniel saat suaminya sudah dirumah sepulang kantor.
"Hari minggu." jawab Daniel.
"Sabtu Aban libur apa kerja?" tanya Balen lagi, mengingat suaminya sangat sibuk akhir-akhir ini.
"Kerja sayang. Kamu ada acara?" Daniel balik bertanya.
"Iya, tadinya Baen mau ajak Aban nonton Noah dan Denise tanding, mau ajak Achara sama Althea juga." jawab Balen monyongkan bibirnya, sudah biasa padahal kalau Daniel sabtu ke kantor walaupun hanya sebentar.
"Abang harus ikut?" tanya Daniel.
"Maunya Baen sih begitu. Noah kan sudah bantuin Aban ke apotik." nyengir sebut saat bantuin Aban, padahal obatnya juga untuk Balen. Daniel tersenyum pandangi suaminya.
"Kalau siang, Abang bisa ikut. Tapi kalau pagi, kamu saja sama teman-teman ya, kalau bisa menyusul, Abang kesana sekalian jemput kamu. Lokasi pertandingan masih ditempat biasa?"
"Iya masih." Balen anggukan kepalanya.
"Aban peluk." bawaan hamil apa bukan ya maunya dekat suaminya terus dan peluk-peluk.
"Abang belum mandi." Daniel tunjuk dirinya yang masih berpakaian kantor.
"Ndak apa." memaksa minta dipeluk, Daniel ikuti maunya Balen dan memeluk istrinya erat.
"Aban, Oma tahu loh Baen hamil, tadi dikirim makanan." Balen beritahukan Daniel tadi dapat kiriman lauk dari Oma Margareta.
"Alhamdulillah kamu suka?"
"Ndak tahu belum Baen makan, tunggu Aban aja." jawabnya tersenyum.
"Auntie Khiel belum makan juga dong?" tanya Daniel lagi.
"Karena ini masakan Indonesia sih Aban, jadi Baen langsung simpan biar Aban ikut makan juga." jawab Balen pikirkan suaminya.
"Abang mandi dulu, nanti kita makan sama-sama ya."
"Baen siapkan ya, tinggal di panasi." katanya langsung ke dapur karena sudah bisa kalau hanya panaskan lauk saja.
"Ikan cakalang ini sayang." Daniel langsung tersenyum lihat makanan tersaji dimeja makan setelah selesai mandi. Perlahan Balen mulai belajar jadi Ibu rumah tangga yang baik. Sepertinya training singkat Dari Mama, Mamon dan Bunda kemarin menempel diotaknya. Balen juga sudah siapkan teh manis untuk suaminya.
"Kok kamu bikinkan teh manis?" lagi-lagi Daniel tersenyum.
"Kata Mamon kalau suami pulang kerja langsung bikinkan minum." jawabnya ternyata benar ikuti arahan Mamon.
"Tapi Baen ndak pernah lihat Aban minum teh manis sih." Balen terkekeh.
"Sesekali mau kok." jawab Daniel senang.
"Tapi besok berikan Abang air putih hangat saja." pinta Daniel pada istrinya.
"Oke Aban. Kalau Aban ndak suka tehnya bagi dua sama Baen aja nih." serahkan gelas kosong pada suaminya.
__ADS_1
"Suka kok." jawab Daniel tapi tetap bagi dua kan teh manis yang dibikin Balen.
"Aban, Noah suka Kia deh kayanya. Tadindia tanya kalau dia dekati Kia nanti diambil Aban Lucky ndak ya." Balen ceritakan hasil pembicaraannya dengan Noah pada Daniel.
"Wah..." Daniel tertawa.
"Kenapa Aban?"
"Tadi malam Lucky tanya menikah sama bocah rasanya bagaimana?" Masih sja tertawakan Lucky.
"Aban Lucky suka Kia juga ya?" tanya Balen.
"Sepertinya begitu." jawab Daniel.
"Tapi kan Aban Lucky ndak jelas " Balen mencibir.
"Ya itu, biar saja Urusan mereka. Kia juga masih sekolah kan."
"Tapi lulus sekolah juga bisa dinikahkan kalau keluarga Baen sih. Perhatikan aja deh Aban, kita baru pada mulainkukiah aja tetap aja disuruh punya suami atau istri. Itu sih sudah keturunan sepertinya. Padahal Mamon sama Papon menikah bukan usia muda, tapi Baen sama Ichie menikah muda. Om Deni dan Om Samuel aja udah berumur baru menikah."
"Abang juga sudah berumur baru menikah." Daniel terkekeh.
"Aban sih tungguin Baen." langsung hidung kembang kempis bangga ditunggu suaminya.
"Kamu suka kan Abang tunggu."
"Terlalu suka." jawabnya.
"Tidak apa, ikan cakalang pakai salada enak juga kok." jawab Daniel santai tidak pusingkan ada nasi atau tidak.
"Kata Mamon Baen harus belajar masak nasi."
"Kalau lagi mau makan nasi ya masak nasi. Cakalang pakai roti juga enak sayang." benar-benar maklumi istrinya.
"Baen masak dulu aja sebentar ya, kan setengah jam juga matang. Baen bisa juga bikin jadi Lima belas menit matang nasinya, sudah di ajari Ichie, Aban mau tunggu kan?" tidak mau kecewakan suaminya.
"Boleh." tersenyum bahagia lihat usaha istrinya, padahal Daniel tidak makan nasi pun tidak masalah. Balen segera beranjak dan siapkan semuanya, seperti yang handal saja di dapur.
"Kamu baik-baik saja hari ini kan?" tanya Daniel khawatirkan istrinya ada keluhan, tidak ada laporan yang masuk hari ini sih soal istrinya.
"Alhamdulillah ndak mual, ndak lemas, ndak gatal. Karena dirumah aja apa ya?" Balen terkekeh sambil menjerang beras yang sudah dicucinya dikompor sambil menunggu air mendidih.
"Kalau begitu dirumah saja terus." Daniel menggoda Balen.
"Enak aja Aban." Balen langsung monyongkan bibirnya.
"Hahaha kan jadi tidak ada keluhan."
"Keenakan Aban dong."
"Kenapa keenakan Abang?" tanya Daniel. Balen matikan kompor Dan pindahkan wadah beras di magic com.
__ADS_1
"Aban kerja ketemu orang banyak, baen lihat Auntie Khiel aja."
"Kamu mau lihat siapa memangnya? Noah?" sebut nama Noah seperti masih ada cemburunya.
"Bukan cuma Noah lah, teman Baen yang lain juga." jawabnya tidak merasa dicemburui.
"Abang kira mau bertemu Noah saja." masih saja pancing Balen.
"Ndak lah, semalam aja yang ketemu Noah, Aban bukan Baen."
"Karena kamu lagi kegatalan." jawab Daniel tertawa.
"Ndak juga sih, kalau baen mau bisa aja Baen keluar."
"Jadi kalau Noah sama Kia kamu bisa ketemu Noah terus dong."
"Tergantung, mereka satu negara sama kita apa ndak." santai tidak terpancing.
"Kamu masih suka sama Noah?"
"Suka? maksudnya?" Balen langsung kerutkan hidung.
"Naksir."
"Ih ndak pernah, Aban." langsung mengibaskan tangannya.
"Beneran?"
"Iya lah, kenapa juga Baen ke Ohio coba?"
"Kenapa?"
"Mengejar cintaku lah." jawabnya hampiri Daniel dan memeluknya.
"Gombal." Daniel tertawa senang.
"Beneran tahu." ciumi pipi Daniel.
"Jadi hilang lapar Abang nih." Daniel langsung peluk erat istrinya, mengangkat tubuh Balen hingga duduk dipangkuannya.
"Ndak mau makan? nasinya sebentar lagi matang."
"Makan yang lain saja." jawab Daniel menyeringai mulai mencumbu istrinya.
"Aah, Aban. Bangkunya kuat ndak nih?" khawatirkan bangku meja makan yang menampung bobot keduanya.
"Kuat." jawab Daniel yang masih saja aktif jelajahi tubuh istrinya.
"Aban, mau besuk anak kita disini?" tanya Balen disela aktifitas suaminya.
"Hmmm..." fokus dengan kesibukannya sementara Balen menikmati, hingga pakaian mereka berserakan dilantai. Aktifitas dikursi makan bikin Balen sedikit khawatir. Takut mereka berdua terjatuh padahal ada yang harus mereka amankan.
__ADS_1
"Pindah yuk Aban." bisik Balen pada suaminya. Daniel segera bangun perlahan tanpa lepaskan Balen dari pangkuannya, hingga berdiri Balen masih bergaya koala di pelukan Daniel. Hanya pindah beberapa langkah selanjutnya berlanjut di sofa terdekat, tidak peduli terekam CCTV tempat Daniel awasi istrinya, hanya Daniel yang bisa menonton itu dari handphone atau laptopnya.